
Sore itu semua pangeran dan putri sudah kembali ke istana kerajaan Spania. Mereka berkumpul untuk mengadakan pesta perpisahan, walaupun pesta itu di adakan dengan sedikit lebih sederhana mengingat apa yang terjadi di perkemahan kemarin malam.
"Aku turut menyesal dengan apa yang terjadi pada putri Artha dan dirimu pangeran Enzo." kata pangeran Wang saat para pangeran itu berkumpul dan berbicara di dalam sebuah ruangan tidak jauh dari tempat pesta perpisahan malam itu.
"Aku tidak habis pikir,siapa yang berani melakukan hal tersebut di bawah hidung kita semua!" seru pangeran Hamid yang diikuti anggukan pangeran Hasan.
"Apa kau sudah tahu siapa pelakunya, Enzo?" tanya pangeran Hamid lagi.
"Ku dengar putri Czarin yang menyuruh dayang itu untuk mengajak putri Artha ke dalam hutan,benarkah itu?" tanya pangeran Wang, kebetulan saat itu hanya mereka berempat yang ada di sana sedangkan pangeran Lorenzo maupun pangeran Czaren tidak terlihat di sana sehingga pangeran Wang bisa bertanya tanpa ragu kepada pangeran Enzo.
"Hmmm.. entahlah Wang,aku tidak terlalu yakin dengan berita tersebut. Bisa saja dayang itu berpura-pura mengatakan bahwa putri Czarin yang memerintahkan nya." kata pangeran Enzo ragu.
"Bruuk..!"
Para pangeran itu terkejut saat tiba-tiba saja tubuh putri Tania terjatuh ke lantai karena dorongan pangeran Tristan.
"Aww..sakit Tristan! kau tak perlu mendorong ku seperti itu!! hiks..!"
teriaknya sambil menangis,ia memegang sikunya yang terasa sakit karena terbentur lantai.
"Ada apa ini, Tristan?" tanya pangeran Enzo, ia tidak mengerti mengapa pangeran Tristan mendorong adiknya sendiri ke lantai.
"Enzo,Tania lah yang memerintahkan dayang itu untuk mencelakai putri Artha!" seru pangeran Lorenzo yang ternyata juga datang bersama pangeran Czaren dan kedua kakak beradik itu.
" Kau benar-benar membuatku malu,Tania!!" teriak pangeran Tristan. Ia hendak menghajar tubuh putri Tania lagi saat pangeran Enzo menghalanginya dengan memegang tangan pangeran Tristan.
" Berhenti Tristan!!"
" Bukan begitu cara kita menyelesaikan masalah ini!!" seru pangeran Enzo tegas.
Pangeran Tristan yang sudah merasa kehilangan muka karena perbuatan adiknya itu berhenti mendekat dan dengan kasar melepaskan tangannya dari pegangan pangeran Enzo.
" Lorenzo coba kau ceritakan apa yang terjadi." ujar pangeran Enzo kepada pangeran Lorenzo.
__ADS_1
"Kami sudah menemukan dayang yang mengajak putri Artha ke tengah hutan. Dayang itu bersembunyi di sebuah rumah di desa terpencil. Kami menemukanya dengan sekantong uang emas dan perhiasan."
"Saat kami tanyakan dayang itu bersikeras bahwa putri Czarin yang memerintahkannya untuk melakukannya, tapi kami tidak percaya begitu saja,apalagi banyak saksi yang mengatakan bahwa putri Czarin tidak pernah sekalipun keluar tenda pada hari itu serta ia juga tidak menemui siapapun." ujar pangeran Lorenzo.
"Dan saat kami menyelidiki lebih lanjut,ternyata salah satu perhiasan yang dimiliki oleh dayang tersebut ada sebuah bros berbentuk bunga peony yang dililit seekor ular berwarna perak."
"Sepengetahuan kami itu adalah lambang kerajaan Tartan dan seorang saksi mengatakan pernah melihat putri Tania memakainya saat pesta penyambutan tempo hari."
"Setelah kami tanyakan ulang kepada dayang itu akhirnya ia tidak bisa berkelit lagi dan mengakui semuanya bahwa ia di perintahkan oleh putri Tania untuk mencelakai putri Artha dan mengkambing hitamkan putri Czarin sebagai pelakunya. Dayang itu sudah di masukan kedalam penjara dan akan kami hukum berat." jelas pangeran Lorenzo panjang lebar.
" Mengapa kau melakukan semua itu kepada Artha, Tania?" ucap pangeran Enzo sambil menatap lurus ke arah wajah putri Tania yang masih terduduk di lantai dengan mata yang penuh dengan linangan air mata.
"Aku,a..ku tidak bermaksud seperti itu Enzo. Aku hanya ingin menggertak nya,hanya saja dayang itu berbuat terlalu jauh,aku tidak berniat sejahat itu Enzo, percayalah padaku Enzo!!" ujar putri Tania histeris,air matanya terus mengalir membasahi pipinya,ia sangat mengharapkan pangeran Enzo akan percaya dengan ucapannya.
" Menggertak katamu?"
" Hah..! Tania tau kah kau? kau hampir saja membunuh seseorang!!" seru pangeran Enzo,ia merasa geram dengan ucapan putri Tania yang masih saja mengelak padahal semua bukti sudah ada di depan mata mereka.
"Lepaskan kaki ku Tania!" perintah pangeran Enzo,ia sekarang benar-benar merasa jengah dengan apa yang di lakukan putri Tania.
"Tapi Enzo, percayalah padaku!" seru putri Tania sambil tetap memegang kaki pangeran Enzo.
"Lepaskan kataku Tania!jangan sampai aku melakukan sesuatu yang kasar padamu!" ancam pangeran Enzo.
Para pangeran yang lain juga terlihat sudah geram dengan kelakuan putri Tania. Pangeran Tristan masih berdiri membelakangi para pangeran yang ada di sana, sepertinya ia tidak mau menurunkan egonya untuk melihat adiknya yang sudah membuat martabat nya jatuh di depan para pangeran kerajaan lain yang ada di sana.
Pangeran Czaren terlihat menatap putri Tania dengan tatapannya yang dingin,wajah tampannya terlihat sangat mengerikan malam ini. Ia merasa sangat marah karena putri Tania sudah menjadikan nama adiknya tercoreng.
" Set..!"
Pangeran Enzo menarik kakinya kasar,ia melepaskan cengkraman tangan putri Tania yang memegang kakinya.
Putri Tania mengangkat kepalanya,
__ADS_1
" Awas kau Enzo, jangan kau pikir aku akan menyerah padamu hanya karena putri ingusan itu!" ucap putri Tania dalam hati.
"Baiklah,aku tidak mau masalah ini berlarut-larut. Aku hanya ingin agar putri Tania menyadari kesalahannya dan meminta maaf secara resmi kepada istriku putri Artha." seru pangeran Enzo,ia tidak mau memperpanjang urusan ini,apalagi yang ia hadapi adalah para pewaris kerajaan Tartan yang terkenal angkuh dan bermuka tebal,apalagi di tambah mereka sangat pintar berbohong dan memutar balikan fakta.
"Serta aku ucapkan terima kasih kepada pangeran Lorenzo serta semua yang sudah membantu memecahkan masalah ini!" ujarnya tulus.
" Tenang saja aku sendiri yang akan mengirim nya untuk berlutut di depan istri mu,Enzo!" seru pangeran Tristan yang sudah berbalik menghadap yang lain.
Putri Tania terlihat terkejut dan kesal dengan pernyataan kakaknya itu.
"Baiklah Tristan aku menunggu kalian berdua." jawab pangeran Enzo datar.
"Apakah kau tidak akan minta maaf kepada adikku Czarin, Tania? kau sudah membuat nama adikku tercoreng karena ulahmu!" pangeran Czaren akhirnya angkat bicara.
"Aiish.. apalagi ini!kenapa aku harus minta maaf pada gadis manja itu!" kata putri Tania dalam hati.
"Aku juga akan membawanya kepada adikmu , Czaren?" seru pangeran Tristan sambil terlihat menatap dengan penuh amarah ke arah sang adik.
Akhirnya pesta malam itu selesai,semua kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Kau sungguh membuatku malu, Tania!!" bentak pangeran Tristan kepada sang adik.
"Itu bukan sepenuhnya salahku Tristan!!" teriak putri Tania.
" Andai saja dayang itu tidak serakah dengan meminta perhiasanku,semua ini tidak akan terjadi!!" katanya lagi sambil memukul bantal yang ada di dekatnya.
"Set...!!" pangeran Tristan menarik dagu sang adik kasar.
"Kau dengar Tania,aku tidak akan tinggal diam bila sekali lagi kau merusak semua rencana besar ku! kau ingat itu!!" kata pangeran Tristan sambil melepaskan cengkeramannya pada dagu putri Tania dengan kasar.
Putri Tania hanya bisa menangis dan memukuli bantalnya saat kakak nya pangeran Tristan sudah keluar dari kamarnya.
"Ini semua karena gadis ingusan itu,kalau saja ia tidak mengantikan Arabella sebagai pengantin,pasti aku sudah..!" ujarnya geram sambil meremas tangan nya.
__ADS_1