My Little Queen

My Little Queen
Bab 38 Memberikan segalanya.


__ADS_3

Putri Artha mengerjapkan matanya,sinar matahari pagi yang redup di musim gugur menembus tirai jendela kamar.


"Ah, ternyata sudah siang." gumamnya dalam hati. Seperti biasanya putri Artha selalu segera bangkit dan bersiap - siap setelah ia terjaga. Saat ia hendak bangun tiba-tiba ia merasa sangat kedinginan.


"Set..!"


Selimut yang menutupi tubuhnya yang polos langsung melorot, menampakan penampilan yang tidak biasa ia lihat di pagi hari.


"Astaga!!" pekiknya tertahan. Putri Artha segera menarik kembali selimut tadi dan menutupkannya hingga kepala.


Kembali ia memperhatikan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun itu sekali lagi.


"Ternyata semua itu bukan mimpi!" gumamnya dalam hati. Diliriknya pangeran Enzo yang sedang terlelap di sampingnya,terlihat jelas dada bidang lelaki itu yang semalam telah membuatnya melakukan tugasnya sebagai seorang istri untuk pertama kalinya. Putri Artha memicingkan matanya seraya bergumam.


"Kata mu kau kelelahan,tapi mengapa semalam kau bertindak seperti seperti kuda liar!" ujar putri Artha kembali mengingat memori kebersamaan mereka berdua semalam.


Flashback on.


"A.. apakah kau menginginkan nya sekarang? Bu..bukankah kau baru saja pulang, Enzo?" putri Artha sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut. Ia tertunduk dan tak berani menatap bola mata pangeran Enzo yang sangat mendamba itu.


Pangeran Enzo mengangkat dagu putri Artha dengan lembut. Kedua mata mereka akhirnya bertatapan.


"Mengapa kau tidak menatapku, Artha?apa kau malu?" gurau pangeran Enzo sambil tersenyum.


"Ti..tidak,itu..aku..!" putri Artha yang salah tingkah di tatap sedekat itu oleh pangeran Enzo tidak dapat m lanjutan kata - katanya. Namun pangeran Enzo bisa melihat dari rona merah di pipi putri Artha sangat ketara yang menandakan bahwa ia sedang tersipu malu.


" Benarkah?" pangeran Enzo semakin senang menggoda sang putri. Ia semakin mencondongkan wajahnya kearah putri Artha.


"Brush..!"


Rona merah di wajah cantik putri Artha semakin menjadi, mungkin sekarang tidak jauh berbeda dengan warna buah tomat yang matang.


"I..iya,aku mau." kata putri Artha dengan suara pelan.


" Hahaha..! kau sangat lucu bila sedang malu-malu seperti ini." pangeran Enzo tertawa melihat tingkah laku putri Artha yang dianggap nya sangat menggemaskan itu.


Putri Artha hanya terdiam,ia kembali menundukkan wajahnya, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Pangeran Enzo menghentikan tawanya saat melihat putri Artha yang terdiam.

__ADS_1


"Eh, maafkan aku, Artha!" ujarnya.


" Aku tidak akan memaksamu bila kau belum siap." tambah pangeran Enzo,lalu ia segera bangkit dari duduknya. Namun langkahnya terhenti karena tangan putri Artha yang menarik lengan nya.


" Lakukanlah Enzo,aku sudah siap." ucap putri Artha sambil memegang erat lengan pangeran Enzo. Walaupun jantungnya saat ini berdegup sangat kencang,namun tidak bisa ia pungkiri ia juga menginginkan sentuhan dan kehangatan dari sang suami yang diam - diam mulai mencuri hatinya.


Pangeran Enzo menatap mata putri Artha dengan seksama,ia ingin mencari kebenaran dari perkataannya barusan.Setelah yakin dengan semua itu, pangeran Enzo kembali duduk dan menggenggam tangan putri Artha erat.


" Apakah kau yakin , Artha?" tanyanya lagi.


Putri Artha menganggukkan kepalanya seraya berkata.


"Tapi tolong pelan - pelan,ini pertama bagiku!"ujarnya malu-malu.


Pangeran Enzo semakin gemas dibuatnya. Tanpa banyak bicara lagi, pangeran Enzo segera menjalankan aksinya. Apalagi sesuatu di bawah sana sudah menegang dari tadi.


Bibir mereka kembali menyatu,kali ini dengan ritme yang lebih intens,semakin lama semakin panas. Tak hanya sampai di situ pangeran Enzo pun mulai turun ke bagian yang lain dari tubuh putri Artha. Putri Artha yang masih sangat muda itu hanya mengikuti naluri nya yang mendambakan kasih sayang dan belaian dari sang kekasih. Hingga semuanya terjadi dengan indah walaupun banyak rintangan dan hambatan pada awalnya tapi pangeran Enzo akhirnya berhasil menemukan apa yang ia dambakan selama ini.


Flashback off.


Putri Artha masih merasa malu bila mengingat apa yang terjadi semalam antara dirinya dan pangeran Enzo. Segera ia menghilangkan ingatan itu agar ia tidak merasa malu lagi.


" Aww..!"


Teriakan kecil keluar begitu saja dari mulut nya. Setelah menyadari hal itu, putri Artha langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia segera menoleh ke samping saat dirasakannya ada pergerakan dari pangeran Enzo.


Pangeran Enzo menggeliat kan tubuhnya sebelum akhirnya matanya benar-benar terbuka.


" Kau sudah bangun Artha?" ujarnya sambil tersenyum manis. Di perhatikan nya putri Artha yang sedang duduk dengan memegang erat selimutnya hingga menutupi tubuhnya hingga ke leher.


" Hei,ada apa denganmu? mengapa kau memakai selimut seperti itu?" kata pangeran Enzo tanpa rasa bersalah.


Putri Artha terlihat cemberut,dalam hati ia berkata,


" Kalau bukan karena mu semalam tidak mungkin aku harus memakai selimut seperti ini!" katanya dalam hati.


" Aku ingin membersihkan tubuhku." ujar putri Artha sambil kembali beringgsut ke pinggir tempat tidur dan segera bangkit.

__ADS_1


" Aww..!" serunya lagi,saat ia kembali merasakan nyeri pada bagian yang sama.


" Artha,ada apa denganmu? apakah sangat sakit?aku akan mengendong mu ke kamar mandi" kata pangeran Enzo segera bangkit dari tempat tidur nya. Namun sayangnya ia lupa kalau dia juga tidak memakai apa-apa saat ini dan saat selimutnya melorot ke bawah putri Artha bisa melihat tubuh pangeran Enzo yang polos tanpa sehelai benang pun.


"Aaaa..tidak!" teriak putri Artha sambil menutup matanya.


" Segera kenakan sesuatu Enzo! " seru putri Artha sambil tetap menutup matanya.


" Artha mengapa kau menutup matamu, bukankah semalam kau sudah melihat semuanya?" kata pangeran Enzo sambil tersenyum lucu, entah mengapa pangeran Enzo yang biasanya sangat dingin dan tertutup itu sekarang sangat suka menggoda putri Artha. Baginya hal itu sangatlah menyenangkan.


" Enzo jangan coba mendekat,aku akan mengigit mu kalau kau datang kemari!" ancamannya.


" Baiklah kau boleh mengigit ku sekarang!" seru pangeran Enzo yang sudah berada di depan putri Artha.


Putri Artha pun memicingkan sebelah matanya,saat ia melihat pangeran Enzo yang sedang bertolak pinggang didepannya mata putri Artha tertuju ke arah bawah dan putri Artha merasa lega saat dilihatnya pangeran Enzo sudah mengenakan celana tidurnya.


" Apa kau mengharapkan aku tidak memakainya?" goda pangeran Enzo sambil tersenyum manis.


" Kau ini!" seru putri Artha kesal.


" Menyingkirkan sedikit aku mau ke kamar mandi."ujar putri Artha sambil kembali berusaha berjalan walaupun masih sedikit terasa pedih di bawah sana.


"Set ...!"


Pangeran Enzo mengangkat tubuh putri Artha dalam gendongannya.


" Eh,Enzo turunkan aku! aku bisa berjalan sendiri." ujar putri Artha.


" Aku akan mengendong mu sampai ke kamar mandi,jadi jangan kau banyak bergerak!" kata pangeran Enzo sambil segera berjalan menuju kamar mandi. Putri Artha hanya diam tak bisa menjawab lagi.


" Apa kau ingin aku bantu untuk menggosok punggung mu , Artha?" goda pangeran Enzo.


" Tidak,aku tidak mau! nanti kau berulah seperti tadi malam lagi." kata putri Artha dengan wajah merona.


" Apakah kau tidak mau mengulanginya lagi , Artha?" pangeran Enzo segera berhenti saat mereka sudah sampai di depan kamar mandi.


"Bu.. bukan begitu maksud ku. Tapi jangan sekarang,aku masih sakit!" tegasnya sambil tersipu.

__ADS_1


" Baiklah,aku akan membebaskan mu hari ini. Tapi jangan harap nanti aku akan melepaskan mu lagi!" ujarnya sambil menurunkan putri Artha.


__ADS_2