My first last love

My first last love
Bab 9


__ADS_3

* BILAL POV


Aku turun ke bawah dan hendak pulang, tapi saat di ujung tangga aku sepertinya melihat seseorang yang tak asing bagiku. Dia sedang makan dan mengobrol dengan seseorang yang mungkin temannya Aku pun menghampirinya untuk memastikan bahwa aku tak salah orang.


"Ra.... " Aku menepuk bahunya dan ia menoleh ke arahku sambil mengelap sudut bibirnya yang terdapat saus spageti. Dia terlihat kaget sekaligus bingung dan asal kalian tau ekspresinya sangat lucu.


" Eeh.. Hai Al" Jawabnya sambil melambaikan tangannya. " Lo disini mau makan? Sama siapa?"


Dia bertanya padaku. ' Ternyata dia tak tahu kalau Caffe ini adalah milikku'


" Iya, gue kesini sendiri lagi nyari tempat yang enak buat ngopi terus mampir deh kesini." Sebenarnya aku tak ada niat untuk berbohong padanya tapi entah mengapa malah kaliamat itu yang keluar dari mulutku.


" Oohhh...." Dia hanya menjawab 'OH!' dan melanjutkan makannya, lalu temannya berdeham.


" Ehem... Dia siapa Al temen kamu? Kok kita gak dikeniln?" Tanyanya pada Rara


" Ah iya... Al kenalin ini sahabat gue dari SMA namanya Milea, dan Mi kenalin dia Bilal kita satu sekolah pas SMP. " dia memperkenalkan kami berdua, dan kami mengenalkan diri sambil berjabat tangan. " Bilal" "Milea"


" Oh ya, kamu sendiri ya? Gabung aja sama kita, kalo makan sendiri ga enak enakan ada temen."


Dia mengajakku bergabung dan dengan senang hati aku menurutinya. Aku duduk di samping Humaira dan aku hanya memesan Latte.Entah mengapa sejak pertemuan terakhir kami seminggu lalu aku sering memikirkannya dia masih sama dengan Humaira yang aku kenal dulu walaupun sekarang sudah lebih dewasa dan pastinya cantik di tambah dengan hijab yang senan tiasa meutup rambutnya membuatnya terlihat lebih anggun di mataku.


Kami berbincang cukup banyak, walaupun lebih tepatnya aku lebih benyak menyimak ketimbang iktu mengobrol dengan mereka. Diantara obrolan yang mereka bicarakan hanya sedikit yang aku mengerti karna mereka lebih banyak membahas mengenai


K-pop dan sejenisnya yang tak ku mengerti.


Aku sesekali memperhatikan wajah Rara yang terlihat sangat antusias dan bahagia saat membahas mengenai hal tersebut. Ada sedikit rasa bahagia karna aku mengetahui satu hal tentang Humaira, tapi ada perasaan kecewa juga disaat, kenapa? Karna di saat ada cowok seganteng gue yang udah pasti di sampingnya malah ngebahas masalah 'Opaa-Opaa' yang belum tentu bisa ketemu. Sedangkan gue yang ada di samping di lirim aja kagak...


SEDIH THOR DI KEIU KEUN TEH...π_π


Tak teras waktu sudah menunjukan pukul 17.56 Humaira dan temannya bangkit sepertinya hendak pulang akupun mengikutinya dan sepertinya Humaira bari sadar bahwa dari tadi dia mengacangiku.


" Ehhh iya ya ada elo Al, sorry gue lupa tadi keasikan ngobrol sama Milea hehe."


Dia sepertinya merasa sedikit bersalah. " Iya gapapa kok, lagian tadi gue juga gak terlalu merhatiin kalian gue sibuk main game. Santai aja."


"Oh iya, eummm gue sama Milea mau balik dulu, lo masihau disini?" " Eh.. Engga gue juga mau balik udah sore soalnya takut nyokap nyarii." " Ciieee.. Yang takut di cariin sama Nyokapnya. Btw nyokap apa nyokap nih?" " Ya nyokap gua lah Ra, wajar juga dong kalo Mamih gue khawatir secara pangerannya ga ada di rumah." " Oh anak Mamih ternyata dia Mi. Hahahah"


Aku tak sadar bahwa baru saja aku menyebut nama 'Mamih' entah apa yang akan Humaira pikirkan tentangku saat ini, sedangkan Milea hanya diam sambil menahan tawanya.

__ADS_1


" Ya udah balik, Ini juga udah mau magrib, takut keburu macet." Humaira mangajak kami pulang. Setelah membayar kami pun keluar, aku juga membayar pesananku karna yang tahu aku pemilik Caffe ini hanya beberapa orang saja dan sepertinya yang menjadi kasih pekerja paruh waktu.


Setelah keluar Caffe kami berpisah menuju kendaraan masing-masing


Humaira dan temannya sepertinya membawa mobil sedangkan aku memakai motor sportku karna menurutku itu lebih cepat dan simpel.


* Humaira Pov


Aku mendengar ada yang manggil namaku dan menepuk pundakku, saat aku memengok ternyata Bilal. Aku hanya meyapanya sekedarnya, tapi saat aku akan makan Milea malah bertanya dia siapa. Aku menatapnya dan dia hanya mengerdikan bahu. Lalu aku meperkenlkan mereka berdua. Belum redam amarahku dia mengajak Bilal untuk bergabung sebenarnya tak maslah kalau dia gabung. Tapi aku sedikit kurang nyaman kalau makan dengan orang yang cukup asing, walaupun aku sudah kenal Bilal tapi kita tak pernah makan bareng apalagi dia duduk di sampingku itu membuatku agak risih.


Aku tau dia duduk di sampingku karna aku yang kenal lebih dulu dengannya ketimbang Milea tapi tetap saja hal itu agak menggangguku. Aku mencoba untuk tak peduli dengan dia yang duduk di sampingku. Ku lihat dia hanya memesan Latte tanpa makan.


Setelah makan aku dan Milea asik mengobrol hanya sesekali saja Al ikut mengobrol karna mungkin dia tak mengerti apalagi tertarik dengan obrolan kami. Kami hanyut dalam obrolan dansaat aku melihat jam yang melingkar di tanganku sudah hampir pukul 18.00 aku langsung bangkit hendak pulang dan aku juga baru sadar kalo disana juga ada Al.


Sebenarnya aku merasa agak bersalah karna telah mengacanginnya tapi apa daya K-pop lebih menarik di bahas ketimbang Bilal heheheh....


Kami lalu pergi ke kasir dan membayar, kami berpisah di luar dak aku langsung melajukan mobilku ke rumah.


Aku sampai di rumah pukul 18.35 karna aku sedang ada halangan jadi aku tak sholat untuk kali ini.


Ku rebahkan tubuhku di kasur yang empuk dan nyaman itu sejenak sebelum mandi. 15 menit kemudian aku sudah selesai mandi Aku menuju kasurku hendak tidur tapi aku tak bisa memejamkan mataku. pikiranku terus saja melayang memikirkan perkataan Milea di caffe tadi. ' Apakah benar bahwa perasaanku pada Al belum hilang?' 'Apa aku belum bisa mobe on dari Al?' ' Tapi kurasa aku sudah melupakannya dan perasaanku ini sudah hilang.' Aku bertanya pada diriku sendiri sebenarnya apa yang terjadi. Tapi saat ake dekat ataupun mengobrol dengannya aku tak merasakan apapun, ake tak merasa gugup dan hatiku juga tak seperti habis lari maraton 'Dag Dig Dug'. Aku jadi teringat saat masa SMA aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan itu tak setiap hari, dan hatiku selalu tak karuan sedangkan sekarang? Aku biasa saja aku hanya merasa nyaman dekat dia.


Setelah acara kelulusan dan sebagai.ya aku tak pernah melihat Bilal lagi. Hingga saatnya tahun ajaran baru dimulai saat aku maauk sekolah impianku di SMA Darma Bakti, aku memilh sekolah disana karna jarak dari rumah dekat dan aturan disana juga ketat. Mungkin banyak orang yang lebih memilih sekolah disana karna populer, tapi aku tertarik karna aku ingin lebih disiplin jadi aku sekolah disana.


Saat itu pagi hari pertama aku masuk sekolah untyk melaksanakan 'MOS' belum ada tugas khusus hari itu baru pengenalan sekolah guru dan pembagian kelas.


Aku masuk kelas X ipa6 dan sejak saat itu pula aku kenal dandekat dengan Milea. Aki duduk di bangku pertama barisan ke dua deri pintu. Karna tak adayang aku kenal aku memilih bengki itu supayaaku tau siapa yang datang. Lalu Milea yersenyum padaku dan duduk disampingku.


" Hai... Aku boleh duduk disini gak?"


" Boleh kok duduk aja, lagian kosong hehe"


" Kenalin nama aku Milea, kamu siapa?"


Katanya sambil mengulurkan tangan


" Namaku Humaira tapi panggil aja Rara." Aku menyambut uluran tangannya.


Lalu kami bercerita ngaler ngidul hingga akhirnya kami berteman dan menjadi sahabat yang kemana-mana selalu berdua. Aku merasa nyaman dekat Milea dia orangnya ga jaim. Aku menceritakan semua tentangku termasuk masalah aku menaruh hati pada Bilal.

__ADS_1


Milea memang tak tahu Bilal itu sipa dan seperti apa orangnya, tapi dia selalu menyimak dengan baik semua celotehanku.


Aku dan Bilal memang tak satu sekolah, tapi sekolah kami cukup berdekatan dia sekolah di SMK yang berbau Militer dan yang aku taudia ingin menjadi seorang TNI AL. Aku tau hal itu saat kelas 9 kami ditanya oleh guru BPBK mengenai cita-cita. Jadi wajar saja kalau dia sekolah disana, bukan berarti juga aku sekolah di sekolahku saat ini karna dia, sama sekali tak ada hubungannya dengan Al.


Aku juga terkadang melihatnya lewat menggunakan motor maticnya dengan 3 sekawannya. Kami hanya tersenyum biasa karna saling kenal, walaupun begitu aku merasa bahagia setidaknya dia masih menganggapku temannya.


Selang 7 bulan aku bersekolah, aku dengar dia menjalin hubungan dengan anak sekolahku. Dia anak kelas XI, aku tak tau pasti mengenai kakak kelasku yang satu itu tapi aku pernah melihatnya menjemput kakakitu di gerbang saat pulang sekolah. Pemandangan yang sungguh menyayat hati bukan? Tapi aku juga tak bisa berbuat apapun. Aku tak mempunyai hak untuk berbuat lebih selain menjadi penonton.


Sebenarnya aku sudah muak dengan hatiku sendiri yang hanya jatuh ke hati yang sama dan itu mungkin hal yanv BODOH. Yah dirikuu memang bodoh atau lebih tepatnya hatiku lah yang bodoh yang tidak bisa melepas satu nama yang sudah menjadi milik orang lain.


* Flash Back Off


Suara nada dering telpon membangunkan ku dari tidur yang sudah nyaman ini. Aku lihat nama Mimi (Milea) tertera disana, ku lirik jam dindingku ternyata sudah pukul 22.00.


"Ngapain sih Milea telfon jam segini ga ada kerjaan banget." Gumamku, lalu ku geser tombol hijau untuk menjawab panggilan.


"Halo... Kenapa Mi malem-malem telfon ganggu orang tidur aja sih." Jawabku dengan suara yang sedikit serak dan kesal.


"Jam segini kamu udah tidur Ra? Aku cuman mau minta penjelasan sama kamu."


" Ya udah lah ga liat apa ini udah jam sepuluh malem. Emang mau minta penjelasan apaan sih, perasaan aku gak bikin salah kamu deh."


" Kamu emang ga ada salah, tapi aku minta penjelasan sama cowok yang ketemu di Caffe tadi. Dia si Al itu kan?"


" Iya, nanti aja ceritanya sekarang aku masih ngantuk, mau tidur Bye... " Baru saja aku mau mematikan panggilan Milea sudah berteriak yang membuat telingaku sakit.


"Bbentar-bentar, aku belum selesai ngomong maen tutup aja... Okey besok aja kamu ceritanya tapi aku juga mau ngomong sesuatu... "


"....." Tak ku jawab.


" Besok aku mau nginep di rumah kamu ya orang tua aku pergi ke Jawa sama adikku. Aku ga ada temen di rumah, boleh yah aku nginep yah Ra ya.. "


" Iya, besok ke butik aja dulu kita kerumahnya bareng, kamu ga usah bawa mobil kesananya."


" Okey siiip..... thanks Ra Bye..!"


Langsung ku tutup panggilan dan ku lanjutkan tidur. Milea memang pernah beberapa kali nginep disini kayak setahun lalau waktu ortuku Umrah dia nginep karna A Iqbal harus nemenin istrinya yang baru lahiran jadi ga bisa pulang ke rumah dulu.


### TBC

__ADS_1


__ADS_2