
Hari terus berlalu tidak teras tinggal dua hari lagi menjelang perayaan pesta pernikahan kerajaan.
"Mengapa aku tidak melihat Adrian?" tanya Raja Edward.
"Pangeran Adrian sedang berada di benteng wilayah barat, membantu pangeran Edmund disana." jawab jenderal Valentine.
"Di saat seperti ini?tidakkah dia ingat dua hari lagi pernikahan kakaknya?" kata raja Edward heran.
"Mungkin pangeran Adrian kasihan dengan pangeran Edmund yang harus mengurus semuanya sendiri di sana, mengingat keadaan pangeran Edmund saat ini." jawab jenderal Valentine lagi.
"Baiklah kalau begitu, mungkin Edmund juga tidak akan bisa hadir pada pesta nanti. Aku cukup senang kalau Adrian menemaninya disana." ujar Raja Edward.
Pangeran Edmund adalah adik raja Edward,dia terlahir dengan keadaan fisik yang kurang sempurna,karena kakinya lumpuh sejak lahir.
Pangeran Edmund tidak terlalu suka dengan keramaian,mungkin karena keadaan fisiknya yang membuatnya tidak percaya diri berada di keramaian. Karena itulah pangeran Edmund lebih memilih menetap di benteng wilayah barat yang cukup terpencil.
"Tuan putri!",seru seseorang yang baru saja masuk ke kamar putri Artha.
"Natalie!!,oh,tuhan kau sudah sembuh Natalie!",seru putri Artha,ia menyambut kedatangan Natalie dengan pelukan hangat.
"Syukurlah Natalie,aku sangat senang melihat mu!", ujar putri Artha penuh haru.
" Terimakasih sudah menghawatirkan ku,yang mulia." ujar Natalie , ia pun meneteskan air mata bahagia.
"Jangan menangis Natalie,aku sangat bersyukur kau bisa kembali pulih." putri Artha menyeka air mata di pipi Natalie.
Natalie pun mengangguk bahagia.
"Sekarang bantu aku untuk bersiap-siap, sebentar lagi kita akan menghadiri jamuan makan malam kerajaan." ujar putri Artha.
"Baiklah yang mulia!",kata Natalie dengan tersenyum.
"Aku sangat bahagia,lusa tuan putri akan menikah dengan pangeran Enzo." tutur Natalie sambil membantu putri Artha menata rambutnya.
" Entahlah Natalie,aku tidak tahu apakah aku harus merasa senang atau sedih akan hal itu." ujar putri Artha sambil memandang jauh ke arah pantulan wajahnya di dalam cermin.
" Rasanya baru kemarin aku berulang tahun ke 15, saat itu aku berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan orang tua ku, Arabella, aku dan rakyat kerajaan Pulchara." ujarnya dengan wajah sendu.
"Dan sekarang...aku ada di sini,di istana kerajaan Magna untuk menikah dengan pangeran Enzo demi mereka semua." sambungnya.
"Tahukah kau Natalie,saat aku masih kecil, aku selalu berkhayal untuk menikahi seorang putra mahkota dan menjadi seorang permaisuri."
"Tapi...saat aku melihat betapa beratnya apa yang telah di lalui oleh kakakku untuk menjadi seorang permaisuri,aku pikir akan lebih menyenangkan bila menikahi seorang bangsawan biasa saja."
__ADS_1
"Sepertinya itu akan lebih membahagiakan." ujarnya lagi sambil tersenyum kecil membayangkan hal itu.
"Namun kenyataan semua manusia di dunia ini harus menjalani takdir hidupnya yang telah digariskan oleh Tuhan."
"Bukankah begitu , Natalie?" ujar putri Artha.
"Ya,tuan putri." Natalie menjawab singkat ucapan putri Artha.
Natalie merasa kata-kata putri Artha menggambarkan kesedihan di dalam hatinya, betapa putri Artha yang seumuran dengan nya ini sudah harus menanggung beban seberat itu. Benar kata orang bijak tidak selamanya yang terlihat indah di mata kita akan indah bagi orang yang lain.
Siapa yang tidak mau menjadi Putri Artha, seorang putri raja, memiliki paras yang cantik,akan menikah dengan seorang calon raja yang nantinya akan menjadikannya seorang permaisuri kerajaan Magna yang besar.
Tapi di balik itu semua, banyak penderitaan dan beban yang harus ia tanggung, bahkan putri Artha masih harus berjuang menghadapi orang-orang di dalam istana yang membencinya yang bisa saja mengancam jiwa nya.
"Selesai!" seru Natalie sembari merapikan pakaian sang putri.
"Terimakasih Natalie!" kata putri Artha .
"Sama-sama, putri Artha." jawab Natalie.
"Mari kita berangkat!" seru putri Artha yang diikuti anggukan oleh Natalie.
Mereka berdua pun berjalan menuju ruang jamuan keluarga kerajaan,malam ini akan diadakan jamuan resmi keluarga kerajaan Magna,acara ini diadakan untuk berkumpul nya anggota keluarga kerajaan beserta para pejabat dan bangsawan di kerajaan Magna, sekaligus juga untuk memperkenalkan putri Artha sebagai calon istri pangeran Enzo.
Acara jamuan terlihat ramai,
"Terimakasih." jawab putri Artha sopan.
Putri Artha duduk bersebelahan dengan pangeran Enzo yang terlihat tampan dengan pakaian resmi, wajahnya yang seperti pahatan patung porselen itu bertambah tampan dengan mata biru tajam dan alis mata yang hitam tebal.
Putri Artha duduk berhadapan dengan Lady Rose ,wajah perempuan paruh baya itu terlihat ramah, ia tersenyum manis kearah putri Artha.
Putri Artha membalas senyumannya sambil mengangguk kecil. Di sebelahnya duduk istri Duke Wayne dan istrinya Dutches Penelope.
Duke Wayne adalah sepupu raja Edward,sedangkan raja Edward sendiri hanya mempunyai seorang adik yaitu pangeran Edmund.
Banyak wajah-wajah asing di acara jamuan itu,hanya beberapa yang putri Artha pernah lihat.
Martha dan ayahnya perdana menteri Markus ada di bagian ujung lain meja, matanya terlihat bengkak dan mukanya cemberut, jenderal Valentine duduk bersebelahan dengan seorang wanita, serta beberapa pejabat penting kerajaan Magna juga ada di sana.
"Mari kita mulai makan malam hari ini!" seru raja Edward.
Lalu semunya mulai menyantap makanan mereka ,hidangan yang di hidangkan sangat menggugah selera , hampir semua orang makan dengan lahap,mungkin kecuali Martha yang terlihat sesekali masih meneteskan air matanya.
__ADS_1
Jamuan makan malam selesai,semua orang berpindah ke ruangan pesta,di sana lebih banyak orang yang datang. Ruang pesta cukup ramai dengan orang-orang yang mengobrol,para pelayan istana lalu lalang menawarkan cemilan dan minuman kepada para tamu,raja Edward sedang duduk bersama perdana menteri Markus dan pejabat lainnya di ruangan khusus.
"Kau tidak pantas berada di sini,putri pengganti!" suara Marta memecahkan lamunan putri Artha yang sedang duduk sendiri di sudut ruangan.
"Maaf,apa maksudmu, Martha?!" jawab putri Artha pura-pura tidak paham.
"Kau hanya akan jadi bulan-bulanan di istana ini!" katanya dengan tajam. Tidak ada yang mendengar apa yang dibicarakan Martha dan putri Artha karena semua sibuk mengobrol satu sama lain,dari jauh mereka hanya akan terlihat seperti dua orang yang sedang ngobrol.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan!" jawab putri Artha.
"Nanti kau akan segera tahu maksud ku!" ujarnya sambil menyeringai jahat .
"Ehem..!" tanpa mereka sadari Lady Rose sudah berada di dekat mereka berdua.
Martha langsung beranjak pergi saat melihat siapa yang datang.
"Tuan putri Artha",ujar lady Rose.
"Perkenalkan,aku lady Rose Bright. kakak tertua Mendiang permaisuri Sabrina." ujarnya sambil tersenyum,ia lalu mengambil tempat duduk di sebelah putri Artha.
"Ah, Lady Rose Bright,senang berkenalan dengan anda."kata putri Artha sambil tersenyum.
"Sabrina pasti sangat senang bila melihat mu,kau putri yang sangat cantik." ujarnya dengan raut wajah yang sendu.
"Enzo adalah segalanya baginya,bahkan ia rela berkorban untuk melahirkan pangeran Enzo."
"Tubuhnya yang ringkih seharusnya tidak mampu untuk bertahan,namun ia bersikeras mempertahankan kehamilannya." air mata mulai menetes dari matanya yang cekung.
Putri Artha menyeka air mata Lady Rose dengan saputangan nya.
"Maafkan aku, seharusnya malam ini jadi malam yang membahagiakan,tapi aku malah menceritakan hal yang menyedihkan." katanya sambil berusaha untuk tersenyum.
"Tidak apa-apa lady Rose.Aku senang kau mau berbagi cerita tentang permaisuri Sabrina kepadaku." tutur putri Artha lembut.
Walau ini pertemuan pertama mereka,tapi putri Artha bisa merasakan ketulusan dari apa yang di katakan oleh Lady Rose yang sangat menyayangi adiknya itu.
"Putri Artha, Enzo tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dari ia kecil, kuharap kau bisa mencintai dan menyayangi nya setulus hatimu kelak." ujar lady Rose sambil menggenggam tangan Putri Artha.
Putri Artha hanya tersenyum mendengar ucapan lady Rose yang tulus itu, seraya membalas genggaman tangan lady Rose dengan erat.
Lady Rose telah beranjak pergi meninggalkan putri Artha seorang diri.
"Mencintai dan menyayangi! ,mungkin mudah untuk di ucapkan. Tapi bagaimana bisa,aku sendiri belum mengenal pangeran Enzo dengan baik,bahkan bisa dikatakan pernikahan ini aku lakukan karena terpaksa." pikirnya.
__ADS_1
Entah mengapa putri Artha merasa ada sepasang mata yang mengawasi nya dari tadi,ia pun menoleh ke arah tersebut.
"Buugh..!" mata putri Artha dan pangeran Enzo bertemu,ada getaran aneh yang merayap di sela hatinya. Putri Artha tidak paham apa artinya,mungkin rasa takut akan sepasang mata tajam itu ataukah karena ia kasihan setelah mendengar cerita lady Rose barusan.