
Kereta yang membawa putri Artha semakin menjauh,melewati hutan white rose,lalu tiba di wilayah perbatasan, setelah sampai di wilayah kerajaan Magna mereka dihadapkan dengan pasukan prajurit kerajaan Magna.
"Berhenti!!" perintah salah seorang prajurit.
Ketua rombongan pengawal putri Artha turun dari kudanya dan maju ke depan.
"Ada apa ini? kami sedang mengawal putri mahkota kerajaan Pulchara menuju istana kerajaan Magna." ujar nya.
Putri Artha yang sedang berada di dalam kereta mengintip di balik jendela kereta.
"Apa yang terjadi? apakah sudah sampai?" gumamnya sambil mengintip.
"Kami yang akan mengambil alih dari sini." kata seorang prajurit kerajaan Magna, seperti nya dia ketua kelompok tersebut.
"Jangan mendekat." seru pengawal putri Artha merentangkan tangannya menghalangi prajurit kerajaan Magna mendekati kereta putri Artha.
"Kami diperintahkan raja Alfredo untuk memastikan sang putri sampai di istana kerajaan Magna dengan selamat." ujar pengawal itu sambil tetap merentangkan tangannya.
"Apa kau tidak dengar perkataan ku hah!?" teriak prajurit kerajaan Magna lantang,sambil mengeluarkan pedangnya.
Pengawal putri Artha dalam posisi siaga,semuanya mengeluarkan pedang mereka. Walaupun dalam segi jumlah mereka kalah banyak,tapi mereka harus memastikan keselamatan sang putri mahkota.
"Seraaang..!!" teriak prajurit kerajaan Magna itu.
Kedua kelompok prajurit dari kedua kerajaan yang bertetangga itupun terlibat perkelahian,mereka saling serang satu sama lain.
Putri Artha yan melihat itu semua gemetar ketakutan "Oh,tuhan apa yang terjadi,mengapa prajurit kerajaan Magna menyerang rombongan pengawal?" ujarnya bergetar, tangannya memegang erat ujung tirai yang menutupi jendela kereta.
"Aaaakh...!!" sabetan pedang terakhir mengakhiri hidup pengawal kerajaan Pulchara yang bertugas menunggangi kuda yang menarik kereta sang putri.
__ADS_1
"Hahaha...!!habislah kalian semua." tawa ketua prajurit kerajaan Magna sambil melangkah melewati mayat pengawal yang bergelimpangan di sana,ia mendekati pintu kereta sang putri.
Putri Artha semakin ketakutan ia mengunci rapat pintu kereta dan bersembunyi di sudut kereta dengan sekujur tubuh yang gemetar.
"Oh, tuhan bantu aku!!" doanya dalam diam.
"Braaak..!!"
Prajurit kerajaan Magna yang ternyata adalah preman yang diperintahkan oleh perdana menteri Markus itu mendobrak pintu kreta.
"Oow...jadi ini dia putri mahkota kerajaan Pulchara yang rela mengantikan kakaknya untuk menikah dengan pangeran Enzo." ujarnya sambil memperhatikan putri Artha dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"K..kau jangan kurang ajar!!" pekik putri Artha sambil menepis tangan sang preman saat preman itu berusaha mengulurkan tangan ke wajah putri Artha.
"Ciiih..!!" dalam kondisi seperti ini kau masih saja sombong tuan putri" ejeknya sambil meludah.
Preman itu membanting pintu kereta dengan kasar lalu berbalik.
"Cambuk kuda-kuda itu,biarkan mereka terluka ,lalu pastikan kereta beserta sang putri jatuh ke jurang tanpa bekas!!" perintahnya kepada yang lain.
Para preman itu lalu mencambuk dan mengiring kuda-kuda yang terikat dengan kereta sang putri ke arah jurang yang menganga di ujung hutan.
Sedangkan ketua kelompok preman tadi beserta anggotanya yang lain berbalik arah ke wilayah kerajaan Magna.
"Hus..hus..yihaa..!!" usir para preman yang bertugas mencambuk kuda - kuda tadi,saat mereka sudah memastikan kuda tersebut tepat menuju ke arah jurang,mereka berhenti mengejar,para preman tersebut tertawa saat melihat kuda-kuda itu jatuh ke jurang.
"Hahaha..!
"Habislah riwayat mu putri Artha!" ujar salah seorang dari mereka sambil berbalik menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu kembali ke Magna.
__ADS_1
Sementara itu di istana kerajaan Magna, raja Edward dan permaisuri Elizabeth sedang menunggu kedatangan putri Artha di aula kerajaan. Ada perdana menteri Markus dan jendral Valentine yang berdiri di belakang mereka.
"Mengapa sampai saat ini putri mahkota Artha belum juga tiba di istana?" ujar raja Edward.
"Bukankah tidak butuh setengah hari untuk sampai ke sini dengan menggunakan kereta?" ujarnya lagi.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" raja Edward menoleh ke arah Jendral Valentine.
"Hamba akan memeriksa nya yang mulia!" ujar Jendral Valentine bergegas hendak keluar ruangan.
"Mungkinkah putri Artha melakukan hal yang sama seperti kakaknya putri Arabella, yang mulia?"ujar perdana menteri Markus dengan senyum menyeringai nya.
Para anggota dewan kerajaan dan pejabat yang lain mulai berbicara satu sama lain,mereka mulai menduga-duga hal yang bisa saja di lakukan sang putri.
Raja Edward menggenggam erat tangan nya,dia tidak percaya kalau seandainya putri Artha akan melakukan hal yang sama dengan putri Arabella.
"Yang mulia..putri Artha telah tiba!!" seru Jendral Valentine sambil memapah sang putri.
Semua yang ada di sana terkejut melihat keadaan sang putri yang kusut,bajunya sobek di beberapa bagian,dan tangan serta kakinya terluka.
"Apa yang terjadi pada mu putri Artha?" Raja Edward terlihat cemas.
"Perintahkan tabib istana untuk mengobati sang putri,bawa putri ke kamarnya!" perintah sang Raja.
Putri Artha mencengkram ujung gaunnya,giginya gemeretak menahan amarah.
Putri Artha memandang tajam ke arah sang Raja,dia tidak menyangka akan di perlakukan sangat hina seperti ini sebagai calon menantu di kerajaan Magna.
Namun ia hanya bisa menahan gejolak amarahnya ,karena dia tahu akibat yang akan terjadi akan berimbas pada rakyat kerajaan Pulchara apabila ia mengungkapkan amarahnya saat ini.
__ADS_1