
"Tok..!
"Tok..!
"Tok..!"
Pintu ruangan kerja di ketuk dari luar. Putri Artha dan Natalie yang sedang berada di dalam ruang kerja itu menoleh ke arah suara.
"Yang mulia putri Artha, Robie meminta ijin untuk menghadap." ujar Robie dari balik pintu.
"Silahkan masuk, Robie!" seru putri Artha.
Robie pun segera masuk ke dalam ruangan tempat putri Artha dan Natalie berada.
"Ada apa Robie?" tanya putri Artha.
"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan yang mulia."ujarnya serius.
Putri Artha menatap heran raut wajah Robie yang terlihat sangat serius,tidak seperti biasanya.
"Apakah berita ini sangat penting?" tanya putri Artha lagi.
" Iya yang mulia. Ini mengenai nona Anne." ujarnya.
" Apa yang terjadi dengan nona Anne? apakah ia sudah kembali?" tanya putri Artha penasaran.
" Bisa di bilang begitu yang mulia." jawabnya sedikit ragu.
" Di mana ia sekarang? bawa ia kemari aku ingin bertemu dengan nya." ucap putri Artha bersemangat.
Robie terdiam sejenak,lalu ia mulai menceritakan semua yang terjadi kemarin.
" A..apa katamu Robie. Nona Anne ditemukan meninggal!" putri Artha sangat terkejut mendengar berita yang di sampaikan oleh Robie.
"Ya,yang mulia. Anda ingat kejadian kemarin di dekat hutan yew tua? ada seorang penduduk yang sedang mencari kayu bakar di hutan,saat itu ia menuruni jurang melewati jalan setapak di seberang hutan yew tua untuk mencari air dan menangkap ikan di sungai besar yang mengalir di bawah sana. Dan tidak sengaja menemukan sesuatu yang terbungkus karung tersangkut di pinggir sungai.
Lalu penduduk itu membuka karung tersebut karena ia mencium bau yang menyengat dari karung itu. Awalnya ia pikir mungkin itu bangkai hewan ternak, tapi saat ia membuka karung itu ternyata isinya sesosok tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa lagi. Wajahnya sudah rusak dan tidak dapat di kenali,tapi dari pakaiannya dapat di tebak kalau ia adalah seorang dayang istana." jelas Robie lagi.
__ADS_1
Putri Artha masih belum percaya dengan semua yang di ceritakan oleh Robie barusan.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau mayat itu adalah nona Anne?bisa saja itu mayat orang lain yang berpakaian seperti seorang dayang. Atau mungkin saja dia dayang yang lain ,karena ada puluhan bahkan mungkin ratusan dayang di istana ini." kata putri Artha,ia masih berusaha untuk memastikan kebenaran berita yang disampaikan oleh Robie.
"Pelayan istana kerajaan Magna memakai lencana berupa bros di setiap seragam mereka,lambang pada setiap lencana mereka sesuai dengan tempat mereka bekerja. Contohnya pada lencana di seragam Natalie ada gambar mahkota kecil dengan empat sisi itu artinya ia bekerja di istana sebagai dayang yang melayani istri putra mahkota." kata Robie sambil menunjuk pada lencana berwarna emas yang di dada kiri Natalie.
Putri Artha pun mengamatinya dengan seksama.
"Ternyata begitu." gumamnya.
"Lalu gambar apa yang ada pada lencana nona Anne?" kata putri Artha.
"Lencana perak yang ia pakai ada gambar seperti pancake yang di pahat di sana. Itu tandanya ia bekerja di dapur istana sebagai pembuatan kue atau roti." tambah Robie .
"Selain itu aku sudah memeriksa nya sendiri, tidak ada seorang dayang pun yang menghilang dari dapur istana kecuali nona Anne. Jadi bisa dipastikan mayat yang ditemukan itu benar nona Anne." jelasnya.
Putri Artha tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar penjelasan dari Robie. Ia tidak menyangka orang yang ia cari selama ini untuk memecahkan misteri cookies beracun itu sudah tidak ada lagi.
"Tuan putri,saya harap anda tidak lagi menyelidiki kasus nona Anne. Karena dari luka yang ada di tubuh nona Anne, sepertinya ia di bunuh oleh seseorang."ujar Robie.
"Jika anda bersikeras untuk melanjutkannya,saya takut hal ini akan membahayakan jiwa anda yang mulia." Robie terlihat sangat serius mengatakan hal itu, bagaimanapun saat ini pangeran Enzo sudah memberinya tanggung jawab atas keselamatan sang putri selama ia tidak berada di istana kerajaan Magna.
Putri Artha menghembuskan napas berat. Sebenarnya ia makin penasaran dengan kasus ini,tapi ia juga paham pasti ada dalang yang lebih besar dan lebih berkuasa di balik terbunuhnya nona Anne. Dan itu artinya kasus ini sangatlah berbahaya apabila ia selidik sendiri.
"Baiklah Robie untuk sementara waktu aku tidak akan melakukan apapun untuk masalah ini. Tapi bisakah kau membantuku?" ucap putri Artha pada Robie.
"Apa yang bisa saya bantu,yang mulia?" tanya Robie.
"Kau tahu rumah keluarga Pann yang ku datangi waktu itu?"
Robie pun mengangguk tanda mengerti.
" Ibu nona Anne,nyonya Pann sedang sakit pasrah seperti nya ia terkena radang paru dan penyakit gula,tolong kau carikan seorang tabib yang bisa mengobatinya. Lalu ,ini beberapa keping emas kau cari seseorang untuk memperbaiki rumah itu,sudah banyak lubang di sana sini sedangkan sebentar lagi musim dingin pasti mereka akan sangat kedinginan bila rumah tersebut tidak di perbaiki" ujar putri Artha sambil memberikan sekantung koin emas kepada Robie.
"Serta tolong kau pastikan mereka mendapatkan pakaian hangat dan bahan makanan yang layak." lanjut nya lagi.
"Siap yang mulia,saya akan melaksanakan perintah anda dan saya akan memastikan mereka bisa hidup dengan layak."ujar Robie lalu beranjak pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Kasihan sekali nyonya Pann dan Diana, mereka pasti sangat sedih bila tahu bahwa nona Anne sudah meninggal." kata Natalie dengan wajah sendu.
"Ya,kau benar Natalie, mereka pasti akan sangat sedih." ucap putri Artha sambil mengingat wajah mungil Diana yang tersenyum ceria saat memegang segenggam cemilan waktu itu.
"Kasian sekali gadis sekecil itu sudah kehilangan ibunya."gumamnya dalam hati.
Hari- hari pun berlalu,tanpa terasa hari ini adalah hari ulang tahun putri Artha yang ke enam belas, usia yang cukup dewasa untuk gadis pada masa itu.
Raja Edward mengumumkan bahwa kerajaan Magna akan mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahun putri Artha yang pertama sebagai anggota keluarga kerajaan Magna.
Aula istana sudah di buat semeriah mungkin bunga- bunga dan pita menghiasi ruangan itu dengan indah. Semua yang hadir di pesta menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh dapur istana.
Putri Artha terlihat menyapa semua tamu yang datang untuk mengucapkan selamat padanya. Namun tidak bisa di pungkiri hatinya terasa sangat pedih karena di hari bahagianya itu sosok yang sangat penting dalam hidupnya tidak ada yang hadir.
Raja Alfredo dan ibunya permaisuri Anastasia tidak bisa hadir ke Magna karena sedang ada perayaan juga di Pulchara. Sedangkan suaminya pangeran Enzo sampai saat ini belum ada kabarnya sama sekali.
Putri Artha menampakan wajah murung saat ia sudah berada di dalam kamarnya setelah pesta usai.
Tangisnya pecah di sana ,padahal ia pernah berjanji untuk tidak akan menangis walaupun pangeran Enzo tidak berada di sisinya. Tapi hati nya tidak bisa mengingkari hal itu,ia merasa sangat hampa di tengah lautan orang dalam pesta ulang tahun nya yang meriah.
"Hiks..hiks!"
"Kau jahat Enzo!" ujar putri Artha di sela tangisnya malam itu.
"Putri,anda harus segera beristirahat. Hari sudah cukup larut dan esok pagi anda masih harus menyapa penduduk di sepanjang jalan." ujar Natalie lembut.
Ya besok pagi putri Artha harus menyapa para penduduk kerajaan Magna yang akan menyapanya di sepanjang jalan yang akan ia lewati dan memberikan bingkisan kepada mereka yang sudah menunggunya di sana. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur dan terima kasih nya kepada rakyat kerajaan Magna yang telah mendoakannya dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
"Aku akan tidur sebentar lagi Natalie. Kau boleh kembali ke kamar mu sekarang." ujar putri Artha sambil menyeka air matanya.
Natalie dengan berat hati meninggalkan kamar putri Artha dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Putri Artha memandangi bingkai lukisan dirinya dan pangeran Enzo yang tergantung di dinding kamar.
"Kapan kau kembali Enzo?apakah kau tidak merindukan ku?" gumamnya sambil kembali meneteskan air mata.
Hari semakin larut akhirnya putri Artha tertidur karena kelelahan menangis.
__ADS_1
Pintu kamar putri Artha tiba-tiba saja terbuka, seseorang masuk ke kamar itu dengan mengendap - ngendap.
"Ah, ternyata ia sudah tertidur." ujarnya sambil tersenyum.