My Little Queen

My Little Queen
Bab. 21 Perjalanan Pertama


__ADS_3

Keesokan harinya putri Artha dan pangeran Enzo bersiap untuk berangkat ke kerajaan Spania, namun sebelum itu mereka akan mampir di benteng barat untuk menemui pangeran Edmund. Butuh dua hari perjalanan untuk sampai ke Spania, mereka berangkat pagi-pagi sekali agar bisa sampai di benteng barat pada sore harinya dan menginap di sana.


Natalie dan Robin pengawal pribadi pangeran Enzo ikut dalam perjalanan ini mereka juga di kawal beberapa prajurit kerajaan Magna.


"Jangan lupa sampaikan salam ku untuk pamanmu Edmund,aku berharap ia selalu dalam keadaan sehat." pesan raja Edward sebelum mereka berangkat.


"Dan juga tanyakan pada Adrian kapan ia akan kembali." tambah permaisuri Elizabeth.


"Baiklah,akan ku sampaikan semua." kata pangeran Enzo.


"Eheem Enzo!" raja Edward sambil membisikan sesuatu ke telinga pangeran Enzo dan tiba-tiba wajah pangeran Enzo berubah menjadi merah padam karena perkataan sang ayah.


"Aku sudah membuktikan nya!" kata raja Edward sambil berkedip.


" Ada apa?" Putri Artha terlihat bingung dengan apa yang di bicarakan raja Edward dan pangeran Enzo ,sedangkan permaisuri Elizabeth hanya tersenyum simpul.


"Ayo kita segera berangkat Artha." ujar pangeran Enzo mengalihkan pembicaraan, pangeran Enzo mengulurkan tangannya untuk membantu putri Artha naik ke dalam kereta kuda lalu ia pun menyusul naik di belakangnya.


Raja Edward dan permaisuri Elizabeth melambaikan tangan mereka mengiringi kepergian pengantin baru itu.


"Apa yang kau bisikkan kepada Enzo tadi,Raja ku?" tanya permaisuri Elizabeth penasaran.


"Ah, hanya sebuah trik untuk mendapatkan hati seorang wanita, seperti aku mendapatkan hati mu permaisuri ku." ujarnya sambil tersenyum genit kepada sang istri. Lalu mereka berdua pun terkekeh bersama.


Perjalanan panjang pangeran Enzo dan putri Artha pun di mulai.


"Apakah kau sering melakukan perjalanan jauh seperti ini Enzo?" tanya putri Artha memecah kesunyian di antara mereka.


"Tentu saja,aku kadang berkunjung ke kerajaan lain mewakili ayahku." jawabnya.


"Bukankah itu melelahkan dan membosankan? " ujar putri Artha sambil membayangkan betapa bosannya berada di dalam kereta kuda untuk waktu yang lama.


"Kau tidak akan pernah merasa bosan bila kau bisa melihat banyak hal menarik di sepanjang perjalanan mu." kata pangeran Enzo.


"Coba kau lihat di sebelah sana!" pangeran Enzo menunjuk ke aliran sungai di sebelah kiri jalan,sungai yang beraliran sedang itu melintasi perbukitan Hughes, dipinggir nya pepohonan dengan daun yang yang berwarna warni khas musim gugur terlihat sangat indah,sedangkan beberapa ekor burung melintas mencari makanan di atas sungai yang jernih itu.


"Waaah... indah sekali!" seru putri Artha sambil mengamati keindahan alam yang terbentang di hadapannya. Matanya berbinar-binar menatapnya.


Pangeran Enzo tersenyum kecil melihat tingkah putri Artha yang terlihat seperti seorang anak kecil saat mengamati sungai itu.


"Nanti di atas sana ada sebuah danau yang disebut oleh penduduk setempat dengan nama pearl lake,kita bisa beristirahat di sana sejenak." ujar pangeran Enzo.


Putri Artha mengangguk senang. Mereka sudah separuh perjalanan saat mereka berhenti di danau pearl lake siang itu.


Saat turun dari kereta mata putri Artha tidak bisa berpaling dari keindahan pemandangan danau pearl lake yang ada di hadapannya.


"Waaa.. indahnya!" ucap putri Artha berdecak kagum.

__ADS_1


Danau pearl lake adalah danau alami yang terbentang luas di dataran tinggi di wilayah barat kerajaan Magna, penduduk setempat memanfaatkan nya sebagai tempat memancing maupun keperluan lainnya.


Air danau yang bening dan jernih akan tertutupi kabut putih yang menggantung di pagi hari,pada musim gugur daun pohon maple di pinggir danau mulai berubah warna, begitu pun pohon - pohon liar lainnya menambah suasana menyegarkan di siang hari itu.


Putri Artha berlari kecil menuju tepian danau,ia melepaskan alas kakinya lalu mencelupkan kakinya ke air danau yang dingin.


"Aaaa..ini sangat menyegarkan." ujarnya sambil tersenyum senang.


Natalie yang hendak menyusul putri Artha di tahan oleh Robie,saat ia melihat pangeran Enzo menyusul sang putri ke tepi danau.


"Biarkan mereka berdua." ujar Robie. Natalie mengangguk tanda mengerti.


Lalu pangeran Enzo ikut melepaskan sepatunya dan duduk di jembatan kayu kecil di pinggir danau sembari mencelupkan kakinya di sana.


Air danau teras sangat menyegarkan di kaki pangeran Enzo,mereka duduk bersisian di tepi danau.


"Lihat,ada rusa di sebelah sana!" tunjuk putri Artha ke seberang danau pearl lake.


Pangeran Enzo melihat ke arah yang di tunjuk putri Artha.Benar sekali terlihat seekor rusa di tepi danau itu.


"Jarang sekali seekor rusa terlihat di tepi danau pada siang seperti ini,kita sangat beruntung." kata pangeran Enzo.


" Benarkah?mengapa bisa begitu?" tanya putri Artha."


"Karena biasanya mereka takut dengan keberadaan manusia pada siang hari,tapi ini sungguh berbeda mungkin...!"


Mereka berdua memperhatikan pemandangan tidak biasa itu dengan seksama.


"Enzo,apakah kau sangat suka berburu?" tanya putri Artha tiba-tiba.


"Bukankah itu terlalu kejam untuk hewan seperti mereka?" kata putri Artha sambil menatap pangeran Enzo.


"Tidak begitu,aku hanya ikut berburu saat ada perlombaan antar kerajaan saja. Selebihnya aku lebih suka menjelajahi hutan dan pegunungan untuk menemukan sesuatu yang menarik di sana." jelasnya sambil tersenyum dan menatap wajah putri Artha.


Untuk sesaat mereka saling berpandangan, tatapan mata pangeran Enzo sangat dalam membuat putri Artha merasa getaran halus di hatinya seperti ada kupu-kupu terbang di sekitar perut nya.


Putri Artha memalingkan wajahnya yang terasa memerah begitu pun pangeran Enzo, suasana menjadi sedikit canggung di antara mereka berdua.


"Aaa..andai saja ada ciuman mesra di antara mereka, pasti pemandangan tadi sangat lah indah di lihat dari sini,sayang sekali!" ujar Robie yang sedari tadi memperhatikan kedua tuannya itu.


"Iya,sayang sekali." tambah Natalie setuju,kedua penonton itu di buat kecewa dengan adegan di hadapan mereka.


"Lalu,apa yang kau sukai,Artha?" tanya pangeran Enzo memecah keheningan di antara mereka.


"Mmm..aku sangat menyukai ilmu medis,aku suka membuat obat - obat herbal." ujar putri Artha riang, jarang sekali mereka berdua bisa mengobrol dengan akrab seperti saat ini,hal ini membuat putri Artha nyaman untuk berbicara dengan pangeran Enzo.


"Bahkan dulu, Adrian sering menemaniku mencari bahan-bahan untuk obat di hutan white rose." tambah putri Artha dengan santai.

__ADS_1


"Bersama Adrian?" pangeran Enzo merasa terusik dengan perkataannya putri Artha.


"O,itu. Maksudku..!" putri Artha baru menyadari kalau ia telah membuka rahasia nya dengan pangeran Adrian selama ini.


"Apakah kau sering bertemu dengan Adrian?" tanya pangeran Enzo menyelidik,ia menatap tajam ke arah putri Artha,entah mengapa ia merasa tidak suka bila putri Artha dekat dengan pangeran Adrian.


"Adrian hanya menemani ku untuk mencari tumbuhan herbal dan itupun sudah cukup lama semenjak ia tidak pernah menemui ku lagi." jelas putri Artha sedikit gugup,ia merasa seperti ketahuan sedang mencuri sesuatu karena tatapan tajam pangeran Enzo.


"Pantas saja dulu Adrian sering menyelinap ke hutan white rose, ternyata ia menemui Artha di Pulchara." pikir pangeran Enzo dalam hati.


"Tapi,kami hanya berteman,itu saja!" tiba-tiba putri Artha merasa perlu menjelaskan semua itu kepada pangeran Enzo.


Mereka berdua kembali terdiam, hingga Robie datang dan meminta pangeran Enzo serta putri Artha untuk kembali ke dalam kereta,karena perjalanan mereka akan segera di lanjutkan.


Perjalanan pun di lanjutkan, pangeran Enzo menatap langit yang sudah sedikit memerah di kejauhan yang menandakan hari sudah sore.


"Buuk..!" kepala putri Artha yang tertidur menyentuh bahu nya.


Pangeran Enzo tidak menduga keadaan ini,ia terdiam tak bergerak, ia takut akan membangunkan sang putri.


Beberapa saat kemudian bahu pangeran Enzo mulai terasa kebas.


"Astaga,bahuku kebas! bagaimana ini?" gumam pangeran Enzo,ia mulai berpikir untuk mencari posisi yang tepat agar sang putri bisa tetap tertidur dengan nyaman.


Putri Artha terbangun dari tidurnya,ia mengerjabkan matanya berusaha untuk mengingat keberadaan nya saat ini.


"O,iya aku sedang di dalam kereta kuda." pikirnya.


"Ternyata aku tertidur.Bantal di kereta ini cukup nyaman,aku bahkan bisa tertidur dengan sangat nyenyak." pikirnya lagi sambil mengusap alas kepala yang ia pikir bantal itu.


"Astaga apa ini?" kata putri Artha saat ia menyadari alas kepalanya bukanlah sebuah bantal,akan tetapi sepasang kaki.


Putri Artha berbalik menghadap ke arah atas,ia sangat terkejut saat menemukan wajah tampan pangeran Enzo dengan mata terpejam,ia segera bangun dari posisi nya saat menyadari bahwa ia sedang tidur di pangkuan sang pangeran.


"Astaga,apa yang kau lakukan,Artha!" gumam putri Artha dengan wajah yang sudah berwarna merah padam karena malu.


"Apakah kau tidur dengan nyenyak, Artha?" tiba-tiba pangeran Enzo membuka matanya.


Putri Artha jadi salah tingkah,ia menunduk tak bisa menatap wajah sang pangeran.


"I..iya."jawabnya singkat.


"Maafkan aku! aku tak sengaja tidur di pangkuan mu." ujarnya malu-malu.


Pangeran Enzo berusaha menahan diri untuk tidak menerkam gadis yang ada di sebelah nya ini.


"Oh,tuhan! dia sangat menggemaskan bila sedang malu-malu seperti ini!" batin pangeran Enzo, walaupun kakinya terasa kebas karena menahan kepala putri Artha sejak tadi,tapi ia merasa sangat senang karena bisa dengan puas menatap wajah cantik sang putri yang sedang tertidur di pangkuannya.

__ADS_1


Hari sudah mulai gelap saat mereka tiba di benteng barat, pangeran Enzo dan putri Artha beserta para pengawal nya segera turun dan singah di tempat yang di tinggali oleh pangeran Edmund Magna tersebut.


__ADS_2