My Little Queen

My Little Queen
Bab. 11 Gaun pengantin dan cookies


__ADS_3

Hari ini putri Artha akan bertemu dengan penjahit istana,ia akan memakai gaun pengantin yang sama seperti yang pernah di pakai oleh para permaisuri kerajaan Magna sebelumnya,mendiang permaisuri Sabrina ( ibu kandung pangeran Enzo), permaisuri Elizabeth bahkan nenek pangeran Enzo pun memakai gaun pengantin yang sama.


"Selamat pagi yang mulia putri Artha,saya Fabian Lucky penjahit kerajaan Magna yang akan membantu Anda mempersiapkan baju pengantin di hari pernikahan anda nanti." ujar seorang pria gemulai berpakaian serba merah muda dari ujung kepala sampai ujung kaki,rambutnya yang keriting panjang dibiarkan tergerai dengan topi kecil khas perempuan yang menghiasi rambutnya.


Ia membungkuk kepada putri Artha


"Selamat pagi tuan Fabian,senang berkenalan dengan anda." ucap putri Artha sambil tersenyum.


"Prok..prok..!!"


Fabian menepuk tangannya. Seketika juga beberapa perempuan muda masuk keruangan mereka berbaris dengan rapi sambil membawa perlengkapan jahit dan beberapa kotak pakaian.


Putri Artha kagum dengan apa yang dilihatnya."Luar biasa!" ujarnya.


"Yang mulia,silahkan anda berdiri di tengah kami." kata Fabian dengan logatnya yang kemayu.


Putri Artha berjalan mengikuti arahan Fabian. Setelah ia berada di posisi yang tepat,semua asisten Fabian mulai berkerja menurut arahan tuannya.


"Maaf yang mulia saya akan keluar sebentar,karena para asisten saya akan menganti pakaian anda dengan gaun pengantin yang telah disiapkan."ucap Fabian sambil berjalan melenggak lenggok keluar ruangan.


"Maaf yang mulia kami akan menganti pakaian anda, tolong rentangkan tangan anda yang mulia." kata salah seorang asisten dengan sopan.


Putri Artha merentangkan tangannya,para asisten bekerja dengan cepat dan efesien sebuah gaun pengantin berwarna gading dikeluarkan dari dalam kotak.


Sebuah gaun pengantin yang indah,berpotongan sederhana namun sangat elegan,dengan bagian leher yang tertutup dengan renda yang cantik, bagian dadanya di beri aksen banyak kancing, tangannya berbentuk lurus dengan dasar brokat di bagian ujungnya.


Sedangkan untuk bagian roknya memiliki banyak lapisan seperti rok para putri bangsawan pada jaman itu, bagian tudung atau veil nya terlihat sangat panjang dan indah.


"Baju pengantin yang indah!" batinnya.


"Pasti banyak kisah di balik baju pengantin ini." batinnya lagi.


Fabian kembali masuk keruangan itu setelah putri Artha mengenakan gaun pengantin nya.


"Faboulus !!"


Serunya saat ia melihat putri Artha mengenakan gaun tersebut,matanya berkaca-kaca.


"Gaun ini selalu memilih pengantin yang tepat untuk mengenakannya." ujarnya sambil mengusapkan ujung jarinya ke sudut matanya yang berair.


"Maaf yang mulia aku menjadi emosional." sambungnya sambil mulai melihat bagian-bagian yang tidak pas di tubuh sang putri.


"Aku teringat dikala kakekku mengajakku kemari saat ia menjahit gaun pernikahan yang mulia permaisuri Sabrina dan raja Edward." cerita nya.


"Beliau terlihat sangat cantik dan mempesona, seperti itulah saya melihat anda pertama kali memakai gaun ini yang mulia." lanjutnya sambil memandang gaun itu sekali lagi.

__ADS_1


"Apakah kau ingat, kapan permaisuri Sabrina meningal tuan Fabian?" tanya putri Artha.


"Entahlah tuan putri,saat itu permaisuri Sabrina mulai sakit-sakitan setelah melahirkan pangeran Enzo,beliau meninggal saat pangeran Enzo belum genap berusia dua tahun." ujarnya sedih


"Ah,sudah selesai!!" kata Fabian lega.


"Gaun ini seperti dibuat untuk anda tuan putri,aku hanya perlu menjahitnya sedikit di bagian pinggang dan bahu, seperti nya anda agak kurus saat ini." tambahnya lagi.


"Syukurlah,kalau begitu." kata putri Artha senang dia tidak tahu prosesnya akan secepat ini .


"Tapi,anda masih akan mencoba beberapa gaun yang telah saya siapkan yan yg mulia." kata Fabian.


"Begitu kah?" senyum putri Artha seketika memudar, ia telah salah sangka bahwa semuanya sudah selesai.


"Aku sudah menyiapkan beberapa gaun untuk dikenakan putri Arabella sebelumnya,tapi..!" tuan Fabian menghentikan ucapannya saat ia melihat raut wajah putri Artha.


"Maaf yang mulia putri Artha,saya tidak bermaksud seperti itu tapi dikarenakan pernikahan ini untuk putri mahkota sebelumnya jadi saya hanya menyiapkan berdasarkan ukuran tubuh nya saja." Fabian terlihat canggung saat mengatakan hal itu,tapi bagaimana lagi,ia tidak punya waktu untuk mempersiapkan gaun yang lain dalam waktu kurang dari tujuh hari.


"Tidak apa-apa tuan Fabian,aku akan memakai gaun-gaun itu,lagipula ukuran tubuh kami tidak jauh berbeda." kata putri Artha ada kegetiran yang terasa dalam kata-katanya.


Akhirnya putri Artha selesai mencoba gaun-gaun yang di buat oleh tuan Fabian,ia sangat merasa lelah sekarang.


Putri Artha beristirahat di kursi di kamar nya sedangkan Fabian masih memasang tanda dan mengatur gaun-gaun tadi dengan para asisten nya di sana.


"Terimakasih Natalie, seperti nya aku sangat membutuhkan teh itu saat ini." kata putri Artha sambil tersenyum kecil.


Putri Artha menghirup aroma teh madu itu sebelum ia akhirnya meminumnya. Sangat harum dan lezat.


"Ayolah Natalie,duduklah. Mari kita makan cookies ini bersama-sama." ujarnya kepada Natalie.


"Tetap saja aku belum terbiasa seperti ini putri Artha,aku masih merasa canggung." ujar Natalie.


Walaupun ia sudah beberapa kali menemani putri Artha makan cemilan bersama ,tapi tentu saja ia akan merasa tidak enak karena dia hanyalah seorang pelayan istana.


"Ini perintah Natalie!" gertaknya sambil tersenyum.


Akhirnya Natalie mengambil sepotong cookies dan memasukannya kedalam mulutnya, tidak seperti biasanya ada rasa yang sedikit pahit pada cookies itu.


"Ah,mungkin coklat yang di pakai para koki agak berbeda kali ini." pikir Natalie.


Namun tiba-tiba tubuh Natalie ambruk ke lantai, mulutnya mengeluarkan busa berwarna hijau,tubuhnya bergetar hebat.


"Natalie !!!" teriak Putri Artha,ia langsung memegang tubuh Natalie,mata Natalie sudah terbelalak tidak sadarkan diri.


"Cepat panggil tabib istana!!" teriak Putri Artha kepada Fabian yang masih berada di sana.

__ADS_1


"Oh,tuhan apa yang terjadi,oh tuhan,oh tuhan!!" teriak tuan Fabian lalu ia pun ikut roboh ke lantai,ia pingsan melihat kejadian itu.


"Astaga, kenapa engkau juga ikut pingsan di saat seperti ini!!" ujar putri Artha panik.


"Kalian, tolong bantu Fabian ,dan yang lain tolong suruh pengawal yang ada di depan pintu untuk memangil tabib istana secepatnya!" perintah putri Artha.


Asisten Fabian itupun langsung bergegas seperti yang di perintahkan oleh putri Artha.


Putri Artha mengecek nadi di tangan Natalie.


"Tak salah lagi,ini racun!", gumamnya.


Putri Artha langsung mengambil bungkusan yang ada di laci nakas di sebelah tempat tidurnya.


Ia membuka bungkusan itu,dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk pil,ia memasukan pil itu ke mulut Natalie dan menepuk-nepuk punggung nya ,agar pil tersebut masuk ke tenggorokan kan nya.


"Ayolah Natalie,sadarlah." putri Artha memangku kepala Natalie yang masih tidak sadarkan diri.


Tabib istana berjalan tergesa-gesa menuju kamar sang putri.


" Di mana dia?" tanya nya.


"Tolong selamatkan Natalie tuan Recliff." ujar putri Artha sedih.


Tuan Recliff hanya mengangguk. Beberapa orang membantu tuan Recliff untuk mengangkat tubuh Natalie dan di bawah ke ruangan perawatan.


Sedangkan Fabian sudah sadar,ia duduk di kursi yang diduduki oleh Natalie tadi .


"Apa yang terjadi?" katanya sambil memegang keningnya yang masih terasa pusing.


"Kau tadi pingsan Fabian." kata putri Artha yang duduk di sebelahnya.


"Tuan putri,anda harus berhati-hati mulai sat ini!" kata Fabian sambil memegang tangan sang putri,entah apa maksudnya tapi ia mengatakannya dengan serius .


"Aduh kepala ku!".katanya seraya kembali memegang kepalanya lagi.


"Tuan putri seperti nya aku akan segera kembali, aku turut sedih dengan apa yang terjadi pada pelayan anda,ku harap anda akan selalu di lindungi yang kuasa. Saya permisi yang mulia." kata nya sambil berlalu keluar dari kamar sang putri diikuti para asisten nya.


Sepasang mata yang mengamati kejadian itu dari tadi mengepalkan tinjunya.


"Sial!!"ujarnya sambil berlalu pergi.


Putri Artha segera mengambil sapu tangannya,ia mengambil sepotong cookies yang tidak jadi ia makan tadi,ia bungkus dengan saputangan dan di simpan di dalam laci nakas.


"Aku akan memeriksa nya nanti", pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2