
*AUTHOR POV
Setelah satu minggu dari acara reuni, semuanyakembalo seperti biasa. Humaira yang disibukan dengan urusan butik, dan Bilal yang mengisi hari liburnya untuk meninjau perkembangan Caffe sperti hari sabtu ini dia sudah standbye di caffe sejak pukul 10.00.
Di lain tempat tepatnya di butik, Humaira sedang berkutat dengan ponsel pintarnya. Dia sedang asik bertukar pesan dengan Milea yang rencananya hari ini akan ketemuan.
*Pesan
Milea:
"Ra hari ini kita jadi ya meet up."
Humaira:
" Pasti dong, udah lama. kita ga meet up. Terus aku juga mau cerita sesuatu nih sama kamu."
Milea:
" Cerita apaan nih? Masalah cowok ya? Kamu di tembak sama cowok Ra? "
Humaira:
" Maybe yes,, maybe no."
Milea:
" Apaan sih penasaran nih... Jangan peke kode-kodean dong"
Setelah mengirim pesan itu Milea menilik jam di ponselnya ternyata waktu istirahatnya sudah mau habis, jadi dia mengirim pesan lagi pada Humaira.
" Oh iya nanti kita ketemuan di caffe yang di simpang aja ya, di situ ada caffe baru tempatnya enak buat ngobrol. Kita ketemuan jam 16.00 aja, aku tunggu cerita kamu. Sekarang aku mau ke kantor dulu soalnya udah mau masuk.
Awas ya kalo masih pake Kode-kadean lagi.."
Humaira:
" Iya,, tapi mungkin nanti aku agak telat ya soalnya Lita lagi ga masuk jadi harus nutup dulu butik."
Pesan yang di kirim Humaira hanya di baca oleh Milea karena dia sedang di jalan tal baik juga jalan sambil main ponsel.
Aku memang menggunakan kata
'Aku-Kamu' dengan Milea beda halnya dengan sahabat Smp-ku yang
menggunakan kata 'Lo-Gue'. Karna Milea itu orangnya lembut dia juga jarang ngomong jadi enak buat di ajak curhat termasuk masalah yang berhubungan sama si do'i.
__ADS_1
Skip jam 16.00 karena ini hari sabtu jadi Milea pulang lebih awal yaitu pukul 15.00 yangdi hari biasa pukul 16.00.
Milea sudah sampai terlebih dahulu di caffe sebelum waktu janjiannya, krena jarak dari kantor ke caffe tak terlalu jauh.
Milea menunggu Humaira sekitar 10 menit dia memilih duduk dekat jendela di barisan ke-3 dari pintu masuk. Saat
Humaira datang dia melambaikan tangannya.
" Ini caffe baru? Tempatnya nyaman minimalis tapi pas." Kata Humaira sambil melihat sekeliling.
" Iya, aku juga baru tau waktu baru-baru ini dan sempet beberapa kali juga kesini sama adikku. Disini makanannya juga enak terus murah lagi."
" Oohhh..... Nama caffenya "AlCaffe" lumayan juga aku belum pernah ke
caffe yang kayak gini di Bandung." Ucap Humaira yang masih kagum dengan desain interior di caffe yang tak lain milik Bilal itu.
" Oh iya, kamu mau pesen apa?" " Apa ajalah aku mah makanan yang penting enak pasti aku makan hehe.. "
" Ya udah aku pesenin jus alpukat sama spagethi aja ya." " Mba... (Milea memanggil salah satu pelayan) Saya pesen jus alpukat sama spageti 2 ya mba." Setelah mencatat pesanan pelayan pun pergi.
" Oh iya, kamu mau cerita tentang apa
tadi?" " Oh iya hampir lupa, gini Mi minggu kemaren aku kan ada acara reuni. Ternyata si Al juga dateng."
"Al? Al siapa?" Milaea masih bingung dengan orang yang diaksud Humaira.
Milea masih berpikir dan berkutat dengan otaknya memikirkan orang yang dimaksud Humaira...
" Oh... Your first love? (Humaira mengangguk) So, perasaan kamu tumbuh lagi"
Humaira menggeleng " Ya enggak lah, bgapain juga aku masih suka sama dia sekarang perasaan itu udah ilang 100%, aku sekarang cuman anggap sia temen.
Milea merasa bingung " Ya kalo udah gak ada perasaan terus masalahnya apa? Dia ganggu kamu gitu? Atau dia nembak kamu? "
" Engga gitu juga sih, tapi setelah kemu lagi sama dia aku tuh punya firasat aneh. Terus nih ya, aku juga pernah mimpi nikah sama dia 2 kali
berturut-turut. Kan aneh."
" Yang aneh disini tuh kamu, katanya udab move on tapi masih mimpiin dia sampe nikah segala lagi. Itu tub artinya kamu belum bisa move on sama dia Ra, kamu selama ini udah lupa sama dia karna selam 6 tahun ini kamu gak pernab liat dia jadi kamu luoa sesaat. Tapi enggak sama hati kecil kamu."
Humaira yang sudah yakin bahwa dia sudah move on kini mulai mempertanyakan lagi perasaannya pada Bilal. Dia jadi teringat bagaimana awal mula dia bisa jatuh cinta dengan Bilal. Dan alasannya untuk melupakan perasaannya itu.
*** Flash Back On
( ini secara garis besarnya aja ya di rangkum dari awal samoe akhir kalo di certain semua gak bakalan cukup 1 Bab.)
__ADS_1
Tahun ajaran baru dimulai di salah satu sekolah SMP swasta, terlihat banyak siswa siswi yang berkumpul di tengah lapang yang baru saja melaksanakan upacara bendera untuk tahun ajaran baru semua siswa tidak langsung di buburkan karena setelah upacara akan di umumkan pembagian kelas. Mereka semua tampak harap-harap cemas, karna takut mendapat wali kelas yang galak dan teman yang menyebalkan tak teekecuali Humaira. Dia berdoa supaya mendapat wali kelas yang baik dan teman-teman yang menyenangkan. Hingga tiba saat namanha di panggil dia masuk kelas 8B dengan wali kelas Ibu Dina yang dikenal baik hati. Disana juga awal mula 'Geng' nya terbentuk dan dari sana juga dia mulai mengenal Bilal.
Awalnya Humaira hanya biasa saja menganggap Bilal sama seperti teman yang lainnya. Tapi entah sejak kapan perasaan itu mulai ada di hati Humaira dia mulai merasakan ada getaran di hatinya setiap dia berpapasan dengan Bilal. Tapi bukan Humaira namanya kalau dia tak dapat mengontrol dirinya, dia selalu bersikap seperti biasa saja.
Bahkan menurutnya Bilal itu tidak seperti cowok kebanyakan yang banyak tingkah, dia itu cukup kalem dan di satu sisi juga terlihat cool. Mereka bahkan satu kelas lagi saat kelas 9, saat kelas 9 dia tau kalo Bilal pacaran sama salah satu cewek di kelas mereka Humaira merasa sakit hati. Mungkin? Tapi dia juga gak punya hak apapun buat ngelarang Bilal deket atau bahkan pacaran dengan siapa pun. Karna dia tak mempunyai hak untuk melakukan hal itu, toh perasaan ya juga ga ada yang tau. Sebagian besar orang akan mungkin akan melupakan perasaannya, tapi tidak dengan Humaira, dia masih menyukai Bilal walaupun dia tau bahwa Bilal ada yang memiliki. Humaira jahat? Atau gak tau diri menyukai orang yang bukan miliknya? Tapi bukan itu masalahnya, karna ini mengenai hati bukan anak TK yang suka sama mainnan temenya terus kalo mau bisa beli sendiri. Ini mengenai perasaan, toh dia juga enggak ganggu hubungan mereka bahkan dia mendukung hubungan mereka.
Bukankah Cinta itu tak harus memiliki? Asalkan orang yang kita cinta bahagia bukankah kita juga akan merasa bahagia? Itulah yang dilakukan oleh Humaira... Selama dia masih bisa melihat Bilal bahagia dengan orang yang dicintainya itu semua sudah lebih dari cukup.
Jika masalah lain dia akan blak-blakan bahkan tak malu berteriak hingga kehabisan suara untukmendukung sekolahnya saat pertandingan Volly. Humaira tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan persaannya jangankan berteriak berbisik saja dia tak mampu.
Dia takut jika suatu saat nanti harus berpisah dengan orang yang ia cinta dan berakhir menjadi musuh bahkan seperti orang yang tak pernah kenal sama sekali.
Dia lebih memilih diam, asalkan masih bisa bertegur sapa walaupun hatinya harus sakit melihat dia dengan oranglain. Dia pengecut? Cemen? Memang benar dia adalah pengecut tapi menurutnya itu lebih baik.... Dari pada harus berpisah...
Perasaannya pada Bilal bahkan semakin hari sepertinya bertambah besar walaupun dia tahu kalo Al udah putus dengan teman sekelasnya dan sekarang sedang berpacaran dengan anak kelas sebelah..
Rasa sakit itu juga masih bertahan dalam hatinya seperti enggan untuk meninggalkan hati Rara..
Sampai hari kelulusan, sekolah mereka mengadakan acara perpisahan ke salah satu kolam renang di Garut. Saat itu Al masih berpacaran dengan anak kelas sebelah, mereka terlihat sangat serasi berenang berdua. Entah mengapa perasaan itu tetap saja Stay di hatinya. Ingin rasanya dia menghapus perasaan itu tapi apa daya hatinya tetap. menolak akan hal tersebut.
Di akhir acara, setiap kelas di berikan kesempatan untuk berfoto, Al berdampingan dengan Rara saat itu Rara berharap bahwa waktu akan berhenti walaupun hanya untuk 5 menit. Tapi kenyataan tak kan seindah ekspetasi bukan?
Itu adalah foto pertama dan mungkin menjadi yang terakhir bagi mereka dapat berfoto bersama.
Humaira lebih memilih untuk tak bercerita kepada para sahabatnya ia terlalualu malu untuk melakukan hal itu, ia malu kalau harus mengakui bahwa dia telah jatuh hati pada Bilal. Memang tak ada yang salah jika dia tertarik bahkan cinta dengan Bilal, dan itu hal yang wajar bukan jika seorang cewek suka sama cowok. Karna kita sebagai manusia di anugrahi hati untuk saling mencintai dan berbagi kasih dan menjalin hubungan. Tapi Rara pikir sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk hal itu masih banyak hal yang perlu dilakukan ketimbang berpacaran yang hanya membuang waktu.
* FLASH BACK OFF
*Humaira Pov
Kedatangan pelayan membawa pesannan menyadarkan ku dari lamunan, aku bahkan tak ingat apa yang di bicarakan Milea.
"Selamat menikmati" Kata pelayan sambil tersenyum aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya dia lalu bergegas meninggalkan meja kami.
Aku melihat pesananku dan langsung menyantapnya, karna tadi aku belum sempat makan siang karna tak ada orang yanv menjaga toko jadi saat ini aku sangat lapar dan fokus menyantap makananku.
"Ra, pelan-pelan kali makannya. Gak bakalan ada minta juga, kamu itu udah kaya orang kelaperan tau ga?"
" heheh sorry aku emang laper soalnya tadi belum sempet makan siang."
"Ya tapi ga usah buru-buru juga kali Ra, santai aja, makanan itu harus dinikmati jangan asal makan aja nanti cita rasanya berkurang." Kata Milea yang menunjukan bagaimana cara menikmati makanan menurutnya tapi menurutku seperti anak alay sok-soan lemah gemulai.
" Namanya juga orang laper Mi, ya pas liat makanan yang penting kenyang. Lagian aku juga makan ga sampe belepotan juga." Kataku yang takau kalah dengan Milea.
"Oh ga belepotan yah, terus ini apa yang ada di sudut bibit kamu." Katanya sambil mengelap sudut bibirku yang tisu dan aku hanya nyengir atas kecerobhan ku yang satu ini.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba " Ra.... " Kata seseorang sambil menepuk bahuku.
###TBC