
* Author Pov
Suara kumandang adzan subuh terdengar sayup-sayup di telinga Rara pagi itu. Dia merasakan ada sesuatu di perutnya.
Saat Rata membuka matanya di di hadapkam dengan dada Al. Rara mendongak ke atas untuk melihat siapa orang tersebut.
Saat melihat wajah Al, matanya membulat sempurna dia tak yakin kalau suaminya itu sudah pulang. Dan kini ada di hadapannya bahkan mereka berpelukan. Rara menusuk pipi Al menggunakan telunjuknya.
Tadi malam dia memang sempat melihat bayangan Al. Tapi dia pikir itu adalah sebuah mimpi, mimpi yang memang selama ini dia harapkan. Harapan yang saat ini menjadi kenyataan.
Karena merasa tidurnya terganggu Al membuka matanya lalu menatap mata Rara. Rara masih saja menusuk-nusuk pipi Al bahkan saat Al sedang menatap matanya.
" Mai... Kamu kenapa nusuk-nusuk pipi aku sih Mai?" Tak menggubris omongan Al, Rara sekarang malah mencubit kedua pipi Al. Yang membuat si empunya meringis kesakitan.
" AAA....!!! Aw... Sakit Mai." Al
" Oh berarti ini bukan mimpi kan Bi? Kamu emang bener-bener Bilal suami aku. Aku lagi gak mimpi kan?" Rara kembali memcubit pipi Al.
Cup... Al memcium sekilas bibir Rara.
" Ini bukan mimpi Mai, ini aku Bilal suami kamu..." Rara masih menatap ke arah Al tanpa mengedipkan matanya.
Cup.. Cup... Cup... Al kembali mencium bibir Rara selama 3 kali berturut-turut.
" Kamu masih gak percaya kalo ini bukan mimpi?" Rara menggeleng.
__ADS_1
" Aku masih gak percaya kalo kamu.. Mmph... "
Al mencium bibir Rara dia bahkan melumat dan melahap bibir mungil itu dengan lembut. Awalnya Rara tak membalas ciuman itu, tapi seper sekian detik kemudian Rara membalasnya bahkan menikmati setiap ciuman dati Al.
Mereka melapaskan kerinduan yang selama ini melanda. Setelah cukup lama Al melepaslan pangutnnya. Dia menatap lekat manik istrinya, lalu tersenyum.
" Kamu udah percaya kalo ini bukan mimpi? Atau kamu mau berlanjut dengan hal lain biar kamu lebih percaya?" Al mengerlikan genit matanya.
" Iiihhh.... Apaan sih ini tuh udah subuh mendingan kita sholat dulu ya Bi... Udah lama kita gak sholat berjamaah."
Setelah sholat, mereka berdua kembali ke ranjang. Rara bersandar pada Al yang selonjoran di kasur, tangan Al mengelus rambutnya dengan halus. Tak ada perbincangan di antara mereka. Mereka sedang menikmati momen berdua, hingga akhirnya Rara angakt bicara.
" Bi... Kamu tahu gak kalo selama ini aku bosen banget disini kalo gak ada kamu?"
" Bosen? Bosen kenapa Mai? Emamg selama ini kamu cuman diem di rumah aja gak kemana-mana?" Masih dengan posiai yang sama mereka mulai mengobrol.
" Apa?"
" Milea sama Danis sekarang mereka udah makin lengket, malahan pas aku sama Milea ketemu si Danis juga ada Bi. Terus nih tah yang bikin aku bete, mereka itu malah mesra-mesraan di depan umum coba."
" Oh ya? Tapi selama aku kenal Danis dari dulu dia itu paling anti kalo harus mesra di tempat umum."
" Iihhh.... Aku serius Bi, waktu itu aja Milea sampe ninggalin aku di caffe karna Danis main nyosor-nyosor aja ke Milea. Ya emng sih mereka Danis cuman cium pipk Milea, tapi tetep aku bete kalo liat mereka kayak gitu. Merka suap-suapan dan gak anggap aku ada disana."
" Jadi ceritanya kamu itu kesel sama mereka karna mesra di tempat umum? "
__ADS_1
" Awalnya sih enggak, aku ngerti mungkin mereka butuh banyak waktu bersama untuk mengenal satu sama lain. Mereka kan baru aja kenal jadi aku ngertilah karna Danis juga sibuk. Tapi makin kesini si Danis itu malah sering dateng ke butik. Mungkin bisa sampe 4x seminggu dia ke butik pas jam makan siang."
" Heuh... Dan kamu tahu Bi? Mereka bahkan berani ciuman di kantor aku Bi di ruangan aku.. Gila gak tuh??!! Aku aja yang punya butik gak pernah gitu-gituan, tapi mereka Aish....!! Aku kesel banget."
" Kamu tahu dari siapa kalo mereka berani berbuat kayak gitu Mai? Emang kamu liat sendiri?"
" Enggak juga Bi... Tapi aku dapet kabar dari karyawan baru aku yang gantiin Lita. Waktu itu pas aku lagi ke butik sama Mamah, Danis juga ada disana mereka lagi mojok di deket kasir. Kalo ada pelanggan yang dateng kan bisa beabe Bi. Nanti mereka gak mau dateng kesana lagi karna karyawannya kayak gitu."
"Mai.. Kali aja Danis sama Milea gak kayak gitu, mungkin masalah mereka ciuman di kantor kamu itu salah. Aku yakin kalo Danis itu gak mungkin sampe segitunya. Dia juga tahu batesan kali Mai.. Kalo suap-suapan atau cipika cipiki itu sih wajar aja kalo mereka emang pacaran. Tapi kalo sampe melebihi itu kayaknya gak mungkin deh."
"Terus masalah mereka mojok di butik, mungkin mereka cuman lagi diskusi aja. Dan gak ada waktu jadi mereka diskusi di butik. Oh iya masalah karyawan baru itu. Emang sejak kapan Lita keluar?"
" Iih... Bi kamu kok malah belain merka sih?"
" Aku bukannya belain mereka Mai... Yah siapa tahu aja kalo salah persepsi. Lagian tugas aku sebagai suami itu membimbing istrinya biar lebih baik lagi. Aku gak mau kalo kamu malah suudzon, jadi lebih baik kita husnuzon aja Mai..."
" Iya deh iya..."
"Masalah karyawan baru itu, emang kamu belum baca pesan dari aku Bi? Lita keluar dua hari setelah kamu pergi tugas.. Nino gak ijinin Lita kerja lagi karna dia khawatir kalo Lita sampe kecapean. Jadi ya udah aku juga gak bisa maksa akhirnya aku cari karyawan baru. Lagian nanti juga pasti bakalan ganti ini kok..."
" Oh iya, aku lupa kasih tahu kamu kalo aku selama disana bener-bener sibuk dan handphone aku juga mati. Baru di charger tadi malem. Maaf yah, lain kali aku pasti baca dan bales pesn dari kamu ya Mai sayang..." Cup... Al mengecup kening Rara.
Mereka banyak mengahabiskan waktu di kamar hingga menjelang sore. Saat orang tua Al ke rumah, baru lah mereka keluar kamar. Al menceritakan semua kejadian apa saja yang terjadi disana hingga dia tak bisa memberikan kabar pada siapapun.
Setelah orangtua Bilal pulang, Al dan Rara juga pamit. Mereka kembali ke asrama. Selama perjalanan pulang tangan Al selalu menggenggam tangan Rara.
__ADS_1
Sebuah senyuman manis terukir di bibir Rara. Senyuman yang sempat hilang, kini telah kembali.
### TBC