
Bab 30
Author Pov
" So... Humaira Zakarina Nugroho Will You Marry Me?"
Rara hanya diam tak bergeming, dia bingung harus menjawab apa. Dia melirik ke arah Ayah dan Ibunya. Mereka mengangguk pasti seraya tersenyum. Rara kemudian menyeka air matanya dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Jawabannya kali ini yang akan mengubah hidupnya kelak. Dia menatap Al yang masih dengan posisi yang sama.
" Ekhem Al...?" Panggilnya lirih, sedangkan yang dipanggil tidak menggubrisnya.
" Al, tatap mata aku kalo aku lagi ngomong sama kamu." Al mendongak kemudian mata mereka bertemu tepat di satu titik.
" Tadi kamu bilang apa sama aku? Aku mau denger sekali lagi, tapi kamu harus lihat mata aku."
" Humaira Zakarina Nugroho Will You Marry Me? Would You Be Mine? " Kata Al sambil menatap kedua Rara.
Rara tersenyum dan mengangguk
" Yes, I do."
Al langsung bangkit dengn senyuman yang mengembang di bibirnya. Dia mengambil cincin dan menyematkannya di jari manis tangan kiri Rara. Lalu refleks memluk Rara. Rara tak membalas pelukan Al ataupun menolaknya, dia hanya diam dan shock atas perlakuan tiba-tiba dari Al.
Jreng Jreng Jreng lampu di sana sekitika menyala semua. Telihat ada orang tua Al dan juga sahabat mereka tak lupa Rava juga hadir untuk menyaksikan lamaran Al sekaligus merayakam ulang Tahun Humaira. Tak lupa pasangan teman-temannya juga hadir seperti suami Putri, tunangan Ivi serta pacar Azra, Sinta, Fauzia, dan Rendi yang turut hadir memeriahkan acara.
Caffe yang sudah di dekor sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah. Terdapat beberapa balon berwarna hitam putih di setiap sudut atap caffe, tak lupa balon yeng bertuliskan
" H.A.P.P.Y B.I.R.T.H.D.A.Y R.A.R.A"
Tak lupa bunga mawar putih dan merah yang menambah kesan romantis.
" Disini gak cuman ada elo doang kali Al, inget masih ada yang jomblo nih.. Elo mau manas-manasin hue heuh?!"
Al tersadarkan oleh ucapan Danis dan melepaskan pelukannya.
" Sorry, tadi aku refleks peluk kamu, saking senengnya." Al merasa sedikit bersalah karna telah memeluk Rara dengan tiba-tiba.
Untuk mencairkan suasana, Nino dan Lita datang membawa cake lengkap dengan lilin 24 sesuai umur Rara.
ALL
" Happy Birthday to you.. Happy birthday to you... Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday Rara...."
" Happy birthday My Humaira... " Bisik Al tepat dintelinga Rara. Memdengar itu Rara hanya tertunduk malu dan menyunggingkan senyum.
All:" Happy birthday Humaira.... Wish you all the best... "
Bu Sarah:" Sekarang waktunya tiup lilin.."
All:" Tiup lilinnya.. Tiup lilinnya... Tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga sekarang juga... "
Rara memejamkan matanya dan menyatukan tangannya untyk berdoa lalu
Huuufff....
Satu per satu dari mereka memberkikan ucapan selamat kepada Rara dan Al karna lamarannya sukses.
" Terima kasih untuk semuanya, temen-temen, Kak Rava, Lita, Danis, Rendi, Bu Sarah, Pak dokter, Mamah Papah, A Iqbal, Teh Anggun. Pokoknya makasih banyak udah kasih surprise buat Rara."
Papah:" Iya sayang sama-sama, maaf udah buat kamu bete hari ini. Selamat ulang tahun buat putri Papah, Papah gak bisa kasih apa-apa sama kamu hanya doa yang menjadi kado dari papah. " Pak Haris lantas memeluk dan mencium kening putrinya.
__ADS_1
Mamah:" Selamat Ulang tahun putri kesayangan Mamah, sekarang kamu udah dewasa, dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Jangan lupa buat kunjungin Mamah yah kalo kamu udah nikah nanti." Bu Intan juga sama memeluk dan mencium Rara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rara:" Mah... Mamah jangan sedih gitu dong, Rara juga masih disini. Ini tuh ulang tahunnya Rara, dan Rara gak mau hari ini ada adegan sedih sedihan. Kita harus happy, Mamah jangan nangis yah." Ia menghapus air mata ibunya dengan kedua ibu jarinya lalu mencium kedua pipi ibunya.
" okeh yo yo sekarang waktunya potong kue, jangan ada yang sedih hari ini. Kita disini buat happy bukannya buat sedih-sedihan. Tante kalo mau sedih, sedihnya di tahan dulu jangan disini okeh tan!" Nino mencairkan suasana agar tak terlalu hanyut dalam kesedihan.
Rara memotong kue ulang tahunnya. Potongan pertama iya menyuapi kedua orang tuanya secara bergantian lalu orang tua Al. Potongan kedua iya bingung harus memberikan kepada siapa. Al hasil dia akan memberikannya pada Kakaknya tapi..
" Kok ke abang lo sih Ra, buat Al mana?" Celetuk Danis.
" Oh? Ya.. Ya..Kan ada yang lebih tua jadi gue kasih dulu sama yang lebih tua dulu dong."
" Enggak.. Kamu harus suapin dulu ke Al, A Iqbal bisa ngambil sendiri nanti." Iqbal mengarahkan Rara agar menghadap Al untuk menyuapinya.
" Aaa..." Rara menyuapi Al dengan tangannya sendiri, adegan yang biasa saja tapi bisa membuat hati Al ingin meledak rasanya.
Mereka melanjutkan pesta ulang tahun Rara dengan makan-makan dan karaoke. Saat semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing Al menarik tangan Rara untuk pergi ke bagian rooftop caffe.
" Mau ngapain kamu ajak aku kesin sih? Gimana kalo yang lainnya pada nyariin? Aku mau turun aja ah.."
Rara melepaskan tangannya dari genggaman Al dan berjalan menuju bawah. Baru juga satu langkah, Al kembali menarik tangan Rara kebelakang sampai badan Rara berbalik menabrak dada bidang Al.
" Mereka gak bakalan nyariin kita, mereka pasti tahu kita kemana. Kamu tenang aja oke?" Al membisikan hal itu tepat di telinga Rat hingga membuatnya membeku.
" Iya... Tapi gak usah peluk-peluk juga kali kita itu belum mukhrim. Lain kali kalo mau ngomong, ya ngomong aja gak usah deket-deket telinga ku juga masih normal."
Rara menggerutu sambil menjauhkan tubuhnya dari Al. Pipinya sudah seperti kepiting rebus yang sangat merah, bukan karna blash on ataupun udara yang panas. Tapi itu ulah dari Al, dia duduk dia salah satu meja.
" Iya sorry deh lain kali janji ga bakalan peluk-peluk secara tiba-tiba, nanti pasti bilang dulu. I promise. "
" Humph... Lain kali apaan, gak ada lain kali kita sebelum nikah gak ada pelukan apa lagi lebih. Kalo. kamj gak setuju, kita gak usah ketemu aja sampe ijab kabul."
Mendengar hal itu Al menganga. 'Masa iya sih, peluk aja gak boleh kita kan cuman pelukan doang gak lebih. Emang nyebelin yah si Rara, awas aja kalo udah sah aku bakalan bikin kamu gak bisa jauh dari aku.' Gerutu Al dalam hatinya sembari memanyunkan bibirnya.
" Itu terserah kamu, kalo kamu gak mau yah gapapa aku juga gak bakalan rugi kok." Ucap Rara dengan enteng sambil menyilangkan tangan di dadanya.
" Heuh... " Al mendudukan dirinya di samping Rara.
" Eumhh... Al aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi kamu harus jawab jujur yah gak boleh boong."
" Ehmmmhh... Emang kamu mau tanya apa Yang?"
' What Yang, Al manggil aku Sayang? Oh no!'
" Kenapa kamu mau nikah sama aku?"
" Aku jawab pertanyaan kamu. Mungkin ini terdengar konyol bagi kamu atau kamu mau bilang aku lebay terserah. Kamu emang bukan cewek pertama yang buat aku jatuh hati sama kamu, kamu emang bukan cewek pertama dalam hati dan hidup aku. Tapi aku yakin kalau kamu adalah jodoh yang telah di siapkan Allah buat aku. Sejak kapannya aku suka sama kamu, aku juga gak tahu pasti kapan itu. Yang aku tau aku gak mau kehilangan kamu atau liat kamu sama cowok lain selain aku."
Al melirik ke arah Humaira yang sedang mendengar kan dengan seksama perkataan Al.
" Kalo mengenai alasan aku kanapa bisa jatuh cinta sama kamu? Aku rasa kita gak harus punya alasan untuk mencintai seseorang Ra. Perasaan aku ke kamu itu tulus, aku gak mau dan gak akan pernah mau buat nyakitin apa lagi kecewain kamu. Aku merasa kamu itu beda dari cewek yang pernah jadi pacar aku Ra, ada sesuatu yang gak di milikin sama cewek lain dan hanya ada di kamu. Dulu, hati aku emang selalu berdegup dengan kencang kalo deket sama pacar aku. Tapi hati aku gak menemukan dan merasakan kenyamanan waktu sama mereka dan aku gak bisa jadi diri aku sendiri mereka semua selalu ngatur gimana hidup aku. Sedangkan kalo sama kamu, aku bisa jadi diri aku sendiri dan aku juga merasa nyaman deket sama kamu Ra. Aku pasti bakalan bahagiain keluarga kecil kita kelak."
Hati Rara tersentuh mendengar penjelasan dari Al.
" Terus kalo kamu? Kenapa kamu mau terima lamaran dari aku?"
" Aku pernah bilang kan pas di resesi Lita. Kalo aku bakalan nikah kalo orang tua merestui lelaki tersebut." Al. mengangguk.
" Tadi sebelum aku jawab, aku sempet melirik ke arah orang tua aku dan mereka mengangguk. Satu lagi, aku selalu minta kepada Allah dalam setiap do'a ku untuk memberikan petunjuk mengenak jodoh aku. Kamu tahu? beberapa hari lalu aku bermimpi kalo kamu ngelamar aku di hadapan orang tua aku. Dan itu bukan hanya sekali Al, tapi aku bermimpi hal yang sama selama seminggu berturut-turut. Aku rasa kamu memang jodoh yang udah Allah siapkan untuk membimbing aku ke jalan yang lebih baik lagi Al."
__ADS_1
Rara tersenyum lebar ke arah Al yang membalas senyuman tersebut dengan tak kalah lebarnya juga.
"Satu hal lagi, aku gak mau di panggil 'Yang' atau ' Sayang' sama kamu. "
" Why?.. " Al. mengerdikan bahunya sambil mengangkat kedua tangannya.
Mereka masih saling berhadapan satu sama lain.
" Karna kamu pasti manggil semua para mantan kamu dengan sebutan yang sama, Sayang lah, Beibi, Honey, sweety apapun itu. Dan aku gak maj di samaain sama mantan-mantan kamu terdahulu. Jangan panggil aku sama kayak kamu manggil mantan kamu dulu." Rara menajamkan tatapannya.
Mendengar hal tersebut membuat Al terkekeh.
" Jadi ceritanya kamu cemburu gitu? Bilang gitu aja susah banget sih?" Al mencolek dagu Rara.
"Siapa juga yang cemburu, jangan ge'er deh jadi orang."
" Terus kamu maunya dipanggil apa sama aku? Eneng? Atau Dede? Kamu kan lebih muda dari aku jadi gak papa kan kalo aku manggil kamu Dede? De Rara lucu kayaknya?"
"Enggak, aku gak mau di panggil Eneng apa lagi Dede! Entar dikiranya aku beneran adik kamu lagi. Apapun itu asalkan jangan yang tadi. Kita pikirin aja nanti."
'Sikap kamu yang apa adanya dan malu-malu kucing ini bikin aku tambah gemes tau gak Ra?' Batin Al.
" Euhmmm.... Kalo gitu kamu mau nikah dalam waktu deket ini apa nanti aja? Misalnya tahun depan gitu atau kapan?"
" Aku sebenernya gak mau terlalu lama dari sekarang. Hal yang baik itu lebih ceoat lebih baik bukan? Tapi terserah aja sih gimana baiknya. Kita serahin aja ke orang tua."
" Tapi Al, kalo aku boleh jujur nih ya. Aku pengen kita nikah tepat di hari ke seratus satu dari hari ini." Lanjutnya.
" Hari ke-101? Kenapa?"
" Gak Papa, aku cuman pengen aja. Jadi selama 100 hari itu kita bakalan nyiapin semuanya mulai dari undangan, prewedd, urusin ke KUA, izin ke kantor kamu dan semuanya kita lakuin selama 100 hari itu."
Wajah Rara sudah berseri-seri hanya dengan membayangkan hal tersebut. Menurutnya angka 100 itu angka yang perfect. Karna dulu selama sekolan dia selalu ingin mendapatkan nilai 100 dalam setiap mata pelajaran, meskipun kenyataannya hanya di beberapa palajaran saja. Dia ingin melakukan hal yang berhungan dengan angka 100.
Al yang bisa melihat rona bahagia di wajah Rara tentu saja akan melakukan apa pun asalkan dia bahagia.
" Baik. Kita bakalan omongin sama keluarga kita, kalo mereka setuju kita pasti bakalan nikah sesuai keinginan kamu."
" Beneran? ( Al mengangguki pertanyaan Rara) Aaa khhh... Makasih Al kamu emang yang terbaik." Teriak Rara sambil melompat kegirangan dan tefleks memeluk Al hingga terjatuh dan Cup... Bibir mereka menempel satu sama lain selama 1..2..3.. Detik hingga akhirnya Rara memjauhkan wajahnya dari Al.
Hening..... Itulah yang terjadi..
" Sampai kapan kita mau kayak gini terus? Sampe sah?" Rara langsung bangkig dari tubuh Al dan memalingkan wajahnya.
"Tadi siapa yang bilang gak boleh
peluk-peluk sebelum sah? Sekarang sendirinya yang meluk sendiri gimana sih Neng jadi orang kok gak konsisten banget."
" Ini udah malem aku mau ke pulan sekarang aja." Teriaknya sambil berlari kecil menuju ke bawah.
Al terkekeh melihat tingkah Rara...
' Lucu banget.... Dan manis... ' Batin Al sambil memegang bibirnya.
Begitu sampai bawah, ternyata semua orang sudah pulang dan hanya tersisa Yasmin dan beberapa karyawan yang sedang beres-beres.
Al hasil mau tak mau Rara harus pulang di antar Al. Selama di perjalanan tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Al lebih memilih fokus menyetir sedangkan Rara sibuk dengan menggerutu dalam hati.
' Kenapa tadi pake peluk segala sih.... Aish... My first kiss....'
__ADS_1
Sesampaknya di depan rumah, Rara langsung ngacir keluar tanpa berbicara sepatah kata pun. Dia sudah sangat gugup berada satu mobil dengan Al setelah adegan di rooftop tadi.
TBC