
Matahari mulai menampakkan wajahnya saat pasukan prajurit kerajaan Magna yang di pimpin langsung oleh pangeran Enzo tiba di istana. Setelah kejadian tadi malam, pangeran Enzo memerintahkan agar semua pasukan prajurit untuk kembali, apalagi saat tabib yang memeriksa kondisi jenderal Valentine mengatakan bahwa ia tidak bisa membuat kan obat penawar racun pada anak panah yang mengenai jenderal Valentine.
" Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa jenderal Valentine ialah dengan membawa nya segera kembali ke istana,agar tuan Recllif dapat mengobati nya." ujar sang tabib.
Saat ini tuan Recllif sedang memeriksa kondisi jenderal Valentine dengan seksama di bantu oleh beberapa tabib istana lainnya mereka berjuang keras untuk menyelamatkan jenderal Valentine.
" Hhh..."
Pangeran Enzo menarik napas berat,ia masih menunggu di luar kamar tempat jenderal Valentine di rawat. Wajahnya tampak sangat lelah, Robie yang duduk tak jauh dari nya pun terlihat tak kalah buruk nya namun ia tetap setia menemani sang pangeran.
" Kreek...!"
Pintu kamar perawatan terbuka,tuan Recllif tampak keluar dari sana. Pangeran Enzo dan Robie bergegas menghampirinya.
" Bagaimana keadaan paman Valentine,tuan Recllif?"
Tanya pangeran Enzo dengan wajah cemas.
"Jangan khawatir yang mulia, jenderal Valentine baik-baik saja saat ini." jawabnya sambil tersenyum.
" Ah, syukurlah!"
Pangeran Enzo terlihat sangat lega.
" Sebaiknya anda juga segera beristirahat, yang mulia." ujar tuan Recllif.
" Saya tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya anda setelah membawa tubuh jenderal Valentine dari Musty ke Magna dengan waktu secepat itu." sambung Tuan Recllif lagi.
"Entahlah tuan Recllif,aku hanya memikirkan keselamatan paman Valentine saja saat itu." kata pangeran Enzo sambil tersenyum tidak percaya dengan apa yang ia sudah lakukan.
"Terima kasih tuan Recllif atas bantuan anda." ujarnya lagi.
"Hal itu sudah menjadi tugas saya,yang mulia." jawab tuan Recllif sambil membungkuk.
Pangeran Enzo dan Robie pun segera meninggalkan ruangan itu.
"Robie,kau bisa kembali ke tempat mu saat ini,kau juga pasti sangat lelah." kata pangeran Enzo pada Robie.
Robie baru saja hendak mengatakan bahwa ia akan mengantarkan pangeran Enzo ke kamarnya saat pangeran Enzo sudah lebih dahulu menahannya.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke kamar ku sendiri!" kata pangeran Enzo sambil menepuk pundak Robie dan segera berlalu menuju kamarnya.
Robbie tidak berkata apa-apa lagi,ia hanya menatap punggung , sang pangeran sebentar lalu segera berbalik ke arah kamar nya.
Di kamarnya, putri Artha sedang mematut dirinya di cermin.
"Astaga, sepertinya berat badanku bertambah banyak semenjak tinggal di istana ini!" ujarnya sambil bolak balik menatap bentuk tubuhnya yang sedikit lebih berisi dari sebelumnya.
"Apa,ini tidak apa-apa?apa Enzo akan tetap menyukai ku,kalau aku bertambah gendut nanti nya?" gumamnya dalam hati.
"Ah,aku sudah merindukan nya!" ujar putri Artha sambil duduk di kursi.
"Kreek....!"
Tiba-tiba saja pintu kamar nya terbuka,wajah seseorang yang ia rindukan itu tiba-tiba saja sudah ada di depan matanya.
"Enzo!" ujar putri Artha.
Pangeran Enzo tidak menjawab apa-apa,ia hanya tersenyum kecil dan melangkah ke arah putri Artha,lalu ia berjongkok di hadapannya dan memeluk putri Artha dengan erat sambil menyandarkan kepalanya di bahu putri Artha.
"Aku sangat merindukan mu, Artha!" ujar pangeran Enzo setengah berbisik di telinga putri Artha.
"Biarkan aku memelukmu untuk beberapa saat lagi, Artha!" gumam pangeran Enzo sambil memejamkan matanya.
"Ya!"
Putri Artha menjawabnya dengan singkat, sebenarnya banyak yang ingin putri Artha tanyakan pada pangeran Enzo,tapi ia tahu pasti sang suami sedang sangat lelah jiwa dan raganya, mungkin putri Artha tidak bisa membantu banyak namun setidaknya dengan ini sang suami bisa melepaskan sedikit rasa lelah itu di pundaknya.
Diusapnya punggung sang suami dengan lembut, bagaikan belaian kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
'Terkadang seseorang itu tidak butuh kata-kata yang menghibur,tapi ia hanya butuh sebuah pundak untuk berbagi rasa lelah.''
Setelah makan siang pangeran Enzo dan putri Artha bercengkrama di ruang baca di kamar mereka.
"Apakah keadaan jenderal Valentine sekarang sudah baik-baik saja?" tanya putri Artha, saat pangeran Enzo menceritakan kejadian yang mereka alami tadi malam.
" Ya, tuan Recllif sudah membuatkan ramuan obat untuk menawarkan racunnya." jawab pangeran Enzo.
"Syukurlah kalau seperti itu." kata putri Artha lega.
__ADS_1
Pangeran Enzo menatap wajah putri Artha yang duduk di samping nya lalu tersenyum kecil.
" Mengapa kau menatapku seperti itu?apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya putri Artha sambil memegang pipinya.
Pangeran Enzo mengelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
"Apa karena aku lebih berisi akhir-akhir ini,jadi wajahku terlihat gendut?" kata putri Artha lagi sambil merenggut.
" Hahaha...!"
"Kau makin mengemaskan kalau sedang merenggut seperti itu!" ujar pangeran Enzo sambil terus tertawa gemas.
" Jangan bohong!kau pasti mengejekku karena pipi tembamku,kan?" kata putri Artha dengan muka yang makin di tekuk dan bibir yang semakin di majukan.
" Hei,siapa yang berani mengatakan istri cantik ku ini gendut ,hah?" kata pangeran Enzo dengan muka pura-pura serius.
"Tapi tadi kau tersenyum sambil menatap wajah ku, bukankah itu artinya ada yang aneh di wajahku saat ini?" kata putri Artha sedih.
Pangeran Enzo meletakan buka yang tadi ia pegang,lalu menelungkup kan kedua telapak tangannya di pipi putri Artha sambil mendekatkan wajahnya.
"Dengar kan aku Artha, aku memandang wajah mu dan tersenyum itu karena kau terlihat sangat cantik dan menarik!" katanya sambil menatap kedua mata bulat putri Artha.
"Splaaash...!"
Wajah putri Artha tiba-tiba berubah merah karena tersipu oleh pujian pangeran Enzo padanya.
"Be..benarkah?" kata putri Artha terbata karena malu.
"Ya,kau wanita yang paling cantik yang pernah aku temui,dan yang paling penting kau milikku!" ujarannya seraya memajukan bibirnya mendekati bibir putri Artha dan terjadilah lagi apa yang biasa ia lakukan pada bibir ranum sang istri.
Dan di saat pergumulan semakin panas, putri Artha dengan sigap menghentikan sang suami dengan lembut.
"Kenapa, Artha?" tanya pangeran Enzo dengan mata sayu,sang pangeran yang hasratnya sudah di ubun-ubun itu terlihat keberatan dengan penolakan sang istri.
" Ada yang ingin aku katakan padamu terlebih dahulu, Enzo." kata putri Artha.
" Apakah tidak bisa kita tunda nanti pembicaraan nya,Artha? setelah kita selesai." ujar pangeran Enzo sambil kembali berulah dengan mencium dagu dan wajah putri Artha.
" Tidak Enzo,aku harus mengatakan nya sekarang!" ujar putri tegas.
__ADS_1