
*Author Pov
Malam ini Humaira dan yang lainnya sedang berada di resepsi Lita&Nino yang cukup kental dengan adat jawa bahkan ada pertunjukan wayang kulit.
Lia juga sudah datang tadi siang dan dia datang bersama pasangannya Rava. Lita menghampiri teman-temannya sambil menggandeng tangan Rava. Bilal yang memang belum mengetahui hubungan Lia dan Rava yang sebenarnya merasa marah tapi disatu sisi dia juga bingung.
Sedangkan Milea sedang berkelana mencari makanan untuk memenuhi panggilan perutnya.
" Hai guys...." Mereka semua bercipika cipiki layaknya seseorang yang sudah lama tak jumpa.
" Hai.... Kemana aja lo baru? Kapan nyampe?"
" Tadi siang Ra, gue baru nyampe soalnya masih ada kerjaan ga enak juga kalo gue cancel."
" Oh seperti itu... Ekhem Btw ada yang beda nih"
" Beda? Apanya yang beda Lia biasa saja. Dr. Rava juga gak ada masalah dia tampan seperti biasanya." Mungkin sudah menjadi kebiasaan para cowok yang kurang peka dengan keadaan sekitar salah satunya yah Azra ini.
" Ouh... Gue paham maksud loe Ra. Kapan tuh Lia? Kok ga kabarin kita sih?" Kata Ivi sambil menunjuk
" Eummmh.... Gue di lamar sama Kak Rava lusa, waktu itu gue baru pulang dan ternyata dia udah nungguin gue di depan RS. sama rekan-rekan dokternya. hehe..."
" Aciee... Yang udah dilamar kapam dong kita makan-makan? Udah ga sabar nih perut gue pengen makan yang mahal tapi gratis haha... " Pernyataan Putri tersebut yang sambil memgelus perutny membuat yang lainnya tertawa renyah..
" Ah elo mah Put, kalo masalah makan emang selalu jadi yang nomer satu yah." Timbal Fauzia.
" Ya iya dong, momen-momen yang kaya gini tuh harus di manfaatkan sebaik mungkin, iya gak Al?" Kata Putri sambil melirik ke arah Al.
" Elo mah dari tadi perasaan diem mulu apalagi setelah dateng Lia. Kenapa? Elo juga pengen cepet-cepet ngelamar orang?"
Al sedari tadi memang hanya diam dan hanya menjadi pendengar yang baik pikirannya masih kacau. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Dan ekspresi itu tak luput dari mata Lia yang memang sudah sedari dulu curiga kalau Al memang ada perasaan ke Rara.
" Engga kok, gue ga bengong gue cuman agak kaget aja gitu. Semua orang di sekitar gue udah banyak yang mau meried dan gue baru tau sekarang. Gue ngerasa jadi orang yang terkudet disini... Heheh.."
Yah jawaban dari Al barusan memang tak sepenuhnya bohong, dia memang sedikit kaget bahkan sangat.
Lalu Milea datang menghampiri Rara dkk.
__ADS_1
" Ra kita ke Lita yu mumpung udah agak sapi."
" Eh, ada yang lain ternyata.Oh ada kak Rava juga ternyata kakak kesini sama siapa? Terus kenalannya siapa, Lita apa Nino?" Milea yang baru menyadari ada sahabat Rara dan Milea hanya tersenyum kikuk karna mereka belum saling kenal kecuali Rava dan Bilal.
" Oh ya, Mi kenalin ini sahabat-sahabat aku kita juga satu geng sama Nino. Dan Guys kenalin ini Milea dia sahabat gue dari SMA, kita juga satu sekolah sama Kak Rava."
Milea menyapa mereka semua dengan tersenyum ramah sambil sedikt membungkuk. Lalu mereka berkenalan satu per satu.
" Oh iya, Kak Rava kesini bareng siapa?"
" Kak Rava kesini sama tunangannya Lia. Dia baru aja ngelamar si Lia lusa, jadi kesini buat nemenin Lia karna waktu itu Lia ga ikut sama rombongan Nino jadi baru sampai tadi siang." Yang menjawab bukanlah orang yang bersangkutan, melainkan Rara yang membisikan kepada Milea. Dan Milea hanya berohria saja sambil memandang Lia dan Rava secara bergantian.
" Yuk ah kita samperin pengantinnya. Mumpung udah agak sepi." Ajak Sinta.
Kemudian mereka semua menuju ke pasangan pangantin sekalian berpamitan kepada yang lainnya. Karna mereka semua memutuskan untuk pulang malam ini. Barang-barang Rara dan Milea juga sudah di bawa dari rumah Lita.
Setelah berfoto Rara merasa sumpek berada di dalam, jadi ia memutuskan untuk mencari udara segar keluar dan duduk di kursi yang terdapat di taman hotel.
Sedangkan yang lainnya masih di dalam mereka sedang mengobrol dan berkenalan lebih lanjut dengan Milea.
Bilal nampak masih bingung dengan semuanya. Lia yang bisa menangkap situasi mengajak Bilal untuk berbicara sebentar. Mereka pergi keluar.
Bilal mengerutkan keningnya, pasalnya Lia mengajak keluar karna ingin bicara serius tapi begitu sampai sini malah ngabahas Rara.
" Gue tau kalo elo itu ada rasa ke Rara, waktu itu juga elo pernah ke butik Rara kan? Bahkan lo ngikutin Rara sama Kak Rava sampe restoran."
Masih dengan ekspresi sama danAl hanya diam membisu.
' Kenapa Lia bisa tau? Apa jangan-jangan dia punya indra ke 6 lagi.' Batin Al.
" Gue tau itu semua karna Kak Rava liat elo yang waktu itu agak jauh dari butik. Dia juga tau kalo elo ngikutin mereka sampe restoran. Tapi begitu Kak Rava ngeluarin kotak cincin katanya elo langsung pergi gitu aja. Kak Rava cerita semuanya ke gue."
" Heh... Gue sama Kak Rava udah pacaran selama kurang lebih 2 tahunan. Waktu itu kita lagi renggang, tapi karna bantuan dari Rara kita bisa balikan lagi dan..."Lia memperlihatkan jari manis tangan kirinya yang terdapat sebuah cincin.
" Sekarang Kak Rava udah lamar gue dan itu semua berkat Rara. Kak Rava, dia juga tau kalo elo pasti ada perasaan lebih ke Rara. Karna kalo elo gak punya perasaan apapun sama Rara, elo gak bakalan ngikutin mereka sampe ke restoran terus elo juga ga bakalan pergi gitu aja begitu liat Kak Rava ngeluarin kotak cincin itu."
" Gue udah mulai curiga sejak kita ke Lembang, ekspresi elo dan sikap elo ke Rara itu beda. Meskipun orang bakal nyangkanya sekedar sahabat doang tapi enggak sama gue." Imbuh Lia.
__ADS_1
" Kenapa elo bisa berfikir kalo gue itu suka sama Rara? Gue ga pernah bilang kalo gue naksir sama Rara."
" Al elo itu lupa apa dongo sih? Profesi gue itu psikolog kalu elo lupa. Dan satu lagi Gue ini lulusan terbaik di kampus gue. Jadi gue tau apa yang elo pikirin dan elo rasain Al."
'Okey aku melupakan satu hal yang cukup penting, bahwa Lia adalah seorang psikolog. Kenapa bego banget sih.... Harusnya aku bisa sedikit berhati-hati dalam bertindak. Akh!!! ' Al meratapi kebodohannya yang tidak peka dengan keadaan di sekitarnya.
" Sekarang gue mau tanya satu hal sama lo. Lo serius sama perasaan lo ke Rara?" Al mengangguk.
" Okey, kalo elo emang udah yakin sama hati dan perasaan elo ke Rara, gue saranin elo harus gercep sebelum Rara ada yang ngambil. Gue yakin elo pasti bisa bahagiain Rara, tapi kalo elo masih belum yakin sama diri lo sendiri mendingan jangan coba-coba buat nyakitin perasaan dia. Kenapa? Karna Rara itu sahabat terbaik gue, gue gak mau dia sakit hati apa lagi di kecewain sama yang namanya cowok. Yang gak bertanggung jawab." Lia menapat kedua mata Al sambil berbicara.
" Lo tenang aja, gue pasti jaga Rara baik-baik. Gue juga udah yakin sama perasaan gue ke Rara, gue pasti bakalan bahagiain dia dengan cara apa pun. Tapi, gue minta sama elo jangan dulu kasih tau siapa pun termasuk pacar lo. Kalo gue udah yakin Rara pasti nerima gue, biar gue aja yang kasih tau sama anak-anak." Al tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa dia masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hati Rara.
" It's okey no problem. Lo tenang aja gue pasti jagain rahasia lo dari siapapun. Mending sekarang lo cari Rara, pikirin gimana caranya supaya perasaan lo ke Rara gak bertepuk sebelah tangan."
" Thanks ya, gue cari Rara dulu." Al berlalu pergi untuk mencari keberadaan Rara.
' Elo harus buat dia bahagia Al, untuk kali ini jangan biarin Rara sakit hati lagi karna ulah elo. Udah cukup dia menderita dengan cinta sepihaknya dulu. Dan jangan sampe elo buat dia jatuh cinta lagi sama elo tapi elo malah sakitin dia. Gue ga bakalan buat hal itu terjadi.' Lia berbicara dalam hatinya sambil memandang kepergiaan Al.
Dari dulu Lia memang orang yang sangat peka, dia juga tau tentang perasaan Rara sama Al meskipun secara tak sengaja. Waktu itu saat sedang melihat pertandingan Volly, Rara tak sengaja bilang " Al keren banget... " Dengan mata yang berbinar.....
" Tapi sayang aku udah udah denger semuanya. Jadi gimana dong?"
Suara seseorang dari balik tiang menyadarkan Lia dari lamunannya.
" Kak Rava? Sejak kapan kakak disana?"
Lia bingung karna tadi saat dia mengajak Al untuk bicara semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
" Pas aku dari toilet, Aku tadi gak sengaja liat kamu ajak dia keluar. Karna penasaran jadi aku ikutin kalian." Rava berjalan mendekat ke arah Lia yang masih tercengang.
" Aku udah denger semuanya, apa yang kalian bicarain. Aku ikut seneng kalo dia emang serius sama Rara, karna aku juga mau yang terbaik buat adik aku." Sekarang Rava sudah ada di hadapan Lia dan dia tersenyum manis.
" Tapi... " Omongan Lia terpotong karna jari telunjuk Rava sudah menempel di bibirnya.
" Sssuttt.... Aku tau, aku pasti jaga rahasia kalian berdua. Kamu tenang aja aku juga bisa jaga rahasia kok. Mending sekarang kita masuk sebelum yang lainnya curiga."
Lia mengangguki ajakan Rava dan masuk ke dalam sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
### TBC