
Sesuai yang dikatakan Emier tadi setelah selesai mencuci piring. Ia dan Azzura berangkat menuju apartemen Bara.
Tidak ada yang saling membuka suara selama sepanjang perjalanan. Azzura sendiri merasa tak percaya bila Emier benar-benar ingin meminta maaf kepada Bara.
Azzura takut bila akan ada pertengkaran lagi saat mereka bertemu nanti. Jika benar terjadi, ia tak mungkin membela salah satu nya karena keduanya sangat penting baginya.
Emier terus mengikuti Azzura dan diyakini bila pujaan hatinya itu sudah sering ke Apartemen Bara, apalagi ketika melihat gadis itu menekan tombol kata sandi tempat itu.
Seketika hatinya kembali menjadi sakit dan cemburu melihat itu. Emier memejamkan mata sejenak agar rasa sakit itu dapat disembunyikan.
Setelah pintu dibuka Azzura, Emier membuka mata dan membiarkan tangan nya ditari pujaan hatinya agar ikut masuk.
"Hai..," sapa Bara yang sepertinya sudah menunggu kedatangan mereka.
Benar.
Azzura sudah menghubungi Bara ketika henda datang ke apartemen dan mengatakan tujuan mereka datang membawa Emier.
"Silahkan duduk," Bara mempersilahkan Azzura dan Emier duduk.
__ADS_1
Tetapi Emier tak melakukan nya. Ia tetap berdiri saja apalagi setelah tatapan nya bertemu dengan tatapan Bara, tatapan permusuhan.
Emier menyadari ternyata Bara berpura-pura baik di depan Azzura.
"Bang. Duduk dulu biar aku buatin minum," tegur Azzura membuat Emier berdecak. Lagi-lagi hatinya merasa sakit karena mengetahui begitu banyak hal yang telah dilakukan Azzura dibelakang nya selama ini.
Emier berpikir bahwa selama ini Azzura menjadi gadis yang penurut. Ternyata kini ia dapat melihat betapa bodohnya dirinya selama ini yang mengira semua sesuai dengan apa yang ia jaga.
"Langsung saja. Aku datang kesini atas permintaan Zurra untuk meminta maaf padamu," Emier menjeda ucapan nya, melihat sepasang kekasih itu bergantian. Ia menghela nafas panjang, "aku minta maaf."
"Aku langsung pulang, Ra. Terserah jika kamu mau tinggal," ungkapnya kemudian berjalan ke arah pintu utama ingin segera pergi dari tempat yang membuat dadanya sesak.
Azzura sendiri terhenyak atas apa yang dilakukan Emier. Entah mengapa hatinya menjadi gusar melihat kakak nya seperti itu.
Bara hanya mengangguk penuh arti dan kembali masuk ke kamar, melakukan kegiatan yang sempat tertunda.
*
*
__ADS_1
Azzura mencari Emier dan ternyata sudah tidak ada lagi di lobby bahkan mobil yang mereka gunakan sudah tak ada.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa Emier seperti itu dan tega meninggalkan nya. Padahal, sebelumnya tidak pernah sekalipun seperti ini.
Akhirnya Azzura kembali pulang dengan menaiki taksi.
*
*
Emier sendiri tidak langsung pulang dan memilih mengajak Reza ke coffee shop langganan mereka.
Emier juga bercerita sebelum dirinya menjemput Reza di apartemen, ia pergi bersama Azzura ke apartemen Bara untuk meminta maaf sesuai permintaan adik tirinya itu.
Reza sendiri merasa iba atas apa yang dialami sahabatnya ini. "Em. Aku sarani cobalah untuk menerima atau membuka hati untuk perempuan lain. Anita juga sudah lama menyukaimu, tapi selalu kamu tolak!" terang nya membuat Emier menghela nafas panjang.
Memang benar. Anita, teman kuliah keduanya menyukainya bahkan sudah beberapa kali Emier menolak karena hatinya sudah terpatri oleh sang adik tiri.
Emier menyesap kopi nya kemudian menatap lurus menerawang bagaimana kelanjutan hatinya. Haruskah berhenti?
__ADS_1
Atau mencoba menerima dan membuka hati?
❤️