My Little Queen

My Little Queen
Bab. 19 Pagi yang cerah dan hutan yew


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, mulai pagi ini putri Artha memiliki tugas baru sebagai seorang istri pangeran Enzo yaitu menemaninya sarapan.


Walaupun mereka berada di istana yang sama dengan raja dan permaisuri Magna,tapi pada dasarnya putri Artha dan pangeran Enzo tinggal di sisi yang berbeda, kalau Raja Edward dan permaisuri Elizabeth tinggal di bagian barat istana maka pangeran Enzo dan putri Artha tinggal di bagian timur istana.


Mereka hanya akan makan bersama pada malam minggu atau hari penting lainnya,karena biasanya setiap anggota keluarga kerajaan terutama yang sudah menikah akan memiliki kegiatan mereka masing-masing.


Pagi ini pangeran Enzo dan putri Artha sedang menyantap sarapan mereka di meja makan, tidak terdengar percakapan dari keduanya.


Walaupun putri Artha adalah tipe orang yang suka mengobrol,tapi ia masih sedikit kesal dengan kejadian semalam,lagi pula ia merasa bingung harus memulai pembicaraan apa. Sedangkan pangeran Enzo seperti biasa tetap diam dan acuh.


Mereka berdua akhirnya menyelesaikan sarapan,para pelayan sudah membersihkan meja dengan rapi. Pangeran Enzo bangun dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya putri Artha tiba-tiba.


Pangeran Enzo berhenti sejenak,


"Berlatih panahan."jawabnya datar.


Lalu ia menoleh ke arah putri Artha.


"Ada apa?" tanyanya kepada sang putri.


"Tidak,aku hanya bertanya saja." jawab putri Artha tak acuh.


Pangeran Enzo kembali berjalan meninggalkan ruangan, menuju lapangan tempatnya berlatih.


"Hhh.. dia dingin sekali!" desah putri Artha.


"Apa yang akan ku lakukan hari ini?" ujar putri Artha sambil termangu.Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar nya saja.


"Tok..tok..!" pintu kamar di ketuk.


"Tuan putri ini Natalie dan Jenny" seru suara dari luar.


"Masuklah!" jawab putri Artha.


Natalie dan Jenny masuk ke kamar sambil menenteng sebuah keranjang berisi buah anggur dan beri liar.


"Selamat pagi yang mulia,apakah tidur anda nyenyak malam tadi?" tanya Jenny penasaran sambil tersenyum menggoda sang putri.


Natalie meletakkan wadah buah di atas meja teh,tepat di depan putri Artha yang sedang duduk membaca buku.


Natalie menyenggol siku Jenny menyuruhnya berhenti menggoda sang putri.

__ADS_1


"Mmm.. sepertinya aku tidur cukup nyenyak tadi malam" ujar sang putri dengan polosnya.


Jenny terlihat kecewa dengan jawaban sang putri,tentu saja Jenny mengharapkan jawaban yang berbeda dari putri Artha tentang malam pertama nya sebagai pengantin.


"O, begitu." ujar Jenny kecewa.


"Yang mulia, makanlah ini,semua buah-buahan ini sangat segar,kami berdua memetiknya dari kebun istana." kata Natalie.


"Benarkah?! terima kasih." kata putri Artha sambil mengambil sebutir buah anggur dari keranjang.


"Mmmm..ini manis sekali!!" seru putri Artha sambil mengambil lagi anggur dari keranjang.


"Kalian ayolah kita makan buah-buahan ini bersama!" kata sang putri kepada kedua dayang kesayangannya.


Tanpa banyak bicara Natalie dan Jenny ikut mencicipi buah-buahan yang mereka bawa tadi.


"Iya benar,buah anggur dan beri ini sangat manis!" seru Jenny sambil mengunyah beberapa buah di mulutnya.


"Buah di penghujung musim panas ini masih terasa enak,tapi sayang sebentar lagi akan masuk musim gugur,kita tidak bisa leluasa memetiknya setiap hari lagi." kata Natalie.


"Di mana letak kebun buah itu?" tanya putri Artha.


"Letaknya tidak jauh dari dapur istana,ada banyak pohon buah-buahan di sana,tapi yang sedang berbuah saat ini semak beri dan anggur." jawab Jenny mulutnya tidak berhenti mengunyah buah anggur.


"Sepertinya menarik, bisakah kita ke sana?" ujar putri Artha.


"Baiklah,mari kita pergi!" seru putri Artha,ia merasa sedikit bosan tinggal di kamarnya, melihat-lihat pohon buah-buahan cukup menarik baginya dari pada hanya berdiam diri di kamar.


Mereka bertiga bergerak menuju kebun buah-buahan yang ada di bagian belakang istana,tidak terlalu jauh dari dapur.


Putri Artha memakai mantel berwarna biru laut,karena sekarang mulai memasuki awal musim gugur , walaupun matahari bersinar tapi hawa dingin tetap terasa menusuk.


Natalie dan Jenny menunjukan tempat kebun buah-buahan yang mereka cerita kan.


"Di sini tempatnya yang mulia." ujar Natalie.


Putri Artha sangat senang melihat buah anggur yang bergantungan dari sulurnya,beberapa semak beri juga berwarna warni menunjukkan buahnya. Mereka memetik beberapa buah lagi untuk di bawa.


"Apakah di sana hutan yew?" tanya putri Artha sambil mengarahkan pandanganya ke seberang lapangan di belakang kebun buah.


"Oh,iya yang mulia,disana hutan yew tua. Pohon-pohon yew di sana sudah berusia ratusan tahun." jawab Natalie.


Pohon yew adalah sebutan untuk pohon Cemara Inggris ( Taxus baccata).

__ADS_1


Putri Artha berpikir sejenak,dia tiba-tiba teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu,saat cookies beracun membuat Natalie hampir saja kehilangan nyawanya.


"Jenny, bukankah kau bekerja di dapur istana?" tanya putri Artha.


"Iya yang mulia. Ada yang anda butuhkan yang mulia?" ujar Jenny.


"Apakah kau tahu,siapa di dapur istana yang bertanggung jawab membuat cemilan?" tanya putri Artha menyelidik.


"Hmm..coba aku lihat.Tuan Churros adalah koki utama bagian makanan penutup,tapi ada beberapa dayang yang membantunya." jawab Jenny mantap.


"Siapa saja mereka?" tanyanya lagi.


"Marie dan Anna serta nona Anne yang biasanya memasak makanan penutup berupa cookies dan kue-kue lainnya."


"Hanya saja sudah beberapa hari ini nona Anne tidak terlihat di dapur,aku tidak tahu mengapa ia juga tidak terlihat di kamarnya."tambah Jenny lagi.


"Apakah itu sekitar lima atau enam hari yang lalu?" tanya putri Artha lagi.


"Mmm..iya anda benar putri, sekitar hari itu! " seru Jenny sambil menepuk tangannya.


"Apa yang anda pikirkan putri Artha?" Natalie sedikit curiga dengan pertanyaan putri Artha.


"Ah,tidak. Aku hanya berpikir saja." ujar putri Artha,ia belum terlalu yakin dengan apa yang dipikirkannya.


"Shuut...!!" suara anak panah yang meluncur ke arah sasaran nya terdengar oleh mereka bertiga saat mereka melewati sisi lain dari lapangan tempat latihan memanah.


"Oh,itu yang mulia pangeran Enzo!" seru Jenny.


Mereka bertiga menoleh ke arah pangeran Enzo yang sedang berlatih memanah bersama dengan jenderal Valentine serta beberapa prajurit.


"Pangeran Enzo terlihat sangat gagah!" seru Jenny dengan mata berbinar- binar.


Natalie kembali menyikut pinggang Jenny yang mulutnya sangat ceplas-ceplos itu. Natalie seakan hendak mengingatkan Jenny untuk jangan mengagumi suami orang, apalagi bahwa mereka sedang bersama istri sang pangeran saat ini.


"Maaf yang mulia."ujar Jenny sambil membungkuk,ia menyadari kelakuannya yang sudah membuatnya terlihat memalukan di depan putri Artha.


"Tidak apa-apa Jenny." ujar putri Artha sambil tersenyum kecil,ia juga menyadari bila siluet tubuh pangeran Enzo pastilah membuat semua wanita yang melihatnya akan berdecak kagum.


"Ayo kita kembali. Sebentar lagi saat makan siang Jenny juga harus segera kembali ke dapur untuk menyiapkan hidangan." ujar putri Artha lalu kembali berjalan ke kamar diikuti oleh Natalie dan Jenny.


Pangeran Enzo memandang ke sisi lapangan,ia bisa melihat siluet putri Artha yang berjalan di sana .Lalu senyum nya sedikit mengembang.


"Ada apa yang mulia?apa ada yang menggangu anda?"ujar jenderal Valentine saat melihat senyuman tiba-tiba pangeran Enzo.

__ADS_1


"Tidak apa-apa paman. Aku hanya melihat seekor burung kecil di sisi lapangan." ujarnya tersenyum sambil kembali mengangkat busurnya.


Jenderal Valentine menatap ke arah sisi lapangan tidak di temukan nya sekor burung pun yang bertengger di sana.


__ADS_2