My Little Queen

My Little Queen
Bab. 22 Bermalam di Benteng Barat


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap saat mereka tiba di benteng barat, pangeran Enzo dan putri Artha beserta para pengawal nya segera turun dan singgah di tempat yang di tinggali oleh pangeran Edmund Magna tersebut.


Setelah beristirahat sejenak dan berganti pakaian putri Artha dan pangeran Enzo akhirnya bertemu dengan pangeran Edmund dan pangeran Adrian saat jamuan makan malam .


"Ayahanda menanyakan kabar paman dan menitipkan salam untuk paman." pangeran Enzo memulai pembicaraan.


"Sepertinya Edward dalam keadaan baik-baik saja saat ini." ucap pangeran Edmund sambil tersenyum kecil dan kembali menyantap hidangannya.


"Dan kau putri Artha,senang bisa bertemu dengan mu." ujarnya lagi sambil tersenyum ke arah putri Artha yang duduk di seberangnya.


Putri Artha hanya mengangguk kecil dan tersenyum membalas ucapan pangeran Edmund.


Pangeran Adrian tidak berbicara sepatah katapun, ia terlihat tidak nyaman dan hanya peduli pada makan yang ada di atas piringnya.


"Maaf aku tidak bisa hadir pada pernikahan kalian. Kalian bisa lihat sendiri keadaan ku,aku rasa tidak perlu di jelaskan lagi penyebabnya." ujarnya pangeran Edmund lagi tidak lupa ia kembali tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa paman." jawab pangeran Enzo.


"Apakah besok kalian akan berangkat ke Spania pagi-pagi sekali" tanyanya.


"Iya,kami harus berangkat pagi-pagi sekali ke Spania bila tidak mau kemalaman di jalan." jawab pangeran Enzo lagi.


Mereka berempat telah selesai makan malam dan sedikit berbincang.


"Sebaiknya kalian segera beristirahat agar tidak kelelahan esok pagi." ujar pangeran Edmund.


"Aku pun harus segera beristirahat sekarang. Antarkan paman ke kamar, Adrian!" ujarnya pada pangeran Adrian.


Pangeran Adrian mendorong kursi yang di diduduki oleh pangeran Edmund,kursi itu di buat sedemikian rupa sehingga memiliki roda dan bisa di jalankan bila di dorong oleh orang lain ,serupa dengan kursi roda jaman modern hanya saja lebih sederhana.


Pangeran Enzo dan putri Artha membungkuk memberi hormat kepada pangeran Edmund.


Tanpa sengaja tatapan mata pangeran Enzo dan pangeran Adrian bertemu, terlihat sorot kebencian dalam tatapan mata pangeran Adrian yang dingin itu.


"Mari kita kembali ke kamar, Artha." seru pangeran Enzo setelah pangeran Edmund dan pangeran Adrian berlalu.


"Baiklah." ucap putri Artha yang memang sudah merasa sangat lelah.


"Sejak kapan pangeran Edmund kehilangan kemampuannya berjalan, Enzo?" tanya putri Artha saat mereka telah tiba di kamar dan bersiap untuk tidur.

__ADS_1


"Kalau tidak salah semenjak ia kecil kemampuan berjalan paman Edmund menurun seiring usianya." jawab pangeran Enzo sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Apakah ada di antara saudara nya yang memiliki kelainan yang sama?" tanya putri Artha lagi.


"Hmm..aku tidak ingat betul,tapi aku pernah melihat sepupu ayahku yang seperti itu. Ada apa, Artha?"ujar pangeran Enzo.


"Aku hanya berpikir saja. Sebenarnya kelumpuhan pada jaringan saraf tidak selalu di turunkan,tapi ada beberapa faktor genetik yang mempengaruhinya menjadi dominan, misalnya perkawinan dengan yang masih ada hubungan darah." jelas putri Artha,ia yang sangat suka dengan ilmu medis memiliki pengetahuan yang cukup banyak di bidang itu.


"Mungkin saja itu penyebabnya. Karena di keluarga kerajaan Magna dahulunya tidak mau menikah selain dengan yang memiliki darah kerajaan murni. Makanya mereka sering menikah dengan sepupunya sendiri. Mungkin ayah lah raja Magna pertama yang tidak menikahi perempuan dari keluarga kerajaan Magna sendiri." kata pangeran Enzo lagi.


"Ibuku hanya lah dari keluarga bangsawan kelas atas dan kakekku adalah seorang duke."


" Lalu aku penerus raja Magna pertama yang menikahi perempuan dari klan kerajaan yang berbeda." ujarnya sambil tersenyum penuh arti.


" Bukankah begitu, Artha?" katanya lagi seraya menoleh ke arah putri Artha.


"Ah,kau sudah tertidur rupanya!"ujar pangeran Enzo saat ia melihat putri Artha sudah terlelap di sebelahnya.


Entah mengapa pangeran Enzo sangat suka menatap wajah putri Artha saat ia sedang tertidur.


" Wajah dan hatimu sangat cantik." gumamnya dalam hati. senyumnya mengembang mengingat kejadian tadi siang, sepertinya sekarang pangeran Enzo merasa lebih dekat dengan sang putri.


"Aaagh..kenapa pikiranku ini!?" gumamnya gusar, pangeran Enzo segera bangkit untuk menenangkan hati dan pikirannya yang bergejolak.


"Sampai kapan aku bisa menahannya!?ini sangat melelahkan!" gumamnya lagi sambil mondar-mandir di dalam kamar, akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan menghirup udara di luar untuk menghilangkan pening di kepalanya.


"Trang...Trang..Trang!"


Sayup-sayup suara pedang yang sedang beradu terdengar sampai ke telinga pangeran Enzo,ia mengikuti asal suara itu dengan berhati-hati.


"Siapa yang berlatih pedang malam - malam begini?" pikirnya heran.


Suara dentingan pedang tersebut semakin kuat saat pangeran Enzo melihat sosok adik laki-laki yang sangat ia kenal sedang berlatih tarung dengan seorang pengawal.


Pangeran Enzo memperhatikan mereka dengan seksama hingga pangeran Adrian menyadari keberadaannya.


"Kau pergilah,aku sudah selesai berlatih!" perintah pangeran Adrian kepada pengawal nya,sang pengawal pun beranjak pergi.


"Apa mau mu datang kemari,Enzo?" ujar pangeran Adrian ketus, saat melihat sang kakak berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Apakah aku tidak boleh melihatmu berlatih, Adrian? bukankah biasanya kita berlatih bersama?" kata pangeran Enzo sambil menatap pangeran Adrian.


" Siiing..!" pangeran Adrian melemparkan sebuah pedang kepada pangeran Enzo.


" Aku tidak bisa menolak jika kau memintanya, pangeran Enzo!!" seru pangeran Adrian sambil menyeringai.


Keduanya sudah berhadapan sambil memegang pedang masing-masing.


"Hiyaat!"


"Trang..trang..trang!! "


Tidak menunggu lama pangeran Adrian sudah mengayunkan pedangnya,ia melakukanya dengan beringas,beberapa kali pedang pangeran Adrian hampir melukai tubuh pangeran Enzo.


"Kenapa kau begitu bernafsu,dik?!" ucap pangeran Enzo di sela pertarungan mereka,napas mereka berdua tersengal.


"Aku tidak akan bermain-main dengan seseorang yang telah membuatku terdampar di sini!" kata pangeran Adrian sambil kembali memburu pangeran Enzo dengan pedangnya.


"Trang..Trang!"


Suara pedang yang beradu kembali terdengar.


"Aku hanya melakukan yang seharusnya ku lakukan, Adrian." kata pangeran Enzo.


"Ciiih..!"


"Melakukan yang seharusnya kau lakukan?" kata pangeran Adrian sambil menyeringai, untuk sementara mereka berhenti bertarung.


"Kau mengambil yang seharusnya menjadi milikku,Enzo!" katanya dengan penuh amarah.


"Dan kau tahu itu, DIA MILIKKUUU!!" amarah pangeran Adrian sudah tidak terbendung lagi,ia mengayunkan pedangnya membabi buta hingga sebuah sayatan kecil mengenai lengan pangeran Enzo.


" ADRIAN BERHENTI !!!" sebuah suara berat pangeran Edmund menghentikan pertarungan dua saudara itu.


Pangeran Adrian menghentikan ayunan pedangnya yang hampir menusuk dada pangeran Enzo, napasnya masih tersengal - sengal,ia segera memasukan kembali pedangnya dan berlalu meninggalkan pangeran Enzo yang terjatuh di tanah.


"Kembalilah ke kamar mu, Enzo! paman akan mengurus Adrian!" ujar pangeran Edmund kepada pangeran Enzo.


Pangeran Enzo segera berdiri lalu melepaskan pedangnya dan berjalan menuju kamarnya,darah terlihat membasahi lengan bajunya yang tergores oleh pedang pangeran Adrian.

__ADS_1


"Kau harus menahan dirimu Adrian, belum saatnya sekarang,belum saatnya!" ujar pangeran Edmund seraya pergi berlalu diikuti oleh pangeran Adrian.


__ADS_2