
Pangeran Enzo menatap tajam ke arah taman dari balik jendela perpustakaan istana. Tatapannya terlihat dingin.
"Pangeran Enzo!" suara panggilan seorang wanita membuat pangeran Enzo menoleh.
Seorang gadis cantik berusia delpan belas tahunan, berpakaian indah dengan renda menerawang pada bagian leher hingga dadanya terlihat tersenyum manis ke arah sang pangeran.
Pangeran Enzo memalingkan pandangannya dari si gadis.
Martha Markus Clark nama gadis itu, ia adalah anak dari Markus Clark Perdana menteri kerajaan Magna,sekaligus sepupu tiri pangeran Enzo. Karena permaisuri Elizabeth yang merupakan ibu tiri pangeran Enzo merupakan adik kandung dari perdana menteri Markus .
"Aku sengaja datang membawakan camilan dan teh untuk mu." ujar Martha dengan senyum manis yang di buat-buat.
"Terimakasih Martha,tapi aku sedang tidak ingin memakan camilan saat ini." jawab pangeran Enzo dingin.
Pangeran Enzo tidak terlalu suka dengan kehadirannya Martha,karena gadis itu selalu mengikuti kemana pun pangeran Enzo. Bahkan lebih jauh, Martha terlihat suka menggoda pangeran Enzo dengan senyuman dan mimik wajah yang di buat - buat atau pakaiannya yang sengaja dibuat terbuka atau menerawang bila di dekatnya.
"Hahaha...kau suka bercanda Enzo,sejak kapan kau tidak suka camilan." katanya sambil tertawa kecil.
Enzo tidak tertarik dengan apa yang di ucapkan Martha,ia memilih duduk di kursi bacanya dan membuka kembali buku yang sempat ia baca tadi.
Martha mengikuti sang pangeran,ia pun langsung duduk manis di kursi tepat di depan sang pangeran.
"Apa yang kau sedang baca , pangeran Enzo?" tanyanya sambil menatap wajah sang pangeran.
"Aaaa...dia tampan sekali..!!!" teriak Martha dalam hati.
Pangeran Enzo menegakan bukunya,agar Martha bisa membaca judul pada sampul buku tersebut.
"Sejarah tiga raja daratan Clausia." baca Martha.
"Apakah buku nya menarik?" tanyanya lagi, sekarang Martha menopang dagunya dengan tangan kanannya bertumpu pada meja.
"Tentu saja" jawab pangeran Enzo singkat.
"Bisakah kau ceritakan padaku ,apa isi buku itu?aku ingin tahu." ujarnya lagi kali ini dengan sedikit manja.
Kali ini pangeran Enzo menurunkan bukunya dan menatap ke arah Martha.
Martha sangat senang akhirnya pangeran Enzo memperhatikan nya,ia tersenyum manis ke arah sang pangeran.
"Kreek...!"
Pintu perpustakaan dibuka.
Jenderal Valentine masuk ke dalam ruangan.
"Maaf menganggu pangeran Enzo anda di tunggu Raja Edward d ruangan pribadi beliau." ujarnya.
"Baiklah paman. Terima kasih." jawab pangeran Enzo,ia pun segera berdiri.
"Tuk..!"
__ADS_1
"Silahkan kau baca sendiri. Sepertinya kau sangat tertarik dengan buku ini." ucap pangeran Enzo sambil meletakkan buku yang ia baca tadi di atas meja lalu segera berlalu keluar ruangan itu diikuti oleh jenderal Valentine.
"Aaaakh...!!"
Teriak Martha sambil memukul meja d depannya dengan kesal.
"Aku tidak akan pernah melepaskannya Enzo!!" geramnya,lalu ia pun berlalu ke luar dari ruangan itu dengan muka cemberut.
"Awas saja,aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku!" gumamnya saat ia berjalan menelusuri lorong-lorong di dalam istana,ia hendak mengadu pada sang ayah tentang apa yang terjadi padanya.
Di tempat yang sama putri Artha dan dayang Natalie sedang menuju ruangan pribadi raja Edward dan permaisuri Elizabeth, kebetulan mereka berpapasan dengan Martha di lorong itu.
Putri Artha melirik ke arah Martha tapi Martha memasang wajah tak senang dan memalingkan mukanya sambil terus berlalu.
"Siapa gadis itu Natalie?" bisik putri Artha.
"Dia nona Martha,anak perdana menteri Markus." jawab Natalie.
"Mengapa ia terlihat membenci ku? atau apakah semua yang berada di istana ini membenciku?" pikir putri Artha
Sementara itu di ruangan pribadi raja Edward dan permaisuri Elizabeth.
"Karena semua sudah berkumpul,mari kita mulai saja!" tutur raja Edward.
"Setelah melihat keadaan putri Artha yang sudah membaik,aku pikir tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menunda acara pernikahan antara pangeran Enzo dan putri Artha." ujar raja Edward.
"Lebih cepat kita laksanakan akan lebih baik tentunya." katanya lagi.
"Hmm..jadi bagaimana sebaiknya menurutmu, Markus?" tanya raja Edward.
"Sebaiknya kita tunda saja pernikahan antara pangeran Enzo dan putri Artha sampai musim semi tahun depan,musim semi adalah waktu yang tepat untuk pernikahan." katanya dengan sangat meyakinkan.
"Bukankah itu terlalu lama?" ujar raja Edward sambil menggosok janggutnya.
"Bagaimana menurutmu, Valentine?"
"Dari yang saya ketahui serta pendapatan para tetua,musim gugur dan musim dingin memang bukanlah saat yang tepat untuk melaksanakan pernikahan, yang mulia." kata jenderal Valentine.
Perdana menteri Markus merasa senang mendengar penuturan jenderal Valentine,ia merasa mereka berdua memiliki pendapat yang sama.
"Maka...kita bisa melaksanakannya sebelum musim gugur tiba,yang mulia." tambahnya lagi.
Senyum di wajah perdana menteri Markus seketika hilang setelah mendengar hal itu.
"Hahaha...!benar sekali Markus,mari kita laksanakan pernikahan mereka pekan depan!" tuturnya sambil tertawa senang.
"Valentine,panggil Pangeran Enzo dan putri Artha ke sini,aku akan menyampaikan berita membahagiakan ini kepada mereka." perintahnya kepada jendral Valentine.
"Baiklah yang mulia!" jenderal Valentine membungkuk dan segera berlalu dari ruangan itu.
Tak lama kemudian,
__ADS_1
"Silahkan masuk putri Artha anda sudah di tunggu di dalam
" kata kepala rumah tangga kerajaan kepada putri Artha.
Putri Artha pun memasuki ruangan sedangkan Natalie menunggu nya di luar ruangan.
Raja Edward, permaisuri Elizabeth, jendral Valentine,perdana menteri Markus serta pangeran Enzo sudah menunggunya di dalam ruangan.
"Selamat datang putri Artha,silahkan duduk." ujar raja Edward.
Putri Artha memberi hormat dan mengambil tempat duduk di sebelah pangeran Enzo sesaat ia menoleh ke arah pangeran Enzo namun pangeran Enzo tidak sedikitpun melihat kearahnya.
"Enzo putraku dan kau putri Artha,aku sengaja memangil kalian berdua ke sini untuk menyampaikan berita bahagia." kata Raja Edward dengan wajah berseri.
"Kita akan melaksanakan pernikahan kalian berdua pekan depan." tutur lagi.
Pangeran Enzo tetap memasang wajah datar, sedangkan putri Artha sedikit terkejut tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
"Apakah kau senang mendengar nya putri Artha?" mata raja Edward memandang putri Artha sambil tersenyum.
Di dalam hati sang raja,ia sangat senang dan bahagia karena putranya pangeran Enzo akhirnya akan menikah dengan putri sahabatnya Raja Alfredo.
"Tentu saja,yang mulia." putri Artha mencoba untuk tersenyum, walaupun hatinya sedang menangis.
Menikahi pangeran Enzo mungkin bukanlah hal yang buruk,tapi pernikahan ini bukanlah yang ia dambakan selama ini.
Putri Artha lebih suka hidup seperti orang biasa,dia tidak terlalu suka peraturan istana yang kaku.
Dia lebih suka berkeliling ke kota ataupun perkampungan dengan begitu ia bisa melihat banyak hal yang menarik dari pada harus terkurung di dalam istana.
Bahkan ia sering kali keluar masuk hutan white rose seorang diri ataupun bermain di aliran sungai dengan pangeran Adrian.
"Baiklah kalau begitu,mulai besok perintahkan semua orang untuk mempersiapkan pernikahan kerjaan ini dengan meriah.".tegasnya kepada perdana menteri Markus dan jenderal Valentine.
"Dan kalian berdua,persiapkan diri kalian juga." ujarnya pada pangeran Enzo dan putri Artha.
Pengumuman pernikahan kerajaan pun telah di umumkan kepada semua orang yang ada di pelosok kerajaan Magna.
Berita terkait pernikahan itu pun telah di sampaikan kepada raja Alfredo dan rakyat kerajaan Pulchara. Semua orang menyambut pernikahan itu dengan riang gembira.
Di rumah perdana menteri Markus, Martha terlihat mendatangi sang ayah dengan wajah yg penuh air mata.
"Ayah,kenapa pangeran Enzo ku akan menikah dengan perempuan jelek itu ayah?hiks!" rengeknya.
"Bukankah ayah berjanji untuk menjadikan aku permaisuri kerajaan Magna!?hiks..hiks!" rengekannya bertambah kencang.
"Diam Martha! kau pikir ayah tidak pusing memikirkannya,hah!?" teriaknya.
Martha terkejut mendengar teriakan sang ayah,ia mengelap air mata dengan tangannya,ia tidak menyangka ayahnya akan begitu murka.
Melihat sang putri yang menciut, perdana menteri Markus pun mendekati dan putri dan mengelus rambut nya.
__ADS_1
"Maafkan ayah Martha,ayah berjanji akan menjadikan mu permaisuri kerajaan Magna apapun yang terjadi nantinya!" ucapnya dengan seringai mengerikan di wajah pucat nya.