
"Maafkan aku,maafkan aku!" ujar pangeran Enzo sambil tetap memeluk erat tubuh sang putri,ia tersenyum kecil,ia sangat senang putri Artha menunggu nya dan mengharapkannya untuk menemukannya.
Untuk sesaat mereka tetap saling berpelukan. Keduanya berbagi kehangatan di bawah derasnya hujan malam hari itu.
"Apa kau terluka?" kata pangeran Enzo khawatir.
"Seperti kakiku terkilir!" ujar putri Artha sambil menunjukan kaki kanannya yang tidak bisa di gerakkan.
"Hmm.. akan sulit untuk mengendong mu dan memanjat tebing itu saat hujan seperti ini." kata pangeran Enzo sambil memperhatikan dinding jurang yang basah karena hujan membuat permukaan tanah menjadi sangat licin.
"Apa sebaiknya kita menunggu di sini sampai hujan reda?" tanya putri Artha.
"Sepertinya itu lebih baik dari pada kita memaksakan diri untuk keluar sekarang." ujar pangeran Enzo lagi.
"Aku akan membuat tempat berteduh sementara untuk kita." katanya sambil segera bergegas memotong batang-batang pohon untuk di jadikan atap sementara bagi mereka berdua.
Putri Artha memperhatikan punggung pangeran Enzo saat ia mengumpulkan ranting dan batang pohon di bawah deras nya air hujan.
" Astaga,mengapa ia terlihat sangat gagah dan tampan saat ini!" gumam putri Artha, matanya tak henti memperhatikan sang suami.
Walaupun pangeran Enzo adalah seorang pangeran bahkan ia adalah seorang putra mahkota yang nantinya akan mengganti kan raja Edward sebagai raja Magna selanjutnya,tapi ia tidaklah segan untuk melakukan semua pekerjaan kasar seperti ini. Kalau biasanya seorang pangeran akan manja dan hanya menyuruh bawahannya saja untuk melakukan semua untuk nya maka pangeran Enzo tidaklah sama. Pemandangan itu lah yang membuat putri Artha diam-diam mulai terkesan dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
" Mengapa kau melihatku ku seperti itu?" tanya pangeran Enzo saat melihat putri Artha menatap nya tanpa berkedip sedikitpun.
"O, tidak bukan begitu. Aku hanya,hanya..!" putri Artha tidak bisa melanjutkan perkataannya karena terlalu grogi.
"Nah,sudah selesai!" seru pangeran Enzo setelah ia menyelesaikan tempat berteduh sementara untuk merek berdua.
Cukup sederhana,tapi cukup bisa mengurangi tetesan air hangat Jan yang mengenai tubuh mereka.
"Terimakasih, Enzo!" ucap putri Artha saat pangeran Enzo sudah kembali duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa. Sekarang yang terpenting keselamatan mu." ujarnya sambil tersenyum.
"Ah,senyum itu. Mengapa manis sekali!" pikir putri Artha sambil ikut tersenyum manis.
"Bagaimana kaki mu?" tanya nya pada putri Artha.
__ADS_1
"Aku sudah memberinya sedikit ramuan herbal dari rerumputan di sekitar sini dan aku membalutnya dengan pinggiran gaunku yang sengaja aku sobek untuk itu." jelas putri Artha sambil menunjukkan kakinya yang sudah ia balut seadanya.
Pangeran Enzo merasa senang karena putri Artha bukanlah seorang putri yang manja, walaupun dalam keadaan yang sulit seperti ini ia masih bisa tenang dan berpikir dengan jernih.
"Wanita yang menakjubkan!" pikirnya sambil tersenyum kecil.
"Kriuuk..!"
Suara perut putri Artha yang lapar seketika menghentikan lamunan pangeran Enzo.
Putri Artha tertunduk malu mukanya tampak sangat merah.
"Astaga,mengapa suara perutku kencang sekali!" gumamnya dalam hati.
"Hahaha..! ternyata kau lapar!" tawa pangeran Enzo yang merasa lucu melihat raut wajah putri Artha yang bersemu malu.
"Hehe!"
Putri Artha memaksakan tawa kecilnya.
"Tapi di sini tidak ada apapun yang bisa untuk di makan!" kata pangeran Enzo sambil melihat di sekeliling.
"Ah,itu ada beberapa apel hutan yang jatuh!" serunya saat melihat beberapa buah apel hutan yang jatuh ke tanah,ternyata pohon yang tumbuh condong ke bawah tadi adalah pohon apel hutan.
"Apa kau mau memakannya, Artha?" tanya pangeran Enzo,ia takut putri Artha tidak mau memakan buah yang sudah jatuh ke tanah itu,apalagi buah apel hutan biasanya berasa asam.
"Tentu saja!" jawab putri Artha mantap.
Pangeran Enzo berlari kecil kearah buah apel yang terjatuh tadi,ia membawa sekitar tiga buah yang berukuran sedang dan masih terlihat baik untuk di makan.
"Hanya ada tiga buah yang cukup baik,ini makanlah!" ujarnya sambil menyerahkan buah apel tersebut setelah ia mengelap permukaan buah tersebut dengan bajunya.
"Mari kita makan bersama,kau juga pasti sangat lapar." putri Artha memberikan sebuah apel kepada pangeran Enzo.
Hanya butuh waktu sesaat bagi mereka berdua untuk menghabiskan buah apel hutan yang mereka temukan tadi dengan lahapnya.
"Mari kita berbagi yang ini." ujar putri Artha sambil memegang sebuah apel yang tersisa.
__ADS_1
"Untuk mu saja,aku tidak apa-apa!" kata pangeran Enzo.
"Jangan begitu Enzo,aku akan merasa tidak enak. Aku tidak mau berhutang budi terlalu banyak padamu,kau sudah melakukan banyak hal untuk ku hari ini." kata putri Artha sambil menunduk.
"Kau tidak perlu berhutang budi kepadaku , Artha. Apa yang aku lakukan padamu adalah kewajiban ku sebagai seorang suami."
"Dan lagi pula,aku... suka melakukannya untuk mu!" ujarnya sambil menatap putri Artha ,di saat yang sama putri Artha mengangkat wajahnya.
Tatapan mata mereka berdua saling bertemu memberikan rasa hangat di relung hati mereka dan debaran - debaran aneh mulai bergejolak di sana,membuat pangeran Enzo tanpa ia sadari sudah mendekatkan wajahnya ke arah putri Artha,membimbingnya mendekatkan bibirnya ke bibir ranum putri Artha yang selama ini ia damba.
Di saat yang sama putri Artha pun tidak bisa menolak hasrat di dalam dirinya,ia menutupkan matanya sebagai tanda bahwa ia pun menginginkan hal yang sama.
Berlahan namun pasti bibir pangeran Enzo mulai menyentuh dengan lembut bibir ranum itu,terasa manis dan menggairahkan.
Tidak ada penolakan dari putri Artha membuat pangeran Enzo kembali melanjutkan ciuman dan kecupan manis di bibir putri Artha.
Pangeran Enzo tidak mau mengejutkan putri Artha dengan sikap yang tergesa-gesa, ia ingin pelan - pelan putri Artha menerimanya dan menikmatinya tanpa ada pemaksaan dari dirinya.
"Pangeran Enzo, putri Artha di mana kalian!" teriak Robie dan pengawal lainnya. Mereka sudah merasa cukup putus asa,selain belum menemukan putri Artha mereka juga harus kehilangan jejak sang pangeran.
"Pangeran Enzo!!" teriaknya lagi tanpa lelah.
Sedangkan di bawah sana,
"Eh,Enzo sepertinya ada yang memanggil nama mu!" ujar putri Artha sambil melepaskan panggutan bibir mereka.
" Ah,itu hanya halusinasi mu saja Artha." kata pangeran Enzo sambil berusaha menyentuh kembali bibir sang putri.
" Tidak Enzo, dengarlah itu suara Robie!" kata putri Artha sambil sedikit mendorong dada pangeran Enzo yang sedang mabuk dengan bibir ranum putri Artha itu.
Dengan kecewa pangeran Enzo menajamkan telinganya.
" Pangeran Enzo, putri Artha. Jawablah! di mana kalian!!" teriak Robie lagi.
" Kau benar Artha,itu suara Robie. Mereka menemukan kita!" seru pangeran Enzo.
Walaupun pangeran Enzo merasa sedikit kecewa karena waktu nya bersama putri Artha terganggu,tapi di lain sisi ia merasa lega karena mereka berdua bisa di temukan.
__ADS_1