My first last love

My first last love
Bab 50


__ADS_3

* Author Pov


" Bi...Nanti kamu pulang jam berapa? Jari ini kan jadwal buat chek up."


" Gak tahu Mai,  tapi kayaknya setengah 6 aku udah ada di rumab deh Mai..."


" Oh gitu, kalo nanti langsung berangkat gimana?  Soalnya kata Dokter kita chek up jam 6 Bi, mau ada oprasi sesar jam 7 kata Dokter. Jadi biar gak rusuh."


" Iya gak papa nanti kamu langsung siap-siap aja. Jadi begitu aku sampe kita langsung berangkat."


" Iya Bi...  Ya udah kalo gitu aku tutup telponnya ya. Assalamualaikum...."


" Walaikumsalam...."  Setelah Al menjawab salam, Rara langsung menutup telfonnya.


Mereka memang berbincang lewat saluran telfon, hari ini Rara ada jadwal chek up. Seperti biasa Al akan selalu menemani sang istri ke RS.


 


Jam setengah 6 kurang Al sudah sampai di halaman rumah. Rara nampak sudah siap, dia sedang duduk di kursi luar ditemani Bi Asih.


Tin.. Tin...  Suara klakson Al mengalihkan pandangan Rara pada mobil jazz miliknya. Al ke luar dari mobil dengan setelan baju loreng tentara.


" Kamu udah siap?" Rara mengangguk.


" Ya udah kalo gitu kita langsung berangkat aja, takut macet."


" Kamu gak mau ganti baju dulu?  Pasti gak enak kalo masih pake baju itu." Tunjuk Rara pada pakaian yang di kenakan Al. Apa lagi dia masih lengkap dengan sepatunya.


" Enggak, aku gak papa kok yuk berangkat..."


" Kamu mendingan ganti baju dulu sama sepatu. Gak enak aku liatnya pasti gerah juga. Ini juga masih jam 5 lebih 20 menit. Masih ada waktu kok, kamu ganti baju dulu aja aku tunggu disini. Gak usah mandi cuci muka aja biar cepet."


" Ya udah kalo gitu aku mau ganti baju dulu, cuman bentar kok."


Setelah berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek serta sandal jepit kesayangan. Al serta Rara bergegas ke RS. beruntung jalanan menuju sana tak terlalu macet, sekitar 30 menit merka sudah sampai.


" Usia kandungan Ibu Humaira sudah 36 minggu lebih. Keadaan janinnya sehat dan ibu juga bisa melahirkan secara normal."


" Saya bisa melahirkan secara normal Dok?"


" Iya Bu, bila dilihat dari posisi bayi saat ini kemungkinan besar Ibu bisa melahirkan secara normal. Kepala bayinya juga sudah berada di bawah Bu Pak. Jadi bisa kapan saja Ibu melahirkan, terkadang ada yang 37 atau 38 minggu. Tapi ada juga yang melahirkan saat 36 minggu. Jadi saya harap Ibu dan Bapak harus tetap siaga kalau-kalau dalam waktu dekat ini Bu Humaira mengalami kontraksi."


Dokter menjelaskan semuanya pada keduanya.


" Tapi Dok, beberapa hari ini saya juga suka mules Dok apa itu juga kontraksi? Terus bahaya gak dok buat janin saya? "

__ADS_1


" Oh iya Bu, dalam masa-masa sekarang lbu hamil memang terkadang mengalami kontraksi palsu. Seperti yang Bu Humaira rasakan, tapi ibu tak perlu khawatir hal seperti itu biasa di alamai oleh Ibu hamil. "


" Tapi gimana kalo suatu saat nanti saya mengalami kontraksi dan akan melahirkan? Apakah itu ada bedanya Dok dengan kontraksi palsu?"


" Iya Bu, kalau kontraksi palsu biasanya hanya akan terasa sebentar dan nanti akan muncul lagi. Sedangkan kontraksi saat akan melahirkan, akan sering terjadi dalam waktu dekat. Tapi Ibu jangan cemas, kalau ibu merasa seperti kontraksi. Ibu bisa segera hubungi saya langsung. Atau apa di rumah Ibu ada yang sudah berpengalaman seperti orangtua?"


" Sebenernya saya dan istri saya tinggal sendiri sih Dok. Tapi di rumah ada asisten, beliau juga sudah mempunyai anak."


" Kalau begitu, Ibu dan Bapak bisa cukup tenang. Kalau sudah ada yang berpengalaman akan sedikit membantu. Kalau Ibu merasa mulas atau kontraksi, Ibu bisa langsung bilang pada orang sekitar pada asistensi Ibu. Saya yakin beliau juga sudah mengerti."


" Baik Dok, kami mengerti."


" Dan ini vitaminnya ya Bu, meskipun sudah mau melahirkan tapi vitamin tetap harus di minum."


" Baik Dok, kalau begitu kami permisi dulu "


" Iya silahkan Pak..."


Al dan Rara pun keluar dari ruangan Dokter dan langsung pulang.


Di mobil mereka mendengar kan radio dan kebetulan lagu yang sedang di outar adalah lagi ' Baby By Justin Bieber'.  Rara jadi teringat sesuatu kalau suaminya ini mempunyai foto yang di edit sedang bersama JB.


" Bi..."


" Enggak, aku gak mau apa-apa."


" Terus kenapa? Ada sesuatu yang mau kamu tanyain?"


Al sebenarnya sudah mulai curiga, begitu Rara memanggil namanya saat lagu JB di putar. Selama ini Al belum memberitahu alasan fotonya dengam JB sampai diedit, dan pemberian siapa foto tersebut.


" Iya aku mau tanya sesuatu. Waktu itu di kamar kamu ada foto sama JB. Kata kamu itu pemberian seseorang.Tapi kamu belum kasih tahu aku itu dari siapa."


" Ehhhmmm.....  Aku gak tahu harus mulai dari mana ceritanya. Tapi kalo kamu mau ceritanya kita ke rumah Mamih dulu yah. Biar semuanya jelas."


Setelah sampai di kediaman Pak Yadi, Al dan Rara langsung masuk ke kamar setelah menyapa orang tua mereka.


Al mengambil album foto dari laci dan duduk di pinggir kasur.


" Sini... Kamu duduk dulu disini." Al. menepuk tempat di sebelahnya. Rara pun menurut.


Al mulai membuka lembar demi lembar dari album tersebut hingga disana nampak Al dan seorang gadis kecil yang cantik dan umurnya sekitar 3 tahun.


" Dia siapa Bi?" Tanya Rara menunjuk pada foto gadis tersebut.


" Dia itu adik aku Mai... Mamih mungkin pernah cerita sama kamu kalo Mamih pernah ngadopsi anak."

__ADS_1


Rara mengangguk, ia ingat saat Ibu mertuanya memberitahunya kalau beliau sempat mengadopsi seorang anak. Tapi Bu Satah tak bercerita mengenai hal itu.


" Anak yang di adopsi Mamih sama Papih itu dia adik aku Mai.  Namanya Baby Disa Handoko. Waktu itu Papih ngadopsi Baby pas umurnya baru 5 bulan. Baby ditinggalin sama orang tuanya di sebuah panti, kebetulan waktu itu aku lagi ultah dan dirayain disana."


" Aku liat Baby, dia lagi disuapin sama saah satu pengurus panti. Baby lucu banget dan aku suka sama dia karna dia gak rewel anaknya. Sampe suatu saat, aku bilang sama Papih kalo aku pengen punya adik saat itu juga. Papih bingung, karna waktu itu Mamih udah gak bisa haml lagi karna Mamih terkena Kanker rahim. Jadi aku bilang sama mereka kalo aku mau punya adik Baby."


" Merka akhirnya mengadopsi Baby. Aku sayang banget sama dia Mai.... Aku selama ini kalo di rumah cuman sendiri tapi semenjak ada Baby, aku jadi gak kesepian lagi. Hingga pas umur Baby 4 tahun, dia diagnaosa leukimia sama Dokter ( Waktu itu Pak Yadi ceritanya masih Dokter Umum ya guys)."


Rara mendengarkan dengan seksama semua cerita Al. Al bahkan terlihat sudah mulai berkaca-kaca.


" Baby masih bisa bertahan selama 3 tahun, dia rutin berobat bahkan kemo. Tapi saat umurnya 6 tahun setengah, Dokter udah gak sanggup lagi bahkan Dokter sempat bilang kalau umur Baby hanya akan bertahan 3 minggu lagi."


" Waktu itu lagunya Bieber yang Baby lagi hits banget. Baby seengaknya dapet kekuatan dan motivasi karna di lagu itu banyak kata-kata 'Baby-nya' Baby sebenernya gak ngerti apa arti lagu itu, yang dia tahu kalo lagu itu buat dia. Baby sering dengerin lagu itu hingga dia bertahan hidup selama 3 bulan. Sebelum pergi, Baby bilang kalo dia pengen liat aku foto sama Bieber. Tapi karna waktu itu Bieber gak lagi di Indonesia, jadi aku akalin buat edit foto aku sama Bieber. Setelah melihat foto itu, Baby pergi dengan tersenyum..."


Mengingat masa lalu yang sedih tentunya membuat Al meneteskan air matanya. Dia sangat menyayangi adik sambungnya itu, kalau dia di beri kesempatan kedua. Dia akan memilih dia lah yang sakit, jangan adiknya.


Al tahu betul bagaimana perjuangan Baby demi sembuh. Apa lagi hampir setiap hati tubuhnya harus terkena suntikan dan minum banyak obat. Al tak sanggup kalah harus teringat dengan ekspresi  Baby yang selalu tersenyum meskipun saat dia di suntik.


" Hiks... Hiks... "Al menundukan kepalanya, dia merindukan adik kecilnya. Adik yang menjadj temannya saat dia kecil, adik yang dia inginkan.


Rara juga ikut meneteskan air mata. Andai saja dia tak pernab menanyakan mengenai hal itu. Andai saja dia tak terlalu penasaran dengan sosok wanita itu. Mungkin saat ini suaminya tidak akan menangis dan kembali teringat dengan kenangan yang menyedihkan.


Rara memeluk suaminya dari samping dan menepuk-nepuk bahunya mencoba memberikan ketenangan.


" Maaf yah Bi, gara-gara aku kamu jadi sedih... Hiks. Aku ga bermaksud buat bikin kamu sedih kayak gini... Hiks... Maaf udah ngigetin kamu sama hal yang bikin kamu sedih kayak gini."


Rara jadi mengerti mengapa waktu itu Ibu mertuanya terlihag sedih saat membahas mengenai anak perempuan.


Seharusnya dia bisa lebih peka dan mengurangi rasa penasarannya pada sesuatu.


" Hufftt..... " Al menarik nafas panjang dan menghembus kannya. Setelah lebih tenang, Al menatap Rara yang masih menangis.


" Mai... Kamu kenapa nangis?  Kamu gak salah kok Mai. Itu semua memang udah kehendak Allah, dan aku nangis karna aku jadi kangen sama Baby. Kamu gak salah apa pun kok, udah yah jangan nangis lagi." Al mengusap air mata di pipi Rara dan membawa Rara pada pelukannya.


" Hiks... Hiks...  Ta.. Tapi gara-gara aku kamu..Kamu jadi sedih lagi...."


" Ssst.... Kamu gak salah udah yah.. Oh iya sekarang kita makan dulu yuk kamu kan belum makan. Aku ambil dulu nasinya kita makan disini aja yah."


Rara mengangguk di pelukan Al. Al kemudian menjauhkan tubuhnya di di tatap mata istrinya yang sedikit sembab. Cup... Cup... Cup....  Al mencium kedua mata Rara dan terakhir keningnya.


Al pergi ke dapur untuk mengambil makan. Mereka memutuskan untuk menginap disana karna ini sudah malam. Selain itu Bilal juga lelah dia belum istirahat dan besok dia juga harus bekerja.


### ### TBC


 

__ADS_1


__ADS_2