
Sebelum ke cerita saya mau ucapin Terima Kasih, karna udah baca cerita saya. Ini karya pertama saya jadi maaf ya kalo masih banyak kekurang, apalagi typo hihihi.... Saya juga masih belajar semoga kesininya bisa lebih baik lagi.
Kalo ada masukan apapun komen aja ya di tunggu Okey O(≧▽≦)O Jangan lupa juga buat likenya.
So Let's Check This Out
# AUTHOR POV
Bilal berangkat pukul 18.20 dari rumahnya, karena jarak dari rumahnya ke Hotel Mawar cukup dekat sekitar 30 menit kalo lalulintas lancar.
Dan sepertinya keberungan sedang berpihak padanya keadaan lalu lintas dari arah rumahnya lamcar sehingga dia sudah sampai sebelum pukul 19.00.
Sesampainya di Hotel dia langsung bergegas masuk menuju aula karna Rendi dan Danis sudah sampai terlebih dahulu.
Saat memasuki aula dia langsung menghampiri teman masa smp-nya yang juga sedang berbincang dengan Danis dan Rendi.
" Hey.. Bro apa kabar?" " Hay, gue baik lo apa kabar Van, udah lama banget kayaknya kita gak ketemu." Jawab Bilal pada temannya yang bernama Ivan sambil bersalaman. Yah, Ivan adalah kapten basket selama smp dan Bilal juga mengikuti ekskul tersebut, mereka dekat karna sama-sama anak basket karna memang tak pernah satu kelas.
" Alhamdulillah, gue juga baik sehat wal afiat,, heheheh.. Oh ya, ngomong-ngomong kapan lo balik ke Bandung? Kok ga ngasih kabat ke gue? Sekaramg lo udah sombong ya mentang-mentang kita jarang ketemu." Kata Ivan dengan nada sedikit mengejek Bilal.
" Gue pulang waktu selasa kemaren. Ngapain juga gua harus ngasih kabar ke elo, pacar juga bukan hahah.." Jawab Bilal membalas ejekan temannya yang satu itu.
" Yehh... Elu mah gitu ya, kalopun gue bukan pacar lo tapi kan kita tetep temen bro. Masa iya elo cuman mau kasih kabar ama bebeb doang sih. Inget pacar itu ada putusnya dan ninggalin kita, sedangkan temen? Temen itu pasti setia dalam keadaan apapun Man."
" Iya iya gue ngerti kok. Elu mah dari dulu ga bisa di ajak bercanda dikit maenannya serius mulu. Denger ya, jadi orang itu jangan terlalu serius
kali-kali bercanda dikit, dengan bercanda juga ga bakalan bikin dompet lo kering juga... " Bilal menjeda ucapannya sejenak. "Iya sori, gue lupa ngabarin soalnya gue masih sibuk sama urusan Caffe." " Caffe? sejak kapan loe punha caffe?" "Baru 6 bulan juga gue buka caffe yah lumayan buat nambah-nambah." " Widih.... Jadi boss jga dong lu hahahah... "
__ADS_1
Kurang lebih begitulah obrolan mereka semua kalo udah kumpul dan obrolan pun berlanjut juga membahas hal lain hingga mata Bilal tertuju pada obrolan di meja Humaira dkk. Mereka terlihat sangat asik dan entah sedang membicarakan apa, Bilal yang dewa keponya bangkit menghampiri meja tersebut.
Walaupun mereka bukan sobat karib, tapi mereka semua juga saling kemalasan kelas 8. Jadi apa salahnya untuk menyapa teman pikir Bilal.
" Heeiii.....!! Apa kabar bro?" Bilal menyapa Azra dan Nino.
"Baik-baik aja kita mah, iya kan guys? " "Yoi.... Lo apa kabar Al?"
" Gue juga baik." " Ehem..... Kalian ga bakalan ajakan kita bobrok, disini juga ada kita kali Al.." Kata Lia yang Sepertimya mulai bet karna tak di ajak.
" Oh iya, kalian apa kabar 'Geng Riweh?' heheheh... " Bilal menyapa yang lainnya sambil sedikit menggoda.
" Kita baik-baik aja Mang Dadang. Tapi. kita itu bukan 'Geng Riweh' yah..." Jawab Sinta.
" Bukan??? Terus apa dong?"
" Kita geng apa guys...??" Sinta bertanya pada yang lain.
" Geng kutukupret kalian mah.. ahahahah..." " ........." Hening tak ada yang menghiraukan candaan Danis..
" Ehem, kok gue di kacangun sih. Rara?"
Danis yang masih di kacangin memilih mencari pengalihan, dan Humaira hanya mengangkat alisnya seolah bertanya.
" Lo sekarang udah berubah yah Ra."
" Iya Alhamdulillah, gha makin cantik kan?" Jawab Humaira sambil membenarkan kerudung dan mengediokan satu matanya.
__ADS_1
Hal itu baru saja disadari oleh Bilal, kalau sekarang Humaira sudah berhijab karna semasa SMP dia tak memakai kerudung dan SMA hanya sesekali karna aturan sekolah. Walaupun begitu dia hanya memakai hijab saat keluar rumah dan terkadang masih memakai jeans walupun tak terlalu ketat. Beda halnya dengan yang lain seperti Lia, Ivi, dan Sinta yang sudah berhijab sejak SMP walaupun sejak kelas 9. Sedangkan Putri sudah dari SD karena dia alumni MI. Kalo Fauzia dia berhijab, pas masuk SMK. " Iya Ra sekarang lo makin cantik." Semua yang ada disana lanvsung memperhatikan Bilal yang tiba-tiba berkata demikian sambil. tersenyum memperhatika Humaira. Merasa dirinya salah ngomong Bilal langsung meralatnya.
" Eumm... Maksud gua, cewek itu makin cantik kalo pake kerudung. Auranya jadi bertambah, yah kayak Ivi, Putri, Sinta, Lia, sama Fauzia juga makin cantik bukan cuman Si Rara doang."
Bilal tak sadar kalo dia baru saja memuji Humaira hingga dia sejenak melupakan rasa sakit hatinya akibat setelah ditinggalkan oleh Kesya.
" Makasih Al. Juga tau kalo geu itu cantik gak usah diingetin juga, jadi malu gue."Jawab Humaira sambil
so-soan imut dan sedikit alal. " Huhh... Lo tuh ya dari dulu emang ga berubah alaynya tetep aja di kukut." Kata Nino sambil menyenggol bahu Humaira yang memang berada di sisinya. " Apa sih, lo sirik karna ga ada yang muji. Coba sini gue liat ada hal yang bjsa gue puji ga buat lo." Humaira mulai menilik penampilan Nino dari atas sampai bawah. " Eummm..... Muka lo emang ganteng sih No tapi agak pasaran."
" Heh.. Muka lo tuh yang pasaran makanya lo jomblo dari lahir, apa jangan-janga... Ha.... Ra lo normal kan?"
" Gue normal-normal Nino! Bahkan sangat NORMAL. Lo ga usah bawa-bawa status sama gue, sendirinya juga jones pake so-soan ngeledek gua huhh..." Sambil menonjok tangan Nino.
" Ya biarin seenggaknya gue pernah punya pacar. Gak kayak lo Ra." Jawab Nino yang tak mau kalah.
Diam-diam ada yang memperhatikan kelakuan merka berdua dia adalah Bilal, dan tanpa sadar dia tersenyum nelihat sifat Humaira yang sama seperti dulu tetap heboh dimanapun.
' Loe ga berubah yah Ra, lo tetep jadi Rara yang gue kenal dulu walupun sekarang loe udah berhijab, tapi lo tetep jadi diri loe sendiri.' Bilal bernolog dalam hati walaupun pandangannya tak lepas dari Humaira.
Humaira yang merasa ada yang memperhatikan langsung diam karna tak enak kalau menganggu orang lain. Sambil melihat sekeliling yang banyak memperhatikan mejanya. Saat itu tak sengaja pandangan Humaira dan Bilal bertemu beberapa detik sebelum akhirnya Bilal mengalihkan pandangannya. Yah, Bilal memang cinta pertama Humaira dan dia juga menyukainya untuk waktu yang lama, tapi itu dulu sebelum dia memilih untuk melupakan perasaannya. Memang tak semudah seperti membalikkan telapak tangan tapi jika kita bertekad bukankah tak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita berusaha. Begitu pula dangan perasaan Humaira pada Bilal yang seiring berjalannya waktu dia bisa melupakan dan menghilangkan perasannnya.
Sifat Humaira memang selalu heboh dan trekadang dia membuat kehebohan di tempat umum seperti sekarang ini.
Bagaimana perasaan Humaira mulai tumbuh pada Bilal dan bangaimana juga cara dia melupakan cinta pertamanya.
•Apakah Bilal mulai ada perasaan pada Humaira?
__ADS_1
•Apakah secepat itu dia melupakan Kesya yang telang menjadi cintanha selama 3 tahun ini?
### TBC