My first last love

My first last love
Bab 17


__ADS_3

*Author Pov


"Halo Assalamualaikum A?"


" Walaikumsalam Ra, kamu sekarang dimana? Mamah masuk rumah sakit, sekarang lagi oprasi."


" APA!!!????"


Sekujur tubuh Humaira seketika itu juga serasa lemas, tangannya gemetar sehingga ponselnya jatih bahkan kakinya terasa lemas, dia tak punya tenaga untuk menopang tubuhnya tetap berdiri.


Yang melihat hal itu pun langsung turun dari mobil dan menghampirinya.


" Ya ampun Ra!! Kamu kenapa?"


Bilal memegang bahu Humaira yang saat itu tak sedang menangis.


Iqbal yang mendengar dari sambungan telpon langsung panik dan memanggil Humaira..


" Ra!! Rara!! Kamu kenapa Ra?!! "


Bilalpun langsung mengambul handphone Humaira yang masih tersambung dengan Iqbal.


"Halo A, eumm ini sama Bilal temennya Humaira, sekarang kita ada di depan rumahnya."


" Oh iya, saya Iqbal kakaknya Humaira, saya sedang di Rumah Sakit karna ibu saya terlibat kecelakaan sekarang sedamg di oprasi. Kalo kamu tidak keberatan boleh saya meminta tolang sesuatu?"


"Astagfirullah, oh iya A mau minta tolong apa?"


" Sekarang mungkin Rara masih shock kamu tolong jagain dia sebentar ya, saya takut dia malah kenapa-napa kalo ke Rumah Sakit."


" Oh iya A ten... " Belum sempat Bilal menjawab pertanyaan Iqbal, Humaira langsung merebut ponselnya.


" A heumh A iqbal sekarang sekarang Mamah di Rumah Sakit mana? Rara searang mau nyusul kesana.!" Kata Humaira yang masih shock dan sedih mendengar kabar bahwa ibunya sedang di oprasi.


" Ga usah, mendingan sekarang kamu istirahat aja nanti sama Aa di kabarin kalo udah oprasi. Lagian disini udah ada A Iqbal, Teh Anggun sama Papah"


" Enggak, Rara mau ke Rumah Sakit sekarang, Rara mau tau keadaan Mamah sendiri. Please kasih tau Rara sekarang kalian ada. di RS. mana? "


Rara mencoba meyakinkan kakaknya itu, karna dia saat ini benar-bener khawatir dengan keadaan Mamahnya.

__ADS_1


" Ya udah tapi jangan bawa mobil sendiri, sekarang kamu kasih dulu telponnya ke Bilal." Humaira pun menyodorkan ponselnya ke Bilal sambil menatapnya demgan tatapan sedih.


" Iya kenapa A?"


" Saya mau minta tolong kamu anterin Rara ke RS. Kartini kalo dia bawa mobil sendiri saya agak khawatir apalagi kalo naik taksi."


" Oh iya saya anterin Rara sekarang."


" Makasih ya, danaaf sudah merepotkan. "


" Ga papa A santai aja sesama teman kan harus saling membantu."


Sambungan telpon pun berakhir dan Bilal langsung mengajak Humaira ke Rumah Sakit sambil memapahnya menuju mobil.


Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara satu pun hanya suara kendaraan yang menemani keheningan mereka.


Humaira masih saja meneteakan air matanya sambil melirik ke arah jendela seraya berdo'a berharap sang Mamah akan baik-baik saja dan oprasinya berjalan dengan lancar. Bilal yang mengerti dengan hal itu mencoba menenangkan Humaira.


" Oprasinya pasti berjalan lancar, dan Mamah kamu pasti baik-baik aja. Aku tau beberapa dokter bedah di RS. itu yang juga koleganya Papih aku. Jadi kamu tenang aja, mereka udah ahli dalam menangani oprasi."


Al mencoba menenangkannya dan memberikan semangat agar Rara tak terlalu sedih. Dan memang RS. tempat Mamahnya Rara di rawat selarang memang RS. tempat Papihnya bekerja dan ia juga tau kalau RS. tersebut memang sudah di kenal dengan para doketrnya yang sudah handal.


Beberapa menit kumudian mereka sampai di RS. dan langsung berlari menuju ruang oprasi.


Disana terlihat ada, Iqbal dan istrinya, Pak Haris (Papahnya Humaira), dan juga terlihat Milea. Karna memang setau Iqbal Milea adalah orang terdekat Rara jadi dia menghubunginya karna Iqbal belum tau kalau adiknya itu pergi dengan sahabat SMP nya.


" Ra...!! " Milea yang pertama melihat Rara memanggilnya sambil melambaikan tangan.


Semua orang pun langsung melirik ke arah Milea memanggil, Humaira langsung menghampiri keluarganya dan di ikuti oleh Bilal di belakangnya.


" Pah... Mamah sekarang dimana?"


Kata Humaira dengan lirih. Sedangkan Pak Haria hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melirik ke ruang oprasi yang lampunya masih menyala menandakan bahwa oprasi masih berlangsung.


Humaira kembali terduduk lemas dang menangis, tapi dia mencoba untuk tegar dan menanyakan kenapa hal ini bisa terjadi. Pak Haris pun mencertakan bahwa ibunya tertabrak mobil saat pulang dari supermarket setelah membeli kebutuhan bulanan. Beruntung orang yang membawa mobil tersebut bertanggung jawab dan langsung membawa Bu Intan ke RS.


 


Setelah 20 menit lampu oprasi akhirnya mati dan doker keluar.

__ADS_1


"Dokter bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Pak Hari kepada dokter yang baru saja keluar dari ruang Oprasi.


" Alhamdulillah, oprasi berjalan dengan lancar meskipun istri Bapak belum sadarkan diri karna pengaruh dari obat bius. Untung saja pasien segera di bawa ke RS. Kalu tidak mungkin nyawanya tak kan tertolong. Sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang inap.


" Baiklah terima kasih dokter sudah menolong istri saya." Kata Pak Haris sambil memgang tangan Dokter.


" Ini sudah kewajiban saya Pak, sebagai seorang dokter saya harus membantu pasien. Kalau begitu saya permisi." Kata Pak dokter sambil berlalu meninggalkan Pak Haris.




Ruang Inap


Bu Intan sudah di pindahkan ke ruang inap VIP, orang yang menabrak Bu Intan betanggung jawab penuh untuk biaya RS selama Bu Intan di rawat.




Tek... Jari telunjuk Bu Intan mulai bergerak. Humaira yang menyadari hal itu pun senang tak tak henti-henti mengucap syukur, Humaira memang terus berada di samping Mamahnha sedangkan Pak Haris duduk di sofa dengan Bilil. Iqbal, Intan, serta Milea sudah pulang terlebih dahulu karna Pak Haris yangenyuruh mereka pulang karana tak khawatir dengan Yusuf yang masih minum ASI. Dan tak enak dengan keluarga Milea kalau Milea harus menginap di RS. Begitu pula dengan Bilal, ia sebenarnya sudah di suruh pulang tapi dia memilih untuk menemani di RS. Katanya takut terjadi sesuatu dia bisa membantu dan mereka pin hanya mengiyakan saja. Humaira langsung keluar manggil untuk memanggil dokter.


Bilal dan Pak Haris yang mendengar hal tersebut juga mengucap syukur "Alhamdulillah"


Tak lama doker dengan jas putih dan terdapat nametag "'Dr. Yadi Handoko sp. bedah' itu datang dengan perawat dan satu doker lagi yang sepertinya akan menangani Bu intan...


Dokterpun memeriksa keadaan Bu Intan dan bilang kalau keadaannya baik-baik saja.


" Keadaan Bu Intan baik-baik saja Pak, Bapak tak perlu khawatir, dan ini


adalah Dokter Rava yang akan menanganai Bu Intan kedepanya beliau memang masih baru tapi saya yakin kalau Bu Intan berada di tangan yang tepat." Kata dokter Yadi memperkenalkan doker Rava.


" Saya percayakan istri saya kepada dokter."  kata Pak Haris sambil Mmnjabat tangan dokter Rava


" Baik Pak... Saya akan berusaha."


Doker Yadi dan yang lainnya bergegas meninggalkan ruangan.


### TBC

__ADS_1


__ADS_2