My Little Queen

My Little Queen
Bab.42 Kembali ke istana


__ADS_3

Set..!"


Xana membuka matanya kembali saat ia merasakan ada sebuah benda tajam dan dingin menempel di lehernya.


" Mau lari kemana kau!" seru seseorang yang tiba-tiba saja sudah berada di depan Xana dan menghunuskan pedang di lehernya.


Xana hanya bisa terdiam,ia sungguh tidak menyangka ada prajurit Magna yang bisa mengejarnya sampai ke sini. Karena dengan jelas tadi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa para prajurit itu tidak ada yang menyadari kepergiannya.


Xana tidak bisa melihat wajah orang yang telah menangkapnya itu karena posisinya sekarang sedang duduk sedangkan orang tersebut berdiri di hadapannya. Tapi dari suaranya sepertinya orang ini bukanlah Robie ataupun para pengawal yang pernah menangkapnya waktu itu.


"Berdiri!!"


Perintah lelaki itu kepada Xana sambil masih menempelkan pedangnya di leher Xana. Berlahan Xana mulai berdiri, lehernya terasa mulai sakit karena goresan dari pedang lelaki itu.


"Set..!"


"Brugh..!"


Lelaki itu mendorong Xana ke arah batang pohon oak di belakangnya, sehingga sekarang punggungnya sudah menempel pada batang pohon besar itu. Xana meringis menahan rasa sakit di punggung dan lehernya.


Xana menatap wajah lelaki tampan di depannya, sepertinya ia cukup familiar dengan wajah lelaki itu,tapi ia tidak ingat di mana ia pernah melihatnya.


" Apakah kau terkejut?" ucap lelaki itu sambil menyeringai jahat dan menatap tajam ke arah Xana.


Xana pun tak mau kalah dengan lelaki itu,ia membalas tatapan lelaki itu tak kalah tajamnya.


"O,kau cukup pemberani rupanya!tapi coba kita lihat,apakah matamu akan tetap berani menatap ku seperti itu bila kepalamu sudah dipenggal dengan pedangku ini." ujarnya sambil menekan pedangnya ke leher Xana, sehingga darah mulai mengalir dari goresan luka yang di timbulkan oleh pedang itu.


Xana memejamkan matanya dia berpikir mungkin inilah akhir dari hidupnya.


" Set..!"


Lelaki itu menarik kembali pedangnya dari leher Xana.


" Hahaha..kau takut rupanya!" ucap lelaki itu sambil tertawa mengejek.


" Tapi sayangnya kalau aku menghabisi mu saat ini, Artha tidak akan bisa menyaksikan orang yang telah mencoba untuk membunuhnya mati menggelepar di hadapannya." tambah lelaki itu sambil menyeringai.

__ADS_1


Kali ini Ia telah mengikat tangan dan kaki Xana sehingga tubuh Xana sudah terguling di atas tanah. Lelaki itu mendorong tubuh Xana di tanah dengan kakinya hingga beberapa kali muka Xana harus berbenturan dengan tanah dan batu. Sesampainya di dekat seekor kuda berwarna keemasan,lelaki itu lalu mengangkat tubuh Xana ke atas punggung kudanya dengan kasar.


" Bunuh saja aku sekarang!!" seru Xana pada lelaki itu,Xana merasa sangat terhina dengan apa yang di perbuat lelaki itu padanya. Wajahnya sudah penuh dengan memar dan luka itu masih terlihat angkuh di hadapan sang lelaki.


"Hahaha..lucu sekali. Sudah hampir mati tapi kau masih saja terlihat angkuh!" ucap lelaki itu.


" Cuiih....!" Xana meludah ke arah lelaki itu,tapi percuma saja lelaki itu dapat menghindari nya, malahan sekarang mulut nya sudah di sumpal dengan kain oleh lelaki tadi.


Xana dapat merasakan goncangan yang sangat kuat setiap kuda yang membawanya beserta lelaki itu melaju kencang tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa saat ini.


Sementara itu di kamar kerja pangeran Enzo.


"Braakk..!"


Pangeran Enzo memukul meja kerjanya dengan geram saat ia mendapatkan kabar bahwa tawanan yang telah melukai putri Artha kabur.


" Apa yang para prajurit itu lakukan hingga tidak bisa menjaga seorang tawanan saja,hah?" teriaknya marah.


Robie yang menyampaikan berita itu, sangat terkejut dengan amarah sang pangeran. Selama menjadi pengawal pribadi pangeran Enzo, Robie sangat jarang melihat sang pangeran marah,bahkan ini pertama kalinya ia melihat kemarahan sang pangeran yang begitu meledak - ledak.


"Maaf yang mulia,aku akan meminta penjagaan khusus di sekitar istana timur tempat putri dan pangeran tinggal." kata Robie berusaha untuk meredakan kemarahan dan kekhawatiran pangeran Enzo yang berlebihan itu.


"Ya,kau benar Robie! perintahkan sebanyak mungkin prajurit kerajaan untuk berjaga di sana. Dan pastikan tidak ada satu bagian pun yang terlewatkan!" ujarnya dengan tegas.


"Baiklah yang mulia!" jawab Robie sambil membungkuk.


"Tok..!"


"Tok..!"


"Yang mulia, pangeran Adrian datang ke istana timur dengan tawanan yang kabur itu!" seru seorang pengawal dari balik luar ruangan,ia terdengar sangat cemas dan tergesa - gesa.


Pangeran Enzo dan Robie segera bergegas menemui pengawal tersebut.


"Apa katamu tadi pengawal?" ujar pangeran Enzo ingin memastikan ucapan pengawal itu.


"Pangeran Adrian pergi menuju istana timur sambil membawa tahanan yang kabur itu yang mulia!" ujarnya sambil membungkuk.

__ADS_1


"Sial..!"


ucap pangeran Enzo dengan kesal,ia segera berlari ke arah kamar putri Artha dengan perasaan khawatir diikuti oleh Robie yang mengekor di belakangnya.


Sedangkan saat ini pangeran Adrian sudah berada di depan kamar putri Artha sambil membawa Xana yang sudah terikat kaki dan tangan nya. Para pengawal berusaha untuk menghalangi jalan pangeran Adrian namun pangeran Adrian bersikeras dan memaksa untuk masuk ke kamar tersebut.


"Maaf kan kami pangeran Adrian,tapi tidak ada yang boleh masuk ke kamar putri Artha tanpa ijin pangeran Enzo, yang mulia!" seru pengawal itu sambil menghalangi jalan pangeran Adrian.


"Hei! jaga ucapan mu! apa kau tidak tahu siapa aku,hah?" seru pangeran Adrian sambil terus memaksa masuk ke dalam.


"Tapi pangeran Adrian..!" seru pengawal itu,sambil terus mengalangi jalan pangeran Adrian.


"Artha..!"


"Apakah kau dengar,aku Adrian,ada yang harus aku beritahu kan pada mu!" teriaknya.


"Ada apa ribut-ribut di luar sana Natalie?" kata putri Artha saat mendengar kegaduhan di luar kamar nya. Natalie segera bergegas ke arah pintu dan memeriksanya keadaan di luar dari balik pintu. Matanya terbelalak saat ia melihat pangeran Adrian sudah berdiri di sana sambil membawa seseorang yang ia ketahui sebagai orang yang pernah hampir mencelakai putri Artha.


"Astaga,apa yang terjadi!mengapa pangeran Adrian membawa gadis itu kemari?" serunya sambil memegang dadanya.


"Ada apa Natalie?apa ada sesuatu?" tanya putri Artha saat melihat sang dayang yang terlihat cemas setelah melihat keadaan di luar kamar. Natalie segera mendekati putri Artha dengan khawatir.


"Bagaimana ini yang mulia? pangeran Adrian sedang berdiri di depan kamar dengan gadis yang telah mencelakai anda yang mulia!" ucap Natalie dengan wajah takut.


"Adrian?mengapa ia tiba-tiba membawa gadis itu kesini?" gumam putri Artha bingung.


"Artha!aku tahu kau mendengar ku,ijinkan aku masuk,aku tidak akan lama, percayalah!" seru pangeran Adrian lagi memohon agar putri Artha mengijinkan nya masuk menemuinya.


Natalie terlihat bingung dan khawatir,ia mondar-mandir sambil mengigit kukunya.


"Natalie hentikan,kau membuatku pusing!" seru putri Artha pada Natalie. Akhirnya Natalie pun berhenti mondar-mandir dan kembali ke sisi putri Artha.


"Ijinkan Adrian masuk ke sini!" seru putri Artha dengan tegas.


"A..apa yang mulia?apakah anda tidak salah?ada gadis itu bersama pangeran Adrian,yang mulia!" ujar Natalie mengingatkan.


"Ya,aku tahu Natalie. Ijinkan mereka berdua masuk!" perintah nya.

__ADS_1


__ADS_2