My Little Queen

My Little Queen
Bab. 17 Pesta pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba,pagi-pagi sekali semua orang yang ada di istana kerajaan Magna sudah bersiap-siap,para pelayan sudah menyusun kursi - kursi untuk para tamu. Bunga-bunga di rangkai dengan sangat indah di setiap sudut,karpet merah di bentangkan untuk tempat kedua pengantin berjalan menuju altar, di taburi dengan kelopak - kelopak bunga mawar putih nan cantik.


Altar pernikahan tempat kedua pengantin mengikat janji pun telah di hias dengan sangat indah, semuanya terlihat seperti di dalam negeri dongeng.


Putri Artha sedang bersiap-siap, tuan Fabian dan beberapa orang dayang membantunya bersiap.


Gaun pengantin yang indah itu sudah membalut tubuh putri Artha,rambutnya yang berwarna cokelat dikepang dengan sangat cantik,sebuah mahkota bertengger di atas kepalanya,sebagai simbol derajat tinggi sang putri.


"Kreek..!" pintu kamar dibuka.


"Putriku..! kau sangat cantik!", seru permaisuri Anastasia yang baru saja tiba ,ia langsung memeluk tubuh sang putri, melepaskan kerinduan yang selama ini ia pendam.


"Ibunda!",ujar putri Artha sambil membalas pelukan sang ibu dengan hangat.


Sebulir air mata jatuh di pipi permaisuri Anastasia, cepat - cepat ia hapus,ia tak mau sang putri ikut bersedih di hari pernikahan nya ini.


Tuan Fabian memberi kode kepada dayang yang lain untuk meninggalkan ruangan, agar memberi waktu kedua ibu dan anak itu melepaskan rindu mereka.


"Ibunda, apakah Ibunda baik-baik saja?" tanya putri Artha saat melihat sang ibu yang terlihat sedikit lebih kurus.


"Ibu,baik-baik saja sayang." jawabnya sambil tersenyum.


"Bagaimana denganmu,kau terlihat lebih kurus sekarang!",ucap permaisuri Anastasia.


"Aku baik-baik saja ibu,mereka memperlakukan ku dengan baik." jawab putri Artha,ia tidak mau menceritakan semua yang terjadi pada nya selama ia berada di istana kerajaan Magna,karena hal itu hanya akan membuat sang ibu khawatir.


"Putriku,hari ini kau akan menikah. Ibu tidak pernah membayangkan melihatmu menikah di usia semuda ini. Aku tahu ini bukanlah pernikahan yang kau inginkan,tapi ibu harap kau dan pangeran Enzo bisa saling mencintai,menyayangi dan berbahagia selamanya." tutur permaisuri Anastasia sambil menatap mata sang putri,doa yang tulus dari seorang ibu kepada putri nya yang akan segera menikah.


Permaisuri Anastasia menggenggam erat tangan sang putri seiring dengan pelukan seorang ibu yang seakan tidak rela melepaskan anak gadisnya yang akan dipinang seorang pria.


"Eheem,maaf yang mulia. Acara pernikahan akan segera di mulai." ucap Natalie dengan sopan.


"Baiklah, Artha. Acara nya akan segera di mulai,ibu akan menemui mu lagi nanti." ucap permaisuri Anastasia sambil mengecup kening sang anak.


Mereka berpelukan sesaat lalu permaisuri Anastasia segera beranjak keluar menuju tempat diadakannya acara pernikahan.


"Putri Artha sekarang saatnya. Mari kita pergi." kata Natalie sambil memegang tangan sang putri.

__ADS_1


Putri Artha menghembuskan napasnya dengan dengan kuat. Bagaimana pun ini adalah pengalaman pertama baginya, hatinya sangat cemas saat ini, ia berusaha untuk tetap tenang,berjalan dengan anggun seperti yang di ajarkan oleh nona Hings beberapa waktu yang lalu.


Beberapa dayang mengangkat vail nya yang terjuntai panjang, putri Artha menggenggam hand buket bunga myrtle berwarna putih yang melambangkan,cinta, kesuburan dan kepolosan seorang wanita.


Raja Alfredo menunggu di depan pintu untuk mengantarkan sang putri menuju altar pernikahan. Natalie menyerahkan tangan sang putri kepada ayahnya raja Alfredo,dan dayang yang lain melepaskan vail yang mereka angkat tadi, sekarang vail itu terjuntai di lantai.


Raja Alfredo menggenggam tangan sang putri,seutas senyum teduh tersungging di wajahnya. Mereka berjalan berdampingan menyusuri karpet merah yang ditaburi dengan kelopak bunga mawar.


Sementara itu pangeran Enzo sudah menunggu di ujung altar,ia terlihat gagah dengan pakaian kebesaran putra mahkota kerajaan Magna yang berwarna putih dengan aksen emas.


Pangeran Enzo terpesona dengan kecantikan wanita yang segera menjadi istrinya itu, bahkan tanpa ia sadari mulutnya terbuka karenanya.


Para tamu bertepuk tangan saat raja Alfredo menyerahkan tangan sang putri kepada pangeran Enzo,lalu mereka berdua dengan takzim menghadap ke arah pemuka agama,dan janji pernikahan itu pun di ucapkan keduanya dengan lancar.


Saat nya sekarang keduanya melakukan first kiss di depan para tamu, pangeran Enzo maju mendekati putri Artha lalu membuka kerudung (vail) yang menutupi wajah sang putri.


Putri Artha sangat gugup, ia bahkan bisa mendengarkan suara detak jantung nya sendiri,ia menutup matanya saat wajah pangeran Enzo mulai mendekatinya.


"Cup..!", pangeran Enzo mengecup bibir sang putri. Detak jantung putri Artha seakan berhenti berdetak,mukanya merah padam karena malu,ia bergegas menoleh ke arah lain saat membuka matanya.


"Aaaa..!",teriak mereka,hingga membuat kepala pelayan mendelik kan matanya kepada mereka berdua, seketika mereka berdua pun terdiam.


Raut wajah pangeran Enzo tetap terlihat datar, tidak bisa di tebak apa yang ada di pikirannya.


Pesta kembali berlanjut ,sekarang para tamu menikmati hidangan yang telah di sajikan oleh pihak istana.


"Ku ucapkan terima kasih atas kehadiranmu Alfredo!" ujar raja Edward kepada raja Alfredo sambil menjabat tangan sahabat nya itu.


" Artha adalah putri ku , Edward." kata raja Alfredo.


"Ku harap kita bisa melupakan yang pernah terjadi sebelumnya dan kita bisa memulai hubungan yang lebih baik selanjutnya." tambah raja Edward.


"Tentu saja Edward,tentu saja!" tutur raja Alfredo dengan sedikit senyum di wajahnya, bagaimanapun sekarang mereka adalah keluarga. Walaupun hal itu sulit untuk di lupakan tapi mereka punya tanggung jawab untuk memperbaiki hubungan kedua kerajaan.


Putri Artha dan pangeran Enzo duduk berdampingan,menerima ucapan selamat dari para tamu. Walaupun situasi itu terlihat sangat canggung karena mereka berdua tidak saling berbicara satu sama lain.


Permaisuri Anastasia dan permaisuri Elizabeth sedang bercengkrama, permaisuri Anastasia menanyakan keberadaan pangeran Adrian yang tidak terlihat di pesta pernikahan pangeran Enzo dan putri Artha.

__ADS_1


"Adrian sedang menemani pamannya pangeran Edmund di benteng barat,ia sedang dalam kondisi yang kurang baik saat ini." permaisuri Elizabeth memberi alasan.


"Oh, begitu. Ku harap pangeran Edmund akan segera membaik,sudah lama aku tidak berjumpa dengannya." kata permaisuri Anastasia.


"Ku harap juga begitu." ujar permaisuri Elizabeth dengan senyum yang dipaksakan.


Akhirnya waktu perpisahan tiba,raja Alfredo dan permaisuri Anastasia mengucapkan salam perpisahan pada sang putri dan pangeran Enzo.


"Artha,ayah sangat mencintai mu,ayah harap kau akan berbahagia dengan pernikahan mu."ujar raja Alfredo seraya memeluk sang putri Putri Artha memeluk ayahnya sambil mengangguk.


"Dan kau Enzo,ku titipkan putri ku Artha padamu, tolong sayangi ia seperti aku menyayangi nya." kata raja Alfredo sambil menepuk bahu sang menantu.


Pangeran Enzo membalasnya dengan anggukan. Kereta raja Alfredo dan permaisuri Anastasia sudah bergerak meninggalkan istana kerajaan Magna, buliran air mata putri Artha mulai menetes mengiringi kepergian mereka.


Malam ini pesta pernikahan kerajaan telah berakhir,semua dayang mulai kembali membenahi kekacauan yang di sebabkan oleh pesta tadi siang.


Putri Artha duduk termenung di dalam kamar,ia sekarang sudah tidak menepati kamar nya yang lama,tapi ia sudah pindah ke kamar pangeran Enzo yang telah di hias dengan cantik bagi kedua pengantin baru tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan bila pangeran Enzo masuk ke kamar nantinya?" pikir putri Artha cemas.


"Apakah sesuatu yang di ceritakan oleh Jenny kemarin akan benar-benar terjadi? "pikirnya lagi, sekarang sambil mondar-mandir di dalam kamar.


"Ah..!" serunya.


"Aku akan pura-pura tidur saja!" kujarnya sambil langsung masuk ke dalam selimut di atas ranjang.


"Kreek..!" pintu kamar tiba-tiba di buka. Putri Artha pura-pura menutup matanya dengan jantung yang berdegup kencang.


Pangeran Enzo masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekati ranjang tempat putri Artha berada.


Degup an jantung putri Artha semakin kencang.


"Astaga,mengapa ia mendekat kemari." pikirnya sambil tetap tetap pura-pura tertidur.


"Sreet..!" pangeran Enzo menarik selimut yang di kenakan putri Artha.


Seketika putri Artha tersentak sangking terkejutnya.

__ADS_1


__ADS_2