My first last love

My first last love
Bab 38


__ADS_3

* Author Pov


Pagi itu setelah mengantar  Al, Rara kembali ke dalam. Dia hendak membereskan rumah, tapi tiba-tiba perutnya serasa di aduk-aduk dia merasa mual.


"Huek... Huek... " Dia memuntahkan semua iai dalam perutnya, tapi hanya berupa cairan bening saja.


Kepalanya terasa sangat berat dan pusing, dia beranjak ke kamar kamar lalu bersender di kasur sembari mamijat pelipisnya.


" Apa aku masuk angin ya karna tadi gak sarapan? Tapi biasnya juga gak papa kok." Gumam Rara.


Dia berpikir sejenak ' Apa mungkin'


Rara berjalan menuju kalender, dia mengingat ngingat kalau teralhir datang bulan itu bulan kemarin dan itu awal bulan.  Sedangkan sekarang akhir bulan.


Di lihatnya tanggal.  "Sekarang udah tanggal 26 berarti 2 hari lagi Bilal ultah.  Gak kerasa ya Bi...  Kita udah nikah sebulan lebih, seandainya aku beneran hamil itu pasti akan menjadi kado terindah buat ulang tahun kamu" Ujarnya seraya mengelus perut.


Yah mereka sudah menikah kurang lebih satu bulan, setelah memutuskan akan menikah setelah 100 hari dari lamaran.  Mereka akhirnya memutuskan tanggal pernikahannya pada tanggal 16 Januari. Selama satu bulam lebih ini mereka telah banyak belajar untuk memahami dan mengerti satu sama lain.


Rara kemudian membuka handphonenya dia akan mencari tahu bagaimana cara menggunakan tespack. Dan kapan waktu yang baik untuk mengetahuinya. Kenapa memilih tespack? Karna Rara hanya ingin memastikan kalau dia sedang mengandung sebelum akhirnya dinperiksa ke dokter kandungan....


Dia mencari di salah satu website....


Setelah mendapat informasi apa yang dia cari,Rara bergegas untuk mandi dan bersiap.  Dia akan pergi ke apotek terdekat untuk membeli tespack.


*Skip 2 hari kemudian....


Di sebuah ruangan nampak sepasang suami istri sedang tertidur lelap.  Dimana istrinya berada dalam pelukan sang suami.


Perlahan mata sang istri membuka,  ia mengerjap beberapa kali intuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah itu dia memandang wajah sang suami dalam jarak yang tentunya sangat dekat. Dia mulai membelai wajah tersebut, menggunakan jari telunjuknya dia mulai mengabsen semua bagian di wajah tersebut mulai dari alisnya yang hitam tegas, bulu mata yang panjang,  hidung yang mancung, rahang yang kokoh hingga terakhir di bibir. 


Dia mulai mengelus bibir itu dengan ibu jarinya. Kemudian Cup....  Satu kecupan lolos dari bibirnya, cukup lama dia menempelkan bibirnya hingga mengusik tidur yang punya bibir.


Mata mereka saling berpandangan satu sama lain tanpa sepatah kata pun hanya senyuman yang terukir di bibir mereka.


" Good morning Mai... " Dengan suara seraknya Al mengecup kening Rara. Yah pasangan itu adalah BIMAI.


" Morning Bi... " Kata Humaira,  dia kembali mengecup bibir Al tapi kali ini bukan hanya sekedar kecupan biasa karna kali ini Al membalas kecupan itu dengan ciuman yang dalam. 


Al membawa tangan Rara ke lehernya lalu tangannya menahan tenkuk lehernya. Cukup lama mereka melakukan hal tersebut hingga tangan Rara turun dan memukul dada Al karna kehabisan nafas.


Al melapaskan tautan mereka dan mengusap lembut bibjr Rara dengan ibu jarinya.


" Maaf... " Kata Al merasa sedikit bersalah karena membuat istrinya hingga kehabisan nafas akibat ulahnya.


Rara menggeleng pelan dan tersenyum dia mencium pipi Al.


" Happy birthday my Bi...." Al tersenyum lalu memeluk Rara dengan erat.


" Makasih Mai...  Kamu adalah kado terindah buat aku dati Allah di ulang tahun aku yang ke-25 tahun ini. Terima kasih karna sudah mau menerima dan mendampingi aku selama ini.  Meskipun umur pernikahan kita baru satu bulan,  tapi selama sebulan ini aku sangat bahagia dan bersyukur... "


" Bi aku punya hadiah spesial buat kamu. Dan ini bukan cuman hadiah terindah buat kamu aja tapi kita Bi..."


Al melepaskan pelukannya dan menatap heran Rara.. " Hadiah kita?"


Humaira mengangguk dan beranjak dari kasur menuju ke meja rias. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci lalu menyembunyikan nya di belakang punggung.


Humaira menghampiri Bilal yang sedang duduk bersender ke kasur dan menatap bingung Humaira.  Dia duduk di samping Al dengan senyum yang senantiasa selalu mengembang di bibirnya.  Kemudian dia memberikan sebuah kotak kado kecil yang di bungkus dengan  pita berwarna merah.


" Ini kado dari aku, sekarang kamu buka." Kata Humaira memberikan kotak tersebut.


Bilal mengambilnya kemudian membuka kotak itu dengan hati-hati, bahkan dia mengintipnya dengan satu mata.  Saat kotak itu sudah terbuka matanya langsung terbelalak dengan mulut yang menganga dia melirik isi dan Rara secara bergantian. Membuat Rara terkekeh melihat ekspresi suaminya itu.


" Biasa aja kali Bi..  Itu lagi mulut kamu nganga nya lebar banget gimana kalo ada lalat masuk."  Sontak Al menutup mulutnya mingkem.

__ADS_1


" Mai... Kamu gak bercanda kan? Aku,  kita, kita,  kita bentar lagi bakalan jadi orang tua." Saking senangnya Al bahkan ngomong dengan sedikit tebata.


Rara menggenggam tangan Al dengan kedua tangannya.


" Ngapain aku bercanda Bi, kamu gak liat disana itu ada 2 garis merah. Garis itu gak bakalan muncul kalo aku gak isi Bi,  masa iya aku gambar sendiri pake spidol merah sih... "


Al langsung menarik tangan Rara ke dalam pelukannya.


" Terima kasih banyak Mai...  Kamu emang sumber dari kebahagiaan aku,  lamu emang kado terindah buat aku. " Al mengeratkan pelukannya hingga membuat Rara sesak.


" Uhuk, uhuk...  Kamunkalo meluk aku gak usah erat kayak gini bisa gak.. "


" Oh.. Oh..  Iya maaf, alu luoa saking senengnya heheh... " Al melonggarkan pelukannya dan mengecup kening Rara.


" Oh iya Mai... "


"Kenapa?"


" Kapan kamu tahu kalo kamu lagi hamil?"


" Dua hari lalu aku mual terus muntah-muntah Bi kepala aku juga pusing. Terus aku kepikiran kalo bulan ini aku belum dapet, pas liat kalender ternyata emang bener. Terakhir aku dapet itu bulan kemaren dan itu di awal bulan sedangkan sekarang udah ahir bulan lagi. Jadi aku ke apotek buat beli itu..."


" Jadi kamu udah tahu itu dari dua hari lalu.  Tapi kamu baru kasih tahu aku sekarang?" Al melaepaskan pelukannya beralih memandang mata Rara.


" Aku belum selesai cerita Bi...  Waktu itu aku nyari duku di internet ternyata kalo mau lebih akurat katanya pas pagi-pagi karna kita belum makan bahkan minum apapun jadi kandungan HCG dalam urin kita itu lebih besar.  Jadi aku baru kemaren tahunya. Aku juga sengaja belum kasih tahu kamu karna mau kasih kejutan di hari spesial ini."


" Oh gitu,  tapi HCG itu apa Mai?"


" Aku juga belum terlalu paham sih apa itu HCG. Tapi dari apa yang aku baca, gunanya tes pack itu buat mengujur kadar human chrorionic gonadotropin atau HCG tadi. HCG merupakan hormon yang di buat oleh sel untuk membantu membentuk plasenta."


" Kamu udah periksa ke dokter?" Rara menggeleng.


" Yaudah nanti aku pulang kerja kita ke RS. aja yah kita periksa takutna ada apa-apa." Humaira mengangguk.


Setelah sholat, Al kembali ke ai untyk bersiap pergi bekerja sedangkan Rara dia melaksanakan tugasnya untuk menyiapkan keperluan sang suami dan memasak.


Sorenya setelah Al pulang kerja, mereka memutuskan untuk memerikasakan kandungan Rara ke salah satu RS. beruntung di RS, tersebut dokter kandungannya ada yang bertugas malam jadi mereka tak perlu pulang lagi dan kembali esok hari.


Setelah meendaftar dan mengambil antrian, mereka duduk di kursi tunggu yang di sediakan. Tapi tak di sangka disa ada seseorang yang sangat Al kenal. Orang itu juga sama sesang menunggu panggilan sambil menggendong bayi dan di temani suaminya.


Orang tersebut melirik ke arah Al dan Rara lalu tersenyum begotu pula dengan suaminya. Al membalas tersenyum dan sesikit membungkuk.  Rara terheran melihat Al tersenyum ke arah mereka setahunya Al tak pernah bilang ataupun bertemu dengan mereka bahkan saat resepsi pun tak melihatnya.


Rara menarik tangan Al dan menatapnya seolah bertanya siapa mereka.  Al hanya tersenyum dan menghampiri orang itu.


" Hai apa kabar?" Tanya si perempuan.


" Hai Sya, aku baik Alhamdulillah. Kalian gimana sehat?" Jawab Al.


" Kita juga sehat Alhamdulillah. Oh iya itu istri kamu?"


" Oh iya Mas Adit,  ini istri saya namanya Humaira.  Kami sudah menikah bulan kemarin." Al dan Rara duduk di kursi, dengan Rara yang duduk di sebelah Kesya sedangkan Al di sebelahnya Rara.


Pasangan itu terlihat sedikit kaget atau lebih tepatnya si cewek yang tak menyangka kalau lelaki di hapannya itu sudah menikah. Tak dapat di pungkiri juga kalau dia turut bahagia atas pernikahan itu.


Yah pasangan itu adalah Kesya dan Adit.  Sejak Kesya putus dari Al,  mereka memang tak pernah komunikasi lagi. Jadi wajar saja kalau mereka sedikit kaget mendengar kabar kalau Al ternyata sudah menikah.


" Nikah?  Kok nikah gak undang-undang kita sih Al? ... Apa jangan-jangan istri kamu ini cewek yang kata kamu Mamahnya kecelakaan itu yah?" Kata Keaya dengan senyuman mengintimidasi. Karna setahu Kesya selama mereka bersama, Al itu tak oernah mau memberikan perhatiannya kepada orang asing kecuali dia sayang pada orang itu.


Masih ingat saat Rara dan Al baru oulang dari Lembang, saat itu Al ijin pergi beli minum dan tak sengaja bertemu dengan Kesya yang sedang menemani suaminya yang di rawat di RS. tersebut.


" Hehehe.... " Al menggaruk tengkuknya yang di yakini tak gatal sama sekali.


" Eum... Kenalin nama aku Kesya dan ini Mas Adis suami aku." Kesya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri begitu pula dengan Adit.

__ADS_1


" Oh iya, Mba Mas kenalin saya Humaira, tapi biasa di panggil Rara saya istrinya Bilal." Jawab Rara menjabat tangan Kesya dan Adit secara bergantian, tak lupa dengan menampilkan senyumannya.


" Kalian lagi ngapain disini?" Tanya Al.


" Oh ini mau berobat Thalia, dia dari semalem rewel terus." Kesya menunjukan bayi dalam gendongannya yang sedang terlelap.


" Ini anaknya Mba? Udah berapa bulan?"


" Iya ini anak aku, umurnya baru 4 bulan."


Rara:" Lucu banget pipinya tembem, cantik lagi kayak ibunya." Humaira mengelus pipi Thalia dan sedikit mencubit gemes pipi tembem itu.


" Oh iya gak usah panggil Mba, panggil aja nama aku Kesya. Tapi kalo enggak enak panggil aja Kakak. Kamu seumuran sama Al? "


" Ehm.. Iya kita seumuran Kak. " Kata Rara dengan sedikit canggung.


Al diam memperhatikan istrinya dengan sang mantan mengobrol. Ada rasa bahagia tapi sedih karna Rara belum tahu siapa sebenarnya Kesya. Kalau dia saapi tahu akankah dia tetap sperti ini atau tidak.


" Kalian kesini mau periksa?" Tanya Kesya.


" Iya ini kita mau periksa keadaan Rara, soalnya dia udah telat."


" Oh gitu semoga keadaannya baik-baik aja sampe nanti melahirkan yah. Biar Thalian nanti ada temennya."


" Amin Mas doain aja yah." Jawab Al.


Tak lama antrian Kesya di panggil, dia dan suaminya bergegas masuk ke ruangan dokter anak yang berada di depan ruangan dokter kandungan.


Begitu pula dengan Al dan Rara selang beberapa menit mereka juga di panggil.


" Selamat malam ibu Humaira." Sapa dokter yang sudah setengah baya sekitar 48 tahun dan memakai hijab tersebut begitu melihat Rara Dan Bilal masuk.


" Silahkan duduk." Al dan Rara pun duduk di hadapan Ibu dokter.


" Baik ibu Humaira apa. ada yang bisa saya bantu?"


" Begini dok saya sudah telat datang bulan, saya terakhir kali datang bulan itu bulan kemarin dan itu di awal bulan. "


" Kalian sudah lama menikah atau baru-baru ini?"


" Eumh... Kami baru saja menikah sekitar satu bulan yang lalu Dok. Memangnya kenapa?" Jawab Al dengam sesikit ragu, pasalnya apa hubungannya pemeriksaan Rara dengan berapa lama mereka menikah.


" Eheheheh... Tidak apa-apa saya hanya bertanya saja, berati kalain masih pengantin baru yah. Semoga dapat kabar bahagia."


" Apa akhir-akhir ini Ibu sering merasa mual atau pusing?" Sambung Dokter.


" Iya Dok, sejak 3 hari terakhir saya suka merasa mual dan pusing secara tiba-tiba. Saya sebenarnya sudah pernah cek menggunakan tespack, tapi saya ingin tahu dengan pasti dan kalau mang benar sudah berapa minggu." Rara memberikan hasil tespack yang ia bawa pada Dokter.


" Baik kalau begitu mati saya periksa terlebih dahulu. Ibu silahkan berbaring."


Humaira mengikuti arahan dokter dan berbaring.


Dokter mulai memeriksa detak jantung Rara dan tensinya. Dokter juga mulai mengevek perut Rara menggunakan alat USG.


" Ibu dan Bapak bisa dinlihat ini adalah rahim Ibu Humaira yah Bu." Dikter menunjuk ke arah layar dan menjelaskan.


" Dan ini, ini adalah segumpal darah kalau saya prediksi embrionya sekitar 3 minggu ya Bu Pak. Saya ucapkan selamat untuk Bapak dan Ibu jalian akan segera menjadi orang tua dan bla blabla..."


Dokter memberikan penjelasan lebih rinci lagi dan juga arahan kepada Bilal agar sedikit bersabar karna emosi ibu hamil itu terkadang tidak stabil.


Tak lupa Dokter juga memberikan resep obat dan vitamin agar kandungan Rara sehat dan janinnya dapat berkembang dengan baik.


Setelah menebus obat di apotek, mereka bergegas pulang. Dengan rona bahagia dan senyuman yang tak pernah luntur dari bibir keduanya. Al bahkan tak segan untyk memeluk dan mengelus perut Rara di keramaian.

__ADS_1


### TBC


__ADS_2