
Pagi-pagi sekali pangeran Enzo dan jenderal Valentine sudah berangkat menuju wilayah barat kerajaan Magna. Bersama mereka turut serta juga Robie dan pasukan prajurit kerajaan.
Tidak seperti sebelumnya,kali ini pangeran Enzo pergi keluar istana mengajak Robie untuk turut serta dalam perjalanan nya.
"Maaf bila pertanyaan saya lancang,tapi pakah yang mulia yakin mengajak saya dalam misi kali ini ?"
ujar Robie pada pangeran Enzo,karena semenjak keberadaan putri Artha di istana kerajaan Magna, pangeran Enzo tidak pernah meninggalkan putri Artha tanpa pengawasan dari Robie.
Pangeran Enzo yang sudah berada di atas kuda kesayangan nya itu menarik napas dalam,ia menatap lurus ke depan.
"Ya!" jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Robie dan mulai mengiring kudanya untuk berjalan.
Robie hanya diam sambil menatap pangeran Enzo,ia tidak bisa mengerti mengapa pangeran Enzo tidak terlihat seperti biasanya.
Apakah pangeran Enzo tidak khawatir dengan keselamatan putri Artha tanpa pengawasan di istana?
Apakah pangeran Enzo tidak merasa cemas dengan keberadaan pangeran Adrian dan Xana yang mungkin saja bisa mencelakai putri Artha?
Sambil terus berpikir Robie pun mulai membimbing kudanya untuk mengikuti sang pangeran. Jenderal Valentine yang mendengar kan percakapan robie dan pangeran Enzo menjejerkan langkahnya dengan Robie.
"Pangeran Enzo pasti sudah mempertimbangkan semuanya masak-masak." ujar jenderal Valentine sambil menepuk pundak Robie yang berjalan di sisinya.
" Pangeran Adrian adalah adik kandung pangeran Enzo,ia sudah mengenal nya sejak kecil. Dan gadis yang bernama Xana itu, putri Artha tidak akan meminta nya menjadi pengawal pribadi bila ia tidak melihat sesuatu yang baik pada gadis itu." sambung nya sambil tersenyum kecil.
"Jadi,kau tak usah khawatir!" jenderal Valentine kembali menepuk-nepuk pundak Robie lalu berjalan mendahului nya.
Jenderal Valentine tiba-tiba berhenti melangkah dan menoleh ke arah Robie dengan kening berkerut , sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
"Mmm.. mengapa kau sangat ingin berada di sekitar putri Artha?" ujarnya menyelidik.
Robie yang terkejut dengan pertanyaan jenderal Valentine langsung membantah sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Tidak,tidak mungkin saya berpikir seperti itu tuan Valentine. Aku bersumpah demi nama ibuku!" ujarnya dengan serius.
"Hahaha...!mengapa kau ini?" jenderal Valentine tertawa melihat tingkah Robie yang terlihat sangat cemas.
"Aku tidak mengatakan kau menaruh hati pada sang putri"
__ADS_1
"Tapi... sepertinya kau ada hati pada gadis yang menjadi dayang putri Artha!" bisik jenderal Valentine sibuk tersenyum menggoda.
Robie terlihat lebih gelagapan mendengar nya. Ia menjadi salah tingkah dan mukanya memerah. Terlihat sangat jelas ia sedang sangat malu.
"Ah, ternyata benar!" ujar jenderal Valentine lagi.
"Baiklah,aku kan merahasiakan hal ini,tapi dengan syarat tidak boleh melalaikan tugas utama kalian,oke?" tambah jenderal Valentine sambil mengedipkan sebelah matanya dan kembali melangkah maju,menyusul pangeran Enzo dan rombongan prajurit yang sudah berjalan mendahului mereka.
Robie pun mempercepat langkahnya, di sisi jalan hamparan salju putih menutupi rerumputan, air sungai yang membeku menambah dingin suasana pagi itu. Namun ada rasa hangat di hati Robie saat mengingat wajah seseorang yang entah kapan menyusup ke relung hatinya yang sudah lama membeku.
Di istana Magna, pangeran Adrian dan Xana sedang berada di sebuah bangunan yang bagian tengahnya berupa lapangan yang biasanya menjadi tempat latihan para prajurit kerajaan.
"Traangg..!"
"Traangg..!"
"Traang..!"
Suara pedang yang sedang beradu terdengar jelas dari tempat itu.
"Bagaimana perkembangan gadis itu?" pangeran Adrian yang sedang mengawasi Xana dan seorang prajurit kerajaan yang sedang berlatih pedang di tengah lapangan.
terang Thomas kepala pelatih yang di tugaskan pangeran Adrian untuk melatih Xana.
Pangeran Adrian memandang ke arah dua orang yang sedang bertarung di lapangan yang sedikit bersalju,ia berpikir sejenak sambil memainkan mengerutkan dahinya.
"Lalu bagaimana kepribadian nya?apa ia bisa di percaya?" tanya pangeran Adrian.
"Gadis itu sepertinya sudah hidup di jalanan sejak lama,ia tidak peduli dengan hal lain kecuali uang." kelas Thomas.
"Berarti kesetiannya bisa di beli dengan uang. aku belum bisa membiarkan nya berada di sisi Artha,ia masih sangat berbahaya bagi Artha." pikir pangeran Adrian.
Sementara itu, putri Artha dan Natalie sedang berada di dekat perapian sambil membaca buku.
"Hhh..aku sangat bosan!" keluh putri Artha,ia menutup bukunya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Apa ada yang bisa kita lakukan Natalie?" keluh putri Artha sambil menatap langit-langit ruangan.
__ADS_1
Natalie yang sedang menuangkan teh bunga Chamomile menoleh ke arah sang putri lalu mengelengkan kepalanya dan kembali menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyerahkannya kepada sang putri.
"Mungkin minum segelas teh sambil membaca buku tentang sejarah kerajaan Magna bisa menjadi kegiatan yang cukup menarik yang mulia." ujar Natalie sambil tersenyum manis.
Putri Artha memperbaiki posisi duduk nya dan menerima cangkir yang berisi teh Chamomile dengan enggan.
"Tapi aku merasa seperti sedang di penjara bila selalu berada di dalam istana seperti ini." keluh putri Artha lagi.
Putri Artha yang terbiasa bebas dan bermain-main di luar istana saat ia masih di kerajaan Pulchara merasa sangat tertekan saat ini. Putri Artha tidak di perbolehkan untuk sekedar berjalan - jalan di luar istana dengan alasan keamanan dan keselamatan nya.
"Apakah aku tidak boleh sekedar keluar untuk berjalan-jalan di taman istana,hah?!" kesal nya,karena tadi pagi ia meminta ijin untuk berjalan-jalan di taman ,tapi ia tidak mendapatkan ijin dari permaisuri,dengan alasan salju yang masih sangat tebal bisa saja membuat putri Artha terpeleset dan jatuh.
Putri Artha masih terlihat kesal,ia kemudian menyeruput teh dari cangkirnya untuk menghilangkan rasa kesalnya.
"Ueek..!"
"Teh apa ini Natalie,mengapa rasanya sangat aneh?!" seru putri Artha sambil mengernyitkan mukanya,ia segera meletakan cangkir nya ke meja.
Natalie yang melihat hal itu langsung saja mengecek cangkir yang digunakan putri Artha dan mencium aroma serta mencicipi rasanya. Tapi tidak ada yang aneh pada teh tersebut.
" Sepertinya teh ini baik-baik saja tuan putri." kata Natalie heran.
"Apa kau tidak salah Natalie?rasa teh itu sangat aneh aku menjadi mual di buatkan." ujar putri Artha serius.
"Tapi..rasa teh ini sama seperti biasanya yang mulia." kata Natalie pelan saat melihat sang putri tetap percaya ada yang aneh pada teh itu.
"Ah, entahlah Natalie. Mungkin aku sedang tidak enak badan,badanku beberapa hari ini sering terasa sangat lelah." kata putri Artha.
"Benarkah?apakah yang mulia mau ku panggil kan tabib istana?" tawar Natalie yang kelihatan khawatir.
"Tidak usah Natalie, mungkinkah n karena cuaca yang sedang dingin membuat badanku mudah lelah." kata putri Artha.
"Mmm... Natalie,pakah kau tau diana Jenny saat ini?" tanya putri Artha tiba-tiba.
"Mungkin ia sedang ada di dapur istana saat ini,putri." tutur Natalie.
" Bagaimana kalau kita melihat- lihat ke sana,siapa tahu kita bisa meminta beberapa potong roti hangat." ujar putri Artha segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan riang menuju pintu.
__ADS_1
Natalie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putri Artha.