
" Enzo,kau jahaaat..!" seru putri Artha kesal.
Air mata mengenang di pelupuk matanya. Mukanya cemberut dan merajuk,ia sangat kesal dengan kepergian pangeran Enzo yang tiba-tiba itu. Terlebih tidak lama lagi putri Artha akan merayakan hari ulang tahunnya yang pertama sebagai sebagai seorang istri.
Putri Artha menghapus air mata yang hampir turun di sudut matanya. Dia bukanlah seorang gadis yang cengeng lagi,tapi entah mengapa hatinya terasa sakit dan kecewa.
"Tok..tok..!"
"Ini Natalie yang mulia, bolehkah saya masuk?" ujar Natalie dari balik pintu.
"Ya, masuklah Natalie!" serunya.
Natalie masuk ke kamar putri Artha sambil membawa nampan berisi sarapan,ia agak terkejut saat melihat sang putri yang belum bersiap sama sekali dan masih memakai baju tidurnya.
"Apakah anda kurang enak badan yang mulia?" tanya Natalie saat ia melihat wajah tidak bersemangat putri Artha.
Putri Artha hanya menggelengkan kepalanya. Hanya saja wajahnya tetap terlihat tidak bersemangat.
"Dia meninggalkan ku, Natalie! hiks!" ujarnya sambil menangis di atas bantalnya.
Natalie bingung dengan ucapan putri Artha,siapa yang meninggalkan nya,siapa yang membuat putri Artha yang riang itu menangis.
"Siapa yang meninggalkan anda yang mulia?" tanya Natalie.
"Apakah pangeran Enzo?" tebaknya.
Putri Artha mengangkat wajahnya dari bantal lalu menganggukkan kepalanya dan kembali menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
"A..apa? apakah benar begitu? pangeran Enzo berpaling pada gadis lain,yang mulia?" Natalie sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan. Sebab selama ini ia sangat yakin pangeran Enzo mencintai putri Artha lebih dari yang lainnya.
Putri Artha kembali mengangkat wajahnya,kali ini ia bahkan mengubah posisinya dan duduk di atas tempat tidur.
"Apa katamu Natalie? Enzo berpaling dariku?itu tidak mungkin Natalie!" kata putri Artha dengan yakin.
Lalu tiba-tiba ia menyadari apa yang baru di ucapkan tadi.
"Eh, maksudku bukan begitu! maksudku Enzo bukan meninggalkanku karena gadis lain tapi ia meninggalkan ku sementara karena ada yang harus ia kerjakan." jelasnya dengan malu - malu.
"Ooo..begitu!"kata Natalie sambil tersenyum simpul,ia mengerti sang putri sedang berusaha untuk menutupi rasa malunya.
__ADS_1
"Natalie,apa yang harus ku lakukan hari ini?" ujar putri Artha kepada Natalie setelah menyelesaikan sarapannya,ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan saat tidak ada Enzo di dekatnya.
"Mmm.. bagaimana kalau kita berjalan-jalan di taman,yang mulia?" tawar Natalie.
"Hhh..itu tidak akan menyenangkan , Natalie. Sekarang sedang musim gugur,tidak ada yang bisa aku lihat di sana." ujarnya lesu,ia menatap sepotong cookie yang tergeletak di atas piring di depannya.
"Natalie,dimana Jenny?mengapa aku tidak melihatnya beberapa hari ini?" tanya putri Artha heran, karena dayang satu itu biasanya akan selalu datang ke kamarnya setiap ia tidak ada pekerjaan di dapur.
"Entahlah yang mulia,aku juga tidak bertemu dengan nya beberapa hari ini." jawabnya.
"Mungkin sedang banyak pekerjaan di dapur istana akhir - akhir ini." tebak putri Artha, ia sebenarnya cukup terhibur dengan tingkah maupun cerita Jenny yang tak ada habisnya itu.
"Natalie,apakah kau tahu di mana tempat tinggal orang tua nona Anne?" tanya putri Artha.
"Aku kurang tahu jelasnya di mana,aku hanya ingat Jenny pernah mengatakan bahwa daerah itu ada di pinggiran kota Magna, tepatnya di Riverside." ujar Natalie.
"Hmm.. sepertinya itu saja sudah cukup. Ayo kita berangkat, Natalie!" seru putri Artha bersemangat.
"Apa? maksud yang mulia kita akan ke luar berdua saja?" Natalie membelalakkan matanya.
"Iya!" seru putri Artha mantap.
"Kau tidak perlu khawatir,aku yang akan mengurusnya." putri Artha tersenyum penuh misteri sambil menarik lengan Natalie.
"Astaga yang mulia anda sangat nekat,aku belum pernah bertemu seorang putri seperti anda." gumam Natalie saat mereka sudah ada di luar istana dengan menyamar seperti gadis biasa.
"Tenang saja Natalie aku sering melakukannya saat di Pulchara dulu." ucap putri Artha tersenyum lebar.
Natalie mengikuti langkah sang putri yang begitu cepat,mereka segera berbelok ke arah lain saat melihat beberapa prajurit yang sedang lewat ke arah mereka.
"Oops.. hampir saja!hehe." ujar putri Artha sambil tertawa kecil.
"Huft..!" Natalie menghembuskan napas dengan kuat.
"Jantungku hampir saja lepas dari tempat nya yang mulia!" seru Natalie dengan wajah yang sangat pucat karena ketakutan.
"Ayo!"
Putri Artha kembali menarik tangan Natalie dan mengajaknya kembali berjalan. Ia menanyakan arah tempat yang mereka tuju pada Natalie,namun langkahnya jauh lebih cepat dari Natalie yang harus kesusahan mengikuti langkah putri Artha.
__ADS_1
Sesampainya di daerah Riverside putri Artha mulai mengurangi kecepatan langkah nya.
"Bagaimana kita bisa tahu rumah keluarga nona Anne?" ucap Natalie saat melihat jejeran rumah kumuh di pinggiran sungai itu dengan bingung.
"Kita akan segera tahu, Natalie!" seru putri Artha sambil segera menghampiri seorang wanita tua yang sedang menjemur pakaian.
"Maaf nyonya, bisakah saya menggangu anda sebentar." ucapa putri Artha.
Wanita itu menatap putri Artha dari ujung kaki hingga ujung rambutnya,ia merasa tidak pernah melihat gadis yang ada di depannya itu.
"Iya,baiklah. Tapi aku sedang sedikit sibuk,jadi tolong agak cepat." ujar wanita itu tidak ramah. Ingin rasanya Natalie menyumpal mulut wanita itu dengan kaus kaki busuk. Andai saja wanita itu tahu siapa yang ada di depannya saat ini,pasti wanita itu akan segera berlutut.
Putri Artha menahan lengan Natalie agar ia tidak bertindak ceroboh,hingga hal tersebut bisa membongkar penyamaran mereka.
"Baiklah aku akan cepat nyonya. Bisa kah anda memberitahukan saya rumah keluarga Pann?" tanya nya sopan.
Wanita itu kembali menatap putri Artha menyelidik.
"Apa keperluan mu dengan nyonya Pann tua itu?"ujarnya tetap dengan mata yang menyelidik.
"Ah,aku teman anaknya, Annie Pann. Aku ingin memberikan sesuatu kepadanya ?" kata putri Artha sambil memperlihatkan bungkusan yang ia bawa.
"Oh,jadi kau temanya Anne. Dimana gadis itu sekarang? mengapa ia tidak pernah pulang untuk menjenguk ibunya,apakah ia tidak tahu kalau ibunya sudah sekarat?" kata wanita itu dengan marahnya.
Putri Artha dan Natalie merasa terkejut dengan kata-kata wanita itu.
"Tapi..tapi kami tidak tahu apa-apa nyonya." kata Natalie dengan wajah takut.
"Maksudnya,kami hanya menyampaikan bungkusan ini saja,jadi kami tidak tahu alasan Anne tidak menemui ibunya." putri Artha menjelaskan perkataan Natalie agar wanita itu tidak bertambah curiga pada mereka.
Akhirnya wanita itu memberitahukan dimana rumah keluarga nona Anne,ia tidak lupa berpesan agar memberitahukan nona Anne agar segera melihat ibunya yang sedang sakit.
Putri Artha dan Natalie sekarang sedang berada di depan pintu kediaman keluarga Pann.
"Tok..!
"Tok..!"
Putri Artha mengetuk pintu kayu yang terlihat sudah usang itu,rumah keluarga Pann terlihat jauh dari layak,rumah yang terbuat dari kayu itu sudah berlobang di sana sini.bahkan salah satu jendelanya sudah pecah dan hanya di tutupi sekedarnya dengan kain,pasti akan sangat terasa dingin saat malam hari, apalagi sebentar lagi akan memasuki musim dingin.
__ADS_1