My first last love

My first last love
Bab 47


__ADS_3

*Author Pov


Jika selama awal kehamilan Rara tak pernah ngidam apapun. Kali ini Rara mulai ngidam. Sejak kepulangan Al, sudah banyak permintaan Rara yang terkadang aneh. Saat ini usia kandungan Rara sudah menginjak 25 minggu. Perut Rara kini sudah mulai membesar, pipinya juga sudah agak chubby dari sebelumnya.


Selama ngidam, sebagai seorang suami


Al akan selalu memenuhi keinginan iatrinya.  Seperti saat kandungan Rara 13 minggu, Rara pernah merengek pada Al agar dia di bolehkan ikut Apel bersama dan ingin menaiki tangwaja.


Belum lagi saat Rara ingin selfi menggunakan topi polisi yang sedang bertugas.


Rara juga pernah menyuruh Al untuk dance 'Tempo By EXO' meskipun sulit dan tak mengerti. Al tetap melakukan nya walaupun akhirnya Rara malah menangis karna gerakan Al malah kayak cacing kepanasan katanya.


Selain ngidam, emosi Rara juga sering berubah, terkadang dia akan sangat manja hingga Al tak diperbolehkan kerja. Atau dia akan sangat membenci Al tanpa alasan yang jelas. Dan kalau Rara sudah seperti itu Al tidak akan di perbolehkan tidur di kamar.


Semua itu Al jalani dengan senang hati meskipun awalnya dia kesal. Tapi setelah mendapat nasehat dari orang tuanya, Al mulai mengerti dan melakukan semuanya tanpa terkecuali.


Kini mereka jiga sudah tak tinggal di asrama lagi. Sudah sekitar 3 bulan mereka tinggal disana, sebenarnya saat Al kembali rumah itu sudah beres. Hanya tinggal mengisi dengan perabotan, tapi Rara tak mau karna menurutnya rumah 2 tingkat itu terlalu besar.


Di rumah baru mereka ini juga tedapat kolam renang dan halaman yang luas. Yang sudah di tanami berbagai macam tumbuhan seperti bunga aster, mawar, kaktus, pohon mangga dsb.


Al bahkan harus membujuknya dengan membelikan Rara es krim yang banyak hingga Rara mau. Mereka memperkerjakan 2 orang suami istri untuk membantu Rara. Bi Asih yang bertugas beres-beres dan Mang Asep sebagai supir dan tukang kebun.


Setiap weekend seperti sekarang ini, Al dan Rara selalu stay di rumah. Mereka lebih banyak mengahabiskan waktu di rumah dengan membaca buku tentang kehamilan, bagaimana cara merawat anak, mendengarkan lagu-lagu klasik dan lain sebagainya.


Seperti hari ini,  Al sedang libur mereka memutuskan untyk berenang. Karna berenang juga baik untuk ibu hami.


" Bi... Kita renang yuk... Aku udah lama gak berenang, kita renang disini aja gak papa kok.  Terus nih ya dari buku yang aku baca. Katanya berenang itu baik untuk ibu hamil.Aku juga udah tanya sama Dokter, emang bener katanya berenang itu baik. Berenang itu bisa membantu kita lebih relax, biar otot-otot gak tegang Bi.. Kita renang yah. Heumm?  Please....."


Saat ini mereka sedang berada di balkon yang menghadap ke kolam. Rara merengek ingin renang sambil mengayunkan tangan Al.


Al terlihat tak setuju,


" Iya bumil emang baik kalo berenang, tapi kan kita juga harus di temenin sama yang profesional juga Mai.  Apa lagi kamu selama ini belum pernah berenang selama hamil cuman senam aja.


Kita ke tempat yang emang khusus buat bumil aja yah. Biar ada instruktur-nya, aku juga khawatir kalo kita renang disini takutnya ada apa-apa."


Selama hamil Rara memang rutin memgikuti senam hamil. Baik itu yang berpasangan atau pun sendiri. Al juga selalu siap siaga mengantar Rara senam, karna mereka juga memilih waktunya setiap weekend.


" Ck...  Enggak! Aku gak mau renang di tempat lain aku mau renang di rumah aja Bi...  Lagian kan renangnya juga sama kamu, jadi gak bakalan kenapa-napa. Yah yah yah..... Emang kamu mau kalo anak kita nantinya ngeces?"


" Gak bisa Mai....  Kita ke tempat lain aja yah... Biar aku juga ngerasa aman klo ada yang profesional. Yah?"


" Ihh...  Aku gak mau Bi..  Aku gak mau kalo renang sama orang lain, aku maunya renang sama kamu aja. Kamu mah kayaknya emang gak sayang sama kita." Rara memandang Al dengan tajam.


"Dede Ayahnya gak mau nemenin Bunda renang, kita renangnya berdua aja yah.." Katanya sambil mengelus perut buncitnya.

__ADS_1


" Bu.. Bukannya gitu sayang Ayah cuman mau yang terbaik buat kalian. Ayah gak mau kalo kamu sama Bunda nantinya malah kenapa-napa...." Al berjongkok dan mensejajar kan dengan perut Rara sambil mengelus perutnya.


Al mendongak dia melihat istrinya sudah mulai berkaca-kaca. Karna tak tega, akhirnya Al mengiyakan permintaan Rara.


" Ya udah Okey...  Kita renang di rumah aja tapi jangan lama-lama. Terus nanti Bi Asih juga harus deket kolam buat jaga yah..."


Rara tersenyum semringah dan mengangguk dia menepis air matanya.


" Iya aku janji kita renang nya cuman sebentar 15 menit juga gak papa."


" Kalo gitu kita ganti baju dulu. Sayang sekarang kita bakalan berenang, tapi janji yah sama Ayah kalo kamu bakalan baik-baik aja." Cup...  Al mengecup perut Rara lalu dia berdiri dan mengecup sekilas bibir Rara.


Setelah berganti baju, mereka beranjak ke kolam. Disana sudah ada Bi Asih yang sudah menyiapkan handuk ada juga pelampung balon berbentuk angsa yang besar. Untuk persiapan kalau Rara ingin naik pelampung.


" Aku dulu yang turun abis itu kamu yah." " Heemh.. "


Al turun terlebih dahulu ke dalam kolam. Lalu dia membantu Rara turun perlahan, Al menggenggam tangan kanan Rara sedangkan tangan kirinya di pegang Bi Asih untuk jaga-jaga.


" Waah...  Akhirnya aku bisa berenang juga. Bi aku mau renang gaya punggung yah? Kamu juga harus renang gaya punggung, kamu disamping aku."


" Aku gak usah renang aja yah, aku jagain kamu dadi samping. Kalo ada apa-apa nanti aku juga tahu."


"Ya udah.." Rara mulai berenang dari ujung ke ujung, dia juga berenang dengam gaya dada. Gaya dada berfungsi agar otot-otot pada kaki dan tangan tidak tegang.


Bilal hanya mengikuti istrinya berenang dengan berjalan di pinggir kolam. Sesekali Al juga menggerakkan kakinya saat Rara agak jauh darinya.


" Tapi aku masih pengen renang Bi..."


" Tadi kan kamu udah janji cuman sebentar. Tadi katanya cuman 15 menit,  ini juga udah 15 menit Mai sekarang naik yah?"


Dengan sedikit berat hati Rara naik ke atas. Bi Asih membantunya dari atas, sedangkan Bilal membantu Rata dari dlam kolam.


" Ini Non handuknya, sekarang berjemur dulu biar gak dingin..."


Bi Asih memanggil Rara dengan sebutan 'Non' ataa kemauan Rara sendiri. Awalnya Bi Asih memanggil Rara dengam sebutan 'Nyonya'. Tapi Rara tak suka, karna dia juga masih muda, jadi Rara meminta Bi Asih untuk memanggil nya dwngan sebutan ' Nona' saja.


" Iya Bi, makasih... Oh iya Bibi gak papa kok sekarang udah bisa ke dapur lagi. Aku sama Bilal disini."


" Gak papa Non,  Bibi disink aja lagian kerjaan Bibi juga udah selesai. Di dapur juga gak ada kerjaan Non.  Biar Bibi temenin Non Rara aja kalo ada apa-apa biar sama Bibi."


Selama ini Bi Asih memang hanya bertugas membereskan rumah, mencuci piring, atau terkadang membantu suaminya membereskan taman.  Selain itu, Bi Asih juga selalu ikut kemana pun Rara pergi seperti asisten Rara. Urusan memasak dan mencuci pakaian, tetap Rara yang mengerjakan.


" Ya udah kalo gitu Bibi bantu saya duduk di kursi itu ya Bi."


" Iya Non."

__ADS_1


" Bi... Aku sama Bi Asih mau duduk disitu. Kamu terusin aja renangnya, dari tadi juga kamu cuman diem di pinggir kolam doang.  Aku juga mau liat kamu berenang."


Al mengangguk paham. Sebenarnya sejak tadi dia memang ingin sekali berenang. Tapi karna keselamatan Rara yang lebih utama, jadi dia tetap berada di pinggir kolam. Byur..... Byur... Kecepek.. Kecepek... Al berenang kesana kemari. Demgan berbagai gaya, mulai dari gaya bebas,hingga gaya dada.


Rara sedang duduk di salah satu kursi yang ada di dekat kolam. Bi Asih berada di samping nya.Rata memperhatikan setiap gerakan Al, sambil meminum jus buah naga yang sudah disiapkan Bi Asih


" Bi? Saya mau tanya sesuatu sama Bibi boleh gak?"


" Ya boleh atuh Non, mau tanya apa Non? "


" Ekhem...  Gini Bi,  Bibi punya anak berapa?"


" Bibi teh punya anak empat Non, emangnya kenapa?"


" Gak papa sih Bi cuman mau tanya-tanya aja.  Anak Bibi cewek cowok?"


" Iya Non, anak pertama sama kedua laki-laki kalo yang ketiga sama si bungsu mah perempuan."


" Ouh... Bibi lahrannya secara normal atau di sesar?"


" Bibi Alhamdulillah normal Non, terus juga lahirannya Bibi mah di rumab gak pake ke dokter atau bidan. Da dulu mah atuh ke dokter atau bidan itu mahal. Bibi gak punya biaya nya, jadi yang penting selamat aja bayi nya non."


" Bi, saya mau tanya lagi...Euh..  Kalo ngelahirin itu sakit gak Bi?"


" Gimana yah Non, kalo di bilang sakit mah yah sakit namanya juga ngeluarin bayi. Tapi sesakit apa pun itu pastinya juga gak bakalan terasa sakit Non.  Kalo udah denger suara tangisan bayi mah. Semua itu teh kayak yang hilang gituh.."


Rara terlihat sedikit gelisah, dia memikirkan bagaimana sakitnya saat dia melahirkan nanti. Bi Asih yang menangkap raut wajah majikannya mencoba untuk menenangkan Rara.


" Kenapa Non?  Non Rara takut ngelahiri?" Rara mengangguk sebagai jawaban.


" Non Rara gak usah takut, semuanya pasti baik-baik aja Non. Emang Non Rara teh mau normal atau sesar Non?"


" Gak tahu Bi, saya juga bingung. Sebenernya saya pengen normal, karna saya juga ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan secara normal. Tapi yah itu juga tergantung gimana kondisi saya nanti, kalo gak memungkinkan yah pasti sesar."


"Heuh... Di satu sisi saya juga takut Bi." Rara menarik nafas panjang lalu menghebuskannya dengan kasar.


" Non... Kalo menurut Bibi, Non teh jangan terlalu banyak pikiran soal gimana nanti pas lahiran. Mau normal atau pun sesar yang penting nanti bayinya selamat dan sehat. Non Rara juga gak usah takut, semua ibu pasti akan merasakan yang namanya melahirkan Non. Non Rara teh cukup berdo'a sama Allah, biar di beri keselamatan dan kesehatan. Insyaallah semuanya pasti baik-baik aja non."


" Heumh... Iya yah Bi, lebih baik kita pasrahin aja semuanya sama Allah. Jangan terlalu banyak mikir yang enggak-enggak. Makasih yah Bi.. Oh iya sekarang anak-anak Bibi udah pada nikah semua?"


" Sudah Non, Alhamdulillah semua anak Bibi semuanya sudah menikah."


Rara dan Bi Asih melanjutakan obrolan mereka hingga Al selesai berenang.


Setelah itu Al dan Rara kembali ke kamar, Al memapah Rara dengan melingkarkan tangannya di pinggang Rara.

__ADS_1


### TBC


__ADS_2