
Pangeran Enzo sedang mengobrol dengan beberapa temannya,mereka adalah para Duke dan Earl yang merupakan anak para bangsawan di kerajaan Magna.
"Enzo, akhirnya sekarang giliran mu tiba untuk menikah.Selamat untuk mu!" ujar Duke Raymond sambil mengangkat gelasnya.
Duke Raymond adalah putra dari Duke Wayne yang sekaligus sepupu jauh pangeran Enzo.
Pangeran Enzo hanya membalas dengan mengangkat gelasnya sambil tersenyum.
"Aku tidak menyangka ternyata putri Artha tidak kalah cantik dari putri Arabella. Pantas saja Enzo setuju menikahinya, hahaha!", ujar Earl Brington sambil tertawa diikuti senyum dari para putra bangsawan yang lain.
Earl Brington adalah putra seorang bangsawan kerajaan Magna dia terkenal karena sikapnya yang kasar,ia sebenarnya seorang pria yang agak bodoh tapi karena statusnya sebagai seorang bangsawan ia seenaknya saja merundung orang-orang biasa di sekitar nya.
"Hei, Brington kau sudah kelewatan!" ujar Duke Raymond saat melihat perubahan di raut wajah pangeran Enzo.
"Putri Artha tidak secantik putri Arabella,hanya saja dia lebih baik di bandingkan Martha,bukan begitu Enzo? hahaha!" ujar Duke Raymond sambil tertawa,yang lain pun ikut tertawa mendengar ucapan Duke Raymond.
Kelakuan para putra bangsawan kerajaan Magna ini sudah sangat kelewatan. Mereka pada dasarnya sama saja dengan orang tua mereka yang angkuh dan sombong,bahkan mereka tidak terlalu takut lagi dengan status Enzo yang seorang putra mahkota,bagi mereka seorang putra mahkota bahkan seorang raja sekalipun tidak akan ada artinya tanpa dukungan dari para pejabat kerajaan yang sebagian besar diduduki oleh para orang tua mereka.
Para putra bangsawan itu terus saja mengoceh seenaknya,hal itu membuat pangeran Enzo tidak nyaman, ia pun segera menjauh dari kerumunan itu.
"Apa kabar sepupu?" seseorang menyapa pangeran Enzo.
"Ah,kau Wisman. Kabar ku baik, bagaimana denganmu?" jawab Enzo saat ia mengetahui siapa yang menyapanya. Wisman adalah anak lady Rose kakak kandung ibunya permaisuri Sabrina.
Lady Rose menikahi seorang prajurit menengah yang bukan dari kaum bangsawan Magna, akibat nya Wisman tidak mendapatkan gelar bangsawan dari sang ayah. Hal itu lah yang membuat Wisman tidak di terima oleh para putra bangsawan lainnya. Sering sekali mereka menjauhi Wisman dan mengejeknya. Dan sebaliknya orang-orang biasa juga tidak menerima kehadirannya dikarenakan status ibunya yang seorang bangsawan.
"Mengapa kau terlihat murung Enzo? bukankah jamuan ini untuk pernikahan mu?" ujar Wisman,lelaki bertubuh gempal dengan kulit pucat itu sambil memperbaiki letak bingkai kacamatanya.
"Kau tahu para putra bangsawan itu Wisman!, kelakuan mereka sungguh membuatku muak." jawab pangeran Enzo sambil meneguk minumannya.
"Mereka tidak ada bedanya dengan orang tua mereka." tambahnya lagi.
"Hhh...namun setidaknya mereka masih mau berbicara dengan mu, Enzo." ujar Wisman sambil menghela napas berat.
Pangeran Enzo paham apa maksud perkataan Wisman,selama ini Wisman lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kastil keluarga Bright, karena ia tidak memiliki teman untuk di ajak bermain,ia lebih banyak berteman dengan buku-buku yang ia peroleh dari seluruh negeri. Bahkan kulitnya menjadi sangat pucat karena jarang terkena sinar matahari.
"Kadang ku pikir lebih baik tidak berbicara dengan mereka, karena hal itu hanya membuat telingamu panas saja." ucap pangeran Enzo.
"Sebaiknya aku juga akan mulai berteman dengan buku-buku seperti mu, setidaknya mereka tidak akan berkata apa-apa walaupun aku membantingnya, hahaha...!" canda pangeran Enzo.
"Hahaha...kau benar Enzo,itu pemikiran yang bagus." Wisman ikut tertawa mendengar ucapan pangeran Enzo.
Pangeran Enzo lalu menatap ke arah seseorang yang menarik perhatiannya, putri Artha sedang berbicara dengan lady Rose di sudut ruangan. Mereka berdua terlihat cukup akrab.
__ADS_1
"Sepertinya ibu menyukai putri Artha,ia pasti seorang gadis yang baik, karena ibu tidak mudah menyukai seorang gadis." kata Wisman sambil ikut melihat ke arah putri Artha dan sang ibu yang sedang berbicara.
Lalu ia menepuk bahu pangeran Enzo, "Selamat sepupu, semoga kalian berbahagia!" ujarnya sambil berlalu pergi
Pangeran Enzo hanya tersenyum kecil membalas ucapan Wisman.
Lalu ia kembali menatap ke arah putri Artha yang sekarang sedang duduk seorang diri.
Di saat yang sama putri Artha juga menatap ke arah nya.
"Bugh!", tatapan mereka berdua bertemu,ada rasa hangat yang menyebar di dada pangeran Enzo,rasa itu menjalar seperti percikan kembang api yang meledak-ledak.
Sepersekian detik tatapan mata mereka menyatu sampai mereka mendengar pengumuman yang di sampaikan oleh raja Edward.
"Para undangan sekalian,saya raja Edward Magna merasa berbahagia dengan kehadiran anda semua,pada kesempatan yang berbahagia ini,aku akan memperkenalkan calon pengantin wanita yang akan menikah dengan putra mahkota Enzo!, Putri Artha Frederick Pulchara!", ujar raja Edward, diikuti tepuk tangan dari para undangan yang hadir.
Putri Artha pun membungkuk dan memberi hormat.
"Dan tentu saja putraku , pangeran Enzo!" ujarnya lagi,dan kali ini kembali dikuti tepuk tangan dari para undangan.
"Silahkan kepada pangeran Enzo dan putri Artha untuk maju ke depan!" ucap seorang pejabat kerajaan.
Pangeran Enzo dan putri Artha berjalan maju ke bagian depan ruangan yang berupa undakan.
Sementara itu perlakuan manis pangeran Enzo itu membuat para wanita yang ada di ruangan itu iri sekaligus histeris, begitu pun para undangan yang lain kembali bertepuk tangan melihat hal itu.
Raja Edward menatap keduanya dengan hati yang sangat bahagia,ia menyambut keduanya di atas undakan dan menggenggam tangan mereka dengan erat. Semuanya bersorak gembira.
Sementara itu di sudut ruangan Martha terlihat kembali menangis sesenggukan,ia menyelinap keluar ruangan sambil mengusap air matanya dengan saputangan.
"Aku tak akan pernah mengampuni mu putri Artha!" ujarnya geram sambil terus berlalu pergi.
Malam panjang yang penuh dengan kemeriahan itu pun segera berlalu. Pagi menyingsing, matahari bersinar cukup terang di ujung musim panas ini.
Para pelayan kerajaan terlihat sangat sibuk ,semua orang sedang mempersiapkan banyak hal untuk persiapan pesta pernikahan kerajaan besok.
Bunga-bunga dan tanaman di taman telah di rapikan oleh para tukang kebun, tirai-tirai yang menggantung di langit-langit sudah di ganti dengan yang baru,warna putih dan emas menghiasi setiap sudut ruangan,persiapan sudah hampir seluruhnya selesai.
Esok pagi pesta pernikahan akan dilaksanakan pada pagi hari, keluarga putri Artha dari kerajaan Pulchara pun akan hadir.
Beberapa dayang masuk ke kamar putri Artha beriringan, mereka membawa banyak perlengkapan untuk putri Artha.
Hari ini, putri Artha akan mandi. Tubuhnya akan di rendam dengan air yang dicampur bunga-bunga dan minyak yang berbau harum. Hal itu bertujuan agar tubuh sang putri menjadi harum semerbak.
__ADS_1
Para dayang akan menggosok tubuhnya dengan washlap yang di beri minyak wangi.
Selain itu ia juga akan di pakaikan masker wajah yang terbuat dari campuran bahan-bahan herbal seperti daun barley,kacang lentil,madu,adas,minyak ,daun basil dan banyak lagi yang lainya. Hal itu di percaya akan membuat kulit wajah halus dan kencang.
Mereka semua benar-benar mempersiapkan sang putri agar menjadi wanita paling cantik pada hari pernikahannya esok.
Di tempat lain, pangeran Enzo sedang berada di kamarnya,saat tiba-tiba pintu kamar nya di buka paksa.
"Kreek..!", pangeran Enzo terkejut saat mendapati Martha sudah berjalan kearahnya dengan pakaian yang sangat seksi,ia menyembunyikan pakainya itu di bawah mantel yang ia pakai dan saat ini ia telah melepaskan mantelnya.
Tiba-tiba saja Martha merobek - robek pakaiannya sendiri sehingga terlihatlah bagian dadanya,lalu ia dengan sengaja langsung memeluk pangeran Enzo.
"Apa yang kau lakukan Martha!apa kau sudah gila!" bentak pangeran Enzo mencoba melepaskan pelukan Martha.
"Enzo,bila kau tidak mau membatalkan pernikahan mu besok,aku akan berteriak sekarang! aku akan membuat semua orang tahu bahwa kau telah memaksaku untuk berhubungan dengan mu!" ujarnya sambil terus berusaha memeluk pangeran Enzo.
Pangeran Enzo mendorong tubuh Martha ke lantai.
"Jangan gila kau Martha!", geramnya.
"Enzo,kau tak usah bertindak naif,apa kau tidak tergoda dengan kemolekan tubuh ku!" ujar Marta sambil memperlihatkan tubuhnya yang sudah hampir terbuka semua dengan cara yang menggoda.
" Sreeek!", pangeran Enzo melemparkan mantel yang di bawah oleh Martha tadi ke arah tubuh nya yang terbuka itu .
Bukannya merasa tergoda, pangeran Enzo malahan merasa jijik dengan tingkah laku Martha yang sudah kelewat batas itu.
"Pergi dari hadapan ku Martha! atau aku akan memanggil para pengawal untuk memaksamu keluar!" ujar pangeran Enzo tegas.
"Cobalah kalau kau berani dan aku akan memberi tahu mereka semua kalau kita sedang bermain-main dengan panas di kamar mu ini!" ucap Martha dengan senyum yang menggoda.
"Ciiih..kau pikir orang-orang akan percaya padamu?" kata pangeran Enzo sambil menyilangkan tangannya.
Martha dengan percaya dirinya masih tergolek manja di atas lantai sambil menatap pangeran Enzo dengan tatapan yang genit.
"Kau melihat semua yang terjadi, Peter?" kata pangeran Enzo kepada pengawal pribadi nya yang sedari tadi berada di sudut ruangan.
Martha terlihat sangat terkejut,karena ia tidak menyadari bahwa di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua,tapi juga ada pengawal pribadi pangeran Enzo yang sedang membantunya untuk bersiap-siap pagi ini.
"Iya,yang mulia. Saya melihatnya dengan sangat jelas!" katanya mantap.
Martha merasa sangat kalut dan malu,ia bergegas memakai kembali mantelnya lalu berlari keluar kamar sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Sial...siaaaal!!" ujarnya kesal sambil terus berlalu.
__ADS_1