My Little Queen

My Little Queen
Bab.9 Tawaran pangeran Adrian


__ADS_3

Sudah beberapa hari putri Artha terkurung di kamar ini,ia hanya berbaring dan beristirahat untuk memulihkan kondisinya. Namun saat ini ia benar-benar sudah merasa bosan .


"Kreek..." pintu kamar di buka.


"Maaf yang mulia,saya hendak mengantarkan sarapan Anda".ujar seorang dayang sambil membawa nampan berisi roti,buah dan susu.


"Terimakasih" jawab putri Artha.


"Apakah yang mulia akan sarapan di tempat tidur atau di meja?", tanyanya.


"Letakan saja di atas meja,aku akan sarapan di sana" jawab putri Artha, lalu ia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja teh di dekat jendela.


"Maukah kau menemaniku sarapan?aku bosan sarapan seorang diri" ujar putri Artha.


"Eh, baiklah yang mulia saya akan tinggal di sini" ujarnya sambil berdiri di samping kursi yang diduduki sang putri.


"Duduklah,aku tidak tergesa-gesa memakan sarapanku, nanti kakimu sakit" putri Artha tersenyum dan menyuruh dayang itu untuk duduk di kursi di depannya.


"Tidak apa-apa yang mulia.".ujar dayang muda itu,ia tidak berani untuk duduk setara dengan tuan putri yang akan segera menjadi permaisuri itu.


"Tidak usah takut" ucap putri Artha lagi. Namun ia masih menggeleng tidak berani.


"Ini perintah!,ayo duduk!" seru putri Artha pura-pura menggertak.


Dayang muda itu terkejut mendengar gertakan putri Artha,dia tidak menyangka sang putri akan marah, langsung saja ia duduk di kursi yang berhadapan dengan putri Artha dengan raut wajah yang sedikit takut.


Putri Artha tersenyum


"Ah, sekarang lebih baik" ujar nya sambil melahap sarapannya.


Putri Artha melirik ke arah dayang muda. Wajah dayang tersebut tidak asing baginya.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Siapa namamu?" tanyanya.


"Saya Natalie yang mulia,kita pernah bertemu di panti asuhan" jelas dayang yg bernama Natalie itu.


"Ooo..iya.Kau yang mengejutkan ku waktu itu." putri Artha mengingat kembali kejadian itu.


"Jadi kau sudah berapa lama bekerja di istana?" kata putri Artha.


"Tiga bulan yang lalu saya mulai bekerja di bagian laundry, saat ini saya bertugas di dapur dan sekarang saya sangat senang bisa mengantarkan makan untuk yang mulia putri Artha." matanya terlihat berbinar-binar saat mengatakan hal itu.


"Kau sangat lucu , Natalie, haha!" tawa putri Artha melihat keluguan Natalie.


Sudah lama putri Artha tidak tertawa lepas seperti ini.

__ADS_1


"Senang berbincang dengan mu , Natalie." ujarnya.


"Aku sudah selesai sarapan,kau bisa membawanya kembali" sambungnya.


Permaisuri Elizabeth sedang melihat keadaan putri Artha siang ini.


"Bagaimana keadaan mu Artha, apakah kau sudah lebih baik?" tanya nya dengan lembut.


"Sekarang saya sudah merasa pulih sepenuhnya yang mulia."jawab putri Artha,dia merasa cukup nyaman dengan kehadiran permaisuri Elizabeth, walaupun ia belum bisa percaya sepenuhnya dengan siapapun di istana ini,tapi karena putri Artha pernah bertemu dengan permaisuri Elizabeth beberapa kali ia tidak merasa asing di dekatnya.


"Syukurlah kalau engkau sudah pulih,aku merasa sangat lega" ucapnya.


"Maaf yang mulia,apakah saya bisa meminta sesuatu?" putri Artha tiba-tiba memikirkan sesuatu.


"Apa itu?" kata permaisuri Elizabeth.


"Bisakah dayang bernama Natalie yang bekerja di dapur menjadi dayang pribadiku?" pintanya. Entahlah,sejak sering mengobrol dengan Natalie putri Artha merasakan ketulusan dayang tersebut.


"Memangnya apa alasan mu memilihnya?" tanya permaisuri.


"Hanya saja ia hampir seumuran denganku dan aku ingin ada teman berbincang" kata putri Artha.


"Baiklah,nanti akan ku beritahukan kepada ketua pelayanan kerajaan. Apa ada yang lain?" tambahnya.


"Mmm...Bolehkah aku berjalan-jalan di taman istana,sudah lama aku tidak keluar" tanya putri Artha ragu.


Keesokan harinya,putri Artha sudah selesai sarapan pagi dan hendak bersiap berjalan-jalan di taman.


"Mari kita keluar, Natalie!" ajak putri Artha, mulai hari ini Natalie bertugas menjadi dayang pribadi putri Artha.


"Baiklah putri" ujarnya gembira,ia memasangkan mantel dari bulu domba pada sang putri,cuaca mulai terasa dingin karena saat ini sudah hampir di penghujung musim panas.


"Silahkan yang mulia" dua orang prajurit kerajaan sudah menunggu di depan pintu kamar.


"Mereka masih mencurigai ku".pikir putri Artha,saat prajurit itu mulai mengikuti kemanapun ia pergi.


"Ah,sangat menyegarkan" putri Artha menarik napas dalam seolah ia mengisi penuh paru-parunya dengan udara luar setelah hampir lima hari terkurung di dalam kamar.


Putri Artha berjalan-jalan di sekitar taman sambil sesekali berbincang dengan Natalie.


Akhirnya ia duduk di pinggir kolam air mancur yang ada di taman. Matanya menatap bayangan seseorang di balik jendela perpustakaan di lantai dua istana.


"Bagaimana aku akan hidup dengannya nanti, bahkan saat aku terbaring sakit tidak sekalipun ia melihatku" pikirnya dalam hati.


Bayangan pangeran Enzo yang sedang membaca terlihat dari luar jendela. Putri Artha mendengus dan berpaling ,ia lebih memilih melihat ikan-ikan yang sedang berenang bebas di dalam kolam untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Artha,kau sudah pulih"suara pangeran Adrian, membuyarkan lamunan nya.


"Adrian!"


Putri Artha menoleh ke arah pangeran Adrian.


"Ada yang ingin ku bicarakan padamu." ujarnya sambil melirik ke arah Natalie dan prajurit yang berjaga di sana.


"Mari kita pergi ke sana sebentar "ujar pangeran Adrian sambil menunjuk sebuah pohon besar yang tidak jauh dari sana.


"Ada apa Adrian,tidak bisakah kita bicarakan di sini" putri Artha merasa kurang nyaman bila harus berdua saja dengan pangeran Adrian, apalagi ada Natalie dan prajurit kerajaan di sana.


"Aku tidak akan lama." ucapnya sambil meraih tangan sang putri.


Putri Artha terkejut dengan apa yang dilakukan pangeran Adrian,ia mencoba melepaskan tangannya.


"Lepaskan tangan mu Adrian,aku tidak suka kau perlakukan seperti itu." tegasnya sambil melepaskan tangannya, saat mereka sudah berada cukup jauh dari yang lain.


"Maafkan aku." kata pangeran Adrian.


"Artha,masih ada beberapa hari sebelum acara pernikahan kerajaan, aku tahu kau terpaksa melakukan pernikahan ini,aku akan membantu mu untuk lari dari sini, aku tahu tempat persembunyian yang aman dan tidak ada seorangpun yang tahu." ucapnya sambil menatap wajah putri Artha dengan serius.


"Adrian, bukan kah sudah ku katakan sebelumnya,aku tidak akan lari dari sini, kau tidak usah repot-repot mengurus nya." tegas putri Artha.


"Percayalah pada ku Artha,aku menjamin kau akan selamat sampai ke tempat persembunyian. Bahkan bila perlu aku akan..."


"Cukup Adrian,aku tidak ingin mendengarnya lagi!" ujar putri Artha sambil berbalik hendak pergi.


"Set...!"


Pangeran Adrian menahan tangan putri Artha.


"Lepaskan tanganku Adrian! banyak orang yang sedang memperhatikan kita,aku tak mau ada rumor yang beredar nantinya." ujar putri Artha berusaha melepaskan tangannya.


Natalie terlihat khawatir melihat sang putri, walaupun tempat mereka berada cukup jauh namun Natalie melihat ada yang tidak beres dengan sang putri.


"Apa yang mereka bicarakan?mengapa pangeran Adrian menahan tangan putri Artha?" pikirnya.


Pangeran Adrian melepaskan tangan nya.


"Artha,aku hanya ingin kau..." ia tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat putri Artha sudah bergegas pergi menjauh.


"Apa anda baik-baik saja, putri?" tanya Natalie saat melihat wajah sang putri yang terlihat kesal.


"Mari kita kembali ke kamar, Natalie!aku sangat lelah." ujar putri Artha kepada sang dayang sambil berlalu.

__ADS_1


Natalie pun bergegas mengikuti putri Artha yang sudah duluan pergi menuju kamarnya.


Di balik jendela perpustakaan istana, sepasang mata memandang tajam ,ia diam-diam memperhatikan apa yang baru saja terjadi di taman.


__ADS_2