My Little Queen

My Little Queen
Bab.40 Dia Seorang Gadis


__ADS_3

Nyonya tua Gruble segera melangkah ke bagian belakang rumahnya yang reot,ia membuka pintu ruang penyimpanan yang terletak di atas dapur yang berukuran kecil itu.


"Turunlah mereka sudah pergi!" seru nyonya Gruble sambil meletakan tangga kayu di depannya.


Seorang wanita berubuh kurus dan lemah turun lebih dahulu dari atas tangga dia segera memeluk tubuh nyonya Gruble setibanya di bawah.


"Ibu,aku sangat takut!"ujarnya sambil menangis di pelukan sang ibu.


"Ayo aku antar kau ke kamar mu Emma."ujar nyonya Gruble sambil menatap tajam dengan ekor matanya pada seseorang yang baru saja turun dari ruang penyimpanan.


Seorang gadis muda terlihat memakai pakaian seperti seorang lelaki,mengunakan tutup kepala dari kain yang dililitkan di bagian kepalanya mengintip sejenak ke balik jendela. Saat di lihat nya para prajurit Magna itu sudah pergi ia segera menyusul nyonya Gruble dan Emma ke dalam kamar.


"Apa lagi mau mu nona?aku sudah mengusir mereka dan kau bisa pergi sekarang,jangan kau ganggu kami lagi!" ujarnya dengan suara gemetar. Bagaimana tidak, beberapa saat yang lalu wanita muda ini tiba-tiba menerobos ke dalam rumahnya dan segera meletakan pisau di leher sang anak dan mengancamnya akan membunuh mereka bila ia memberitahukan keberadaan nya di rumah itu.


"Tentu saja aku akan segera pergi nyonya, terimakasih atas bantuannya." ujar gadis itu dengan seringai di wajahnya sambil berlalu.


"Hei.. kau, sebaiknya kau berhenti menjadi orang jahat dan bertobatlah. Aku yakin kau sebenarnya orang yang baik!" seru Emma kepada gadis muda itu.


Gadis muda itu berhenti sejenak,lalu tanpa menoleh ke belakang ia berkata.


"Terima kasih nasihatnya,tapi itu tidak akan merubah apapun!"ujarnya sinis sambil segera keluar dari pintu belakang dan berlari menyusuri jalan setapak ke arah lain dari rumah tersebut.


Baru saja beberapa langkah ia keluar dari rumah itu, tiba-tiba saja beberapa prajurit sudah menghalaunya dan mengelilingi nya .


"Kau tidak bisa lari lagi sekarang!" seru Robie seraya mengayunkan pedangnya kearah gadis itu. Dengan cekatan gadis itu segera mengelak dan mengeluarkan pedangnya , serangan Robie pun dapat di tangkisnya.


Para prajurit yang lain tidak tinggal diam mereka pun ikut membantu menyerang gadis itu dengan senjata mereka. Gadis itupun masih bisa melayani para prajurit itu seorang diri.


"Lumayan juga kau rupanya!" sindir Robie yang kali ini mengeluarkan panahnya dan membidik gadis tersebut yang sedang lengah karena meladeni perlawanan dari para prajurit kerajaan Magna yang lain.


"Shuut ...!" anak panah menancap di kaki kiri gadis tersebut.


"Aaagh...!" gadis itu terlihat kesakitan. Di lihatnya kakinya yang sudah berdarah itu.

__ADS_1


"Sial..!" pikirannya,ia segera berlari menjauh dari pertandingan yang sudah tidak sepadan itu.


Robie dan beberapa prajurit yang tidak terluka oleh sabetan pedang gadis tadi tanpa pikir panjang segera mengejarnya.


"Ia tidak akan bisa berlari jauh,ato kita mengepungnya dari sisi yang berlawanan!" seru Robie pada para rekannya yang lain.


Para prajurit itupun menyebar untuk mempersempit wilayah yang dapat di lalui oleh gadis tadi.


"Sial..!" ujar gadis itu saat ia melihat para prajurit itu sudah mengepungnya, sialnya lagi jalan yang ia lewati kali ini ternyata jalan buntu.


"Kali ini kau benar-benar tidak bisa kemana-mana lagi!" seru Robie sambil tersenyum sinis, Robie mengeluarkan pedangnya seraya menghunuskan nya kearah leher sang gadis.


"Set..!" gadis itu mengeluarkan sebilah pisau kecil dan hendak menghunuskannya ke arah dadanya sendiri.


"Lebih baik aku mati dari pada tertangkap oleh prajurit Magna!" ujarnya seraya menghunuskan pisaunya.


"Praang..!


Belum sempat pisau itu mengenai dadanya, Robie telah terlebih dahulu memukul tangan gadis itu dengan pedangnya,sehingga pisau itu pun terlepas dari tangannya. Lalu Robie pun segera menangkap tangan gadis tersebut agar ia tidak bertingkah yang membahayakan lagi. Karena takut gadis itu akan lari tanpa sengaja Robie memeluk gadis itu di bagian dadanya.


"Astaga,kau seorang gadis!" teriak Robie keras.


Teriakan Robie membuat prajurit yang lain ikut menoleh dan semuanya terkejut dan segera menatap gadis yang tadinya mereka kira adalah seorang pri tersebut.


"Astaga..!" ujar beberapa dari prajurit itu. Mereka tidak mengira orang yang sangat pandai berkelahi dan melawan mereka seorang diri tadi adalah seorang gadis.


"Set..!"


Robie segera mengikatkan tali ke kedua tangan gadis itu


"Tapi walau bagaimanapun ia tetaplah seorang penjahat!" serunya sambil menarik tangan gadis itu untuk segera menghadapi hukum nya di istana Magna.


Di istana kerajaan Magna berita tentang seseorang yang mencoba mencelakai putri Artha dengan panah sudah menyebar luas. Raja dan permaisuri segera mengunjungi menantu kesayangan mereka itu,bahkan raja Edward memerintahkan untuk para prajurit menjaga istana tempat putri dan pangeran Enzo berada duapuluh empat jam tanpa henti untuk menjamin keselamatan sang putri.

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain di kediaman perdana menteri Markus.


"Praang...!"


Sebuah gelas di lemparkan kedinding oleh perdana menteri Markus. Di hadapannya sang anak, Martha terlihat terdiam ketakutan melihat sang ayah yang terlihat sangat marah.


"Martha,sudah berapa kali aku ingatkan agar kau tidak ikut campur dalam masalah ini." ujarnya dengan suara berat karena amarah yang di tahan. Giginya gemetak, tangannya terkepal.


"Aku..aku tidak suka melihat putri jelek itu berdekatan dengan Enzo, ayah!" seru Martha bergetar.


"Plaak..!"


Sebuah tamparan mendarat di pipi Martha,membuat Martha meringis dan menangis terisak.


"Sakit ayah!hik..!" tangisnya.


"Enzo, Enzo selalu Enzo yang ada di otakmu!" terik perdana menteri Markus.


"Bukankah sudah aku bilang lupakan Enzo,aku akan tetap menjadikanmu permaisuri kerajaan Magna dengan atau tanpa Enzo sebagai rajanya,tidakkah kau mengerti Martha....!" teriaknya lagi, matanya terlihat memerah, napasnya naik turun karena amarah yang membuncah.


Perdana menteri Markus sangat marah saat tau bahwa sang anak menyuruh seseorang untuk membunuh putri Artha saat parade perayaan. Dan yang lebih membuatnya lebih marah lagi ialah berita tertangkapnya orang suruhan martah tersebut.


"Ricard!" teriak Perdana menteri Markus pada pengawal pribadi nya.


Richard yang ada di balik pintu segera menemui sang majikan.


" Pastikan Martha tidak keluar rumah sampai masalah ini benar-benar selesai,atau aku akan membunuhmu!" perintahnya pada sang pengawal yang diikuti anggukan kepala oleh Richard.


Perdana menteri Markus segera bangkit dan berlalu dari ruangan itu meninggalkan Martha yang masih terisak.


" Mari nona Marta." seru Richard pada Marta.


" Aku tidak mau!lepaskan aku!" teriak Martha sambil memberontak dari pegangan Richard. Namun apa daya tenaga Richard lebih besar dan berhasil menariknya ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ayah.. aku ingin keluar,aku ingin bertemu Enzo, ayaah keluarkan aku..!!" teriak Martha dari dalam kamarnya yang terkunci.


__ADS_2