
* Author Pov
Setiap pagi setelah sholat subuh, Rara akan disibukan dengan memasak dan menyiapkan keperluan Al. Sedangkan Al setelah sholat ia akan menjaga Nabira karna terkadang jam 5 pagi, Nabira sudah bangun.
Seperti sekarang, Rara sedang sibuk memasak sedangkan Al sedang mengajak main Nabira di kamar. Bi Asih sedang beberpa rumah, atau terkadang membantu Rara memasak kalau-kalau Nabira menangis.
" Oek... Oek... Oek... " Nabira menangis begitu dia bangun.
" Ehh.... Anak Ayah udah bangun yah sayang... Sini Ayah gendong heup... "
Al yang sedang berganti pakaian harus menghentikan aktivitas nya terlebih dahulu. Al lalu menggendong Nana dan mengajak ke bawah. Nabira masih saja menangis, dia sepertinya lapar.
" Cup... Cup... Sayang Nana jangan nangis yah kita ke Bunda ya sayang... Usstt.... Bunda... Bun..." Al memanggil Rara yang kala itu sedang memasak.
" Iya kenapa Bi?!" Teriak Rara dati arah dapur.
" Ini Nana udah bangun Mai, terus nangis kayaknya dia laper..." Al menghampiri ke dapur dengan masih menimang Nana. Sekarang Nana sudah 3 bulan, jadi dia sedikit lebih rewel. Apalagi baru saja imunisasi.
" Ouh.... Nana sayang, kamu laper yah nak. Sini sama Bunda sayang...." Rara menggendong Nana Dan pergi ke kamar untuk menyusuinya.
" Bi.... Bibi terusin dulu yah masakannya Rara, soalnya Nana lagi rewel."
" Iya tuan, biar Bibi aja yang terusin masak. Non Rara biar sama Non Nana aja."
Al pun kembali ke kamar, untuk bersiap-siap. Di kamar, nampak Rara yang sedang menyusui Nabira di sofa. Nabira masih full ASI tanpa susu formula jadi kalau sudah menangis Rara harus menyusui Nabira terlebih dahulu.
" Nana masih panas Mai?" Al ikut duduk di samping Rara dan mengecek suhu Nabira, yang dari semalam demam.
" Iya Bi... Nana masih agak demam. Udah ini dia harus minum obat lagi..."
"Aku gak tega kalo liat Nana demam kayak gini. Kasian dia tidurnya juga ke ganggu, nangis terus..." Al membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
" Iya kan namanya juga abis imunisasi Bi, jadi ya wajar kalo Nana demam. Nanti juga demamnya turun, kamu gak usah khawatir kayak gitu...Mending sekarang kamu sarapan dulu aja takutnya gak keburu. Tadi juga aku udah selesai kok tinggal satu lagi."
" Ya udah aku sarapan dulu yah.."
" Iya nanti kalo Nana udah tidur aku ke bawah." Al beranjak dari sofa lalu memakai pakaiannya yang tadi sempat tertunda dan menuju ke bawah untuk sarapan.
Selesai sarapan, Al kembali ke kamar dia sedikit khawatir kalau terjadi sesuatu pada Nana. Karna Rara tak ke bawah untuk menemani nya makan.
" Nana masih rewel yah Mai?" Tanya Al yang melihat Rara masih menimang Nabira Di balkon.
" Iya Bi... Tadi abis minum obat dia nangis terus, jadi aku gak temenin kamu sarapan."
" Ouh... Ya udah gak papa. Aku mau berangkat sekarang Mai, takutnya macet."
Rara melirik jam dinding di kamar ternyata sudah jam 6 pas.
" Oh iya ini juga udah jam 6, mending kamu berangkat sekarang. Tapi aku gak bisa anter ke bawah ya. Nana masih tidur, kalo ditidurin di kasur takut bangun terus nanti rewel lagi."
" Iya gak papa aku ngerti kok. Nana Ayah berangkat kerja dulu yah sayang. Nana cepet sembuh, biar bisa main lagi sama Ayah. Ayah berangkat yah sayang." Al memcium malaikat kecilnya yang tertidur di gendongan Rara.
" Aku berangkat yah Mai.... Assalamualaikum." Seperti biasa Rara akan mencium tangan Al dan Al akan mengecup kening Rara terlebih dahulu sebelum berangkat.
" Walaikumsalam...Kamu hati-hati yah Bi..." Al mengangguk Dan berlalu pergi ke bawah. Saat di depan gerbang, Al melambaikan tangannya pada Rara yang kala itu masih berada di balkon...
Tiga tahun kemudian Nabira sudah berumur tiga tahun. Tepatnya hari ini, Rara dan Al sepakat akan merayakan hari ulang Nabira yang ke tiga.
Mereka akan merayakan nya di caffe dengan mengundang anak yatim dan sahabat serta sanak saudara.
Mereka ingin mengajarkan arti berbagi pada Nabira dengan mengundang anak yatim dari panti asuhannya Baby.
Meskipun Nabira belum paham, tapi Al yakin kalau sejak dini sudah di kenalkan dengan hal yang baik. Saat besar nanti Nabira akan mengerti arti berbagi sesungguhnya.
__ADS_1
Sekarang Nabira sudah pintar berbicara dan Nabira juga sudah sangat aktif tentunya Nabira juga cantik seperti Bundanya. Dimana pun dia pasti akan berlari kesana kemari tanpa peduli dengan sekitarnya. Bahkan Rara dan Al sering kehilangan Nabira saat mereka pergi ke Taman di sekitar rumah. Beruntung Nabira tak pergi jauh karna itu masih sekitar rumah mereka. Jadi sudah banyak yang tahu Nabira.
Acara akan diadakan pukul 14.00 WIB sekarang Caffe Al sudah penuh dengan para tamu undangan. Tema ulang tahun Nabira kali ini adalah Toy Story sesuai dengan keinginan Nabira. Nabira memang tak seperti anak perempuan lainnya yang akan memilih tema princess. Dia memilih Toy Story karna suka dengan tokoh Andy di koboy.
Saat acara akan di mulai,Nabira malah menghilang entah pergi kemana. Dia tak ada di tempat dan malah sibuk berlarian kesana kemari dengan teman-teman nya. Nabira memakai kostum koboy lengkap dengan topi dan rambutnya juga sudah di kepang 2.
" Mah, Mamah liat Nana gak? Dari tadi aku cari gak keliatan."
"Nana? Bukannya tadi Nana sama Fakhri, Alina, terus sama Adrian yah? Mereka tadi Mamah liat di deket ayunan Ra."
Fakhri anaknya Danis & Milea.
Alina anaknya Nino & Lita
Adrian anaknya Rava & Lis.
" Tapi tadi Rara liat disana gak ada Mah. Ini acaranya mau di mulai, tapi Nana malah gak ada."
" Kenapa Mai? Nana ilang lagi?"
" Iya Bi... Nana gak ada mana acaranya mau mulai lagi?
" Tenang! Tenang! Ini tuh anak kita yang ilang Bi bukannya anak kucing. Gimana kalo ada sesuatu sama Nana?"
" Nana pasti masih di caffe Mai... Dia..."
Belum juga Al menyelesaikan ucapannya,Nana sudah berteriak.
" Ayah!! Bunda!!!!" Nabira berlari ke arah mereka.
" Nana..Kamu kemana aja sih? Kan Bunda udah bilang kamu jangan jauh-jauh mainnya. Tadi kan Bunda udah bilang kalo kamu harus sama Bunda atau Ayah."
" Maaf tadi Nana juga mainnya gak jauh-jauh kok. Nana mainnya masih disini sama Fakhri sama Alina. Kita main ayunan terus ke atas, Nana tadi juga udah bilang sama Kakek." Jawab Nabira dengan polosnya.
" Ya udah lain kali, Nana gak boleh main terlalu jauh yah sayang. Nana juga jangan lari-larian disini, disini banyak orang nanti ada yang jatoh sayang. Jangan naik-naik ke atas juga kalo gak sama orang dewasa. Okey?"
" Iya Nana, janji lain kali gak bakalan main jauh lagi. Nana juga gak bakalan lari-larian disini."
" Pinter anak Bunda. Sekarang kita tiup lilin sama potong kue dulu yuk." Rara mengelus pipinya lalu Al menggendong Nabira menuju salah satu meja yang sudah terdapat kue ultah untuk Nabira.
__ADS_1
Setelah bernyanyi dan meniup lilin, Nabira di bantu orangtuanya memotong kue. Potongan pertama, Nabira menyuapi Ayahnya lalu Bundanya.
" Bunda Nana mau main lagi yah sama Alina...."
Nabira sudah berlari mengajak Alina bermain. Rara dan Al hanya geleng-geleng kepala. Sepertinya belum ada 30 menit sejak Nabira berjanji pada Bundanya tidak akan berlari. Sekarang dia sudah tak ada di tempat, Nabira sudah pergi ke ayunan bersama Alina.
Acara ulang tahun Nabira berjalan sesuai rencana. Acara selesai pukul 18.00 hingga semua tamu undangan pergi.
Al dan Rara sekarang sedang dalam perjalanan, Nabira sudah terlelap di pelukan Bundanya. Kali ini Mang Asep lah yang membawa mobil dan Bi Asih di sampingnya. Sedangkan Al dan Rara duduk di kursi belakang.
" Nana pasti capek yah sampe magrib dia udah tidur kayak gini." Ucap Al sambil mengelus rambut putrinya yang terlelap.
" Iya Bi, Nana pasti kecapean. Dari tadi Nana main terus sama Alina, biasanya juga kalo magrib dia belum tidur."
" Heumh.... Gak kerasa yah Mai, putri kecil kita sekarang udah besar lagi. Dia sekarang udah mulai susah di atur pengen main terus, kerajaannya lari-larian."
" Iya Bi... Rasanya baru kemaren Nana itu mulai merangkak terus jalan mulai bicara. Sekarang dia udah pinter ngomong, udah lari-larian. Bentar lagi masuk sekolah, waktu itu emang cepet berlalu ya Bi..."
" Hhmm... Gak kerasa juga pernikahan kita udah mah 4 tahun Mai... Terima kasih karna udah nemenin aku selama 4 tahun ini. Aku harap keluarga kecil kita selalu bahagia dan kita akan menghabiskan waktu hingga ajal memisahkan." Cup... Al mengecup puncak kepalan Rara lalu mengecup Nabira. Rara menyenderkan kepalanya di bahu Al..
Itulah kebahagiaan keluarga kecil Bilal dan Humaira. Cinta Humaira yang awalnya hanya bertepuk sebelah tangan. Hingga akhirnya dia menyerah untuk cintanya dan ber-istikomah di jalan Allh untuk tak lagi mencintai seseorang yang bukan mukhrim nya.
Hingga mereka di pertemukan kembali di suatu acara dan Bilal mulai jatuh hati padanya. Dan akhirnya Cinta mereka bersatu dalam ikatan pernikahan dan cinta Humaira yang dulu kandas kini sudah terbalas. Meskipun dulu dia merasa sakit hati dari mencintai dalam diam.
Kini dia tak pernah merasakan hal itu lagi. Hanya kebahagiaan yang kini mewarnai setiap hari bahkan setiap detik di hidup Humaira.
Dengan adanya Nabira malaikat kecil mereka yang menambah kebahagiaan keluarga itu.
Rencana Allah itu memang tak bisa ditebak. Terkadang dalam hidup kita harus merasakan yang namanya sakit agar kita bisa mengambil hikmah dari itu semua. Mungkin saja apa yang selama ini kita anggap baik, belum tentu itu yang terbaik untuk kita. Begitu pula sebaliknya.
Hidup itu pasti mempunyai dua sisi ada hitam ada putih. Ada baik ada jahat. Ada sedih ada bahgia. Seperti Humaira yang dulunya selalu bersedih kini sudah bahagia. Siapa pun atau apa pun takdir yang menanti kita. Ingatlah bahwa itu adalah yang terbaik untuk kita. Karna Tuhan tak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umatnya....
Sekian cerita untuk "My First Last Love"
Terima kasih banyak untuk dukungannya.Dan Maaf jika banyak kesalahan dalam pengetikkan atau pun ada kata-kata dari saya yang menyinggung hati para pembaca.
Saya juga hanya seorang manusia biasa dan masih belajar dalam segala aspek. Termasuk dalam menulis cerita ini.
Sampai jumpa di karya-karya saya selanjutnya.. See You......
__ADS_1