
* Author Pov
Jam 4 sore itu Al dan Rara sudah sampai di rumah Pak Nugroho, di depan rumah nampak sebuah mobil avanza milik Pak Handoko yang berarti Ibu dan Ayah sudah berada disana. Al dan Rara keluar dari mobil beraama lalu masuk.
" Assalamualaikum..." Ucap keduanya begitu membuka pintu.
" Walaikumsalam...." Jawab serempak orang tua mereka.
Al menyalimk satu persatu orang tua mereka begitu pula dengan Rara. Lalu duduk di kursi yang kosong.
" Ada apa ini sebenarnya, sampe nyuruh kita kumoul kayak gini? Kalian gak ada masalah kan?" Tanya Bu Sarah begitu mereka sampai.
" Mih, Al sama Rara itu baru juga nyampe ni pantat bari aja duduk di sofa. Langsung nanya kayak gitu. Tanyain dulu kek kabar kita gimana?"
" Mamih udah liat kalo kalian itu sehat wal afiat makanya bisa kesini. Sekarang kasih tau kalian kenapa?"
" Iya Papah juga penasaran, kenapa kalian nyuruh kita kumpul dadakan gini."
" Ehem... Ya udah Al to the point aja sama kalian semua. Al punya kabar gembira buat kalian semua." Al melihat ke arah orang tua mereka, lalu memegang tangan Rara. Rara pun tersenyum dan mengangguk menatap suaminya.
" Kemaren, Al sama Rara abis periksa ke dokter. Terus kata dokter eumm..."
" Eummm.. Eummm... Kamuntuh yah kalo ngomong itu yang jelas jangan bertele-tele tadi katanya mau ti the point aja sekarang malah eumm... Eumm.. Kenapa Rara baik-baik aja kan gak ada masalah kan sama Rara?"
" Sabar dong Mih, keadaan Rara baik-baik aja kok. Sebenarnya Rara... Aduh gimana yah bilangnya Al bingung."
" Bingung? Apa jangan-jangan?" Mamah memperhatikan Rara yang memegang perutnya.
" Rara hamil?" Tebak Mamah. Keduanya mengangguk dan tersenyum bahagia.
" Alhamdulillah...." Ucap para orang tua, mengucap syukur. Mamah dan Mamih menghampiri Rara dan memeluknya dengan erat, bahkan Bu Sarah sempat meneteakan air mata bahagia.
" Ya ampun sayang, selamat yah gak lama lagi kamu bakalan jadi Ibu.... Dan Mamih akan menjadi Nenek.. Terima kasih mmh.. mhh.. Cup... " Bu Sarah mencium pipi kanan kiri Raradan mengwcup keningnya. Tampak rona bahagia dari mereka semua.
" Anak Mamah sebentar lagi bakalan punya anak, kamu harua bisa jaga kesehatan jangan terlalu capek, kalo ada apa-apa bilang sama kita jangan di pendam. Ibu hamil itu jangan banhak pikiran harus happy terus kalo enggak nanti berpengaruh sama dedek bayinya."
" Iya Mah tenang aja Rara pasti jaga kesehatan dan happy terus... "
Setelah itu giliran Papah dan Papih yang memberikan ucapan selamat. Tak beda jauh mereka juga memeluk dan memberikan sedikit wejangannya pada calon orang tua itu.
" Oh iya udah berapa minggu kandungan Rara? Janinnya sehag kan? "
" Baru masuk minggu ke empat Pih dan Alhamdulillah janinnya sehat. " Jawab Rara
" Alhamdulillah kalo gitu. Al inget kamu harus selalu siap siaga buat Rara, jangan terlali sering tinggalin dia. Kasian ibu hamil itu butuh perhatian lebih dari biasanya apa lagi emosi yang kurang stabil. Kamu harus selalu ada di samping Rara dimana pun dan kapan pun itu, kamu ngerti Al?" Ujar Pak Yadi.
" Iya Pih, Al juga ngerti kok tapi masalahnya. Untuk saat ini Al harus tugas di Papua dan gak bisa ajak Rara kesana." Mendengar hal itu Pak Yadi dan Bu Sarah nampak kaget tapi tidak dengan Pak Haris karna sudah di beritahu oleh Bu Intan perihal tugas tersebut.
__ADS_1
" Apa?! Kenapa? Bukannya biasanya kalo kamu pindah tugas bisa ajak keluarga juga yah kenapa sekarang gak bisa?"
" Iyah Mih kalo kita emang pindah tugas bisa ajak keluarga. Tapi kali ini bukan tugas biasa disana lagi ada masalah. Jadi beberapa prajurit dari daerah lain hatus dikirim kesana, untuk waktunya sendiri Al belum tahu pasti berapa lama. Tapi begitu urusan disana selesai Al balik lagi kesini kok tugasnya disana hanya untuk sementara."
" Emang ada masalah apa disana Al?"Tanya Pak Haris.
Al menjelaskan semuanya kepada mereka perihal keadaan di Papua. Sebenarnya Bu Sarah tak mengijinkan anaknya untuk pergi, beliau takut terjadi sesuatu pada Al apa lagi hatus meninggalkan Rara disini. Tapi setelah bujukan dari yang lainnya serta Rara yang menjelaskan kalau dia baik-baik saja, dan untuk sementara waktu juga akan tinggal bersama Ibunya. Bu Sarah akhirnya mengijinkan Al pergi, lagi pula dia harus melaksanakan tugas dan kewajibannya untuk melindungi negara.
Setelah kepulangan keluarga Handoko, Al masuk ke kamar Rara untuk beristirahat. Itu bukan kali pertamanya Al masuk ke kamar istrinya dulu, karna sebelumnya mereka pernah mampir untuk mengambil beberapa barang milik Rara.
Al sedang selonjoran di atas kasur sambil menyenderkan kepalanya kepala kasur, di tanganya ada sebuah tab dia sedang main ML. Ceklek... Rara masuk dan tiduran di pangkuan Al. Tangannya memeluk memeluk pinggang Al dengan erat, yah dia membalik tubuhnya sehingga menghadap ke perut Al. Perlahan tangannya masuk ke dalam kaos Al, dia meraba semua tubuh atletis Al tak terkecuali dada Al. Rara menempelkan tangannya di dada Al dia merasakan dada Al berdetak dengan sangat cepat hal itu membuatnya senyum-senyum sendiri. Karna merasa terganggu Al menghentikan bermain game nya dan menatap Rara.
" Kamu kenapa senyum-senyum gitu Mai...? " Humaira hanya menggeleng tangannya kini mulai mengukir sesuatu di perut Al, dia mengikuti bentuk abs di perutAl dengan telunjuknya dengan pelan dan tentunya membangkitkan sesuatu di tubuh Al.
Rara beranjak dari tidurnya kemudian duduk di pengkuan Al. Dia menatap dalam manik milik Al kemudian dia memjamkan matanya dan mendekat pada wajah Al. Tangannya sudah melingkar di leher Al lalu Cup, dia mencium bibir Al dengan lembut tak menunggu lama Al membalas ciuman istrinya dengan ganas tapi tetap memberikan kenyamanan dan kelembutan.
Rara melepaskan ciumannya dia lalu beralih pada leher Al dan meninggalkan tanda.
" Itu tanda bahwa kamu adalah milik aku dan hanya milik aku Bi... Aku gak mau kamu jadi milik orang lain, apa lagi nanti kita bakalan pisah dan kata kamu. Gak tau sampai kapan kamu disana... Kamu harus selalu inget sama kita yah Bi.... Awas aja kalo kamu macem-macem. " Rara membelai wajah Al lalu dia menangkup wajah Al dan menempelkan bibirnya di bibir Al. Ingat hanya menempel!! Setelah sekian detik, Al melepaskan pangutan itu lalu dia juga menangkup wajah Humaira
" Kamu tahu Mai... Aku gak akan pernah lupain kalian. Kalian adalah segalanya buat aku, akunjuga disana bukan buat main-main Mai. Kita disana itu bertugas untuk tetap menjaga perairan di Indonesia dan mungkin aja nyawa kita yang jadi taruhannya. Jadi kamu jangan berpikir yang macem-macem yah Mai... Lebih baik kamu doain aku sama yang lainnya tetap selamat selama menjalankan tugas ini. Dan kamu harus inget baik-baik selamanya hanya akan ada kamu di hati aku gak ada yang lain. Hanya kamu wanita yang akan menjadi jbu dari anak-anak aku dan hanya kamu wanita yang akan menghabiskan waktu sama aku hingga maut memisahkan kita. Kamu mau kan?"
Rara mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia merasa sangat bodoh karna telah berpikiran yang aneh-aneh dan sempat curiga atau lebih tepatnya takut kalau suaminya itu akan kecantol cewek lain yang lebih dati dirinya selama bertugas jauh.
Rara kembali memeluk Al, hingga kini tangannya mencoba melepaskan kaos yang di kenakan Al.
" Aku mau buka baju kamh kenapa? Gak boleh?" Tanya Rara sedih.
" Bukan gitu tapi ya kenala tiba-tiba kayak gini?" Al mengerutkan keningnya. Rara mendengus kesal dan turun dari pangkuan Al lalu tidur dengan menutup semua tubuhnya dengan selimut.
Al gelagapan sendiri, melihat sikap Rara seperti itu dia bingung harus berbuat apa? Apakah ini juga berhubungan dengan kehamilannya atau apa?
" Mai.. Kamu kenapa kok tiba-tiba kayak gini sih?" Al mencoba menarik selimut yang menutupi kepala Rara tapi selimut itu sepertinya di pegang erat oleh Rara.
" Mai, Rara, Humaira, Sayang, Istriku menak jinggo istrinya Bilal... Kamu kenapa sih? Hmmmh? Bula dulu dong selimutnya kalo kamu sesak nafas gimana? Buka ya Mai.. "
Rara tetap tak bergeming, dia malah mempererat selimutnya agar tak bisa ditarik oleh Al.
" Mai... Kamu kenapa sih? Buka dong selimutnya. Kamu mau aku gimana? Aku turutin deh semua keinginan kamu aku janji, tapi buka dulu selimutnya." Perlahan Rara menurunkan selimutnya hingga bawah mata.
" Janji yah kamu bakalan ngelakuin semua keinginan aku?" Bilal mengangguk pasti "Aku janji"
Selimut Rara kembali menurun hingga batas kepalanya. " Sekarang buka baju kamu."
" Buka baju? Kenapa aku harus buka baju?"
" Ck.. Katanya tadi bakalan ngelakuin apa pun mau aku sekarang malah gak mau!! Gimana sih?!" Rara kembali menutup wajahnya dengan selimut.
__ADS_1
" Iya, iya, ya udah aku lepas sekarang." Al melepas bajunya. " Udah aku udah lepas nih sekarang buka selimutnya."
Rara membuka selimutnya dan tersenyum. " Sekarang aku harus ngapain?" Rara menepuk kasur di sebelahnya, Al kemudian bebaring mengikuti keinginan istrinya. Mereka saoing memandang, tatapan yang penuh cinta terpancar dari mata keduanya.
Setelah itu Rara memeluk Al yang bertelanjang dada, Rara melingkarkan tangannya di pinggang Al menelungkup kan wajahnya di dada Al
" Bi... Besok kamu udah pergi terua nanti aku bakalan tidur sendiri lagi sampe kamu pulang nanti. Jadi untuk malam ini kita tidur kayak gini aja yah... Nanti aku pasti bakalan kangen banget sama tubuh kamu ini... "
" Mai... "
" Heumh?"
" Liat aku dulu." Rara mendongak, wajahnya tertutup oleh rambutnya sehingga Al mengalihkan terlebih dahulu rambutnya dan diselipkan ke belakang telinganya.
Cup... Al mengecup keningnya lama mata Rara terpejam dia menikmati kecupan itu. Kemudian. Al beralih ke bibir Rara yang sejak dari tadi mengganggu.
Mereka saling berciuman untuk melepas semua hasrat hingga entah bagaimana sejak kapan pakaian mereka sudah berserakan di lantai. Malam itu mereka berdua benar-benar menghabiskan malam yang panjang dengan saling memuaskan diri masing-masing....
* Bilal Pov
Aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara alam yang aku pasang. Aku memasang alarm pukul 02.50, karna pukul 04.10 kami semua harus berkumpul di kantor dan akan berangkat ke Papua pukul 04.20.
Karna aku tidak tinggal di asrama, jadi aku harua berngkat lebih awal agar tidak telat. Kulihat istriku sedang terlelap dalam pelukaanku, wajahnya sangat mengemaskan saat tertidur seperti ini. Pipi yang tirus, bulu matanyang lentik, alis yang cukup tebal tanpa sulam alis, hidung yang tak terlalu mancung, bibir yang pink nan seksi. Cantik alami suku sunda karna dia memang keturunan sunda tanpa campuran. Ku pandangi serta ku belai wajah cantiknya, ku kecup kening, kedua matanya,hidung,kedua pipinya, dan terakhir bibir manisnya.
Dengan perlahan kelepaskan pelukannya agar tak mengganggu tidur lelapnya. Setelah berhasil terlepas, aku beranjak dati ranjang ku punguti pakaian yang berserak di lantai. Lalunku pakai boxer menuju ke kamar mandi, beruntung kamar Rara ada kamar mandindi dalam jadi aku tak perlu keluar kamar.
Setelah selesai dengan ritual mandi ku, aku keluar dan kulihat dia terlelap. Ku ambil pakaian lorengku dari dalam ransel yang sudah Rara packing dari rumah kemarin. Setelah selesai, aku kembali ke ranjang untuk berpamitan, meskipun dia belum bangun tapi aku tetap akan bilang padanya.
" Mai... Aku berangkat dulu ya Sayang, kamu hati-hati selama aku gak ada. Jaga kesehatan, jangan kecapean, jangan banyak pikiran apalagi sampe stress karna itu gak baik buat kamu sama janin kamu Mai... Doain aku yah Mai supaya aku bisa kembali dngan selamat dan urusan disana bisa cepat selesai biar aku cepet pulang dan kita bisa bersama lagi." Ku bisikan kalimat itu tepat di telinganya, Kulihat jam yang melingkar di tanganku sudah pukul 03.40 waktunya berangkat sebelum aku terlambat.
" Aku berangkat dulu ya Mai..." Cup... Ku kecuo keningnya sebelum aku beranjak dari kasur.
Aku keluar dari kamar dengan ransel yang dipunggungku. Dan ternyata Papah mertuaku sudah bangun, beliau sedang duduk di sofa sambil mendengarkan radio yang ceramah. Aku menghampiri Papah sekalian pamitan.
" Pah... " Paph menoleh ke arahku.
" Eh Al, kamu mau berangkat sekarang?"
" Iya Pah soalnya hatus kumoul dulu di kantor jam 04.10. Jadi Al harus berangkat sekarang."
" Oh ya udah kalo gitu kamu hati-hati yah dan kembali dengan selamat. Jangan mikirin keadaan disini dulu, kamu harus fokus sama tugas kamu Rara disini aman kok sama kita. Jangan sampai kamu gak fokua sama tugas kamu dan berakhir sia-sia. Inget biat selalu berdoa agar kamu selalu di lindungi sama Allah. Kami disini juga pasti selalu mendoakan kamu." Papah memang baik dan bijak, beliau bangkit dari duduknya dan memeluk ku, menepuk bahuku.
" Iya Pah, Al pasti hati-hati dan kembali dengan selamat. Al titip Rara ya Pah, sama tolong sampein ke Rara kalo. selama Al tugas mungkin gak bisa terus ngabarin Rara karna disana ponsel pasti di kumpulkan supaya fokus sama tugas. Al pamit Pah Assalamualaikum...." Aku mencium tangan Papah mertuaku lalu pergi setelah beliau menjawab.
" Walaikumsalam..."
### TBC
__ADS_1