
"Yang mulia raja Edward, saya Darensky dan jendral Theodore di utus yang mulia raja Alfredo untuk menyampaikan pesan." tutur yg tuan Darensky sambil memberi hormat.
"Silahkan kau bacakan !" tegas raja Edward.
Tuan Darensky membuka gulungan surat yang dia bawa dan mulai membacanya,
"Yang mulia raja Edward dan segenap rakyat kerajaan Magna, banyak hal tak terduga yang terjadi di kerajaan Pulchara akhir - akhir ini. Menghilangnya putri mahkota kerajaan Pulchara yang tiba-tiba,membuat rasa sedih yang mendalam bagi kami semua rakyat Pulchara. Kejadian itu bukanlah sesuatu yang kita semua harapkan, namun bukan pula menjadi akhir perjanjian perjodohan kedua kerajaan yang sudah kita tetapkan sejak lama."
"Bila kita mencermati kembali surat perjanjian tersebut, kerajaan Magna dan kerajaan Pulchara bukanlah menjodohkan pangeran Enzo dan putri Arabella,akan tetapi..."tuan Darensky menarik napas panjang dan mulai menekankan kata- kata yang di ucapannya .
".... kerajaan Magna dan kerajaan Pulchara menjodohkan putra mahkota kerajaan Magna dan putri mahkota kerajaan Pulchara." raja Edward terlihat serius mendengarkan tuan Darensky sedangkan di sisi lain perdana menteri Markus terlihat mengernyitkan dahinya.
"Yang mulia, dikarenakan putri mahkota kerajaan Pulchara terdahulu telah menghilang,maka kami dari kerajaan Pulchara telah mengangkat putri mahkota kerajaan Pulchara yang baru ,yaitu putri mahkota Artha Frederick Pulchara. Maka dari itu kami harapkan perjodohan dan pernikahan keduanya yang akan di laksanakan sebentar lagi akan tetap berlangsung,tertanda Raja Pulchara Alfredo Frederick Pulchara."
Mata pangeran Adrian terbelalak tak percaya mendengar hal itu,dia tidak mempercayai apa yang baru dia dengar.
"Tidak bisa begitu!!" perdana menteri Markus berkata dengan lantang.
"Mohon maaf yang mulia raja Edward." katanya. Raja Edward mempersilahkan perdana menteri Markus untuk melanjutkan.
"Perjodohan ini adalah sesuatu yang sakral,tidak bisa semudah itu menukar calon permaisuri bagi putra mahkota Enzo yang kelak akan memimpin kerajaan Magna dengan seseorang yang tidak kami ketahui keadaan dan kemampuannya." tutur nya lantang.
"Selain itu apakah kalian yakin bahwa putri Artha tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan putri Arabella?" serangannya sambil tersenyum mengejek.
"Maaf yang mulia raja Edward,kami bukanlah hendak menukar calon pengantin pangeran Enzo dengan seseorang yang asing,kami bisa memastikan bahwa putri mahkota kami yang sekarang adalah seorang putri yang dibesarkan dengan kasih sayang dan cinta serta perhatian yang sama dengan putri Arabella."
ucap tuan Darensky.
"Kami pun akan menjanjikan bahwa putri mahkota Artha tidak akan menghilang atau pun menghindari pernikahan yang akan dilaksanakan." tuan Darensky menatap semua yang ada disana dengan mata yang mantap.
Semua orang mulai berbisik-bisik dan berbagai pendapat di antara mereka mulai mereka ungkapkan.
__ADS_1
Setelah perdebatan yang alot ,antara pihak kerajaan Magna dan kerajaan Pulchara, akhirnya raja Edward buka suara.
"Saat ini kita hendak mendapatkan keputusan yang bertujuan untuk kepentingan serta kebaikan kedua kerajaan." tuturnya.
"Akan tetapi pernikahan yang terjadi nanti akan dijalani oleh pangeran Enzo sendiri." raja Edward menoleh pada sang putra.
"Anakku Enzo, bagaimana menurut mu? apakah kau bersedia untuk menikahi putri Artha?" tanyanya sambil menatap lurus sang putra.
Pangeran Adrian terlihat sangat gelisah,kedua tangannya mulai berkeringat.
"Ayolah kakak,kau tidak mungkin menerima perjodohan ini." ujarnya dalam hati.
Semua mata tertuju pada sang putra mahkota.Mereka penasaran dengan keputusan yang akan diambil oleh nya.
"Aku bersedia!" ujarnya mantap.
Tuan Darensky dan jendral Theodore tersenyum bahagia mendengar keputusan sang pangeran.Di sisi lain perdana menteri Markus dan sebagian anggota dewan kerajaan mencabikkan bibir mereka karena kesal akan keputusan itu.
"Tapi dengan syarat,putri Artha harus mulai tinggal di istana kerajaan Magna besok sambil menunggu hari pernikahan kami,agar tidak terjadi lagi hal yang tidak kita inginkan." tambahnya lagi.
Raja Edward bangkit dari duduknya dan segera memeluk sang putra.
"Aku bangga padamu,kau sangat bijak dengan keputusan ini." bisik nya bangga.
Pangeran Adrian seperti merasa puluhan ton batu di lemparkan kearahnya ia merasa dunia seakan runtuh di atas kepalanya.
"Aaaakh.....!!" pekik pangeran Adrian di kamarnya. Dia membanting dan menendang semua yang ada di dekatnya.
"Enzo,mengapa..mengapa?" erang nya dengan kedua tangan memegang kepalanya yang terasa mau pecah.
"Mengapa kau harus setuju dengan keputusan konyol itu!" geramnya lagi dengan mata yang mulai memerah.
__ADS_1
"Dia milikku,dia milikkuuu...!!" teriaknya.
Sementara itu di kerajaan Pulchara, tuan Darensky dan jendral Theodore telah menyampaikan keputusan yang diambil oleh pangeran Enzo.
"Baiklah,aku akan bicara dengan putri Artha." ujarnya .
Semua dayang istana mulai sibuk mempersiapkan semua keperluan putri Artha, pakaian,perhiasan dan keperluan lainnya mulai diatur dan disusun dengan rapi.
Sedangkan di kamarnya, putri Artha sedang bersama kedua orang tua nya.
"Artha putri ku,memang ini akan berat bagimu." tutur raja Alfredo sambil menghembuskan napas panjang dia melanjutkan perkataannya.
"Tapi ayah yakin kau pasti sanggup melewati ini semua, keberlangsungan kerajaan Pulchara saat ini bergantung pada mu." matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
Raja Alfredo merasa sangat bersalah,dia seakan menjadikan putri nya yang masih muda belia sebagai tameng bagi keberlangsungan kehidupan rakyat kerajaan Pulchara.
"Aku mengerti,ayahanda." ujar putri Artha sambil terisak .
Keesokan harinya putri Artha telah bersiap berangkat ke kerajaan Magna dengan kereta kencana.
Dia hanya akan di kawal beberapa prajurit tanpa di dampingi seorang dayang pun.
"Apakah kau sudah siap putri ku?" raja Alfredo menggenggam tangan sang putri.
Air mata mulai mengalir di pipi permaisuri Anastasia.
"Hiks.. putri ku yang malang.", isak nya sambil memeluk erat tubuh sang putri.
"Ya,ayahanda." jawabnya sambil menghapus setetes air mata yang masih mengalir di sudut matanya.
Putri Artha menaiki kereta kencana diikuti tangisan para dayang dan pelayan istana serta sang ibu yang yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Tatapannya lurus ke depan, tidak sekalipun dia menoleh ke belakang,ia takut perasaannya akan berubah bila dia memandang wajah sedih sang ibu.
"Semuanya akan segera dimulai!" tuturnya getir.