My Little Queen

My Little Queen
Bab 37 Menceritakan Semuanya


__ADS_3

Setelah membersihkan diri pangeran Enzo merebahkan tubuhnya di sebelah putri Artha yang sedang terlelap. Dipandanginya wajah gadis itu dengan penuh rasa rindu.


Tangannya terulur membelai pipi sang putri dengan lembut. Belaian tangan pangeran Enzo membangunkan sang putri.


Matanya berlahan terbuka,masih setengah tersadar ia mulai mengamati wajah pria yang sedang menatapnya tersebut.


"Enzo!" serunya tak percaya.


Pangeran Enzo hanya tersenyum kecil menyahuti seruan putri Artha.


"Kapan kau kembali?" serunya masih tidak percaya dengan sosok yang tiba-tiba sudah ada di depannya saat ini.


"Baru saja,aku baru saja kembali." jawab pangeran Enzo.


Tiba-tiba putri Artha teringat dengan hari ulang tahun nya yang sudah selesai dilaksanakan tadi siang. Wajahnya yang tadinya sumringah langsung berubah cemberut. Putri Artha mengalihkan posisi nya memunggungi pangeran Enzo.


"Katamu kau akan pulang sebelum ulang tahun ku! aku tak percaya lagi padamu!" kata putri Artha dengan nada kesal.


"Maafkan aku!" ujarnya pangeran Enzo pelan. Pangeran Enzo menatap punggung putri Artha yang masih membelakangi nya. Ada rasa kasihan dan bersalah dari dirinya pada gadis itu.


Pangeran Enzo menggapai sesuatu dari balik bantal nya. Sebuah kotak kecil yang ia siapkan dari beberapa hari lalu untuk ia berikan kepada putri Artha saat hari ulang tahun nya.


"Set..!"


Pangeran Enzo memasangkan sebuah kalung yang berhiaskan batu safir biru laut pada liontin nya itu di leher jenjang putri Artha. Putri Artha terkejut dan segera meraba lehernya yang sudah di hiasi sebuah kalung yang indah. Putri Artha lalu duduk di atas tempat tidurnya tapi tetap membelakangi pangeran Enzo.


"Selamat ulang tahun, Artha!" seru pangeran Enzo.


Mata putri Artha mulai berkaca-kaca,ia lalu menutup kedua tangannya ke wajahnya,Isak tangis putri Artha pun mulai terdengar.


Pangeran Enzo yang sudah berdiri di depan putri Artha segera menggapai tubuh gadis itu dan memasukannya kedalam pelukannya.


" Maafkan aku, Artha. Aku tidak datang tepat waktu!" gumamnya lembut di telinga putri Artha yang masih tetap menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Kau jahat Enzo! kau membuatku menunggu sendiri,hiks..!"ucap putri Artha di tengah tangisannya.


Pangeran Enzo membelai rambut istri nya dengan lembut,ia mengerti dengan kemarahan putri Artha. Dia bisa membayangkan putri Artha yang sangat kebingungan di tengah pesta tanpa ada dirinya sebagai pasangannya.


Lambat laun tangis putri Artha mulai mereda, sekarang mereka duduk berdampingan di atas kasur.


"Jadi sekarang beritahu aku,kemana kau pergi selama ini? dan mengapa kau tidak berpamitan denganku sebelum kau pergi?" cerca putri Artha sedikit merajuk.


"Hmm..baiklah. Tapi aku akan bertanya denganmu dulu,apakah kau masih marah padaku?" pangeran Enzo balik bertanya.


"Aku tidak akan marah lagi bila kau jelaskan semuanya padaku!" jawab putri Artha.


Pangeran Enzo menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bicara.


"Aku dan paman Valentine pergi ke kota Musty." ucap pangeran Enzo memulai ceritanya.


" Ada sekelompok orang asing yang dicurigai mencoba membentuk suatu pasukan untuk membuat keonaran di kerajaan Magna." pangeran Enzo menceritakan semua yang ia dan jenderal Valentine temukan dan lihat selama mereka melakukan pengintaian beberapa hari ini.


" Astaga! benarkah?aku tidak menyangka mereka merencanakan hal yang jahat seperti itu!" seru putri Artha tidak percaya.


"Tidak seperti kerajaan Pulchara yang tenang dan damai,di kerajaan Magna banyak pihak yang ingin menduduki posisi tertinggi ataupun berpengaruh di kerajaan ini. Seperti yang kau ketahui para bangsawan di Magna sangat terobsesi dengan kedudukan mereka serta harta benda yang mereka miliki. Banyak dari mereka yang bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan hal tersebut.Bahkan mereka rela membunuh ataupun membuang keluarga nya sendiri demi itu."


" Ibuku mendiang permaisuri Sabrina meninggal saat aku masih sangat kecil, aku hanya mendapat cerita bahwa ibuku meninggal karena untuk menyelamatkan hidupku,dahulu aku pikir aku adalah penyebab meninggalnya ibuku. Hal itulah yang membuatku menjadi seorang yang tertutup dan selalu menyalahkan diriku sendiri. Pernah aku berpikir untuk menyerahkan gelar putra mahkota kepada Adrian,karena aku merasa tidak pantas untuk itu."


"Namun semuanya berubah saat aku menyadari bahwa semua cerita yang aku dengar selama ini tidaklah benar. Tanpa sengaja aku menemukan bukti bahwa ibuku meninggal karena di racun. Racun itu tidak bekerja langsung namun berlahan melemahkan tubuh ibuku hingga akhirnya ia menyerah." pangeran Enzo menceritakan semuanya dengan raut wajah yang sedih.


" Aku turut menyesal untuk ibumu." ujar putri Artha sambil meraih tangan pangeran Enzo. pangeran Enzo tersenyum kecil sambil membalas genggaman tangan putri Artha.


" Tapi dari mana kau tahu kalau ibumu meninggal karena di racun?" tanya putri Artha penasaran.


" Sepertinya ibuku sudah lama menyadari kalau tubuh nya di racun,ia tahu ada orang yang tidak ingin aku lahir sebagai pewaris tahta kerajaan Magna. Tapi hal itu lah yang membuatnya lebih bertekad untuk melahirkan ku ke dunia ini. Oleh karenanya ibuku tidak bisa meminum obat penawar racun yang ada di tubuhnya dengan sempurna. Sebelum ia meninggal ibuku telah membuat catatan penting yang ia tulis di buku hariannya dan buku di simpan oleh orang kepercayaan nya sekaligus saksi hidup dari semua kejadian yang terjadi kepadanya saat itu, beliau adalah bibi Felicia dayang yang mendampingi ibuku hingga akhir hayatnya. Tapi sayangnya bibi Felicia di keluarkan dari istana semenjak ibuku meninggal dan aku baru bertemu dengannya lagi secara tidak sengaja saat aku melakukan perjalan di sebuah desa di sebelah timur kerjaan,ia sengaja mendatangiku dan menyerahkan buku itu padaku, awalnya aku tidak percaya akhirnya aku dan paman Valentine mencari dan menemui nya,di sanalah semua rahasia itu terkuak." kata pangeran Enzo.


"Emm..sebentar Enzo, apakah itu artinya di istana ini ada yang menginginkan posisi mu di ganti kan oleh orang lain?" tanya putri Artha.

__ADS_1


"Ya,sepertinya begitu." jawab pangeran Enzo.


"Menurut mu siapa?apakah perdana menteri Markus?" tanyanya lagi.


"Hmm.. sepertinya perdana menteri Markus punya kendali besar dalam hal ini,tapi aku yakin lebih banyak orang yang terlibat didalamnya."


"Lalu mengapa kau dan jenderal Valentine tidak langsung menangkapnya saja?" ujar putri Artha polos.


"Hahaha..!" tawa pangeran Enzo meledak mendengar pernyataan putri Artha yang polos tadi.


"Tidak semudah itu Artha! walaupun aku adalah seorang pangeran,bukan berarti aku bisa seenaknya menuduh dan menangkap seseorang tanpa bukti. Apalagi orang itu punya kedudukan dan pengaruh yang besar seperti perdana menteri Markus." jawab pangeran Enzo.


"Ooo.. begitu! Apakah berarti sekarang kau sedang mencari bukti akan hal itu?" ujar putri Artha lagi.


Pangeran Enzo gemas dengan istri nya yang terlihat sangat imut dan lucu saat menanyakan banyak sekali pertanyaan kepadanya. Mata putri Artha yang bulat tidak berkedip menatap pangeran Enzo sangking penasaran nya dengan apa yang terjadi pada kerajaan Magna.


"Kau ini Artha,apakah kau ini seekor burung?pertanyaan mu banyak sekali kepadaku. Tidakkah kau lihat suami mu ini sedang kelelahan karena baru pulang dari perjalanan panjang." kata pangeran Enzo sambil mencubit pucuk hidung putri Artha yang mancung itu dengan gemas.


"Aww.. Enzo hentikan! kau akan membuat hidungku menjadi jelek nantinya!" seru putri Artha sambil mencoba melepaskan tangan pangeran Enzo.


"Set..!"


Pangeran Enzo menangkap tangan putri Artha dengan lembut. Tatapan keduanya bertemu,mata mereka mengunci satu sama lain. Untuk sesaat perasaan rindu yang membuncah yang mereka berdua rasakan selama ini kembali hadir di hati keduanya.


Tanpa ada aba-aba, pangeran Enzo mendekati wajah putri Artha, seperti sudah paham maksud suami nya putri Artha memejamkan matanya dan menerima dengan senang hati sentuhan manis dari bibir suaminya yang selama ini ia rindukan.


Ciuman manis keduanya berlahan menjadi ciuman yang menuntut dan mengairahkan.


"Enzo berhenti! aku hampir tidak bisa bernapas." seru putri Artha sambil melepaskan ciuman panas itu.


"Maafkan aku Artha,tapi aku tidak bisa menahannya lagi." ucap pangeran Enzo dengan suara serak.


"Ma..maksudmu?" putri Artha menanyakan hal yang sudah ia bisa tebak arah tujuannya itu dengan gugup. Bagaimana pun mereka sudah beberapa bulan menikah namun mereka hanya sampai ketahap berpelukan dan berciuman saja. Putri Artha sudah menduga hal ini suatu saat pasti akan tiba,tapi..

__ADS_1


"Iya,aku sangat menginginkan nya, Artha. Boleh kah?"


__ADS_2