
Keesokan harinya pangeran Enzo dan putri Artha melanjutkan perjalanan mereka ke kerajaan Spania.
"Sampaikan salam ku kepada ayahmu dan permaisuri Elizabeth,mereka tak usah khawatir dengan Adrian,aku yang akan mengurusnya di sini." ujar pangeran Edmund saat melepas keduanya.
Tidak nampak pangeran Adrian saat mengantarkan mereka pergi bersama rombongan itu.
Kereta kuda mulai berderak berjalan menyusuri jalanan setapak menuju kerajaan Spania.
Selama perjalanan putri Artha terlihat sangat bersemangat memperhatikan di setiap sudut tempat yang mereka lewati.
Pertanyaan - pertanyaan yang ia lontarkan kepada pangeran Enzo selalu membuatnya berdecak kagum.
Saat memasuki kota kerajaan Spania matahari sudah terbenam di ufuk barat, meninggalkan jejak kemerahan di langit.
Rombongan mereka di sambut dengan meriah oleh pengawal kerajaan Spania.
"Selamat datang kawan!" ujar putra mahkota kerajaan Spania, pangeran Lorenzo menyambut kedatangan mereka seraya memeluk pangeran Enzo.
"Apa kabarmu Enzo?kau terlihat lebih baik sekarang!" ujarnya sambil menepuk bahu pangeran Enzo.
"Seperti yang kau lihat Lorenzo. Dan terima kasih atas undangannya." ucap pangeran Enzo berbasa-basi.
"Hei,lihat ini! apakah dia istrimu?" seru pangeran Lorenzo sambil melihat ke arah putri Artha yang berdiri di belakang pangeran Enzo.
"Perkenalkan ini Artha, istriku!" kata pangeran Enzo ada rasa menggelitik yang membuatnya tersenyum manis saat ia mengucapkan kata 'istriku'.
Putri Artha membungkuk memberi hormat.
"Tentu saja,aku pernah bertemu dengannya saat aku mengunjungi kerajaan Pulchara." kata pangeran Lorenzo.
"Dan kau pasti kenal dengannya, Artha!" tambah pangeran Lorenzo sembari memperkenalkan seorang wanita cantik di belakangnya yang sedang melambaikan tangannya ke arah putri Artha.
"Josephine!!" seru putri Artha langsung memeluk putri Josephine.
"Sudah lama tidak bertemu sepupu." kata putri Josephine.
Putri Josephine adalah sepupu putri Artha dari pihak ayahnya,usianya hampir sama dengan putri Arabella kakaknya. Dahulu mereka sering bermain bersama namun tahun lalu putri Josephine menikah dengan pangeran Lorenzo dan pindah ke Spania.
"Ah,apa ini!" ujar putri Artha saat merasakan perut putri Josephine yang mulai membesar.
"Kau akan segera mempunyai keponakan, Artha!" kata putri Josephine sambil tersenyum.
"Aaa...!!" teriak mereka berdua kembali berpelukan erat.
__ADS_1
"Ehem, maaf ladies. Acara pesta penyambutan akan segera di mulai,sebaiknya kita segera ke ruang pesta." kata pangeran Lorenzo mengingatkan mereka berdua yang asyik melepas rindu.
Semua pangeran dan putri perwakilan dari beberapa kerajaan tetangga sudah hadir di ruangan pesta.
Pangeran Hamid dan pangeran Hasan dari kerajaan di wilayah selatan yang panas, pangeran Wang dan istrinya putri Yu dari daratan timur, si kembar pangeran Czaren dan putri Czarin dari wilayah Utara yang dingin,serta Pangeran Tristan dan adiknya putri Tania dari kerajaan Tartan, mereka semua sudah terlihat menghadiri pesta tersebut.
"Perhatian semua para tamu ku yang mulia, peserta terakhir kita sudah tiba. Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah pangeran Enzo dan putri Artha dari kerajaan Magna!" seru pangeran Lorenzo sambil bertepuk tangan.
Pangeran Enzo dan putri Artha memasuki ruang pesta dengan iringan tepuk tangan para tamu undangan,mereka mengambil tempat duduk di kursi yang telah disiapkan.
Semua orang hanyut dalam kemeriahan pesta ,para pangeran berbincang satu sama lain begitupun para putri berbincang di sudut yang lainnya.
"Tak ku sangka kau akan menikahi adik Arabella,Enzo!" ujar pangeran Tristan dari kerajaan Tartan dengan wajah sedikit mengejek.
Pangeran Enzo hanya tersenyum kecil,ia tidak mau terpancing oleh perkataan pangeran Tristan.
Pangeran Tristan dahulu pernah menyukai putri Arabella namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena putri Arabella sudah terlebih dahulu di jodohkan dengan pangeran Enzo.
"Ada pepatah yang mengatakan buah yang di petik saat sudah matang dan buah yang di petik saat masih muda tentu berbeda rasanya,buah yang masih muda tentu akan berasa asam dan pahit."
"Bukan begitu, Enzo?" ujarnya seraya menyunggingkan seringai di wajahnya.
"Kena kau Enzo!" pikirnya dalam hati.
"Bukankah buah yang masih muda itu apabila di buat manisan akan bernilai lebih tinggi dari pada buah segar?" ujar pangeran Hamid.
"Kau benar Hamid,buah yang mentah maupun sudah matang nilainya akan bergantung dari cara kita memperlakukannya!" tambah pangeran Wang.
"Ciiih,kalian ini. Apa yang kalian ketahui tentang nilai sesuatu." ujar pangeran Tristan berdecih,ia tidak suka kedua pangeran itu seakan mematahkan perkataannya.
Semua tamu yang hadir di sana sangat tahu sifat pangeran Tristan,ia terkenal dengan sifatnya yang arogan dan kasar. Selalu mau menang sendiri dan berani berbuat apapun demi mendapatkan kemenangan. Hal itulah yang membuat para pangeran yang lain tidak suka dengan nya.
"Ayolah teman,kita di sini untuk berpesta,janganlah kalian membuat suasana malam ini menjadi tidak enak!" ujar pangeran Lorenzo,ia sebagai tuan rumah mulai merasakan hawa perselisihan yang akan merusak suasana pesta malam itu.
Di meja lain para putri juga terlihat sedang berbincang.
"Perutmu sudah terlihat cukup besar, Josephine." ujar putri Artha seraya mengamati perut putri Josephine.
"Iya,kandunganku sudah memasuki pertengahan masa kehamilan. Aku sudah tidak merasakan mual dan muntah seperti saat awal dulu,jadi aku cukup banyak makan saat ini." putri Josephine menjelaskan kehamilannya sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.
"Apakah kau sudah memiliki anak putri Yu?" tanya putri Josephine.
Putri Yu tidak terlalu bisa berbahasa mereka , sehingga ia hanya memberikan tanda dengan mengangkat satu jarinya.
__ADS_1
"Oh,kau sudah punya seorang putra. Pasti ia sangat lucu dan tampan." kata putri Josephine sambil membayangkan anak yang masih dalam kandungannya itu.
"Kau juga Artha, berjuanglah. Kau masih muda tentu saja tidak sulit untuk mu." ujarnya kepada putri Artha.
"Eheem..Apakah pangeran Enzo melakukan nya dengan lembut?"tanyanya sambil tersenyum centil.
"A..apa maksudmu, Josephine?" ujar putri Artha malu.
"Ayolah Artha,jangan pura- pura tidak mengerti."
" Setiap pria itu berbeda,ada yang bermain kasar,ada yang tergesa - gesa seperti suamiku dan ada pula yang lemah lembut saat melakukannya,heh?" katanya lagi sambil tersenyum menggoda diikuti senyuman putri Yu yang paham dengan arah pembicaraan putri Josephine itu.
"Eheem..maaf Josephine,tapi tidak semua putri di sini sudah menikah!" kata putri Tania dengan nada kesal dan wajah yang cemberut.
Yang di maksud oleh putri Tania ialah dirinya dan putri Czarin yang masih berstatus gadis.
Putri Czarin terlihat tidak peduli dengan hal itu tapi dari tadi ia terus memandangi putri Artha.
"Oh,maafkan aku Tania. Aku tidak bermaksud seperti itu." kata putri Josephine.
Hari semakin larut dan pesta pun mulai berakhir, para tamu undangan mulai kembali ke peraduannya masing-masing.
"Artha,ku pikir kakak ku lebih baik dari pangeran Enzo. Apa kau memilihnya karena kerajaan Magna lebih berkuasa dari pada kerajaan Chez?" ujar putri Czarin saat ia berpapasan dengan putri Artha.
Putri Artha terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, sehingga ia bingung harus menjawab bagaimana,tidak mungkin baginya untuk menjelaskan masalah yang terjadi pada kerajaan Pulchara saat itu.
"Sudah ku duga kau tidak bisa menjawabnya!" ujarnya datar dan berlalu dengan angkuhnya.
Pangeran Czaren dan putri Czarin terlahir kembar, mereka memiliki paras yang luar biasa cantik. Kulit yang putih bersih,dengan wajah bak pahatan patung porselen,semua yang ada pada diri mereka terlihat sangat indah dan mempesona.
Tahun lalu mereka berdua dengan ayah mereka raja Chez pernah bertamu ke kerajaan Pulchara, mengingat saat itu putri Arabella sudah di jodohkan dengan pangeran Enzo maka raja Chez berniat mengambil putri kedua kerajaan Pulchara untuk di jadikan menantu nya.
Tapi sayangnya hal tersebut tidak dapat terlaksana,karena tiba-tiba saja putri Artha di nikahkan dengan pangeran Enzo mengantikan kakaknya putri Arabella.
"Artha,apa yang kau pikirkan?" tegur pangeran Enzo membuyarkan lamunan putri Artha.
"Ah,tidak ada. Aku hanya terpesona dengan pesta yang di adakan pangeran Lorenzo dan putri Josephine." elaknya.
"O, begitu kah?!" seru pangeran Enzo.
"Tapi,ini sudah malam. Mari kita kembali ke kamar karena besok kita akan mulai perlombaannya." tambahnya lagi.
Putri Artha pun mengangguk,lalu merek berdua berjalan berdampingan menuju kamar mereka.
__ADS_1