
"Tok..!
"Tok..!"
Putri Artha mengetuk pintu kayu yang terlihat sudah usang,rumah keluarga Pann terlihat jauh dari layak,rumah yang terbuat dari kayu itu sudah berlobang di sana sini. Bahkan salah satu jendelanya sudah pecah dan hanya di tutupi sekedarnya dengan kain.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah yang terlihat sepi itu. Putri Artha kembali mengetuk pintu rumah tersebut dengan lebih keras.
"Tok..!
"Tok..!"
Terdengar langkah kecil dari dalam rumah,ia berjalan mendekati pintu.
"Kreek...!
Terlihat wajah seorang gadis kecil sekitar tujuh tahun mengintip dari cela pintu yang sedikit di buka. Ia hanya diam sambil memperhatikan putri Artha dan Natalie yang tersenyum kepadanya.
" Hai adik kecil. Apa ibumu ada?"
kata putri Artha dengan ramah sambil melambaikan tangannya kepada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu tetap diam,ia masih mengamati kedua gadis yang ada di depannya dengan tatapan takut dan menyelidik.
"Kenalkan,aku Natalie,teman kakak mu Anne." kali ini Natalie yang menyapa gadis kecil itu dengan ramah.
Gadis kecil itu sedikit bergeming saat Natalie menyebutkan nama nona Anne. Lalu ia kembali menutup pintu dan berlari ke dalam. Putri Artha dan Natalie saling berpandangan mereka mengira gadis kecil itu takut kepada mereka berdua dan tak mau membukakan pintu.
Saat putri Artha dan Natalie baru hendak berbalik pergi, tiba-tiba pintu tersebut di buka kembali oleh gadis kecil tadi.
"Kata ibu,kalian boleh masuk." ujarnya dengan kedua matanya yang besar memandang keduanya dengan sedikit takut. Bajunya terlihat lusuh dan sobek di beberapa bagian, begitupun keadaan badannya kurus dan tak terurus. Rambutnya yang berwarna pirang terlihat kusut masai.
Putri Artha merasa sangat sedih melihat keadaan di dalam rumah itu,ada sebuah kursi kayu tua panjang berdebu di ruang tamu. Perabotan yang usang diletakan tak beraturan di atas meja makan yang salah satu kakinya sudah patah dan di ganjal dengan batu.
Bau yang cukup menyengat datang dari arah kamar saat mereka memasuki kamar yang di tempati nyonya Pann.
Pemandangan mengerikan tampak di hadapan mereka,seorang wanita tergolek lemah di atas dipan kayu dengan kasur yang sudah sangat tipis dan sobek di beberapa bagian.
Badannya sangat kurus dan lemah, wajahnya yang pucat dan matanya yang cekung sudah seperti tengkorak hidup. Putri Artha menatap wanita itu dengan seksama, usia nya sekitar lima puluhan namun karena badannya yang sangat kurus,ia terlihat jauh lebih tua dari usianya.
" Apakah kau teman Anne?" ujar wanita itu pelan.
__ADS_1
"I..iya nyonya Pann." jawab Natalie.
"Mana Anne? apakah ia tidak ikut bersama kalian? uhuk..!" katanya sambil terbatuk.
"Ah, kondisi kamar ini pasti sudah membuat nyonya Pann terkena radang paru." gumam putri Artha dalam hati saat ia mengamati kondisi ruangan kamar tempat nyonya Pann berada.
"Maaf nyonya, Anne sedang banyak pekerjaan di istana. Jadi ia mengirim kami untuk melihat anda." kata putri Artha.
"Anak itu, selalu membuat ku kesusahan. Disaat aku sudah sekarat seperti ini ia tidak pernah melihat ku dan Diana." nyonya Pann mulai terlihat sedih,namun tidak ada air mata di pelupuk nya yang sayu, mungkin air mata itu sudah mengering karena terlalu sering menangis.
"Apakah Diana anak bungsu anda, nyonya?" tanya putri Artha,ia agak heran melihat perbedaan usia keduanya. Nona Anne sudah berusia hampir tiga puluhan sangat jauh dibandingkan dengan Diana yang belum genap sepuluh tahun.
Nyonya Pann tidak langsung menjawab,ia hanya menengadahkan wajahnya ke atas,memandang jauh menembus atap rumahnya yang sudah usang dan bocor itu.
"Ya,Diana anak bungsu bagi ku." ujarnya. Jawaban nyonya Pann membuat putri Artha berpikir sejenak.
"Diana,apakah kau mau membeli gula - gula!" seru putri Artha sambil berjongkok mendekati Diana dan tersenyum manis.
Diana melihat ke arah ibunya,tidak ada tanda larangan dari nyonya Pann. Gadis kecil itu pun mengangguk dengan malu-malu.
"Ini,ambilah. Belilah gula - gula dan kue untuk mu di toko di ujung gang." ucapa putri Artha sambil memberikan beberapa koin perak kepada Diana. Gadis kecil itu terlihat sangat senang,ia mengambil uang tersebut lalu berlari ke arah pintu. Lalu ia berbalik sebentar menatap ke arah putri Artha.
Putri Artha merasa senang melihat Diana bisa tersenyum karenanya. Setelah itu putri Artha kembali melihat ke nyonya Pann.
"Maaf nyonya Pann bila saya berkata lancang. Apakah Diana anak nona Anne?" pertanyaan putri Artha yang tiba-tiba itu membuat nyonya Pann maupun Natalie terkejut.
Sekejap kemudian nyonya Pann mulai terisak,matanya yang cekung sedikit berair. Tangisnya seakan meledak ,melepaskan semua penderitaan yang dialami nya selama ini.
"Lelaki terkutuk itu!! kalau saja Anne tidak tergoda dengan lelaki jahat itu pasti kehidupan kami tidak akan seperti ini!" raung nya.
Putri Artha dan Natalie sangat kasihan melihat nyonya Pann. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Nyonya Pann mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia mulai bercerita tentang masa lalunya dan nona Anne. Nyonya Pann dan suami nya dahulunya adalah pemilik sebuah toko roti. Mereka menjual roti,kue - kue dan cookies, walaupun bukanya sebuah toko yang besar namun toko mereka tidak pernah sepi pembeli. Hingga akhirnya seorang pelanggan yang sering datang ke toko mereka mulai mencuri hati nona Anne, akhirnya mereka berdua menikah saat nona Anne sudah mengandung Diana.
Pernikahan mereka selalu diisi dengan pertengkaran,karena ternyata lelaki itu seorang pemabuk dan penjudi,ia juga suka memukul nona Anne saat ia mabuk atau marah. Hingga akhirnya saat nona Anne sedang hamil tua,toko yang mereka punya harus mereka relakan di ambil oleh bandar judi. Karena toko yang sekaligus menjadi rumah mereka itu sudah di jadikan taruhan oleh suami nona Anne di meja judi.
Di saat yang bersamaan suami nyonya Pann terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia akibat memikirkan nasib mereka yang terlunta-lunta. Akhirnya nona Anne dan nyonya Pann pindah ke pinggiran kota dan menetap di sini hingga Diana lahir.
Lima tahun yang lalu nona Anne mulai bekerja di dapur istana saat seseorang dari istana tahu kemampuan nya dalam memasak kue dan roti. Mereka mengajaknya bekerja dengan gaji yang cukup layak, namun nona Anne tidak bisa sering datang berkunjung melihat nyonya Pann dan Diana,ia bisanya akan mengirimkan sejumlah uang untuk mereka. Hingga pertengahan tahun ini nona Anne tidak pernah mengirim kan uang lagi,padahal sudah hampir satu tahun nyonya Pann kesehatannya semakin menurun hingga sudah beberapa bulan ini tidak bisa bangun lagi.
"Jadi nona Anne tidak ada kabarnya sejak setengah tahun yang lalu?" tanya putri Artha,ini sangat aneh pikir putri Artha.
__ADS_1
"Sebenarnya aku menerima sepucuk surat dari seseorang sekitar dua bulan yang lalu. Tapi aku kurang paham apa maksudnya." ia lalu menggapai sesuatu dari cela di bawah bantalnya. Ternyata sebuah surat yang dari nona Anne.
"Aku sudah mengirimkan sejumlah uang lewat j,apakah uang itu sampai?aku akan segera kembali dan membawa uang yang cukup banyak ,jadi tunggulah sebentar lagi."
Putri Artha membaca surat tersebut lalu berpikir sejenak,ia lalu kembali melipat kertas tersebut dan menyerahkan nya kepada nyonya Pann.
"Aku akan menayangkan kepada nona Anne kalau kami bertemu nantinya." ujar putri Artha tersenyum kecil.
"Eh, nyonya bolehkah aku melihat kakimu? seperti nya ada sesuatu di sana." ujar putri Artha,ia memperhatikan banyak lalat menghinggapi kain yang menutupi kaki nyonya Pann.
"Jangan di buka!!" seru nyonya Pann. Putri Artha menarik kembali tangannya yang hendak membuka kain itu.
"Maaf nona. Tapi kau tidak akan sanggup melihat kaki ku yang sudah membusuk itu."ujarnya lagi.
"Bagaimana bisa seperti ini nyonya?" tanya putri Artha penasaran.
"Aku menderita penyakit gula,suatu hari di musim semi aku mencoba memperbaiki jendela rumah kami yang pecah,tapi aku malah terjatuh kakiku terkilir lalu mati rasa dan sekarang tidak bisa di gerakkan. Sedangkan luka di pergelangan kaki ku sudah membusuk karena hanya di obati sekedarnya." nyonya Pann menjelaskan.
"Astaga, kasihan sekali nasib nyonya Pann dan Diana." pikir putri Artha.
Putri Artha dan Natalie saling berpandangan, Natalie memberi tanda pada putri Artha bahwa mereka sudah terlalu lama di luar dan harus segera kembali.
"Traap..trap..!"
Terdengar suara derap kaki kecil Diana yang kembali dari toko. Ia terlihat sumringah dengan mengulum gula - gula di mulutnya dan sekantung cemilan yang ia bawah dengan ujung bajunya.
"Ibu, lihatlah aku membeli banyak makanan!" serunya gembira sambil memperlihatkan apa yang ia bawa.
Putri Artha dan Natalie memandang Diana dengan terharu,gadis kecil itu terlihat sangat senang dengan beberapa makanan kecil itu, pasti kehidupan sangat susah selama ini.
"Nyonya,kami harus segera kembali,ini ada sedikit makanan dan sejumlah uang untuk anda. Aku memiliki seorang teman yang bisa mengobati penyakit anda, nanti aku akan menyuruhnya kemari dan ada kenalanku juga yang bisa membantu mu memperbaiki jendelamu yang pecah." kata putri Artha sambil menyerahkan bungkusan yang mereka bawa tadi kepada nyonya Pann.
Nyonya Pann tersenyum kecil menerima bingkisan itu,ia sangat bersyukur dengan apa yang di berikan putri Artha.
"Terima kasih nona."ujarnya.
"Maaf kita sudah lama mengobrol,tapi aku belum tahu namamu nona?"tanya nyonya Pann saat keduanya hendak beranjak pergi.
"Artha panggil saja aku begitu." ujar putri Artha sambil tersenyum lalu bergegas pergi.
"Artha! sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana?" gumam nyonya Pann,namun pikirnya segera teralihkan oleh celoteh riang Diana yang membanggakan makana yang ia bawa.
__ADS_1