
Putri Artha mengerjabkan matanya,kepalanya masih terasa berdenyut.
"Aww...kepalaku!" katanya sambil memegang kepala.
Putri Artha melihat ke sekeliling,ruangan ini tidak terlihat asing.
"Ah,aku ada di kamarku."gumamnya.
Lalu ia mencoba mengingat kejadian semalam. Semuanya masih terlihat jelas, saat ia menyelinap ke dalam ruang perawatan hingga saat ia bertemu dengan pangeran Adrian.
"Adrian!" serunya seraya bangun dari tidurnya.
"Aww..kepalaku!" katanya lagi sambil kembali memegang kepalanya yang masih berdenyut.
"Bukankah semalam Adrian membekap ku dengan sesuatu?" pikirnya.
"Saputangan!!. Ya ia membekap ku dengan saputangan yang sudah di beri obat bius,aku masih ingat aroma obat itu!", gumamnya sambil memegang hidungnya seraya mencoba mencari aroma obat bius yang tersisa.
Putri Artha tidak habis pikir mengapa pangeran Adrian senekat itu. Tentu saja ia dan pangeran Adrian berteman sejak lama dan ia bersyukur bila pangeran Adrian peduli akan keselamatan nya. Tapi,apakah perlu seperti itu? bukankah ia sudah menolak dengan tegas untuk pergi.Pikiran-pikiran itu berlalu lalang di otaknya.
"Mmm..lalu bagaimana aku bisa kembali ke kamar ku? tidak mungkin Adrian yang mengantarkan aku kembali kesini,bukankah ia bermaksud membawa aku ke luar istana semalam." pikirnya lagi.
"Apakah semuanya hanya mimpi? ah, tidak mungkin." ia masih bergelut dengan pikiran nya sendiri.
Saat hendak bangkit putri Artha tidak sengaja menginjak ujung jubahnya.
"Buugh!!" Putri Artha terjatuh ke lantai.
"Aww.. sakit!" erangnya.
"Jubah ini! aku memakai jubah ini semalam, berarti apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi!" serunya sambil berdiri.
Putri Artha hendak keluar kamar,saat pintu kamar dibuka seseorang.
"Putri Artha, permaisuri Elizabeth ingin menemui anda." ujar seorang dayang sambil membungkuk.
Permaisuri Elizabeth masuk ke kamar putri Artha di ikuti beberapa dayang istana.
"Selamat pagi putri Artha,apakah tidurmu nyenyak?" permaisuri Elizabeth lalu duduk di kursi.
"Selamat pagi yang mulia,saya tidur dengan sangat pulas ,yang mulia permaisuri. " jawab putri Artha sambil membungkuk memberi hormat.
"Maafkan keadaan saya masih berantakan." ujar putri Artha sambil berdiri menghadap permaisuri Elizabeth.
"Tidak usah sungkan,aku yang seharusnya minta maaf,karena terlalu pagi membangunkan mu, duduklah!" ujar permaisuri Elizabeth.
__ADS_1
Putri Artha lalu duduk di kursi sebelah permaisuri Elizabeth.
"Aku meminta maaf atas kejadian yang terjadi pada dayangmu kemarin,ku harap kejadian itu tidak akan terulang lagi." tutur permaisuri Elizabeth.
"Mulai hari ini akan ada seorang dayang yang akan bertugas untuk mencicipi makanan mu,jadi kau tidak usah khawatir lagi." tambahnya.
Dua orang datang maju dan membungkuk, seorang dayang membawa nampan yang berisi sarapan untuk putri Artha sedangkan yang satunya lagi sepertinya adalah dayang yang bertugas untuk mencicipi makanan.
"O,ya,aku hampir lupa,hari ini nona Hings akan mengajarimu kelas etiket.Dia akan datang nanti siang." kata permaisuri Elizabeth.
"Baiklah,aku akan kembali. Silahkan kau bersiap-siap ,putri Artha." ucap permaisuri Elizabeth sambil berdiri.
"Terimakasih,yang mulia. Aku akan menikmati sarapan nya." putri Artha membungkuk kepada permaisuri Elizabeth.
Permaisuri Elizabeth mengangguk dan berlalu di ikuti dayang pribadi nya.
Putri Artha sudah selesai bersiap-siap dan sedang menikmati sarapannya.
"Aku sudah selesai sarapan,silahkan kalian membereskannya." seru putri Artha,para dayang pun membereskan sarapan putri Artha dan bergegas pergi.
Saat tengah hari Nona Hings datang ke istana. Hari ini putri Artha akan belajar cara berjalan dengan anggun dan sempurna serta etika lainnya untuk pesta pernikahan kerajaan nya nanti.
Meskipun putri Artha juga belajar etiket saat dia masih muda di kerajaan Pulchara, tetapi ia tidak terlalu suka dengan hal itu,karena baginya pelajaran etiket tidaklah cocok bagi gadis yang berjiwa bebas seperti nya. Ia sering kali merasa punggung nya menjadi tegang dan kaku saat belajar berjalan ataupun duduk dengan kepala serta bahu yang tegak sempurna.
Padahal itu cuma alasannya saja, sebenarnya putri Artha punya maksud lain,ia ingin mencari buku mengenai tumbuhan racun,karena ia masih penasaran dengan racun yang di gunakan untuk cookies beracun tempo hari.
"Baiklah yang mulia,kita akan mulai pelajaran kita hari ini." nona Hings terlihat seperti seorang guru yang sangat menyebalkan. Sepertinya ia jarang sekali tersenyum manis,ia selalu berjalan dan duduk dengan punggung dan kepala yang tegak sempurna.
Putri Artha mulai berjalan dengan beberapa buku yang di letakan di atas kepala,hal itu akan membantunya untuk bisa berjalan tegak sempurna.
"Buugh!!" sebuah buku jatuh dari atas kepala putri Artha,nona Hings langsung menatap tajam ke arah putri Artha.
"Sepertinya anda masih perlu banyak belajar tuan putri." ujarnya seraya mengambil kembali buku yang terjatuh tersebutdengan ekspresi datar.
"Mungkin buku itu terlalu tipis ,nona Hings." ujar putri Artha.
"Sepertinya,buku yang berwana hijau tua di rak paling atas itu lebih tebal dan kuat." tambah nya,sambil menatap ke arah sebuah buku bersampul hijau tua di atas rak.
Nona Hings memikirkan hal itu seraya melihat buku yang di maksud oleh sang putri.
"Baiklah,kalian coba ambil buku itu!" perintah nya kepada para asisten .
Para asisten menarik tangga di ujung ruangan yang sengaja di sediakan perpustakaan untuk mengambil buku yang ada di rak bagian atas.
"Ini bukunya nona Hings."ujar seorang asisten menyerahkan buku bersampul hijau tua itu.
__ADS_1
"Mari kita mulai lagi,tuan putri!",kata nona Hings kepada sang putri .
Putri Artha berjalan kembali ke posisi awal,lalu nona Hings meletakan buku yang cukup tebal itu ke atas kepala putri Artha.
"Astaga. Ternyata buku ini cukup berat!" gumam putri Artha dalam hati,ia sekuat tenaga menahan beban yang ada di atas kepala nya.
"Tapi apa boleh buat,aku membutuhkan buku ini!" gumamnya sambil terus berjalan anggun.
Setelah beberapa lama akhirnya putri Artha menyelesaikan pembelajaran etika nya hari ini.
"Anda belajar dengan cepat,putri Artha",ucap nona Hings saat mereka beristirahat setelah pembelajaran selesai.
"Terimakasih", jawab putri Artha.
"Sampai saat ini anda salah satu murid favorit saya,karena anda tidak pernah mengeluh dan membantah." ujarnya.
" Selain itu...saya yakin anda bisa menjadi permaisuri yang kuat dan di cintai oleh banyak orang nantinya,karena anda bukanlah seorang putri yang manja!" tuturnya sambil tersenyum.
Putri Artha merasa tersanjung dengan apa yang di ucapkan nona Hings.
"Terimakasih nona Hings,saya merasa tersanjung dengan ucapan anda",katanya sambil ikut tersenyum.
Nona Hings dan putri Artha lalu meninggalkan perpustakaan, nona Hings meminta ijin untuk menemui permaisuri Elizabeth, sedangkan putri Artha langsung kembali ke kamar nya.
Sesampainya di kamar,putri Artha segera mengeluarkan sebuah buku bersampul hijau tua yang tadi di sembunyikan nya di dalam jubah yang ia letakan di lengannya.
Putri Artha langsung membuka buku yang di bagian atas sampulnya bertuliskan 'Tanaman dan Hewan Beracun'" .
" Warna hijau tua pekat,tidak berbau,menyebabkan pingsan dan...." Putri Artha masih membolak balik halaman buku itu dengan teliti,ia membaca tiap lembarnya dengan seksama.
Cukup lama ia membaca buku itu,hingga ia menemukan apa yang ia cari .
"Warna hijau pekat kehitaman,tidak berbau, sedikit terasa pahit di lidah dan bila tertelan menyebabkan pingsan, keracunan pada darah yang mengakibatkan organ pernapasan menyempit hingga gagal napas ,otot mata tegang seperti orang melotot,kejang pada jantung hingga menyebabkan kematian!".
"Deg!", jantung putri Artha seakan berhenti sejenak.
"Taxane,ini racun taxane!"ia menutup mulutnya sangking terkejutnya.
"Ya tuhan,siapa yang masukan racun berbahaya ini kedalam adonan cookies!" putri Artha masih tidak percaya dengan apa yang ia temukan.
Taxane atau Taxine adalah racun yang di temukan pada hampir semua bagian pohon Cemara Inggris atau Taxus baccata. Semua bagian pohon ini beracun kecuali bagian kulit buahnya yang sering menjadi makanan burung. Racun tanaman ini sering kali di gunakan orang untuk bunuh diri karena memakannya dapat mengakibatkan serangan jantung.
"Siapa yang telah melakukan semua ini?" Putri Artha berpikir keras,ia belum mengenal banyak orang di dalam istana ini jadi ia belum bisa menyimpulkan dengan pasti siapa pelaku nya.
"Setelah ini aku harus lebih hati-hati lagi!" gumamnya ,lalu ia menyembunyikan buku yang ia baca tadi ke bawah tempat tidur.
__ADS_1