My first last love

My first last love
Bab 24


__ADS_3

*Humaira Pov


Akhir-akhir ini aku dan Kak Rava atau Dr. Rava, tapi aku lebih suka memanggilnya Kakak. Karna itu terdengar enak danlebih dekat,kami juga terkadang bertemu untuk sekedar mengobrol.


Tak jarang juga kami saling bertukar pikiran atau curhat. Bahkan saat awal bertemu, kak Rava curhat tentang hubungan dengan pacarnya yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatku sendiri Lia. 


Mereka sudah berpacaran kurang lebih 2 tahun sejak mereka masih kuliah dan sekarang mereka satu Rumah Sakit walaupun beda departemen.


Saat liburan ke Lembang beberapa waktu lalu saat itu hubungan mereka memang sedang renggang tapi belum putus.  Kata putus itu hanya anggapan dari Lia saja dan saat Lia menengok Ibuku saat di RS.  Kak Rava baru tau kalau kami adalah sahabat.


Sejak saat itu pula Kak Rava sering mengajak aku ketemuan untuk meminta saran agar hunbungannya dengan Lia bisa kembali bersama. Hasilnya pun tak terlalu buruk,  mereka sudah kembali bersama.


Seperti hari ini,  Kak Rava akan mengajakku makan katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan denganku. Kak Rava akan menjemputku di butik siang ini.


" Lita,  Mba pergi dulu ya ga sampe malem kok, nanti sore juga kesini lagi.


Kamu hati-hati ya di butik kalo ada apa-apa langsung hubungi Mba. "


" Iya tenang aja Mba,  nanti Mas Nino katanya juga mau kesini jadi Mba ga usah khawatir, Mba juga hati-hati di jalan ya."


" Ya udah Mba berangkat sekarang ya." Lita mengangguk dan aku keluar untuk menyusul Kak Rava.


Aku menghampirinya yang sedang menungguku. 


" Ayo Kak kita berangkat." Aku tersenyum ke Kak Rava begitu pula sebaliknya.


Kak Rava jalan mendahuluiku dan membuka kan pintu mobil tangannya juga melindungi kepalaku agar tak kejedot.


" Silahkan tuan putri."


" Apaan sih kak lebay banget, biasa aja kali aku juga bisa buka pintu mobil sendiri."


" Iya tapi kakak kan pengen bukain pintunya buat adik kakak yang satu ini."


" Iya deh iya Terima Kasih Kakakku."  Tak lupa aku tersenyum kepadanya.


"Sama-sama Adikku." Kak Rava menutup pintu masuk ke mobil.


Sikap Kak Rava yang seperti itu yang membuat ku merasa aman dan nyaman dengannya.  Kak Rava selalu memperlaku kan ku layaknya seorang adik yang dimanjakan oleh kakaknya. Kak Rava sebenarnya pernah mempunyai seorang adik perpuan yang seumuran denganku tapi sayang Tuhan mengambilnya kembali adiknya sakit kanker otak dan meninggal saat usianya 10 tahun.  Oleh karna itu Kak Rava bertekad untuk menjadi seorang Dokter dan menganggap aku seperti adiknya sendiri.


Okey kembali ke cerita.


Saat kak Rava menutup pintu aku melihat pantulan seseorang yang sangat ku kenal dari spion mobil dia adala Bilal.  Dia sedang berdiri dan sepertinya melihat ke arah mobil kami dan ku lihat ada seperti kantong yang jatuh tepat di bawahnya setelah itu dia tiba-tiba ambruk.


' Dia kenapa?  Terus lagi ngapain juga disana?'


Aku heran karna selama ini aku tak pernah melihatnya apa lagidi dekat butikku.


" Kita berangkat?" Kak Rava menyadarkan ku dari lamunan aku pun mengangguk.


Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan Bilal.


' Apa dia tadi baik-baik saja?'


' Sebenarnya apa yang terjadi?'

__ADS_1


' Atau apa dia sakit?  Gimana kalo dia kena serangan jantung terus mati?  Aku harus gimana?'


Otakku mulai berfikir yang tidak-tidak. Tapi aku menepis semua pemikiran itu dan kembali fokus.


Sebenarnya tadi aku ingin menyapanya, sudah lama juga kami tak bertemu bahkan di tak ada kabar apapun. Bahkan pesan di grup kami pun tak pernah ia baca.  Aku mengerti dia pasti sibuk dengan tugasnya aku juga sering mencoba untuk menghubungi tapi ku urangkan kembali niatku karna aku takut mengganggu.


Tak berapa lama kami berhenti di sebuah restoran. Kami masuk dan duduk di salah satu meja dan lagi-lagi Kak Rava memperlakukan ku dengan baik.  Dia menarikkan kursi untukku.


Sebenarnya aku tak keberatan sama sekali,  tapi kalau ada orang melihat yang mengenal kami pasti akan salah paham. Kali ini aku hanya tersenyum.


" Ra,  kamu pesen apa?"


" Eummmh....  Apa ajalah Kak, yang penting enak aku pasti makan heheh... "


" Kamu itu yah...  Ya udah kita pesen pasta aja ya sama minumnya air putih aja gapapa?"


" Iya gapapa"


" Mba saya pesen ini aja ya." Setelah pelayan itu pergi aku langsung to the point.


" Sebenernya Kakak ngajak aku makan kesini mau ngomong apa?"


" Kamu itu yah jadi orang to the point banget sih.  Kita kesini cuman mau makan siang aja kok."


Aku memicingkan kedua mataku.


" Boong,  tadi katanya mau ngomong sesuatu yang penting, kalo cuman makan mah siang biasanya juga ngajak ke warteg kalo engga padang.  Ada apaan sih kak?"


" Heheh...  Kamu tau aja, sebenernya kakak mau..." Kak Rava mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Ternyata itu adalah sebuah kotak cincin dengan permata di tengahnya sederhana tapi cantik menurutku.


Wajahnya nampak sedikit lesu, dia takut di tolak oleh sahabatku.  Yang memang wataknya sedikit keras kepala dan jutek meakipun dia seorang psikiater ya.


" Ppfftt....  Kakak takut di tolak sama cewek?  Dan itu Lia? Hahahah... "


Sungguh saat itu juga aku ingin tertawa terbahak kalau bukan di tempat umum aku sudah tak kuat.


" Kenapa ketawa?  Emang ada yang lucu gitu?" Tanyanya sedikit ketus, mungkin kesal karna ulahku yang menertawakan nya.


" Eung.  Enggak  ada yang lucu juga sih, hufft... Tapi aku cuman heran aja kenapa kakak bisa berpikiran kalo Lia bakalan nolak lamaran dari Kakak?" Setau ku saat masih sekolah dia adalah orang yang selalau optimis dalam segala hal terutama urusan cewek.  Secara waktu itu dia adalah KutOs sekaligus kapten Volly.  Ya meskipun aku juga pernah menolaknya sih hehehe.....


" Ya kamu kan tau sendiri gimana sifat Lia. Aku takutnya dia belum siap atau mungkin ga mau nikah sama aku."


" Gini ya Kak,  setau aku waktu sekolah SMP dulu Lia itu orangnya emang keras kepala,  tapi dia itu ga pernah deket sama cowok meskipun banyak yang nembak tapi itu pas SMP ya ga tau kalo pas SMA sama Kuliah.  Aku yakin kalo niat kakak dari awal emang baik Lia pasti nerima lamaran kakak."


"Kakak mau denger rahasia ga?"


Kak Rava mengangguk


" Sini.. " Aku menyuruh Kak Rava mendekat.


Aku sedikit mencondongkan tuuhku ke depan.


" Pas kita maen TOD di Lembang,  Lia pernah bilang kalo dia waktu itu pengen nikah sama orang yang dia cintai dan pengen di lamar di tempat pacarnya kerja biar ga ada orang yang godain colon suaminya."


Kak Rava menaikakn satu alisnya,  dia seperti tak percaya dengan ucapan ku.

__ADS_1


" Yeehhh..... Di bilangin ga percaya, ya udah sih terserah aku cuman kasih saran aja.  Apa lagi di RS.  cuman dikit yang tau hubungan kalian.  Kak Rava juga sering di godain sama perawat baru kan?"


" Iya,  kok kamu tau sih Ra?  Apa jangan-jangan Lia juga tau?"


" Tau lah,  aku juga taunya dari Lia. Kak Rava itu di RS.  famous. Kalo kakak ga percaya sama aku tanyain aja ke Sinta,  dia itu orangnya ga bisa boong."


" Bener ya,  nanti aku bakalan tanya ke Sinta.  Awas aja kalo kamu boong."


" Silahkan aja,  jawabannya juga pasti sama kok."


Makanan yang kami pesan sudah tiba,  tanpa aba-aba aku langsung melahap makanan yang ada di depanku.


Setelah makan Kak Rava mengantarku kembali ke butik.


" Makasih ya kak makan siangnya,  makasih juga udah anterin." Aku buka sabuk pengaman ku lalu lintas turun dari mobil.


" Iya sama-sama, aku langsung ya Ra."


" TT DJ kak... " Kak Rava melajukan mobilnya dan aku masuk ke dalam.


Seperti kata Lita tadi Nino memang datang ke butik dan sekarang mereka sedang berduaan.


" Ekhem..  Ekhemm.. Aduh seret nih tenggorokan..  Ekhem.. " Bukannya ingin menganggu mereka,  aku hanya ingin menjaili Nino.


" Apaan sih Lo Ra ganggu orang aja elo sirik heh?" Dia melitik kearhku dengan tatapan tajam sambil menggeser agak jauh dari Lita dan memang ini lah yang aku mau.


" Siapa juga yang ganggu kalian, tenggorokan gue lagi seret aja." Lau aku berjalan medekati mereka untuk mengambil minum, meskipun sebenarnya akuntak haus sama sekali sih. Hal seperti itu harus dilakukan untuk mendukung sandiwara ku


" Eheh..  Maaf ya Mba tadi soalnya belum ada pelanggan." Lita juga terlihat gugup dia menggaruk tengkuknya yang ku yakini tak gatal sama sekali.


" Kalo kalian emang mau berduaan jangan disini,  sana pergi kemana kek.  Butik biar gue aja yang jagain kalian pergi aja." Aku sedikit benyaknya mengerti bagaimana perasaan mereka karna dua hari lagi Lita akan ke Jawa sekalian di pingit bersama denganku dan juga Milea.


" Tumben elo baik sama kita Ra?  Elo masih sehat kan?" Nino hendak menempelkan punggung tangannya ke jidat ku tapi aku tepis.


" Alhamdulillah saya sehat wal afiat Mas. hihi...  Buruan kalo mau pergi sebelum gue berubah pikiran nih." Ekspresi ku yang semula baik berubah menjadi jutek.


"  Siap Bu Boss,  ayo Lit."  Nino memberiku hormat dengan tegap dan menarik tangan Lita.


" Bentar Lita ambil tas dulu." Lita mengambil tas yang di simpan di lantai 2 dengan sesikit tergesa-gesa.


" Mba Lita duluan ya,  nanti kalo masih sore Lita kesini lagi yah."


" Enggak usah, kalian habisin waktu berdua aja karna mulai besok lusa kita kan mau ke Jawa Lit."


" Oh iya ya,  lusa kita ke Jawa hampir aja Lita lupa." Lita menepuk jidatnya sendiri, sedangkan aku hanya terkekeh melihat kelakuan nya itu.  Apakah cinta bisa membuat semua orang lupa? 


"Kalo gitu kita pergi dulu ya Mba. Assalamualaikum " Pamit Lita padaku sebelum dia pergi dengan Nino.


" Walaikumsalam...."


Aku mengantar mereka sampai pintu dan masuk setelah kurasa mereka sudah jauh.


Aku hanya mencoba menjadi sahabat dan kakak yang baik. Karna sebelum akad nikah, mereka berdua tak akan bertemu selama seminggu lamanya.


Mungkin saja bagi mereka waktu seminggu nanti akan terasa seperti satu tahun.  Secara selama ini mereka hampir setiap hari bertemu. Dan aku hanya memberi mereka sedikit waktu agar bisa mengobati rasa rindunya nanti....

__ADS_1


TBC


__ADS_2