
Flashback
"Hhhh..hhh",napas putri Artha tersengal-sengal,dia berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
Untung saja tadi dia sempat melompat sebelum kereta yang ia tumpangi meluncur ke bawah jurang yang sangat dalam di bawahnya.
Tangan Putri Artha sekarang hanya berpegangan pada akar pohon yang menonjol di sisi jurang,sedangkan tubuhnya tergantung di bawahnya.
Dia mendengarkan dengan seksama sampai suara derap kaki kuda para preman itu tidak terdengar lagi.
Dia masih sangat bersyukur bahwa para preman itu tidak memeriksa ke pinggir tebing. Namun melihat keadaannya saat ini, putri Artha tidak yakin sampai kapan tangannya akan mampu bertahan menopang tubuhnya.
"Oh, tuhan apa yang harus ku lakukan" lirih putri Artha sambil mulai terisak.
"Ayah,ibu,apa yang harus aku lakukan saat ini. Apakah ini akhir dari hidup ku?hiks!" lirihnya lagi.
Setelah beberapa lama,tangannya mulai terasa kebas,dia sudah berusaha untuk mendorong tubuhnya untuk naik ke atas,tapi semua itu sia-sia.
"Apakah aku harus mencoba untuk berteriak?" pikirnya, walaupun dia tidak yakin akan ada orang di sekitar sana yang lewat mengingat jurang ini ada di ujung hutan yang jarang orang datangi.
"Tidak ada cara lain,sebaiknya aku coba saja" pikirnya lagi.
"Tolooong... tolong, adakah orang di sana?" teriak nya .
Tidak ada sahutan sama sekali hanya suara burung hutan dan deru air sungai yang mengalir di bawah jurang yang bisa ia dengar .
Hal itu membuat putri Artha semakin putus asa. Sambil menangis ia terus berteriak, berharap ada yang mendengarkannya dan mau membantu nya.
"Tolong... tolooong!! kumohon siapapun disana,tolong aku,aku sudah tak sanggup lagi.
"Hiks..hiks!!"
Teriaknya lirih menyayat hati.
Putri Artha menundukkan kepalanya dia merasa sudah tidak ada harapan lagi baginya,dia menatap air sungai yang mengalir deras dibawahnya.
"Ayah,ibu, maafkan aku tidak bisa menyelamatkan kerajaan Pulchara, maaf kan aku tidak bisa menjadi putri yang berbakti,hiks!!" suaranya terdengar sangat menyedihkan.
Putri Artha memejamkan matanya,dia sungguh sudah di batas kemampuannya untuk bertahan.
"Set..!"
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya keatas.
"Pegang tanganku dengan erat!!" perintah lelaki yang memakai tudung dan penutup wajahnya, sehingga hanya matanya yang berwarna biru laut saja yang terlihat.
Putri Artha berpikir sejenak siapa orang itu.
"Percayalah aku hanya ingin menyelamatkan mu" ujarnya seperti tahu apa yang di pikirkan oleh putri Artha.
Tanpa berlama-lama putri Artha segera memegang erat tangan kokoh lelaki tersebut, tubuhnya mulai terangkat ke atas tebing dan setelah sampai di atas, ia langsung merebahkan tubuhnya yang terasa kaku sejak tadi, tiba-tiba saja kepalanya terasa pening dan pengelihatan menjadi kabur lalu pingsan.
Putri Artha mengerjakan matanya, dia memperhatikan sekelilingnya.
"Di mana aku?" pikirnya,disana ada sebuah ranjang sederhana, meja hias kecil, sebuah lemari kayu usang dan sedikit perabotan lain.
"Aaaa..sudah bangun,dia sudah bangun!!" teriak seorang gadis muda yang hampir seumuran dengan nya dari depan pintu kamar.
"Si..siapa kamu?" tanya putri Artha bingung dan takut,sejak kejadian tadi pagi putri Artha tidak bisa mempercayai siapapun secara langsung.Dia langsung duduk dan memegang erat bantal di dadanya.
"Jangan takut tuan putri,kami tidak bermaksud jahat pada anda",tutur seorang wanita berusia paruh baya yang terlihat sederhana namun sangat rapi yang masuk ke ruangan itu.
"Perkenalkan tuan putri saya nona Bronson,kepala pengasuh di panti asuhan Mother's love house" ujar nona Bronson sambil membungkuk.
"Tadi seorang lelaki pengembara mengantarkan yang mulia ke sini,dia mengatakan bahwa anda adalah putri Artha dan saya harus mengantarkan anda ke istana kerajaan Magna secepatnya setelah anda siuman" ujar nona Bronson menjelaskan.
"Apakah laki-laki itu memakai tudung kepala dan penutup wajah?" tanya putri Artha penasaran.
"Iya,yang mulia" jawab nona Bronson santun.
"Tapi pakainya terlihat terlalu mahal untuk seorang pengembara!" pikir putri Artha.
"Maaf yang mulia putri Artha, matahari sebentar lagi akan terbenam,kami harus segera mengantarkan anda ke istana" tutur nona Bronson.
Ada rasa enggan untuk pergi ke istana kerajaan Magna setelah apa yang di alaminya tadi tapi ia tidak ada pilihan lain saat ini.
flashback end.
Di istana kerajaan Magna putri Artha sedang di periksa dan di berikan obat oleh tabib istana.
"Bagaimana keadaan putri Artha,tuan Recliff?".tanya permaisuri Elizabeth yang ikut menunggu di ruangan itu.
"Keadaan putri Artha saat ini tidak terlalu parah hanya beberapa luka gores di badannya dan sudah saya berikan obat" ujarnya.
__ADS_1
"Hanya saja tuan putri harus banyak beristirahat untuk beberapa hari ini,karena kelelahan dan trauma yang ia alami" tuan Recliff menjelaskan .
"Syukurlah, terima kasih tuan Recliff" ujar permaisuri Elizabeth.
"Braaak!"
Pintu kamar di dobrak paksa.
"Yang mulia, tolong jangan masuk!" ujar seorang dayang yang menjaga pintu kamar sambil mengejar pangeran Adrian yang menerobos masuk ke kamar.
"Minggir!!" bentaknya, sang dayang tak bisa berbuat apa-apa. Permaisuri Elizabeth memberi tanda kepada sang dayang untuk membiarkan pangeran Adrian masuk.
"Artha,apa yang terjadi? bagian mana yang terluka?" pangeran Adrian terdengar sangat khawatir.
Dia mendekati ranjang putri Artha sambil menggenggam tangan nya.
"Aku baik-baik saja Adrian,kau tak usah khawatir" ujar putri Artha sambil melepaskan tangannya dari genggaman pangeran Adrian,ia merasa canggung di perlakukan seperti itu apalagi di depan banyak orang.
"Baiklah tuan Recliff anda boleh pergi sekarang" ujar permaisuri Elizabeth.
Tuan Recliff pun undur diri dari ruangan itu.
"Adrian, putri Artha hanya tergores di beberapa bagian tubuhnya,dan sudah di beri obat oleh tuan Recliff" ucap permaisuri Elizabeth .
"Sekarang biarkan putri Artha beristirahat,karena ia perlu banyak beristirahat untuk saat ini" lanjutnya lagi.
"Tapi,aku hanya hendak meyakinkan keadaan Artha,biarkan aku menunggu di sini sebentar" jawab pangeran Adrian.
Permaisuri Elizabeth terlihat tidak suka dengan apa yang di katakan pangeran Adrian.
"Putri Artha akan di jaga oleh Ara dayang istana dan ibu bisa memastikan ia akan baik-baik saja" seru permaisuri Elizabeth tegas dengan mata yang menatap tajam pada pangeran Adrian.
"Sebaiknya kau keluar Adrian,aku sangat leleh saat ini" ujar putri Artha,ia tahu apa yang di maksud permaisuri Elizabeth dan ia pun merasa tidak nyaman apabila pangeran Adrian ikut menunggui nya di kamar.
"Baiklah kalau begitu,aku akan keluar.Kau beristirahat lah." kata pangeran Adrian sambil tersenyum,ia pun berlalu bersama permaisuri Elizabeth.
"Adrian,ibu harap kau bisa menjaga tingkah laku mu, walaupun kau berteman akrab dengan putri Artha, namun saat ini ia adalah calon istri kakakmu!" ujar permaisuri Elizabeth saat mereka sudah meninggalkan kamar putri Artha.
"Kau mengerti maksudku Adrian!" tambahnya lagi.
Pangeran Adrian hanya terdiam membeku, ia berhenti mengikuti sang ibu, ia hanya memandang punggung sang ibu yang semakin menjauh.
__ADS_1