
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bagas memanggil dokter pribadi nya,dia ingin memeriksakan keadaan utari. Dia ngak mau mendengarkan ucapan Utari lagi mengenai penolakan nya, apalagi selama ini tubuh utari sudah cukup berisi sekali. Perut nya juga sudah terlihat membesar,tadi nya Bagas berpikir kalau Utari hanya kebanyakan makan saja karena memang akhir-akhir ini utari sangat banyak makan dan suka yang aneh-aneh kalau mau makanan .
Bukan makanannya yang aneh-aneh,tapi tingkah laku nya. Dia ngak mau makan kalau ngak di suapi oleh Bagas,tapi tidak didepan orang ramai juga. Makanya jika makan siang di kantor ,utari lebih memilih makan di ruangan Bagas saja .
Ceklek
"pak,dokter Barry sudah datang " ucap sang asisten dengan tegas.
"ya....suruh beliau masuk" jawab Bagas,dia langsung berdiri dari duduk nya.
Bagas menyambut kedatangan dokter pribadi nya yang sudah begitu mengenal keluarga Bagas,pernikahan Bagas dan Utari saat itu pun dokter barry mengetahui nya. Ada rasa terkejut karena saat pesta pernikahan Bagas,sikap dan perilaku Bagas yang cuek dengan istri-istri nya dulu tidak berlaku untuk istri nya saat ini.
"apa ada yang sakit Bagas ?" tanya dokter barry,dia adalah sahabat papa nya.
"bukan aku om,tapi utari " jawab Bagas dengan santai,dia berjalan meninggalkan ruangan nya dan masuk kedalam ruangan pribadi miliknya.
Dokter barry terkejut dan mengernyitkan dahi nya,biasanya kalau istri jya sakit dulu. Istri nya akan pergi kerumah sakit sendiri,atau memanggil dokter lain bukan dirinya. Tapi saat ini seolah membuat dokter barry tak percaya,dia mengikuti langkah kaki Bagas hingga mendapati ruangan dengan tempat tidur berukuran king size yang tak jauh dari pintu.
__ADS_1
Terlihat utari berada dibalik selimut,dokter barry juga melihat dengan nyata kalau Utari masih menggunakan pakaian lengkap nya. Dengan perlahan dan tenang,dokter barry mendekati tempat tidur
Bagas memperhatikan sahabat papa nya itu,dia melihat apa yang dilakukan pria paruh baya yang menggunakan jas dokter nya. Terlihat senyuman dibibir Barry,dia berdiri dan memberikan resep obat yang sudah dia tulis di selembar kertas.
"ternyata penelitian ku terbukti,kau sehat" jelas Dokter Barry
Bagas terdiam,karena belum mengerti apa yang dibicarakan oleh sahabat papa nya ini. Dia hanya meminta Barry untuk memeriksakan Utari bukan nya mengatakan kalau dirinya sehat,apa yang dimaksud pria paruh baya ini ? Batin Bagas masih bertanya-tanya.
"ha...ha....wajah mu tegang sekali,tapi tidak apa-apa. Istri mu sehat,dia juga sehat . Lebih jelas nya,kau bawa istri mu ke tante sofia" jelas Barry sambil tertawa dengan cukup keras.
Wajah Bagas semakin terlihat bingung,perkataan Barry terdengar seperti lelucon untuk nya. Dia yang dimaksud oleh Barry jelas sekali anak yang dikandung oleh Utari,tapi dia masih belum percaya seutuh nya.
"kan sudah aku bilang,kau sehat. Dari dulu aku katakan itu,tapi semua orang malah berpikir kau mandul dan benar kata istri mu ini. Kau hanya butuh ketenangan jiwa dan hati untuk membuat nya,cinta....mungkin itu lah yang kau perlu kan untuk membuat anak . Lagi,istri mu cukup pintar. Dia juga mengatakan kalau anak adalah titipan,mungkin saat ini kalian sudah dipercayai untuk memiliki anak" jelas Barry sambil mengingat ucapan papa nya Bagas padanya saat itu.
Utari mengatakan nya pada kedua orang tua nya saat mereka menanyakan mengenai keberadaan anak yang mungkin mustahil,karena tiga kali Bagas menikah dengan tiga wanita juga tapi tidak satu pun dari mereka yang bisa melahirkan anak dari Bagas. Malah dengan pria lain,mereka bisa dengan cepat nya hamil. Kedua orang tua Bagas takut jika Utari akan meminta berpisah seperti ketiga wanita itu,mereka ngak mau Bagas menderita .
Mungkin perpisahan dengan ketiga wanita itu tidak akan menyakitkan sekali,tapi dengan Utari. Mereka yakin Bagas akan lebih menderita karena mereka tau seberapa cinta dan sayang nya anak nya itu pada istri ke empat nya ini,bahkan utari merupakan istri pilihan nya sendiri.
Dokter barry tersenyum bangga,semua orang menyalahkan penelitian yang dia lakukan dengan tim nya. Mereka mengatakan kalau hasil pemeriksaan Bagas tidak jelas,apalagi terbukti dengan ketidak hamilan ketiga istri nya. Tapi saat ini,semua nya jelas terjadi.
__ADS_1
"kenapa melamun hah ? Sana bawa istri mu menemui Sofia,aku sudah membuat janji temu sore ini" ucap Barry lagi,dia senang melihat Bagas akan memiliki anak karena dia melihat sendiri bagaimana papa nya Bagas selalu menceritakan keluhan nya mengenai cucu pada nya .
Bagas yang sudah tersadar langsung mengambil ponsel nya,dia menelpon supir kantor untuk membawa mereka ke rumah sakit sahabat papa nya juga. Setelah mengakhiri panggilan telpon nya,Bagas menatap ke arah barry dengan tajam.
"om....jika benar utari hamil, maka aku akan memberikan apa pun yang om minta tapi jika tidak. Jangan salah kan aku yang akan menutup rumah sakit om " ancam Bagas,dia tidak terima jika barry mempermainkan perasaan nya dan Utari.
Jika kenyataan nya salah,maka bisa dipastikan kalau Utari akan merasa sedih. Bagas ngak mau melihat utari sedih apalagi menangis,dia yakin jika wanita miliknya itu akan terluka mendengar kenyataan yang menyakitkan.
"ha....ha....oke-oke,tapi jika benar istri mu hamil. Aku ingin minta istri,kau tau kan . Aku ngak punya istri,bahkan wanita ngak mau dekat dengan ku karena menganggap aku gila " jawab Barry.
Memang di usia nya yang terbilang sudah cukup tua,Barry belum menemukan kekasih hati nya. Menurut papa nya,barry trauma dengan wanita karena sudah tiga kali dia mencintai dan menyatakan perasaan nya pada wanita itu tapi berakhir dengan penolakan . Mereka menikah dengan pria lain dan sudah memiliki keturunan,sedang kan dia. Malah bergulat dengan dunia medis,bahkan sekarang dia lebih sering memeriksakan kondisi kejiwaan pasien .
"oke.....aku akan mencarikan istri untuk om,tapi om ngak boleh menolak nya " ucap Bagas dengan tegas.
Barry hanya menganggukan kepala nya,dia tidak perduli lagi siapa wanita yang akan dijodohkan dengan nya. Yang penting wanita itu setuju menikah dengan nya, dia hanya ingin memiliki anak dan seseorang untuk mengurusnya .
Setelah kepergian ibu nya tiga bulan lalu,dia kembali berpikir ingin menikah. Karena selama ini ibu nya yang mengurus mengenai keperluan nya, jadi mungkin sudah saat nya dia mencari istri yang bisa mengurus semua keperluan nya .Tapi mana ada wanita yang ingin menjadi istri dari pria paruh baya seperti nya,dia tak yakin akan hal itu.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa vote like dan komentarnya ya makasih πππππ