My Little Queen

My Little Queen
Bab. 31 Berpisah sementara


__ADS_3

Kaki putri Artha sudah berlahan membaik bahkan hari ini putri Artha sudah benar - benar bisa mengunakan kakinya tanpa ada rasa sakit lagi.


"Artha,apa kakimu benar - benar tidak sakit lagi?" tanya pangeran Enzo saat melihat sang istri sibuk mondar-mandir mengambil beberapa buku dan meletakkannya di atas meja untuk dibaca.


"Tentu saja!aku sudah benar - benar merasa baik saat ini." serunya sambil mendongakkan kepalanya menghadap pangeran Enzo dan tersenyum manis. Sedetik kemudian ia kembali menunduk membaca buku yang terbuka di hadapannya.


"Apa gerangan yang membuat mu terlihat sangat gembira hari ini?" ujar pangeran Enzo lagi.


"Mmm..apa kau tahu Enzo sekarang sudah tanggal berapa?" tanya putri Artha.


Pangeran Enzo berpikir sejenak.


" Tanggal 15 November?" serunya tidak yakin.


"Ya,kau benar Enzo! dan kau tau apa artinya?" tanya putri Artha lagi.


Pangeran Enzo menggelengkan kepalanya.


"Hhh..kau benar-benar tidak tahu!" kata putri Artha memasang wajah cemberut.


Pangeran Enzo sungguh tidak mengerti maksud pembicaraan putri Artha.Ia mencoba berpikir sejenak lalu,


"Apa hari ini kau berulang tahun, Artha?" tebak pangeran Enzo ,ia tidak yakin dengan apa yang di ucapannya tapi lebih baik menebak dari pada diam saja yang akan membuat gadis di depannya ini semakin kesal.


"Ah, kau hampir benar!" seru putri Artha bersemangat.


"Tepatnya minggu depan adalah hari ulang tahunku!" ujarnya riang senyumnya terlihat sangat lebar memamerkan deretan giginya yang putih bersih.


"Astaga,benarkah itu? maafkan aku Artha,aku tidak tahu kalau kau akan berulang tahun." ucap pangeran Enzo.


"Hmmm.. tidak apa-apa. Kau ku maafkan untuk saat ini Enzo. Karena aku memang belum memberi tahu kan mu tanggal ulang tahun ku." tambahannya lagi sambil tersenyum manis, lalu ia kembali menatap buku di depannya dengan hati gembira.


Pangeran Enzo memperhatikan putri Artha yang sedang membaca,ada semburat kecemasan di wajahnya.


"Artha!" panggilnya.

__ADS_1


Putri Artha kembali menoleh ke arah pangeran Enzo.


"Ya,ada apa Enzo?" jawabnya.


Pangeran Enzo sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Ada sesuatu yang ingin kau katakan, Enzo?" tanya putri Artha lagi.


"Eh,itu. Hadiah apa yang kau inginkan untuk ulang tahun mu nanti, Artha?" kata pangeran Enzo tiba-tiba,ia belum sanggup mematahkan kebahagiaan di wajah cantik gadis di depannya ini.


"Hehe..kau ingin memberi ku hadiah rupanya!" tawanya senang.


"Sebenarnya aku tidak mengharapkan hadiah berupa barang apapun,apa yang ku miliki saat ini lebih dari cukup. Aku hanya berharap kau,aku dan orang tua serta keluarga kita selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Dan juga agar kerajaan Magna dan Pulchara dalam keadaan damai dan sejahtera selamanya." ucap putri Artha tulus.


Pangeran Enzo merasa terharu mendengar ucapan putri Artha. Ia bertambah yakin dengan gadis luar biasa di hadapannya ini.


Malam itu pangeran Enzo berbicara hal serius dengan jenderal Valentine di ruang kerjanya.


"Apakah sudah tidak bisa lagi di tunda paman?" tanya pangeran Enzo pada jendral Valentine.


" Maaf yang mulia,yang aku takutkan rencana kita akan sia - sia jika kita terlambat datang ke sana." jawab jenderal Valentine mantap.


Pangeran Enzo mendengus kasar. Tidak ada cara lain, mereka harus segera berangkat malam ini juga agar dapat tiba tepat waktu di tempat yang mereka tuju.


"Baiklah kalau begitu paman. Kita akan bertemu di tempat biasa tengah malam nanti!" seru pangeran Enzo.


pangeran Enzo lalu berbalik dan pergi menuju kamarnya. Begitu juga jenderal Valentine bergegas keluar dari ruangan itu.


Setibanya di kamar pangeran Enzo bisa melihat putri Artha yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya.


Wajah cantik itu terlihat sangat tenang dalam tidurnya. Pangeran Enzo mendekati putri Artha,lalu ia berlutut di sampingnya,agar ia bisa memandangi wajah sang istri dari dekat.


"Maafkan aku Artha. Aku harus meninggalkan mu untuk beberapa hari ini. Maaf tidak bisa memberi tahu kan kepada mu." gumamnya pelan.


"Jaga dirimu baik-baik. Aku akan ceritakan semua padamu saat aku pulang nanti." ujarnya sambil mengelus rambut putri Artha.

__ADS_1


Lalu ia mengecup kening putri Artha pelan. Putri Artha mengerjakan sedikit badannya karena merasa terganggu.


Pangeran Enzo berlahan menjauh dan sesaat kemudian ia sudah pergi ke luar kamar dan bergegas menuju tempat pertemuan yang telah mereka tentukan tadi.


Robie mengantarnya hingga ke luar istana.


"Robie, tolong kau jaga baik-baik putri Artha selama aku tidak ada di sini." pesannya kepada Robie.


*Tentu saja yang mulia!" ujar Robie sambil membungkuk.


Robie sebenarnya cukup merasa cas dengan perjalanan pangeran Enzo lakukan kali ini, apalagi pangeran Enzo hanya akan di temani oleh jenderal Valentine seorang tanpa ada pengawalan dari prajurit maupun pengawal kerajaan lainnya.


"Terima kasih Robie!" ucap pangeran Enzo sebelum ia mulai melajukan kudanya dengan kencang ke arah luar istana di malam yang gelap di musim gugur pada pertengahan bulan November yang kelabu ini.


"Pulanglah dengan selamat yang mulia, putri Artha menunggumu saat hari ulang tahunnya nanti." gumamnya saat punggung kuda yang dinaiki pangeran Enzo berlahan hilang di gelapnya malam.


Keesokan harinya putri Artha bangun dengan perasaan gembira. Entah apa karena hari ulang tahunnya yang sebentar lagi ataukah ada sesuatu yang lain yang membuat hari - hari putri Artha menjadi lebih berwarna dan menyenangkan.


"Hoaam..!"


Putri Artha membuka matanya sambil tersenyum kecil. Matanya mengerjab memandang sekeliling kamarnya. Seperti nya ada yang hilang pagi ini,tapi ia tidak bisa mengingat nya. Ia coba berpikir apa yang ia belum temukan pagi ini.


"Oh, Enzo!" serunya. Lalu iapun berbalik ke samping untuk mengucapkan selamat pagi pada sang suami.


"Selamat pagi,Enzo ! Apakah tidurmu.." ia tiba-tiba berhenti setelah tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Kemana dia pagi - pagi begini?" pikir putri Artha.


Lalu putri Artha berlahan bangun dari tempat tidurnya. Ia mulai mencari berkeliling ruangan .


"Ah,mungkin ia sedang di kamar mandi!" serunya,kemudian ia kembali ke arah tempat tidurnya hingga matanya tertuju pada sebuah kertas kecil di balik bantal pangeran Enzo.


Putri Artha mengambil kertas tersebut yang ternyata sebuah surat. Ia mulai membuka surat itu lalu mulai membacanya. Berlahan namun pasti raut wajah putri Artha yang tadinya sangat gembira mulai berubah muram.


"Apa yang kau pikirkan,Enzo? katamu kau akan pergi beberapa hari, tanpa memberi tahukan ku kemana dan kapan kau kembali!" ujar putri Artha geram.

__ADS_1


" Apa kau lupa tinggal lima hari lagi pesta ulang tahun ku di rayakan,bukankah aku memberi tahukan padamu baru dua hari yang lalu." ujarnya lagi.


" Enzo,kau jahaaat..!" seru putri Artha kesal.


__ADS_2