
"Apa? kau akan ikut parade perayaan ulang tahun mu siang ini?" kata pangeran Enzo tidak percaya saat ia dan putri Artha sedang menyantap sarapan pagi mereka yang kesiangan.
"Ya,itu benar." jawab putri Artha sambil terus menyantap hidangan nya.
" Apakah tidak terlalu melelahkan untuk mu?" pangeran Enzo sedikit khawatir dengan kondisi putri Artha yang harus berparade menaiki kereta kuda terbuka di sepanjang jalan di kota Magna sambil menyapa rakyat kerajaan Magna yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun baginya.
" Hmmm...ku rasa tidak akan terlalu melelahkan,lagi pula kau juga akan ikut bersama ku bukan?" ujar putri Artha.
"Tentu saja." ujar pangeran Enzo,tentu saja ia harus mendampingi sang istri karena ini adalah kali pertama bagi putri Artha untuk tampil secara langsung menemui penduduk kerajaan Magna.
Sementara itu di balik pintu ruang makan istana tempat tinggal pangeran Enzo dan putri Artha terlihat dua orang yang terlihat sedang menunggu kedua tuan mereka dengan cemas.
"Oh,tuhan berapa lama lagi kita harus menunggu!" ujar Robie sambil terus melihat kearah pintu berharap yang mereka tunggu segera keluar dari pintu tersebut.
Parade perayaan ulang tahun sekaligus penyambutan bagi putri Artha akan di mulai satu jam lagi,tapi untuk kedua kalinya mereka harus menunggu lama.
Tadi pagi Robie dan Natalie harus menunggu pangeran Enzo dan putri Artha tuannya itu bangun pagi.Tidak seperti biasa nya mereka berdua harus menunggu sampai matahari sudah cukup tinggi ditambah lagi pintu kamar mereka di kunci dari dalam.
"Hhh..Apa yang mereka lakukan semalam hingga mereka kelelahan seperti ini." ucap Robie sambil menghela napas panjang saat ia dan Natalie menunggu keduanya di depan pintu kamar tadi pagi. Perkataan Robie itu membuat Natalie mengerenyitkan dahinya.
Dan kejadian itu terulang lagi kini, mereka berdua harus kembali menunggu di depan ruang makan.
" Natalie,apa menurutmu kita sebaiknya menerobos masuk saja?" kata Robie,saat dilihatnya dua orang pengawal sedang berjalan tergopoh-gopoh ke arah mereka untuk menjemput pangeran Enzo dan putri Artha agar segera menuju ke tempat parade di mulai.
"Sepertinya tidak perlu, Robie!" ujar Natalie sambil mengarahkan pandanganya ke pintu ruang makan yang sudah terbuka.
" Ah,yang mulia benar-benar tepat waktu!" kata Robie segera menemui pangeran Enzo dan putri Artha.
" Apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya pangeran Enzo pada para pengawal.
" Ya,yang mulia. Semua sudah menunggu di depan." ujar pengawal tersebut dengan santun.
"Baiklah,kau sudah siap Artha?" ujar pangeran Enzo sambil mengulurkan lengannya pada putri Artha.
"Aku siap!" jawab putri Artha sambil melingkarkan tangannya ke lengan pangeran Enzo dengan ceria.
Parade perayaan ulang tahun putri Artha sudah di mulai,di atas kereta kuda yang terbuka pangeran Enzo dan putri Artha melambaikan tangan nya kepada rakyat kerajaan Magna yang sudah berjejer di pinggir jalan untuk menemui calon permaisuri mereka. Ada beberapa orang yang mencoba berjabat tangan dengan sang putri dan sebagian lagi memberikan karangan bunga indah sebagai hadiah untuk sang putri. Putri Artha terlihat sangat senang dan gembira bertemu dengan masyarakat kerajaan Magna yang cukup ramah menurut nya. Awalnya putri Artha tidak yakin akan disambut dengan hangat seperti ini, namun saat putri Artha melihat banyak sekali rakyat Magna yang datang untuk sekedar mengucapkan selamat padanya,ia merasa sangat tersentuh.
"Sepertinya kau sudah mengambil hati rakyat Magna dari ku." canda pangeran Enzo sambil tersenyum kecil.
"Aku juga tidak menyangka akan semeriah ini." kata putri Artha,ia masih terus melambaikan tangannya dari atas kereta.
Melewati daerah yang cukup ramai pangeran Enzo melihat sosok yang agak tidak biasa di antara kerumunan orang-orang tersebut. Tapi ia berpikir mungkin orang itu hanya lah orang aneh biasa.
__ADS_1
"Shuut..!"
Sebuah anak panah meluncur dari kerumunan itu ke arah dada putri Artha yang sedang melambaikan tangannya.
"Artha,awas!!" teriak pangeran Enzo saat ia menyadari ada sebuah anak panah yang melesat ke arah mereka. Namun sayangnya hal tersebut sangatlah terlambat.
"Aaagh!!" pekik putri Artha,darah mengucur dari bagian tubuhnya yang terkena anak panah.
"Artha...!!"
Teriak pangeran Enzo segera memapah tubuh putri Artha yang ambruk.
Keadaan menjadi kacau , orang- orang yang berkerumun mulai berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri. Para pengawal segera membuat tameng untuk pangeran Enzo dan putri Artha. Sebagian dari mereka segera mengejar dan mencari sosok yang melepaskan anak panah tadi.
Natalie menangis sejadinya sambil memegang tubuh sang putri.
"Putri Artha,maafkan aku tidak menjagamu dengan baik! putri kumohon bertahan lah!hiks!" ucap Natalie di tengah tangisannya.
"Robie kau cari orang yang memanah Artha sampai ketemu!! aku akan membawa Artha kembali ke istana!" ujar pangeran Enzo dengan amarah,ini kali pertama robie melihat sang pangeran sangat marah.
"Baik yang mulia!" seru Robie segera pergi mencari sosok yang sudah berani memanah putri Artha.
Beberapa saat kemudian di dalam istana pangeran Enzo menunggui sang istri yang masih terbaring lemah di kasur. Panah yang tadi menancap di lengannya sudah di cabut. Tabib istana tuan Recliff sudah memberikan obat untuk luka nya,untunglah anak panah itu tidak sampai mengenai dada sang putri,kalau tidak mungkin keadaan putri Artha tidak bisa di tolong lagi.
"Siapa yang berani - beraninya melakukan hal ini di bawah hidungku?" gumamnya pelan namun penuh penekanan.
"Awas saja, saat aku sudah menemukan mu habislah kau!!" serunya geram.
Sementara itu Robie dan beberapa pengawal istana sedang mencari di setiap gang dan jalan di kota Magna,namun sosok yang mereka cari belum juga dapat di temukan.
"Bagaimana kalau kita di bagi menjadi dua kelompok kecil? itu kan memudahkan kita untuk mencari orang itu." saran Robie kepada para pengawal yang ikut mencari seperti nya.
"Baiklah, aku juga setuju!" ujar pengawal yang lain sambil memisahkan diri menjadi dua kelompok.
Robie dan dua orang lainnya sekarang sedang menyusuri beberapa rumah penduduk yang terlihat cukup padat di daerah ini.
"Tok..tok..!"
Robie mengetuk pintu rumah orang yang mereka curigai. Untuk beberapa saat tidak ada yang menjawab ketukan mereka.
"Tok...!"
"Tok..!"
__ADS_1
"Tok..!"
Robie kembali mengetuk pintu rumah yang terlihat sepi itu.
"Kreek..!"
Pintu kayu rumah itu di buka oleh seorang wanita tua,ia terlihat menatap waspada pada para pengawal yang ada di depannya.
"Ada apa?siapa kalian?" ujarnya ketus.
"Maaf nyonya,kami pengawal istana Magna. Kami sedang mencari orang jahat tadi ia berlari kearah sini. Apakah anda melihat orang yang mencurigakan di sekitar sini nyonya?" tanya Robie kepada nyonya tua itu.
"Tidak!aku tidak melihat siapapun!" serunya ketus sambil menutup pintu.
"Set..!"
Robie menghalangi pintu itu dengan lengang nya.
"Maaf nyonya,aku masih ada pertanyaan lain."ujarnya sambil tersenyum.
Dengan wajah cemberut wanita itu kembali membuka sedikit pintu rumahnya.
"Ya,ada apa lagi? bukankah sudah ku katakan aku tidak melihat siapapun, hah!" dia terlihat sangat kesal.
"Mmm..apakah anda tinggal dengan seseorang, nyonya?" tanya Robie lagi.
"Tidak! aku hanya tinggal sendirian!" ujarnya.
Robie menganguk kecil sambil memikirkan sesuatu.
"Hei,tuan pengawal!apakah kau sudah selesai?aku ingin segera beristirahat!" seru wanita itu tidak sabaran.
Robie melepaskan tangannya dari pintu rumah nyonya tua itu.
"Tidak nyonya,saya sudah selesai. Terima kasih!" ujar Robie,kemudian ia dan pengawal lainnya segera berlalu dari rumah itu.
Wanita tua itu segera menutup pintu rumah nya rapat-rapat. Sementara itu Robie dan para pengawal yang sudah menjauh dari rumah itu tiba-tiba berhenti dan berbalik.
"Wanita tua itu berbohong!" seru Robie kepada pengawal yang lain.
"Benarkah?" seru salah satu dari mereka.
"Ya,ia berbohong saat mengatakan ia tinggal seorang diri! Ada sepasang sepatu orang lain yang baru saja di pakai dari luar dan itu bukanlah sepatu wanita tua itu,karena ukurannya bukanlah ukuran sepatu seorang wanita tua."
__ADS_1
Robie tersenyum sinis.