
Pasukan prajurit kerajaan Magna di bawah pimpinan pangeran Enzo dan jenderal Valentine terus maju menuju ke wilayah bagian barat kerajaan Magna. Dari informasi yang mereka peroleh sebelumnya para pasukan pemberontak mulai bergerak. Mereka mulai membuat pertemuan - pertemuan untuk mempengaruhi para penduduk agar bergabung dengan pasukan mereka dan menebar kebencian di mana- mana.
Kota Losen yang berbatasan langsung dengan kota Musty adalah kota pertama yang paling banyak terkena dampak dari para pemberontak itu,bahkan mereka sudah mengambil alih sebagian wilayah kota tersebut.
Pangeran Enzo berserta pasukan berencana untuk memberantas para pemberontak tersebut dan kembali mengambil alih kota Losen dari mereka.
"Para pemberontak itu harus segera kita lenyapkan sampai ke akarnya yang mulia!" ujar jenderal Valentine pada pangeran Enzo malam itu,saat mereka beristirahat di sebuah hutan di dekat danau tak jauh darinya kota Losen.
Pangeran Enzo menarik napas berat,
"Tapi itu artinya kita juga harus menyerang ke benteng barat paman."
"Dan itu tak mungkin kita lakukan saat ini." ujar pangeran Enzo gusar.
Jenderal Valentine memperhatikan wajah sang pangeran yang terlihat gusar.
"Apakah yang mulia raja Edward belum mengetahui hal ini,yang mulia?" tanya jenderal Valentine.
Pangeran Enzo diam sejenak seperti memikirkan sesuatu yang berat,
"Bagaimana mungkin ayahanda akan percaya begitu saja tanpa ada bukti yang kuat tentang pemberontak ini paman!" ujarnya.
"Tapi yang mulia! anda sudah melihat dengan mata kepala anda sendiri saat itu, bagaimana pangeran Edmund memimpin pasukan pemberontak dari Tartan berlatih saat di gudang anggur waktu itu. " kata jenderal Valentine lagi.
"Aku tahu paman,tapi pangeran Edmund adalah adik ayahanda raja,tidak akan mudah bagi kita untuk membuat ayahanda raja percaya akan hal ini!" jawab pangeran Enzo memberi alasan.
"Tunggulah sebentar lagi,setelah kita bisa membawa salah satu pimpinan pemberontak besok,kita akan memaksanya untuk menjelaskan apa peran paman Edmund pada pemberontakan mereka!" kata pengeran Enzo yakin.
Jenderal Valentine hanya diam,ia tentu berharap besok apa yang di rencanakan pangeran Enzo akan menjadi kenyataan. Karena jenderal Valentine yakin pemberontakan yang terjadi kali ini bukanlah sesuatu yang dapat di sepelekan. Jenderal Valentine merasa ada maksud lain yang lebih besar dari sekedar pemberontakan kepada kerajaan Magna.
Malam semakin larut, pangeran Enzo tidak bisa memejamkan matanya walau sesaat,entah mengapa ia merasa sangat gelisah
"Hhh..!"
Pangeran Enzo menghembuskan napas berat, matanya menatap ke arah atap tenda di tempatnya bermalam.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang, Artha?" gumamnya sambil tersenyum kecil,tawa ceria sang istri terbayang di pelupuk matanya.
"Aa..aku sudah merindukanmu!" gumamnya lagi.
"Traang!"
"Traang..!"
Suara pedang yang sedang beradu dari luar tenda membuat pangeran Enzo tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
Pangeran Enzo segera mengambil pedangnya dan mengintip ke luar tenda.
Prajurit kerajaan Magna terlihat sedang bertarung melawan segerombolan besar orang berbadan besar, terlihat para prajurit mulai kewalahan melawan gerombolan itu.
" Sial...para pembelot itu sudah mengetahui kedatangan kami!" ujar pangeran Enzo.
" Set...!"
Pangeran Enzo segera membuka tirai tenda untuk keluar dan membantu bertarung.
" Maaf yang mulia, jendral Valentine melarang anda untuk ikut bertarung!" Robi mencegat jalan pangeran Enzo.
Pangeran Enzo melihat ke arah medan pertempuran yang sengit di depannya.
" Minggir Robi, jangan halangi jalanku!" seru pangeran Enzo.
Robi berusaha untuk menghalangi sang pangeran, tapi sekuat apapun itu tetap saja akhirnya pangeran Enzo mampu melewatinya.
"Trang...!"
" Traaang...!"
Pedang pangeran Enzo sudah beradu dengan para pemberontak itu, dengan keahliannya pangeran Enzo sudah dapat menebas beberapa orang pemberontak dalam sekejap mata.
Jenderal Valentine yang sudah mengetahui kehadiran sang pangeran dalam medan pertarungan segera bergerak ke arah nya.
" Apa paman pikir aku hanya akan menonton pertarungan ini" balas nya sambil terus mengayunkan pedangnya.
" Tapi jumlah mereka lebih dari dugaan kita yang mulia!" kata jenderal Valentine lagi.
" Lalu,mari kita bereskan bersama , jendral!!" seru pangeran Enzo sambil kembali menebaskan pedangnya kearah para pemberontak itu.
Pertarungan berlangsung cukup lama dan sengit, banyak prajurit dari kedua belah pihak yang terbunuh,namun berkat pengalaman dan keterampilan yang dimiliki oleh jendral Valentine dan pangeran Enzo akhirnya mereka bisa memukul mundur pasukan pemberontak itu,tersisa beberapa orang dari mereka yang terlihat melarikan diri.
"Hhh..!"
Jenderal Valentine terlihat bernapas lega,ia menurunkan pedang nya. Pangeran Enzo yang ada beberapa langkah di depannya menatap beberapa prajurit yang selamat sedang di obati oleh para tabib yang ikut serta dalam rombongan mereka.
Tiba-tiba saja dari balik pepohonan, sebuah benda melesat ke arah dada pangeran Enzo.
" Shuuut....!"
" Awas yang mulia...!"
Teriak jenderal Valentine sambil melompat ke arah pangeran Enzo.
__ADS_1
" Aaakh...!"
Tubuh Pangeran Enzo terjerembab ke tanah, begitu juga jenderal Valentine.
" Tidaaak...paman Valentine!!"
Teriak pangeran Enzo,ia segera bangkit dan mendekati jenderal Valentine dengan sebuah anak panah yang menancap di dadanya.
Sementara itu Robi yang berada tidak jauh dari mereka segera menyiapkan panah nya dan mencari dari mana anak panah yang mengenai jenderal Valentine itu berasal.
"Shuuut..!"
"Shuuut...!"
Robi melesat kan dua anak panah sekaligus ke arah pepohonan di sisi kirinya.
"Aaaagh...!"
" Bruugh..!"
Terdengar seseorang mengerang dan terjatuh dari balik rimbunnya pepohonan.
Robi segera berlari ke arah suara tersebut untuk memastikan apakah orang itu sudah benar - benar mati atau masih hidup.
Sedangkan pangeran Enzo terlihat mengendong tubuh jenderal Valentine dan berlari ke arah tenda.
" Paman,ku mohon bertahanlah!!" ujarnya dengan wajah khawatir.
" Pangeran Enzo, sudahlah! jangan berlarian seperti ini, nanti anda bisa terluka." kata jenderal Valentine dengan suara lemah.
Pangeran Enzo tidak memperdulikan ucapan jenderal Valentine dan terus berlari.
" Segera suruh tabib terbaik yang ada untuk datang ke tenda ku, segera!!"
Perintah pangeran Enzo pada para prajurit yang hendak membantu nya.
" Siap yang mulia!" ujar mereka.
Pangeran Enzo meletakkan tubuh jenderal Valentine di atas tempat tidur di dalam tenda,panah terlihat masih menancap di dada jenderal Valentine.
Pangeran Enzo memperhatikan dengan seksama anak panah itu.
Seketika ia terkejut saat menyadari bahwa anak panah itu beracun.
" Sudahlah yang mulia,aku tahu racun di anak panah itu adalah racun yang kuat." ujar jenderal Valentine sambil berusaha tersenyum, wajahnya terlihat pucat.
__ADS_1
" Aku sudah cukup tenang walaupun harus pergi meninggalkan yang mulia sekarang. Karena... sekarang yang mulia sudah memiliki seseorang yang bisa di percaya dan akan selalu mendukung yang mulia. Dia adalah istri anda,putri Artha!" ujarnya sambil kembali tersenyum lemah.
" Jangan berbicara yang bukan- bukan paman! aku tidak akan membiarkan paman mati begitu saja!" seru pangeran Enzo.