
"Kreek...!"
Pintu kamar putri Artha terbuka seseorang memakai jubah panjang menutupi kepalanya dengan tudung menyelinap keluar kamar.
Hari sudah cukup larut, putri Artha menyelinap keluar kamar malam ini,dia melihat para pengawal sedang beristirahat.
"Ini kesempatan yang baik." gumamnya.
Ia melangkah dengan cepat dan hati-hati, menyusuri lorong-lorong di istana yang terlihat lengang. Putri Artha menuju ruangan perawatan yang berada di sisi barat istana.
"Click!"
Putri Artha membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati.
"Ah, syukurlah pintu nya tidak di kunci." gumamnya lagi sambil menahan napas.
Ia berjalan masuk ke ruang perawatan,ada total enam tempat tidur pasien di ruangan itu.Hanya satu tempat tidur yang terisi.
"Natalie!" gumamnya lirih,ia berjalan menuju tempat tidur yang di tutupi sebagian dengan tirai pembatas dengan tempat tidur pasien yang lain.
Putri Artha memandangi wajah Natalie,lampu yang temaram tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang pucat. Ia lalu memegang tangan sang dayang mencoba mendengarkan detak nadinya.
"Syukurlah, seperti nya kau sudah cukup membaik." gumamnya lagi.
"Kreek..!"
Pintu bagian dalam ruangan yang merupakan ruangan para tabib dan obat-obatan terbuka.Seorang asisten tabib wanita keluar dari balik pintu.
Putri Artha maupun asisten tabib tersebut sama-sama terkejut.
"Astaga,tuan putri Artha anda mengejutkan saya!" seru asisten tersebut sambil memegang dadanya karena terkejut.
"Maaf tuan putri, apa ada yan bisa saya bantu?" ujarnya setelah memenangkan diri.
"Tidak apa-apa,aku tidak bisa tidur karena sangat khawatir dengan keadaan Natalie." kata putri Artha beralasan.
"Anda sangat perhatian dengan dayang pribadi anda yang mulia." kata asisten tabib itu tersenyum.
" Keadaan Natalie sudah membaik,tadi ia sudah sempat siuman,tapi karena keadaanya masih sangat lemah,kami memberikan nya obat tidur agar dia bisa beristirahat." ia menjelaskan kepada putri Artha.
"Syukurlah kalau begitu." kata putri Artha.
"Maaf yang mulia,saya harus memeriksa keadaan para prajurit yang terluka di barak perawatan para prajurit,apakah anda masih akan tinggal di sini,yang mulia?" tanya nya sopan.
"Ya,aku akan menemani Natalie di sini sebentar lagi kau boleh pergi melakukan tugasmu." jawab putri Artha.
"Baiklah kalau begitu,saya mohon diri dulu yang mulia." kata asisten tabib itu sambil membungkuk dan keluar menuju barak perawatan.
"Fuuu... hampir saja!" gumam putri Artha. Setelah asisten itu pergi,putri Artha mulai memperhatikan ruangan itu dengan teliti,di sebelah ruangan adalah barak perawatan bagi tentara yang berjarak sekitar seratus meter dari ruangan ini, sedangkan ruangan yang di dalam tempat tabib wanita itu tadi adalah ruang obat-obatan .
__ADS_1
Putri Artha mengintip ke arah ruang obat-obatan tersebut.
"Bagus,ruangan nya sedang kosong." ujarnya sambil berjinjit masuk ke dalam ruangan,setelah itu ia langsung mencari wadah untuk menumbuk cookies yang ia bawa di sakunya,lalu ia mulai menyisir bagian obat-obatan dan ramuan untuk mencari cairan yang bisa ia campurkan ke dalam tumbukan cookies yang sudah berupa serbuk itu.
"Blaash..!"
Campuran larutan itu berubah menjadi hijau tua pekat.
"Astaga, racun apa ini?" ujar putri Artha.
"Aku belum pernah melihat warna sepekat ini!" lirihnya.
"Kreek..!"
Pintu kamar perawatan di buka seperti nya tabib tadi telah kembali. Putri Artha segera membuang bahan-bahan yang ia pakai tadi dan segera keluar lewat pintu belakang tanpa di ketahui sang asisten tabib.
Asisten tabib masuk ke ruang perawatan
"Ah, putri Artha sudah kembali ke kamar rupanya." katanya lalu membenahi selimut Natalie yang sedikit terbuka.
"Kau sangat beruntung Natalie,tuan putri sangat perhatian padamu." katanya sambil menatap wajah Natalie yang pucat.
Ia lalu segera masuk ke ruang obat-obatan,ia melihat botol cairan untuk mengetes kandungan racun taxane tergeletak di atas meja.
"Kapan aku meletakkan botol ini di sini?" pikirnya heran.
Putri Artha berjalan tergesa-gesa menuju ke kamarnya,ia sesekali menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang mengikutinya.
"Set...!"
Sebuah tangan menariknya dari balik dinding yang gelap.
"Adrian,apa yang kau lakukan!" ujar putri Artha saat mengetahui siapa empunya tangan tersebut.
"Husss...! kecilkan suara mu,nanti ada yang mendengar!" bisik pangeran Adrian, ia dan putri Artha berada di balik dinding yang gelap saat ini.
"Apa yang kau lakukan selarut ini?" bisik pangeran Adrian.
"Aku pergi melihat Natalie." jawab putri Artha sambil melihat ke sekeliling,ia takut ada yang lewat di sekitar mereka.
Kening pangeran Adrian berkerut,ia tidak percaya kalau putri Artha menyelinap selarut ini hanya untuk melihat Natalie.
"Baiklah!"
Kata putri Artha, seperti nya ia tidak bisa membohongi pangeran Adrian saat ini.
"Lihat ini!"
Putri Artha mengeluarkan sepotong kecil cookies sisa dari yang ia gunakan tadi.
__ADS_1
"Apa ini, cookies?" kata pangeran Adrian tidak paham.
"Natalie memakan cookies ini sebelum ia pingsan, cookies ini ia bawa untuk aku makan tapi aku malah menyuruh nya untuk memakannya, akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri." jelas putri Artha.
"Ck,inilah yang ku takutkan" decak pangeran Adrian.
"Artha, istana ini sudah tak aman lagi untuk mu,ini baru permulaan selanjutnya mereka akan membuatnya lebih berbahaya lagi." jelas pangeran Adrian.
Mata mereka saling bertatapan, putri Artha memalingkan mukanya,ia tahu maksud pangeran Adrian.
"Tapi aku tidak bisa Adrian, keselamatan rakyatku ada di tanganku saat ini begitu pun orang tua ku." ujar putri Artha.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri, Artha? apakah kau harus mengorbankan kebahagiaan mu untuk semua orang?" kata pangeran Ardian dengan tegas.
Putri Artha hanya diam,ia tidak tahu harus berkata apa.
"Lalu bagaimana dengan ku?apakah kau memikirkan perasaanku juga , Artha?" tanyanya dengan suara bergetar.
Putri Artha menatap mata pangeran Adrian,ia melihat kilatan amarah disana.
"Maafkan aku Adrian!" kata putri Artha sambil melangkah pergi.
"Slaap!"
Pangeran Adrian menempel kan sapu tangan yang sudah ia tetesi cairan pembius ke hidung putri Artha.
"Bruuk..!"
Tubuh putri Artha pun ambruk.
"Maafkan aku Artha tapi kau sangat keras kepala,aku terpaksa melakukan hal ini." kata pangeran Adrian sambil memapah tubuh putri Artha lalu ia mengendong tubuh putri Artha yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Pangeran Adrian meletakkan tubuh putri Artha di atas kuda yang sudah ia siapkan, ia pun naik ke kuda itu la memacu kuda itu melaju ke arah barat.
Baru saja beberapa meter mereka melaju,
"Shuut!"
Sebuah panah mengenai tangan kanan pangeran Adrian, membuatnya terjatuh dari kuda.
"Aaaakh,tidak,Arthaaa..!!"
Teriaknya saat kuda miliknya tetap melaju kencang membawa tubuh putri Artha yang tidak sadarkan diri.
"Buugh!!"
Sebuah benda menghantam kepala pangeran Adrian,hingga membuatnya pingsan.
Sementara itu seekor kuda putih bersama penunggangnya terlihat melaju kencang mengejar kuda yang membawa putri Artha tadi.
__ADS_1