
Semua pangeran dari setiap kerajaan telah tiba di tepi hutan, mereka akan membuat tenda dan menginap di sana.
Semua putri kecuali putri Josephine yang sedang mengandung turut serta mendampingi suami ataupun saudara mereka. Para pengawal dan para dayang terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk para tuannya.
"Cuaca yang sempurna untuk berburu!" seru pangeran Wang saat ia memperhatikan langit di kawasan hutan tempat mereka akan berburu.
Saat ini kerajaan Spania yang hanya memiliki dua musim itu sedang memasuki musim hujan,cuaca lembab dan basah akan membuat bintang buruan tidak banyak bergerak dari persembunyiannya, hal itu akan mempermudah mereka untuk mendapatkan hasil buruan yang mereka inginkan.
"Iya,kau benar pangeran Wang. Kurasa aku bisa mendapatkan tiga ekor babi hutan besar dalam sekali tangkap." ucap pangeran Tristan dengan sombong.
"Baguslah kalau memang benar begitu. Bukankah musim lalu kau hanya membawa seekor kelinci? hahaha!" kata pangeran Hamid sambil tertawa diikuti oleh tawa pangeran Wang.
"Saat itu aku hanya sedang sial saja, andaikan tidak ada seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku saat itu,mungkin babi hutan besar itu sudah aku dapat kan!!" ujar pangeran Tristan geram sambil mendelik ke arah pangeran Enzo.
"Tapi, saat itu Enzo hendak menyelamatkan seorang pengawal mu yang kau jadikan umpan untuk babi hutan itu." sela pangeran Lorenzo.
Mereka ingat betul tahun lalu saat mereka mengikuti perlombaan berburu, pangeran Tristan sengaja menjadikan salah satu pengawalnya sebagai umpan untuk mendapatkan seekor babi hutan besar untuk memenangkan perlombaan.
Dan saat itu pangeran Enzo yang berada tidak jauh dari situ menghalau babi hutan itu untuk menyelamatkan sang pengawal sehingga babi hutan itu berlari menjauh dari mereka.
"Aiish.., kalian ini! apalah arti nyawa seorang prajurit di bandingkan dengan sebuah kemenangan!" kata pangeran Tristan angkuh.
Para pangeran yang lain tidak terlalu mempedulikan ucapan pangeran Tristan yang angkuh itu,mereka lebih memilih untuk menyiapkan diri mereka untuk perlombaan berburu hari ini.
"Baiklah, seperti tahun sebelumnya perlombaan kita kali ini akan berlangsung selama dua hari,hasilnya akan di hitung berdasarkan jumlah terbanyak dan jenis hewan buruannya." pangeran Lorenzo menjelaskan.
"Seekor babi hutan besar sama dengan dua ekor rusa jantan besar dan satu ekor rusa jantan besar sama dengan lima ekor kancil atau sepuluh ekor kelinci hutan." tambahnya lagi.
"Aku harapkan kita semua tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan masing-masing, bagaimana pun ini hanyalah perlombaan untuk kita bersenang-senang belaka. Serta setiap pangeran hanya boleh di bantu oleh seorang pengawal pribadi saja." pangeran Lorenzo pun mengakhiri penjelasannya.
Semua pangeran mulai masuki hutan Chanca yang merupakan hutan tropis terbesar di Spania. Selama perlombaan para peserta akan memasuki wilayah yang berbeda di hutan tersebut dan mereka semua harus sudah kembali sebelum sore pada keesokan harinya.
Selama menunggu para pangeran berburu,para putri akan menunggu di tenda mereka, seperti saat ini putri Artha memilih mengunjungi tenda putri Yu untuk berbincang,sedangkan putri Tania dan putri Czarin tetap berada di dalam tendanya masing-masing.
"Aaagh...mengapa disini panas sekali!" teriak putri Czarin, putri Czarin yang biasa tinggal di kerajaan yang berudara dingin itu merasa sangat gerah dengan udara di negeri Spania yang cenderung lebih lembab , walaupun saat ini sudah memasuki musim penghujan.
"Kipas lebih kencang lagi!!,mengapa kalian seperti tidak ada tenaga sama sekali,hah!" perintah putri Czarin yang manja itu kepada para dayang yang sudah terlihat kelelahan menggoyangkan kipas mereka dari tadi.
"Aku sungguh menyesal! seharusnya aku tidak ikut ke Spania,apalagi ternyata pangeran Adrian tidak ikut perlombaan ini." gumamnya sambil cemberut.
__ADS_1
Di tenda yang lain putri Yu menghidangkan teh herbal yang ia bawa dari kerajaannya untuk putri Artha.
"Wah..aku belum pernah merasakan teh seenak ini,apa nama teh ini putri Yu?" tanya putri Artha.
Putri Yu di bantu oleh seorang penerjemahnya menjelaskan dengan detail jenis teh herbal yang sedang mereka minum itu.
"Teh ini di buat dari bunga Krisan atau Ju Hua yang di keringkan. Manfaat teh ini sangat banyak untuk tubuh,selain membuat tubuh lebih tenang juga bisa meredakan demam maupun ketegangan pada otot. Selain itu teh Krisan juga bisa untuk mengobati infeksi pada tubuh." ujar nya.
"Ternyata teh ini banyak sekali manfaatnya." kata putri Artha sambil kembali menyesap teh di cangkirnya.
"Maaf yang mulia putri Artha,saya hendak menyampaikan pesan dari putri Czarin." ujar seorang dayang kepada putri Artha.
"Ya, silahkan." jawab putri Artha.
"Putri Czarin mengajak anda untuk berjalan - jalan di tepi hutan." ujar sang dayang.
"O, begitu kah?" putri Artha sedikit heran mengapa tiba-tiba saja putri Czarin ingin berjalan-jalan dengannya.
"Baiklah. Tapi aku akan menunggu dayangku Natalie kembali dahulu." kata putri Artha lagi.
"Maaf yang mulia,tadi kebetulan saya bertemu dengan dayang anda Natalie, sepertinya ia sedang sakit perut dan perlu waktu lama berada di belakang." ujarnya lagi.
"Sebagai gantinya saya yang akan menemani anda menemui putri Czarin yang mulia." tambahnya.
"Baiklah kalau begitu. Putri Yu aku pamit keluar dahulu dan terima kasih untuk tehnya." pamit putri Artha sambil tersenyum kepada putri Yu.
Putri Artha dan dayang itupun akhirnya berjalan menuju tepi hutan yang di tunjukkan oleh sang dayang.
"Di mana putri Czarin menunggu ku?" tanyanya.
"Dia menunggu anda di sana putri." ujar sang dayang sambil menunjuk ke dalam hutan.
"Tapi..apakah benar putri Czarin menungguku di dalam sana? tidakkah itu berbahaya?" kata putri Artha sedikit khawatir.
"Jangan khawatir yang mulia,saya akan menemani anda." ujar dayang itu sambil terus masuk ke dalam hutan.
Tanpa terasa mereka cukup jauh masuk ke dalam hutan yang rimbun itu.
"Apa masih jauh tempatnya?" kata putri Artha saat merasa mereka sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
"Tidak yang mulia."
"Ah,di sana yang mulia,di sebelah sana." ujarnya sambil menunjuk kearah sebuah pohon yang tumbuh sedikit condong ke bawah.
" Di sana? oh, baiklah aku akan segera ke sana." ujar putri Artha,tanpa merasa curiga ia terus berjalan kearah pohon yang di tunjuk oleh dayang tadi.Lalu tiba-tiba,
"Aaaaaa...!" teriak putri Artha,ia terjatuh ke sebuah jurang yang cukup dalam. Tubuhnya terguling hingga ke dasarnya yang di penuhi tumbuhan perdu dan berduri.
"Aww.. kakiku!" teriaknya saat ia merasakan rasa sakit yang tak terhingga ketika ia berusaha untuk berdiri.
" Oh,tidak kakiku terkilir!" ujarnya sambil meringis.
"Hei,kau yang di sana!!" ujar putri Artha berteriak kepada dayang yang bersamanya tadi.
"Apakah kau mendengar ku? tolong aku,aku terjatuh di sini dan kakiku terkilir!" teriaknya lagi,tapi putri Artha tidak mendengarkan balasan apapun. Suaranya bak tertelan oleh deruan suara air hujan yang mulai turun membasahi bumi.
"Astaga hujan, bagaimana ini?" serunya.
Putri Artha merangkak dengan kekuatan tangan dan tubuh bagian atasnya menuju sebuah pohon kecil di tepi jurang sekedar untuk melindungi tubuhnya dari air hujan yang semakin deras.
Pakaian yang membalut tubuhnya pun sudah mulai basah. Putri Artha duduk sambil mengatur napasnya kembali,ia masih bertanya - tanya kenapa dayang itu membawanya ketempat ini dan kemana perginya dia?.
"Apakah ada yang berusaha menjebak ku di sini?" gumamnya.
Putri Artha mulai merasa khawatir,hujan semakin deras hari pun mulai petang,sedangkan pangeran Enzo baru akan kembali keesokan harinya.Bagaimana bila tidak ada yang menyadari kepergiannya? pikirnya gusar.
" Natalie!!" serunya.
" Natalie pasti mencari ku!" katanya meyakinkan diri nya bahwa sang dayang pasti akan mencari keberadaan nya.
Sementara itu di tenda para pangeran.
"Siapa yang mengerjai ku?" ujar Natalie kesal,sudah berapa jam ia terkurung di dalam ruangan penyimpanan di sebuah hunian tak jauh dari perkemahan para pangeran.
Tadi seseorang mendorong masuk kesini dan menguncinya dari luar,ia sudah berusaha berteriak dari tadi tapi tidak seorang pun yang mendengarkannya.
"Ah,aku ingat!" katanya sambil meraba sesuatu dari kepalanya. Dia melepaskan sebuah jepit rambut berwarna hitam yang biasa ia gunakan untuk menahan rambutnya agar terlihat rapi.
Lalu jepit rambut itu ia masukan ke dalam lubang kunci dan ia berusaha untuk mengingat cara yang pernah dilakukan oleh temannya saat hendak mencuri cemilan dari lemari penyimpanan mereka saat berada di panti asuhan dulu.
__ADS_1
" Berhasil!!"
Teriaknya senang saat kunci pintu ruangan itu mulai terbuka.