
"Byuur..!!"
Xana berlahan membuka matanya yang bengkak karena pukulan yang ia terima tadi malam. Air dingin yang disiramkan ke tubuhnya membuatnya terjaga.
" Kau cukup kuat juga ternyata!" ujar Robie saat melihat gadis yang tangan dan kaki nya sudah diikat dengan tali dengan wajah memar dan luka di sana sini karena hukuman yang ia terima saat diinterogasi semalam.
"Cuiih..!"
Xana meludah ke depan Robie lalu menyeringai mengejek.
"Dasar kau!!" teriak Robie hendak memukul wanita itu.
" Robie berhenti!!" teriak pangeran Enzo menghentikan tinju Robie yang hampir mengenai wajah gadis muda itu.
Pangeran Enzo masuk ke penjara tempat Xana di tahan saat ini. Ia memperhatikan gadis muda yang hampir saja membunuh istrinya itu.
" Hhh..!"
Pangeran Enzo menarik napas berat.
" Kalau saja bukan karena kebaikan hati istri ku yang meminta untuk tidak menghabisi mu,mungkin aku sudah menghabisi mu saat ini." ujar pangeran Enzo tajam.
"Apa alasanmu menyerang istriku?apa dia pernah menyakiti mu?" tanya pangeran Enzo pada Xana.
Xana memalingkan mukanya,ia hanya diam seribu bahasa dan tidak menjawab sama sekali.
"Siapa yang menyuruh mu melakukan semua ini?" sambung pangeran Enzo lagi. Xana tetap diam dan tidak menjawab.
"Hei kau tidak ada telinga kah? jawab pertanyaan pangeran Enzo padamu!" seru Robie yang sudah gerah dengan sikap gadis itu.
"Aku tidak akan memberi informasi apapun!" tegas gadis itu dengan seringai jahatnya.
"Berapa harga yang kau dapatkan dari orang yang membayar mu?aku bisa membayar lebih mahal dari itu." kata pangeran Enzo mencoba bernegosiasi.
"Kau pikirkan lah baik-baik!" sambungan pangeran Enzo sambil berlalu dari penjara itu diikuti oleh Robie.
Xana menatap tajam punggung kedua orang yang baru saja menemuinya. Tawaran pangeran Enzo tadi cukup menggiurkan baginya,karena pekerjaannya selama ini memang berdasarkan uang,tentu saja harga yang tinggi adalah tawaran yang berharga bagi Xana.
"Kreek..!!" pintu penjara itu di tutup kembali, meninggalkan xana yang masih termangu di dalamnya.
Sementara itu di kamarnya putri Artha sedang berbincang dengan Natalie dan Jenny yang sudah kembali ke istana.
"Kemana kau selama ini Jenny?mengapa kau tidak mengabari kami?" cerca Natalie kepada sahabatnya itu.
" Maafkan aku,aku harus mengunjungi nenek ku yang sakit keras di desa." jawab Jenny.
"Bagaimana kabar nenek mu saat ini, Jenny?" kata putri Artha sambil menatap Jenny yang sedang mengunyah kue yang ia bawa dari dapur istana.
"Oh,kabar nya baik, maksudku nenekku sudah membaik saat ini." jawab Jenny sambil kembali mengunyah sepotong kue lagi.
"Eh,putri apakah orang yang mencelakai mu sudah di tangkap?" ujar Jenny mengubah pembicaraan.
"Ya, Robie sudah menangkapnya." ujar putri Artha.
__ADS_1
"Dan yang lebih mengejutkan lagi,ternyata dia seorang gadis." kata Natalie dengan wajah tidak percaya.
"Astaga!berani sekali orang itu." kata Jenny.
"Gadis itu harus di hukum seberat-beratnya!" kata Jenny geram.
"Tapi..aku yakin gadis itu hanyalah suruhan." ucap putri Artha sambil termenung.
"Bagaimana putri bisa begitu yakin?bisa saja gadis itu seorang yang gila." kata Jenny lagi.
"Tidak,aku yakin ia hanyalah pesuruh. Dia tidak ada alasan untuk membenci ku,kami belum pernah bertemu sebelumnya." kata putri Artha yakin.
"Lalu siapa kira-kira orang yang menyuruh gadis itu?" tanya Jenny lagi.
" Entahlah Jenny,aku tidak bisa menebaknya." kata putri Artha sambil termenung menatap langit-langit kamarnya.
Dua hari kemudian, di kastil tua tempat Xana di tahan.
" Ayolah Jemie aku hanya ingin melihat wajah orang yang telah berani mencelakai putri Artha itu." rayu seorang pelayan wanita pada Jemie sang prajurit yang mengawasi penjara tempat Xana sedang di hukum.
"Tapi tidak ada seorang pun diperbolehkan masuk ke dalam Rosella." ujar Jemie.
"Ayolah Jemie,kau seperti tidak mengenalku saja. Aku janji hanya sebentaaaar saja!" bujuk Rosella.
" Hhh..kau akan membuat aku dalam masalah Rosella.!" kata Jemie lagi.
"Aish..Jemie,sepupu macam apa kau ini!" kesal Rosella sambil mengambil sesuatu dari balik bajunya.
" ini terimalah! masalah mu akan berkurang dengan itu!" ujar Rosella kesal sambil menyerahkan sekantung uang perak ke tangan Jemie. Jemie tersenyum melihat kantung yang ada di tangannya. Sambil menimbang-nimbang kantung uang yang cukup berat itu ia mempersilakan Rosella untuk masuk ke ruangan penjara tempat Xena di tahan.
" Kau tenang saja,aku hanya sebentar!" jawab Rosella sambil mengeluarkan sebotol minuman dan kotak makanan yang ia bawa.
"Hei..kau!" seru Rosella pada Xana yang tertidur dengan kaki terikat dan tangan terikat dengan tali.
Xana membuka matanya saat mendengar panggilan Xana. Ia menatap ke arah Rosella lalu kembali terpejam.
"Hei bangun!aku di perintahkan nona Martha untuk melihat keadaanmu dan ini!minumlah dan makanlah ini,ini semua dari nona!" ujar Rosella pelan,ia tidak mau ada orang yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
Xana membuka kembali matanya,sambil menatap apa yang di bawa oleh Rosella tadi lalu melihat ke arah Rosella.
"Hahaha...!nona mu itu sangat lucu! bagaimana aku bisa makan bila tanganku terikat seperti ini." ujar Xana sambil tertawa mengejek.
"Ah,kau benar." ujar Rosella, sambil melihat ke kanan dan kiri ia membuka ikatan pada tangan Xana.
"Aish.. ikatan ini kuat sekali,aku tidak bisa membukanya!" keluh Rosella.
"Ck..gunakan akal mu! Apa kau tidak mempunyai sesuatu yang tajam?gunakan itu untuk memotong nya!" ujar Xana pada Rosella,lalu Rosella berpikir sejenak.
"Ah,aku punya ini!" seru Rosella pelan sambil mengeluarkan pisau cukur kecil dari balik bajunya.
Berlahan Rosella memotong tali ikatan itu dengan pisau nya, keringat mulai mengucur di dahinya,tali ikatan itu berlahan mulai terlepas dari tangan Xana.
"Terima kasih!" ujar Xana sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat tali ikatan itu.
__ADS_1
"Sama-sama,minum dan makanlah ini agar kau punya tenaga lagi." kata Rosella sambil menyerahkan kotak yg berisi makanan dan minuman tadi.
" Set...!"
Xana segera memegang tangan Rosella dan menguncinya dengan satu tangan, sedangkan tangan nya yang lain memegang pisau kecil yang diletakan di leher Rosella.
" Aww..sakit!apa yang kau lakukan!" teriak Rosella.
" Kau pikir aku akan tertipu!" ujar Xana dengan kasar menempel kan pisau tadi ke kulit leher Rosella hingga tergores.
" Makanan dan minuman agar aku bertenaga kata mu!"
"Cuiih..!
"Aku tak percaya pada ucapan mu ataupun niat baik nona mu itu." kata Xana sambil menyeringai.
"A..apa maksudmu Xana?aku tidak mengerti,aku hanya ingin membantu mu!" kata Rosella sambil gemetar ketakutan.
"Benarkah begitu?ah,bahkan kau sudah tau namaku pelayan!Oh,apakah kau sudah di beri tahu oleh nona mu itu?" kata Xana dengan nada mengejek.
Rosella terdiam ketakutan,ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Atau..begini saja!kau cicipi dahulu makanan dan minuman yang kau bawa tadi sekarang!" tantang Xana pada Rosella yang mukanya bertambah pucat karena ucapan Xana tadi.
"A..aku sudah kenyang, jadi aku tidak mau makan lagi!" ujar Rosella memberi alasan yang tidak masuk akal.
"Oh, baiklah kalau begitu aku akan menyiapkan sendiri minuman itu ke mulutmu yang busuk ini." kata Xana sambil meraih botol berisi minuman berwarna hijau tua dan membukanya serta langsung memasukannya dengan paksa ke mulut Rosella.
"Hueek.....!"
Rosella langsung memuntahkan isi mulutnya ke lantai,lalu segera berdiri dan berteriak memangil Jemie.
Jemie yang mendengar teriakan sepupunya itu pun langsung berlari kedalam dan mendapati Rosella sudah terjatuh di lantai dengan mulut berbusa karena racun pada minuman yang ia minum barusan,sedangkan di dalam sana Xana sedang berusaha membuka ikatan pada kakinya dengan pisau kecil yang ia peroleh tadi.
Di tengah kebingungannya, Jemie segera memangil teman - temannya untuk menangkap kembali Xana yang sudah berdiri dan bersiap berlari keluar dari penjara,sedangkan dirinya segera membawa Rosella ke arah ruang perawatan istana.
"Para prajurit lemah!" ejek Xana sambil melangkahi tubuh para prajurit yang sudah ia kalahkan tadi. Ia pun segera berlari keluar sambil mengambil pedang dari salah satu prajurit tadi.
Xana berjalan mengendap-endap melewati lorong panjang bawah tanah sebuah di kastil tua tempatnya para tahanan kerajaan Magna di hukum.
Melewati anak tangga terjal menuju lantai lain kastil yang berada di atas tanah. Dilihatnya banyak prajurit kerajaan Magna yang sedang duduk sambil bermain kartu dan bersenda gurau di sana. Melihat kondisi yang menguntungkan tersebut sambil tetap mengendap -endap ia menuju pintu keluar di sebelah Utara kastil. Melewati para prajurit yang tidak sadar akan keberadaan nya.
"Bruuk..!"
Xana meloncati dinding pagar batu kastil tersebut, sekarang ia sudah ada di luar kastil menuju sebuah hutan kecil di seberang desa yang ada di dekat kastil. Kakinya terasa sakit dan telapak kakinya sudah berdarah,tapi ia tidak berhenti berlari sampai keadaan sudah ia anggap aman.
Setibanya di hutan kecil tersebut, dilihatnya sebuah pohon besar yang mulai meranggas. Musim dingin sudah tiba,hujan salju pertama di musim dingin kali ini sudah turun. Xana memandang sebentar ke langit,melihat butiran salju lembut yang mengenai rambutnya yang berwarna merah,di sandarkan nya punggungnya pada pohon besar itu seraya mengatur napas nya yang tak beraturan.
"Hhhhh...!"
Udara dingin mulai terasa menusuk sampai ketulang nya. Baju tipis yang ia kenakan tidak bisa menahan hawa yang ada di sekitarnya. Xana memejamkan matanya sebentar untuk menormalkan detak jantung nya kembali.Namun tak berapa lama .
"Set..!"
__ADS_1
Xana membuka matanya kembali saat ia merasakan ada sebuah benda tajam dan dingin menempel di lehernya.
" Mau lari kemana kau!"