
* Author Pov
Hari ini Bilal dan Humaira akan chek out dari hotel. Di kamar mereka sudah selesai berkemas. Dengan menenteng satu koper di tangan kirinya Al sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan Rara menuju ke resepsionis.
Setelah selesai chek out, mereka keluar dan masuk ke dalam mobil yang sudah terpakir di depan pintu hotel.
Rencananya mereka akan mengunjungi rumah orang tua Al terlebih dahulu baru ke rumah orang tua Rara. Karena jarak dati hotel yang lebih dekat dengan kediaman Pak Yadi ketimbang Pak Haris.
" Bi..?"
" Iya? Kenapa Mai?" Mereka sedang berhenti di lampu merah.
" Kamu kapan mulai kerja lagi?"
" Besok lusa, emang kenapa? Kamu gak mau pisah sama aku yah?" Canda Bilal..
Humaira mengangguk dengan wajah sedih dia menatap Bilal.
" Iya... Nanti kalo kamu udah mulai masuk kerja aku pasti kesepian di asrama sendiri." Sebelum menikah, Bilal memang sudah memberitahu Humaira kalau mereka sudah menikah nanti akan tinggal di asrama yangang sudah di sediakan untuk para TNI.
Niat awal ingin menggoda Rara, ternyata malah membuat wanita itu sedih. Al membawa Rara ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya.
" Mai... Kalo aku gak kembali tugas, nanti aku bisa di keluarin dong dari TNI. Kamu tahu kan kalo jadi TNI itu cita-cita aku." Humaira mengangguk.
" Aku juga kerja buat masa depan kita nanti sama anak-anak kita kelak. Kalo aku sampe dikeluarin nanti aku kerja apa? Aku gak bisa menafkahi keluarga kita dong? Kalo kita cuman ngandelin caffe, itu bisa aja suatu saat nanti kita ada di bawah karna roda itu pasti berputar. Kalo TNI setidaknya kita masih punya masa depan yang pasti Mai... "
"Iya, aku juga ngerti kalo masalah itu Bi.. Tapi masalahnya itu aku gak mau kita tinggal di asrama. Nanti pasti ibu-ibu disana pada rempong deh. Emang gak bisa gitu kalo kita gak tinggal di asrama?"
" Heheh... Kamu itu ada-ada aja ya. Gak semua ibu-ibu itu pasti rempong, aku yakin kamu pasti bisa berbaur baik sama mereka. Terus kalo masalah enggak tinggal di asrama sebenernya bisa-bisa aja sih Mai. Tapi untuk sementara ini kita tinggal dulu di asrama aja yah. Kita kan belum punya rumah sendiri, kalo kita udah punya rumah sendiri. Kita bisa pindah dari asrama."
" Kalo kita tinggal di asrama, jarak dari asrama ke kantor pasti gak bakalan terlalu jauh, jadi aku bisa pulang cepet. Lagian aku gak bakalan ngelarang kamu buat kemana-mana,kamu masih bisa setiap hari ke butik katemu sama Lita dan Milea."
Bilal mencoba memberi pengertian pada Humaira. Sebenarnya Al sedang membangun sebuah rumah yang lokasinya berada di tengah. Lokasi itu cukup strategis tak terlalu jauh dari kantor, butik ataupun ke dua orangtua mereka.
Al mulai membangun rumah tersebut sejak seminggu lalu dan sekarang masih tahap awal. Kemungkinan rumah tersebut akan rampung dalam waktu 2 bulan kedepan.
Satu lagi Milea udah gak kerja sebagai sekretaris lagi. Dia memilih untuk resign dari pekerjaannya dan memilih untuk membantu Humaira di butiknya.
" Hhmm... Ya udah deh Bi... Aku ngikut aja sama kamu karna kemana pun kamu pergi aku pasti ikut sama kamu."
" Nah gitu dong, kita juga gak mungkin kan kalo tinggal sam orang tua terus. Kita juga harus belajar mandiri." Rara mengangguk paham dalam dekapan Al.
Lampu berubah menjadi hijau, mereka melajutkan perjalanan ke rumah Pak Yadi. Sesampainya di halaman, Al memarkirkan mobilnya.
" Assalamualaikum Mih.. Pih... Al pulang..." Mereka memasuki rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
" Kok gak ada yang jawab sih Bi? Apa jangan-jangan gak ada orang di rumah?"
" Enggak mungkin Mai, setahu aku hari ini Mamih gak ada kelas buat ngajar. Papih juga ini hati liburnya. Terus pintunya juga ke buka masa iya kalo mereka pergi pintynya gak dinkuci?"
" Gimana kalo ada.... Han... tu" Humaira sudah membayangkan hal yang buruk, dia langsung bersembunyi di balik punggung Bilal. Secara dia sangat takut hantu bahkan dia tak berani untuk menonton film horor termasuk drakor yang sekarang sedang hits tapi karna ada unsur-unsur horor, dia lebih memilih untuk tak menontonnya.
" Kamu jangan ngaco deh Mai, masa iyah di siang bolong gini ada hantu. Mungkin mereka ada di halaman belakang. Kita cek kesana aja yah.."
__ADS_1
Al menyimpan koper yang di tentengnya tadi di ruang tamu dan berjalan ke halaman belakang dengan Rara yang masih bersembunyi di balik punggung nya.
Duar!!.. Duar!!...
" Surprise....!!!!! "
" Selamat datang pengantin baru..!!!!! Wuah..... "
Ternyata di rumah Pak Yadi sudah berkumpul banyak orang. Ada keluarga Rara termasuk Iqbal, sahabat-sahabat Rara& Al dan ada juga Rava.
Taman yang tak terlalu luas itu telah di dekor ala kadarnya dan terdapat meja yang di atasnya telah berisi berbagai macam makanan dan cake.
" Uwahh.... Apa ini??!!"
Milea:" Kita nyambut kedatangan kalian lah apa lagi? Apa kabar nih pengantin baru?"
Mamih:" Iya sayang kita sengaja surprise-in kalian berdua. Gimana kalian suka gak?"
Mereka berdua tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada semuanya. Al dan Rara menghampiri orang tua mereka untuk menyapa dan mencium punggung tangannya tak luoa hal yang sama juga di lakukan kepada Iqbal dan Anggun.
Al:" Kalian kapan nyiapin ini semua?"
Fauzia:" Kemaren sore, kata nyokap lo kelian bakalan balik hari ini jadi kita nyiapin ini semua. Yah meskipun cuman penyambutan ala kadarnya tapi kita tulus loh..."
Rara:" Iya thanks ya guys, kalian emang sahabat terbaik gue." Rara mengacungkan kedua jempolnya ke arah sahabatnya. " Btw, kok kalian bisa yakin banget kalo kita pasti balik kesini dulu?"
Rendi:" Karna gue punya indera keenam makanya gue tahu kalian bakalan kesini dulu,hahhah..."
Katanya dengan sangat antusias. Yang mengundang gelak tawa dari yang lainnya.
Azra:" Rara... Rara... Elo itu udah nikah tapi masih aja polosnya yah... Hahahah..."
Rara:" Kenapa kalian pada ketawa? Emangnya ada yang lucu gitu? Perasaan gua gak lagi stand up comedy deh... "
Dengan polosnya Rara memandang semua orang termasuk orangtua nya yang sedang mentertawakan sikap anaknya tesebut.
Al:" Mai... Kita itu ketawa karna kamu percaya gitu aja sama omongannya Rendi. Pake minta di ajarin segala lagi... Hufftt... Ada-ada aja yah kamu tuh."
Danis:" Gak nyangka gue ternyata si Rara masih sama kayak dulu... Oh iya btw gimana nih calon keponakan gue udah jadi belum?"
Milea:" Heh!! Kamu itu oon apa dongo sih?! Mereka itu baru aja nikah 2 hari yang lalu. Yah kali udah jadi aja, kalo pun iya itu pasti bayi ajaib... "
Danis:" Ya kan aku cuman nanya aja yang. Kamu ga usah kayak gitu dong beib. "
Milea:" Apa? Apa? Apa? Yang? Beib? Kamu pikir aku tuh anak kamu apa pake manggil beib beib segala. Geli tahu dengernya. Iihhh..." Dia mengerdikan bahunya seraya menjauh dari Danis.
Danis:" Kamu tuh bukan anak aku.
Tapi, kamu adalah calon ibu buat anak aku nanti. Ting.. " Danis mengedipkan mata kirinya.
Rara:" Uhuk.. Kayaknya ada yang lagi pdkt nih.. Sejak kapan kalian mulai deket?" Rara menyenggol tangan Milea yang ada di sampingnya.
Milea:" Apaan sih Ra?! Siapa juga yang lagi pdkt sama dia, iihh... Amit-amit jabang bayi.. " Sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Rava:" Kamu jangan terlalu benci sama dia Mil, gimana kalo kalian itu jodoh? Cinta itu bisa berawal dari benci jadi cinta."
Milea menatap Rava dengan tatapan membunuh bahkan bola matanya seperti akan keluar.
Iqbal:" Iya Mil, jangan sampe kamu nanti nyesel karna sekarang udah nolak Danis. Gimana kalo nanti dia sama orang lain? Kamu juga kan yang rugi... Heheh.. "
Sinta:" Bener tuh kata A Iqbal Mil, jangan sampe yesel di kemudia hari.. "
Milea:" Kalian itu kenapa sih? Kenapa jadi mojokin aku? Lagian kita iti disini buat nyambut Rara sama Al, kenapa jadi ngebahas jodoh aku.. "
Milea nampak sangat kesal karna semua orang membela Danis. Sedangkan si cowok malah tersenyum lebar penuh kemenangan karna banyak yang mendukung usahanya.
Mereka melanjutkan acaranya sambil mengobrol santai dan makan hidangan yang telah di siapkan.
Satu per satu tamu mulai pulang, sekarang hanya tinggal Pak Haris dan Bu Intan saja yang belum pulang. Masih ada beberapa pembicaraan yang harus mereka bahas, jadi saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga.
Papah:" Oh iya Al, kapan kamu mulai tugas lagi?"
Al:" Besok lusa Pah, Al udah mulai tugas."
Mamih:" Kok cepet banget sih udah mulai tugas lagi aja."
Al:" Ya kan Al di kasih jatah cuti seminggh Mih, jadi lusa Al udah masuk."
Papih:" Iya, Mamih ini suka ngaco deh. Masa iya anaknya cuti satu bulan kan gak mungkin Mih..."
Mamih:" Ya enggak juga, maksud Mamih masa cuman sebentar. Kalian itu kan masih pengantin baru masih perlu banyak waktu buat berduaan. Kalo kamu udah sibuk kerja kapan Mamih bisa gendong cucunya."
" Uhuk... " Humaira yang kala itu sedang minum sontak langsung tersedak...
Al:" Kamu kenapa Mai? Kalo minum itu makanya pelan-pelan dong." Al menepuk-nepuk punggung Rara dan menyodorkan air putih.
Rara:" Aku gak papa kok Bi... Tadi lagi haus aja makanya aku minum sampe keselek.." Ia meminum habis air putih yang Al sodorkan dalam sekali teguk tapi sambil mencuri pandang pada Bu Sarah. Al mengikuti arah pandangan istrinya dan menatap Bu Sarah dengan tatapan menyalahkan. Sedangkan Bu Sarah hanya mengerdikan bahunya.
Mamah:" Ehm.. Kalian nanti tinggal di asrama atau gimana?"
Al:" Iya sebelum kita punya rumah sendiri untuk sementara waktu kita tinggal di asrama dulu."
Papah:" Padahal kalian bisa tinggal disini dari pada di asrama. Kasian Mamih pasti kesepian, selama ini sendiri di rumah. Kalo ada Rara kan enak ada temen ngobrol Rara juga sama."
Rara:" Kalian tenang aja Rara sama Al pasti bakalan sering berkunjung kok. Pulang dari butik Rara pasti sempetin buat dateng ke sini atau ke rumah Mamah. Kalo enggak, kalian juga bisa berkunjung ke asrama."
" Kalo kita masih tinggal disini atau di rumah Papah. Kapan kita mandirinya? Suatu saat nanti kita juga pasti bakalan punya anak sendiri, kalo gak di biasain dari sekarang hidup mandiri nanti pasti repot." Lanjut Humaira.
Papah:" Ya sudah, kita juga gak bakalan maksa kalian buat tinggal disini ataupun sama Papah. Kami percaya kalau kalian pasti bisa mandiri. Tapi jangan terlalu memaksakan diri juga buat bangun atau beli rumah. Kalian santai aja jangan di bikin beban yah. Kalo ada apa-apa bilang aja gak usah sungkan."
Al:" Iya kita juga ngerti kok. Kalian gak usah khawatir, rencananya besok Al sama Rara bakalan pindah ke asrama. Sekalian beres-beres disana. Kalo kalian mau boleh ikut kok, biar tahu di mana jadi pas mau mampir gak bingung nyari tempatnya."
Mamah:" Iya, besok kalo sempet Mamah pasti ikut anter kalian kok."
Perbincangan terus berlanjut hingga malam. Pak Haris dan Bu Intan pamit untuk pulang. Al, Rara serta Bu Sarah mengantar mereka sampai gerbang. Sedangkan Pak Yadi harus pergi ke RS. Tadi sore karna mendapat telfon ada kecelakaan beruntut jadi membutuhkan banyak dokter.
### TBC
__ADS_1