My Little Queen

My Little Queen
Bab. 34 Bantuan Robie


__ADS_3

Putri Artha dan Natalie berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak menuju istana kerajaan Magna. Mereka memang sengaja memilih jalan memutar ke arah belakang melewati pinggiran hutan yew tua. Di pinggiran hutan itu ada pagar tinggi yang membentengi istana kerajaan Magna dari dunia luar. Bila benar-benar di perhatikan ada sebuah pintu kecil yang tertutup dedaunan merambat yang tersembunyi di antara dinding kokoh tersebut.


Dahulu Natalie tidak sengaja menemukan pintu kecil yang tersembunyi itu saat ia mengambil beberapa bunga liar untuk menghiasi kamarnya.


Awalnya pintu itu terkunci tapi dengan kelihaiannya, putri Artha bisa membukanya menggunakan sepasang besi kecil yang runcing. Sebenarnya mereka juga heran siapa yang membuat pintu rahasia ini di sana, mereka pikir mungkin dahulu ada seorang pangeran atau putri nakal yang sering menggunakan nya untuk keluar masuk istana.


Saat mereka baru akan melewati jalan setapak menuju pinggiran hutan mereka melihat dari kejauhan beberapa orang prajurit sedang sibuk mengangkat sesuatu dan di belakang sana banyak orang sedang bergerombol dan berjalan mengikuti para prajurit kerajaan itu sambil berbisik -bisik.


Putri Artha dan Natalie menghentikan langkah mereka,mereka segera bersembunyi di balik sebuah dinding rumah.


"Bagaimana ini tuan putri,mengapa tiba-tiba ada banyak orang." bisik Natalie panik.


Putri Artha juga tidak menduga hal ini akan kejadian. Kalau orang-orang itu masih tetap bergerombol di sana maka dapat dipastikan mereka berdua tidak akan bisa kembali ke dalam istana tepat waktu.


"Apakah kau tidak tahu jalan lain untuk masuk ke dalam istana selain pintu kecil itu dan pintu gerbang istana?" tanya putri Artha pada Natalie.


Natalie mengelengkan kepalanya. Putri Artha kembali berpikir, sekarang sudah hampir tengah hari sebentar lagi pasti para pengawal ataupun dayang akan menyadari kepergiannya. Karena biasanya para dayang akan mengantarkan makan siang untuk nya di meja makan.


Putri Artha pun mulai terlihat panik,ia mondar-mandir di belakang rumah itu sambil mengigit jarinya.


"Hanya ada dua cara, pertama kita harus menerobos lewat gerbang istana yang di jaga ketat atau menunggu hingga orang - orang yang bergerombol di dekat pintu rahasia itu pergi,tapi bisa saja mereka semua baru akan pergi saat matahari terbenam." kata putri Artha dengan wajah lesu.


"Bagaimana kalau kita mencoba lewat gerbang belakang istana dulu yang mulia?" saran Natalie.


"Kau benar Natalie,mungkin keadaan tidak terlalu ketat saat menjelang makan siang seperti ini. Mari kita pergi!" seru putri Artha yang diikuti anggukan Natalie.


Keduanya lalu melangkah pergi menuju arah pintu gerbang belakang istana, biasanya para dayang istana dan pegawai istana yang akan keluar istana akan melewati jalan ini. Namun sayangnya pemeriksaan oleh para penjaga sangat ketat di sini.


Mereka berjalan mendekati gerbang belakang istana yang tidak terlalu besar itu,saat mereka berjalan putri Artha tiba-tiba menengok ke arah belakang.


"Ada apa putri?" tanya Natalie.


"Entahlah ,apa hanya perasaanku saja,aku merasa ada yang mengikuti kita dari tadi."putri Artha berbalik sekali lagi melihat ke segala arah, namun tidak ada orang di sana selain mereka berdua.


Mereka berdua mulai mempercepat jalan mereka,saat tiba di sekitar gerbang mereka mengintip dari balik tembok untuk memeriksa keadaan di sana. Ada sekitar lima orang pengawal yang sedang berjaga,mereka semua dalam keadaan siap siaga.


"Gawat, mereka semua berjaga dengan ketat. Mengapa hari ini penjagaan di gerbang istana begitu ketat?" ujar putri Artha heran.

__ADS_1


"Greep..!"


Tiba-tiba saja tubuh sang putri di tarik seseorang dari arah belakang,baru saja Natalie mau berteriak tangan lelaki itu juga menarik tangannya sehingga mereka bertiga sekarang semuanya merunduk di balik beberapa gentong bekas tempat anggur.


Robie membekap mulut Natalie saat ia mencoba untuk berteriak.


"Ini aku Robie, jangan berteriak." bisik nya di telinga Natalie. Putri Artha yang menyadari bahwa yang menariknya tadi adalah Robie yang merupakan pengawal pangeran Enzo segera bernapas lega.


Mereka tetap berada di sana hingga rombongan prajurit kerajaan Magna yang lewat tepat di depan mereka tidak terlihat lagi.


"Mari ikut saya tuan putri!" seru Robie pelan. Mereka bertiga mulai bergerak sambil tetap merunduk menjauhi pintu gerbang belakang istana.


Sesampainya di sebuah lapangan rumput, putri Artha dan Natalie bisa melihat sebuah kereta kuda yang biasa di gunakan untuk membawa barang-barang.


"Apa kami akan naik menggunakan ini?" tanya Natalie tidak percaya, bagaimana mungkin Robie membawa seorang putri yang juga istri calon pewaris tahta kerajaan Magna dengan kereta barang seperti yang ada di depan mereka ini.


"Maaf, hanya ini saja yang bisa aku dapatkan." ujarnya pasrah.


" Tidak apa-apa. Ayo kita bergegas!" seru putri Artha segera naik ke dalam kereta barang tersebut diikuti Natalie,lalu Robie segera menutupi mereka dengan kotak perkakas dan barang lainnya,sehingga putri Artha maupun Natalie tidak akan terlihat oleh orang lain.


Robie mulai menjalankan kereta nya melewati jalan setapak menuju gerbang belakang istana. Semakin dekat ke gerbang semakin kencang degup jantung mereka bertiga.


Teriak seorang penjaga gerbang.


Robie pun menghentikan kereta kuda tersebut. Putri Artha dan Natalie menutup mulut mereka dengan rapat dan memasang telinga mereka dengan seksama.


"Apa yang kau bawa Robie?bukankah tugasmu mengawal pangeran Enzo?" selidik penjaga tersebut.


"Aku hanya membawa barang-barang yang di minta oleh pangeran Enzo saja." Robie berusaha berbicara dengan nada santai.


Penjaga itu berjalan mendekati kereta di belakang punggung kuda tersebut dan mulai memperhatikan isi kereta.


"Maaf, barang - barang tersebut mudah pecah. Dan kau tahu apa akibatnya bila barang pesanan pangeran Enzo itu rusak di tanganmu." kata Robie sedikit mengancam.


"Ck,kau ini!" kata penjaga ini sedikit takut.


"Baiklah,kau boleh masuk!!" serunya pada Robie.

__ADS_1


Robie merasa sangat lega mendengarnya,ia pun langsung memacu kudanya ke dalam istana.


"Trap..trap..!!"


Suara kaki kuda yang membawa kereta barang tersebut berbelok ke arah belakang tempat penyimpanan barang. Robie segera mengikatkan tali kuda agar tidak terlepas. Ia mengawasi kondisi di sekitarnya, saat di rasa sudah aman ia pun segera memanggil putri Artha dan Natalie untuk keluar.


"Ssst..!"


"Anda bisa turun sekarang tuan putri!" serunya pada putri Artha dan Natalie.


Keduanya pun segera turun saat robie menurunkan barang yang tadi menutupi keberadaan mereka berdua.


"Ah, terimakasih banyak Robie!" kata putri Artha.


"Kami mungkin masih terjebak di luar bila kau tidak membantu kami tadi." tambahnya.


"Sama - sama yang mulia. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya." jawab Robie sambil memberi hormat.


"Tapi tunggu dulu! sejak kapan kau tahu kami ada di luar?" tanya putri Artha curiga.


"Saya tahu anda pergi ke rumah nona Anne hari ini." jawabnya lagi.


"Apa!!?" putri Artha dan Natalie sama - sama terkejut.


"Jadi kau yang dari tadi mengikuti kami!?" seru putri Artha tidak percaya.


Robie hanya mengangguk sambil kemudian tersenyum.


"Astaga Robie apa yang kau lakukan? apa kau sedang memata - matai kami?" kata Natalie terkejut.


"Aku hanya menjalankan tugas dari pangeran Enzo saja,tuan putri." tukasnya.


Putri Artha tidak percaya ternyata pangeran Enzo memerintahkan pengawalnya untuk mengawasinya di saat ia tidak berada di istana. Ada rasa senang dan kesal yang di rasakan putri Artha,ia senang karena ternyata suaminya menghawatirkan dirinya. Tapi ia juga merasa kesal bila teringat pangeran Enzo yang belum juga kembali saat hari ulang tahunnya tinggal beberapa hari lagi.


"Apa kau juga akan mengadukan ku pada Enzo?" kata putri Artha sambil melipat kedua tangannya.


"Aku hanya menjalankan perintah yang mulia." jawab Robie sambil kembali tersenyum manis.

__ADS_1


"Astaga kau ini!!" seru putri Artha kesal. Tapi putri Artha juga tidak bisa berbuat apa-apa,karena Robie hanya menjalankan perintah suaminya pangeran Enzo.


Kemudian putri Artha dan Natalie segera berlalu menuju kedalam istana untuk bersiap makan siang,karena sebentar lagi para dayang akan segera membawakan hidangan untuk nya.


__ADS_2