
"Baiklah,aku setuju!"seru putri Artha
Xana pun mengangguk tanda setuju. Pangeran Adrian lalu membawa gadis itu untuk diberi pelatihan dan pelajaran sebagai seorang pengawal pribadi.
Dua minggu kemudian keadaan putri Artha semakin membaik. Lukanya sudah kering dan lengannya sudah bisa digunakan seperti biasa.
Pagi ini pangeran Enzo menemani putri Artha yang sedang membaca di dekat tungku perapian di ruang santai dalam istana. Putri Artha sudah merasa bosan karena selalu berada di kamarnya berminggu-minggu. Dari jendela mereka bisa melihat ke luar di mana kolam di taman istana yang sudah mulai membeku,musim dingin yang terjadi tahun ini cukup parah membuat pepohonan serta tanah tertutup salju dan sungai serta danau membeku.
"Aku sangat ingin berjalan-jalan di taman." ujar putri Artha sambil menatap ke luar jendela.
" Sabarlah, setelah satu bulan salju mulai mencair dan udara sudah sedikit lebih hangat. Saat itu aku akan mengajakmu berjalan - jalan ke luar istana." bujuk pangeran Enzo sambil tersenyum kecil.
" Hhh... itu lama sekali." gumam putri Artha sambil memajukan bibirnya.
Pangeran Enzo tertawa kecil melihat kelakuan sang istri.
" Jangan mentertawakan ku,aku sedang kesal!" kata putri Artha sambil merajuk dan bibirnya semakin di tekuk.
"Baiklah,baiklah aku tidak akan tertawa lagi. Maafkan aku!" ucap pangeran Enzo dengan tulus.
Putri Artha pun menghela napas kecil Lalau mulai tersenyum kecil, bagaimana bisa ia tidak luluh dengan senyum manis pria tampan di depannya ini.
"Ah,kau manis sekali"! gumam putri Artha gemas.
"Hah,apa katamu , Artha?" ujar pangeran Enzo pura-pura tidak tahu.
"Tidak! aku tidak mengatakan apapun!" elak putri Artha sambil mengalihkan pandangannya menjauhi tatapan pangeran Enzo yang sudah tersenyum menggoda.
"O,ya benarkah!"
" Hmmm...rasanya tadi aku mendengar ada yang mengatakan kalau aku manis?" ujar pangeran Enzo sambil mendekatkan wajahnya ke arah putri Artha.
Putri Artha jadi salah tingkah saat wajah pangeran Enzo sudah sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan ia bisa merasakan hembusan napas pangeran Enzo yang beraroma teh bunga Chamomile yang baru saja mereka minum.
"Eh, itu. Tadi aku hanya mengatakan bahwa teh ini..! ya,teh ini sangat manis!" ujar nya sambil mengambil cangkir teh nya dan langsung meminum nya untuk menghindari tatapan mata pangeran Enzo.
Entah mengapa, walaupun mereka sudah beberapa kali berciuman bahkan sudah pernah melakukan yang lebih dari itu, tapi putri Artha masih sering merasa malu dan salah tingkah. Mungkin karena ia masih muda atau juga mungkin karena putri Artha belum yakin dengan perasaan nya pada pangeran Enzo dan sebaliknya.
"Set..!"
Pangeran Enzo menarik tangan putri Artha dan menggenggamnya erat. Putri Artha terkejut dengan apa yang dilakukan pangeran Enzo padanya.
"Mengapa kau masih menghindari ku, Artha?" tanya pangeran Enzo,ia menatap ke dalam manik mata putri Artha yang berwarna hijau muda,seakan mencari jawaban atas pertanyaan nya di sana.
Putri Artha menundukkan wajahnya,ia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Apa engkau masih membenciku?" tanya pangeran Enzo lagi.
Pangeran Enzo tidak bisa memungkiri pada awalnya putri Artha terpaksa bahkan 'dipaksa' untuk menikah dengan nya, sebagai pengganti kakaknya putri Arabella.
Sampai saat ini pangeran Enzo tidak tahu bagaimana perasaan putri Artha yang sesungguhnya padanya.
" Tidak,aku tidak membencimu!" ujar putri Artha pelan sambil tetap menunduk.
"Lalu,apa yang salah, Artha?" ujarnya pangeran Enzo lagi.
"Aku tidak tahu!" ucap putri Artha,ia paham maksud pertanyaan pangeran Enzo pada nya.
Pangeran Enzo hanya diam,ia melepaskan tangan putri Artha dan kembali duduk seperti semula. Hening sejenak di antara mereka.
"Walaupun kita pernah bertemu sebelumnya,tapi aku jarang bercengkrama dengan mu. Bahkan bisa di katakan aku lebih mengenal Adrian dari pada dirimu." ujar putri Artha memulai pembicaraan.
"Lalu, tiba-tiba saja aku ada disini dan menjadi istri mu." lanjut nya.
"Semua itu terjadi dengan sangat cepat, kadang aku bertanya dalam hati,apakah semua ini benar adanya atau hanyalah mimpiku saja."
"Bahkan aku belum mampu memahami apa yang aku rasakan saat ini,hanya saja aku merasa senang bila kau ada di dekat ku." ucap putri Artha sambil kembali menatap ke luar jendela. Ia masih merasa canggung tapi ia merasa lega bisa mengungkapkan isi hatinya kepada pangeran Enzo.
"Aku... mencintai mu, Artha!"
Putri Artha merasa jantungnya berhenti berdetak,ungkapan cinta pangeran Enzo yang tiba-tiba itu sungguh membuat nya terkejut. Putri Artha menoleh ke arah pangeran Enzo dan menatap lekat pada kedua mata pangeran tampan yanga ada di depannya saat ini,ia ingin mencari tahu apakah ada kebohongan di sana.
"Tapi.." putri Artha tidak melanjutkan perkataannya,ia hanya bertanya-tanya apakah mungkin secepat itu pangeran Enzo bisa jatuh cinta kepadanya.
Pangeran Enzo menelan ludah,ada rasa ragu untuk menyatakan hal ini,tapi sepertinya hati nya sudah tak bisa membendung itu semua.
" Perasaan ku ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul." ucapnya ,seakan ia membaca pertanyaan di hati putri Artha.
" Aku menyukaimu sejak lama,bahkan sejak kau masih kecil." tutur pangeran Enzo,lalu ia memanggil sesuatu dari saku celananya.
"Ini,ingatkah kau dengan pita ini, Artha?" ujarnya sambil menyerahkan sebuah pita berwarna merah muda dengan rajutan huruf AP pada sisinya.
Putri Artha mengamati pita itu dengan seksama.
"Ah, iya ini pita rambut ku! tapi bagaimana kau bisa memiliki nya Enzo?" tanya putri Artha bingung.
"Dahulu ada seorang gadis kecil yang membantu ku mengikat luka di tangan ku dengan pita itu." ujarnya sambil tersenyum.
flashback on
Kerajaan Magna sedang mengadakan perayaan ulang tahun raja Willem Magna,raja pertama sekaligus kakek buyut dan leluhur pangeran Enzo dan pangeran Adrian.
__ADS_1
Tamu-tamu dari kerajaan lain berdatangan untuk menghadiri pesta tersebut. Selain acara jamuan, kerajaan Magna juga mengadakan pasar raya. Banyak permainan dan jenis makanan yang di jajah kan di sana.
Pangeran Adrian yang masih berusia delapan tahun itu sangat senang karena ia diijinkan untuk pergi ke sana bersama pengawal pribadi nya. Namun sebaliknya pangeran Enzo yang merupakan putra mahkota kerajaan Magna tidak di perbolehkan keluar istana bila hanya untuk bermain di pasar raya. Karena ia harus belajar dengan giat sebagai calon penerus kerajaan ini.
"Maaf kakak,aku tidak bisa mengajak mu!" ujar pangeran Adrian sambil berlalu bersama pengawal nya. Lalu ia menoleh kebelakang sejenak.
"Nanti aku akan memberikanmu gula-gula manis!" serunya pada sang kakak sambil tersenyum lebar dan melangkah pergi.
Pangeran Enzo hanya tersenyum kecil menatap punggung pangeran Adrian. Kemudian iapun berlalu hendak kembali ke ruang belajar nya. Ia menelusuri jalan setapak di dekat dapur istana,mungkin ia bisa meminta sedikit cookies ataupun sepotong kue di sana.
Namun entah mengapa,tanpa ia sadari ia saat ini sudah berada di kebun buah beri di belakang dapur istana. Pohon beri itu sedang berbuah sangat banyak,ia pun mengambil beberapa buah untuk di makan.
Sambil mengunyah buah beri yang manis itu matanya tertuju pada beberapa orang yang hilir mudik di pinggir tembok istana.
Ada sebuah pintu kecil di sana ,di lihatnya beberapa pekerja pada dapur istana sedang membawa beberapa kotak berisi buah-buahan dan keperluan lainnya yang mereka dapatkan dari luar.
Tiba-tiba sebuah ide gila terbesit di pikiran nya. Tubuhnya yang masih kecil itu masuk ke dalam sebuah kotak buah yang kosong,ia bisa mendengar para pekerja yang mengangkat kotak itu mengeluh karena kotak nya terasa lebih berat dari biasanya.
Saat sudah sampai di luar dan kondisi sudah aman pangeran Enzo segera keluar dari kotak itu,ia lalu berlari ke arah pasar raya yang dapat ia lihat dari kejauhan.
Pangeran Enzo sangat senang,di sana banyak sekali jenis permainan yang bisa ia lihat dan mainkan. Para pedagang camilan berjejer di sepanjang sisi pasar raya.
"Kriuk..!"
Perutnya berbunyi nyaring pertanda minta diisi dengan makanan.
" Kau mau membeli gula - gula ini nak?" tanya sang penjual gula - gula pada pangeran Enzo yang terlihat menatap dengan lapar jualannya.
Pangeran Enzo menganggukkan kepalanya dengan keras.
"Apa kau punya uang? harganya satu koin tembaga." ujar penjualan itu.
Pangeran Enzo merogoh kantong celananya,tapi ia tidak menunjukkan apa - apa di sana. Lalu ia menggeleng lemah pada penjualan itu yang akhirnya mengusir nya pergi.
Rasa lapar pangeran Enzo semakin menjadi,tapi ia tidak punya uang sama sekali, kakinya mulai twrasa lemah,hingga akhirnya ia terhuyung jatuh karena tersandung sebuah batu dan tangannya terluka terkena ujung sebuah benda yang tajam.
Pangeran Enzo meringis menahan sakit pada lukanya,darah mengalir pada luka itu, pangeran Enzo merasa kepalanya mulai berat.
"Ah,kau terluka rupanya! tenang jangan takut aku akan mengobati lukamu!" ujar seorang gadis kecil sambil berjongkok ia melepaskan sebuah pita berwarna merah muda yang ada di rambutnya lalu mengikatkan nya pada luka di tangan pangeran Enzo.
"Kriuk..!"
Suara perut pangeran Enzo kembali terdengar.Pangeran Enzo malu karenanya.
"Oh,kau pasti kelaparan!tunggu sebentar kau jangan kemana-mana, aku akan membawakan mu makanan!" seru gadis itu sambil berlari.
__ADS_1