
Putri Artha dan pangeran Enzo sudah kembali ke perkemahan, Robie dan yang lainnya telah berhasil menemukan dan menyelamatkan keduanya dari jurang di dalam hutan Chanca.
Berita tersebut telah sampai kepada para pangeran lainnya yang sedang berburu, pangeran Lorenzo akhirnya memutuskan untuk mengakhiri perlombaan lebih cepat.
Semua pangeran sudah kembali ke perkemahan. Pangeran Lorenzo menemui pangeran Enzo dan meminta maaf atas kejadian yang menimpa putri Artha dan pangeran Enzo.
"Aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi pada putri Artha dan dirimu, Enzo." ujar nya.
"Semuanya diluar kemampuan kami dan kami semua tidak menduga hal ini akan terjadi kepada putri Artha. Para prajurit Spania yang ada sudah aku perintahkan untuk mencari dayang yang telah membuat putri Artha terjatuh ke dalam jurang tersebut." tambahnya lagi.
"Hhh..aku sungguh kecewa dengan kejadian ini. Kalau saja aku terlambat menemukan Artha,mungkin hal buruk bisa saja terjadi padanya." ucap pangeran Enzo dengan wajah dingin,ia merasa kecewa dengan pengamanan yang dilakukan oleh para prajurit kerajaan Spania.
"Sekali lagi,aku dan atas nama kerajaan Spania meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada putri Artha dan dirimu Enzo."
"Kami berjanji akan mengusut tuntas kasus ini." ujar pangeran Lorenzo.
"Memang seharusnya begitu Lorenzo." ujar pangeran Enzo datar.
"Hari sudah larut,kau pasti butuh beristirahat,aku akan kembali ke tendaku,Enzo." kata pangeran Lorenzo seraya berlalu dari hadapan pangeran Enzo.
Pangeran Enzo cukup lega mendengar ucapan dan janji pangeran Lorenzo. Setidaknya kasus ini tidak di anggap hal yang main-main oleh kerajaan Spania.
Hari sudah sangat larut saat pangeran Enzo kembali ke dalam tendanya untuk beristirahat. Dilihatnya Natalie sedang meletakkan handuk kecil di atas dahi putri Artha.
"Ada apa dengan Artha, Natalie?" tanya pangeran Enzo khawatir.
"Sepertinya putri Artha terkena demam yang mulia." jawab Natalie tak kalah khawatir.
Pangeran Enzo mendekati ranjang putri Artha dan memegang tangannya.
"Ya,kau benar Natalie! Artha demam,mungkin karena ia tadi terkena air hujan dan memakai pakaian lembab untuk waktu yang lama." katanya.
"Apakah kau sudah memangil seorang tabib?" tanya pangeran Enzo.
"Sudah yang mulia,tadi putri Artha juga sudah meminum obatnya." jawab Natalie sambil kembali menganti handuk yang menempel di dahi putri Artha dengan yang baru.
"Sebaiknya kau istirahat Natalie,kau pasti sangat lelah." ujar pangeran Enzo saat melihat Natalie sudah beberapa kali menutupi mulutnya yang sedang menguap.
"Aku tidak apa-apa yang yang mulia,lagi pula siapa yang akan menjaga putri Artha nantinya." katanya sambil tersenyum kecil menatap putri Artha yang sedang terlelap.
"Kau tidak perlu khawatir soal itu,aku sendiri yang akan menjaga Artha malam ini." serunya.
" Tapi..yang mulia."
__ADS_1
"Kau beristirahatlah Natalie,ini perintah!" seru pangeran Enzo tegas.
"Eh,iya.Kalau begitu saya titipkan putri Artha kepada anda yang mulia." kata Natalie sambil bergegas pergi.
Pangeran Enzo kembali menatap wajah putri Artha.
"Kasian sekali kau Artha. Aku tidak menyangka akan melibatkan mu sejauh ini." katanya sambil mengelus rambut coklat putri Artha.
"Siapa sebenarnya yang melakukannya?" pikirnya dalam hati.
"Sepertinya putri Czarin bukanlah seseorang yang akan melakukan hal keji seperti itu." pikirnya lagi.
Pangeran Enzo memikirkan banyak hal dan kemungkinan yang paling masuk akal yang menyebabkan seseorang hendak mencelakai putri Artha.
"Ibu..! "
Pangeran Enzo terkejut mendengar putri Artha yang tiba-tiba memangil ibunya.
"Artha,ada apa?" tanya pangeran Enzo.
"Ibunda,sakit sekali."
Putri Artha seperti nya sedang mengigau karena demam tinggi.
"Artha!" seru pangeran Enzo,ia merasa sangat kasihan melihat keadaan sang istri yang sedang mengigau memanggil ibunya itu.
" Ibu,aku merindukan mu!" kata putri Artha sambil kembali tangannya menggapai - gapai seperti sedang mencari sesuatu.
Pangeran Enzo meraih tangan putri Artha,ia menggenggam tangan itu dengan erat.
" Ah,ibu ternyata kau ada di sini. Aku sangat kesakitan ibu. Tapi aku senang kau ada di sini." putri Artha masih mengigau,ia memegang erat tangan pangeran Enzo yang ia pikir sebagai tangan ibunya. Lalu ia pun kembali tertidur.
"Artha,maafkan aku!" ucap pangeran Enzo, matanya terlihat berkaca-kaca.
Keesokan harinya, putri Artha terbangun saat cahaya matahari menyelinap masuk ke dalam tenda.
"Hoaam..!" putri Artha merasa badannya sudah lebih baik. Semalam selain meminum obat yang di beri oleh tabib kerajaan Spania, ia juga sudah meminum obat herbal yang ia racik sendiri dan selalu ia bawa di dalam kantong kecil kemanapun ia pergi.
Putri Artha menoleh kesamping,ia merasa tangan kanannya tidak bisa di gerakkan. Saat ia menoleh baru ia sadari bahwa tangan pangeran Enzo sedang memegang erat tangannya.
" Enzo!" gumamnya kecil.
"Mengapa ia ada disini? dan sejak kapan ia memegang tanganku?" gumamnya lagi.
__ADS_1
"Apa ia menjagaku dari tadi malam?" ujarnya lagi.
"Putri Artha,anda sudah bangun!" seru Natalie saat ia masuk ke dalam tenda untuk mengecek keadaan sang putri.
"Huush!!"
kata putri Artha sambil meletakan telunjuk di mulutnya.
"Jangan keras-keras Natalie,Enzo sedang tidur!" ujarnya setengah berbisik.
Natalie mengangguk mengerti,ia lalu mendekati sang putri,sambil membisikan sesuatu.
"Bagaimana keadaan anda putri Artha? apakah anda sudah baikan?" tanyanya sambil berbisik.
"Aku sudah lebih baik,walaupun masih sedikit pusing. Tinggal kakiku saja yang masih terasa sakit." jawab putri Artha.
"Natalie,sejak kapan Enzo ada di sini?" tanya putri Artha.
"Pangeran Enzo menjaga anda sejak semalam,dan sepertinya ia sudah memegang tangan anda sejak itu " kata Natalie sambil tersenyum kecil.
Putri Artha membalas senyuman Natalie dengan sedikit malu-malu.
"Tapi tanganku kini sudah sangat kebas jadinya." kata putri Artha sedikit meringis.
Natalie terkekeh tertahan,ia menyukai romansa yang mulai terjalin diantara pasangan kerajaan itu.
" Apakah anda ingin ku buatkan sarapan ,yang mulia?" tanya Natalie lagi.
" Tentu saja,perutku belum berisi apapun sejak semalam." kata putri Artha.
Natalie pun bergegas keluar tenda untuk menyiapkan sarapan untuk putri Artha.
Putri Artha sedang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pangeran Enzo. Ia melakukannya dengan sangat berlahan agar pangeran Enzo tidak terbangun,namun tiba-tiba mata pangeran Enzo sudah terbuka.
" Artha!"
Ujar pangeran Enzo seraya memperbaiki posisi duduknya.
"Kau sudah bangun, Enzo! maafkan aku tidak sengaja membuatmu terbangun." ucap putri Artha sambil tersenyum canggung.
"Artha apakah kau sudah lebih baik?apakah masih ada yang terasa sakit?" pangeran Enzo terlihat sangat khawatir.
"Jangan khawatir Enzo aku sudah tidak apa-apa, tinggal kaki ku yang terkilir saja yang masih terasa sakit." jawab putri Artha berusaha menenangkan hati suaminya.
__ADS_1
"Syukurlah Artha. Aku sangat senang kau sudah tidak apa-apa lagi." katanya lega sambil tersenyum manis pada putri Artha.